Pas pigi ke Malaysia kemarin, ngeliat sarana publiknya, baby friendly, transportasinya, udaranya, semua keliatan ijo neon. 😭 kecuali makanannya (teteup)
Sampe bilang ke Paksu, gimana ya kalo kita tinggal disini?
Yaaah, meskipun jawabannya Rumput tetangga emg keliatan ijo
Waktu lihat bapaknya Salman ganti kewarganegaraan demi hidup yang lebih layak, saat itu aku ngerasa “kok tega sih ninggalin Indonesia?”
karena sejak kecil kita diajarin cinta tanah air . Jadi keputusannya kebaca kek pengkhianatan.
Tapi sekarang? POV nya uda kebalik
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, katanya
Tapi kata kakekku, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yg menjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri.
@kompascom Seharusnya anda bisa datang dg pesawat anda bawa starlink 10 genset kecil 10 dan semuanya bisa langsung pasang .. tdk perlu tanya2 ( bawa lebih pun bisa )
Ini menu yg kami pesan perdana di Sutei, matcha tiramisu, kepiting mentai (?), ada 1 sushi lagi bukan yg mentah
Dulu saking kampongnya, kami bedua makannya sampe berlinang air mata. Bukan krn terharu, tapi krn mual 😭🙏 dihabisin ga sanggup, ga dihabiskan sayang duit. Oala
Dulu tuh pas jaman Kuliah sekitaran tahun 2017? ngedate sama Padel ke Sutei itu beneran cuma sekalii, dan itu perasannya deg-degan , takut ga cocok makanannya, karena udahla mahal ga cocok pula, amsyongggg
Dan ternyata beneran amsyongg
Ternyataa… mereka katanya memang ga kerja, mereka dapat ‘Bantuan’ dari organisasi. Mereka dapat tempat tinggal, bantuan operasional rumah, pendidikan, dll.
Krn mereka kan ga punya KTP ya, dan para pegungsi ini kerja apa di Medan, kok pendapatannya bisa dikatakan ‘lebih dari cukup’ untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta nasional plus.
Kemarin sempat ketemu temen interview, dia kerja di iom (?) lembaga yang mengurus pengungsi di Medan. Krn aku penasaran, kenapa para pengungsi ini kok bisa masuk ke sekolah” yg bisa dikatakan school feenya 1jt ke atas per bulan, belum include uang pendaftaran dll ya