ؘ

2.4K posts

ؘ banner
ؘ

ؘ

@Cispontines

I had the shiniest wheels, now they’re rusting.

she/they เข้าร่วม Nisan 2019
55 กำลังติดตาม44 ผู้ติดตาม
ทวีตที่ปักหมุด
ؘ
ؘ@Cispontines·
original cardigan lyrics >>>>
ؘ tweet media
English
0
0
0
1.5K
ؘ
ؘ@Cispontines·
@moviemnfs we live in time harga mati
English
0
0
0
262
ؘ รีทวีตแล้ว
biru.
biru.@blueescnry·
INDON NGGAK AKAN PERNAH RAMAH SAMA PENDERITA MENTAL ILLNESS. SETIAP ADA YANG BILANG ORANG YANG BUNDIR ITU FOMO, UMUR WOWO BERTAMBAH SEHARI.
Indonesia
141
7K
27.4K
280.9K
ؘ รีทวีตแล้ว
dl
dl@drlrst·
yes sex is good, but have you ever witnessed keruntuhan rezim dzalim opresif penuh korupsi, kolusi, dan nepotisme?
Indonesia
75
8.8K
25.1K
236.8K
ؘ รีทวีตแล้ว
🫧
🫧@moonblvrd·
Sedih sekali teman-teman gimana yah, life’s getting weirder and weirder…. Huft…………
Indonesia
48
19.3K
43.7K
594.6K
ؘ รีทวีตแล้ว
ؘ รีทวีตแล้ว
Kumis 🌼🩵 VtuberID
ngeliat cerita ini dan selalu bilang "Ibu Kartini" but in reality she was only 25 years old when she died..... 🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺 oh she was just a baby, she must have been so scared......
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻

English
52
6.2K
32K
856.6K
ؘ รีทวีตแล้ว
Christa Sydney
Christa Sydney@christasyd·
Plus membandingkan Kartini dengan Cut Nyak Dien dan Martha Christina Tiahahu hanya karena mereka perempuan adalah bentuk seksisme, karena perjuangan CND dan MCT tidak ada sangkut pautnya dengan gender—mereka setara dengan pejuang laki-laki seperti Kapitan Pattimura.
Lemonaye@Lemonn_Festive

Dan lucunya yg kuliat2 mostly COWO lgi yg banding2in perjuangan kartini dgn tokoh2 pejuang perempuan lain wkwk gausahlah mempertanyakan dia kontribusinya apa cm krn dia gak pegang senjata. we are warriors in our own ways

Indonesia
11
1.6K
6.2K
191.5K
ؘ รีทวีตแล้ว
𝓑𝓵𝓪𝓲𝓻 #1312
She is THAT angry daughter
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻

English
6
3.8K
16K
263.8K
ؘ รีทวีตแล้ว
Farhan | 24
Farhan | 24@Hayacbusa·
My favorite part of kulish is mahasiswa dan dosen sama-sama bingung
Indonesia
89
4.3K
22.8K
259.4K
ؘ รีทวีตแล้ว
ؘ
ؘ@mirraebelle·
Kartini was so hated during her era thats why perjuangan beliau direduksi dengan mendomestifikasi figurnya pada hari ulang tahunnya. Bener-bener cara paling brengsek rezim ini menindas perempuan
eca@champagnecak

sjw yg lu lu pada benci

Indonesia
9
3.9K
14K
177.9K
ؘ รีทวีตแล้ว
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
Amnesty: Situasi HAM Indonesia Memburuk di Era Prabowo
tempo.co tweet mediatempo.co tweet media
Indonesia
439
14.3K
40.8K
438.5K
ؘ
ؘ@Cispontines·
akun kosongan #zonauang
Indonesia
10
0
0
457