Didit รีทวีตแล้ว

Di hotel di Riyadh itu,
Baharuddin Lopa beberapa kali terlihat batuk saat berjalan.
Tubuhnya mulai kurus.
Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
Tapi jadwalnya tetap padat.
Ia masih menerima tamu.
Masih membahas pekerjaan.
Masih bicara soal kasus-kasus besar di Indonesia.
Orang-orang di sekitarnya tahu,
kesehatannya memang menurun.
Tapi tidak ada yang menyangka waktunya tinggal sependek itu.
Malam 3 Juli 2001,
suasana hotel mendadak berubah tegang.
Lopa jatuh sakit.
Beberapa orang berlari di lorong.
Telepon dipakai bergantian.
Kabar mulai menyebar pelan ke Indonesia.
Tidak lama kemudian,
Jaksa Agung itu dinyatakan meninggal dunia di Riyadh.
Berita itu membuat banyak orang sulit percaya.
Karena beberapa hari sebelumnya,
ia masih dikenal sebagai orang yang sedang membuat banyak pejabat dan koruptor gelisah.
Resminya karena sakit dan komplikasi kesehatan.
Tapi setelah kematiannya,
rumor mulai bergerak lebih cepat daripada penjelasan resmi.
Tentang racun.
Tentang orang-orang yang merasa terancam.
Tidak pernah terbukti.
Namun sampai hari ini,
masih banyak yang mengingat satu hal:
lelaki yang terlalu keras melawan korupsi itu,
wafat jauh dari negaranya sendiri.
_
AJR - copas fb

Indonesia





















