Octivanny

1K posts

Octivanny banner
Octivanny

Octivanny

@Octivanny

Thinking in systems, power, and meaning. Writing to clarify—not to persuade.

เข้าร่วม Kasım 2011
1.6K กำลังติดตาม1.8K ผู้ติดตาม
ทวีตที่ปักหมุด
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Saya pribadi tidak keberatan dengan label AI di setiap tulisan saya. Namun, perlu diluruskan bahwa memang benar bahwa saya secara sengaja menulis tanpa memberikan sense emosional karena itu adalah tulisan yg paling sehat dari perspektif saya dan sesuai dengan topik yg selalu saya bawakan. Postingan saya yg sebelumnya terkait “pengaruh kapasitas emosional terhadap relasi”, saya selalu terbuka untuk diskusi lebih lanjut asalkan sesuai dengan substansi topik. Saya dapat memaklumi bahwa di zaman sekarang memang tulisan yg sangat terstruktur sering diberi label sebagai tulisan AI.
Ujo@sentereus

@Octivanny @tanyakanrl AI banget. Nulisnya gak pake hati. 😂

Indonesia
0
0
0
510
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Menurut pendapat saya, itu popular opinion, bukan unpopular opinion. Saya jelaskan versi unpopular opinion (konseptual). Di dalam Alquran sudah disebutkan bahwa ‘manusia diciptakan berpasang-pasangan’. Kita semua sudah tau bahwa yg dimaksud bukanlah individu satu berpasangan dengan individu yg satunya, tapi teori dualitas—siang dan malam, baik dan buruk, pahit dan manis, reflektif dan reflektif, reaktif dan reaktif, semua saling tarik-menarik, saling bereaksi antar pola. Begitu pula dengan jodoh. Penerimaan terhadap kekurangan pasangan itu memang benar. Tapi tidak sesimpel ‘Tuhan memang mempersatukan mereka’ atau ‘cuma jodohnya yg mampu menerima kekurangan terbesarnya’. Melainkan karena perspektif personal yg dibangun atas pengalaman dan pola luka individu yg bersangkutan. Individu yg tempramen, berpasangan dengan individu dengan boundary lemah. Individu yg tidak bisa menyalurkan egonya secara sehat, berpasangan dengan individu yg senang menjadi regulator ego pasangannya. Individu dengan kompleksitas tinggi, akan berpasangan dengan individu dengan kompleksitas tinggi. Individu narsistik, berpasangan dengan individu dependen. Dan seterusnya. Individu dengan pola tertentu cenderung tertarik, mempertahankan relasi dengan pola yang saling mengunci dan resonan, kecuali ada intervensi kesadaran atau perubahan internal. Bukan selalu hubungan yg sehat. Bukan selalu hubungan yg ideal. Mereka bekerja bagaikan bertemu dengan potongan puzzle yg saling mengunci, baik sehat maupun destruktif. Semua terjadi atas reaksi antar pola. Namun, bentuk potongan puzzle itu dinamis (tidak sepenuhnya statis) walaupun pola dinamisnya terkadang masih bisa diprediksi. Itulah teori dualitas, yg berasal dari ‘manusia diciptakan berpasang-pasangan’. Tuhan menciptakan hukum pola dan kecenderungan, lalu manusia bergerak di dalamnya sesuai kondisi internalnya.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Unpopular Opinion. Saya menjawab berdasarkan analisis pribadi. Menurut saya jodoh adalah satu-satunya orang yang mampu untuk menerima kelemahan terbesar pasangan seumur hidup. Seringkali defenisi jodoh disebutkan sebagai orang terbaik. Maaf, saya tidak sepenuhnya setuju dengan statement tersebut. Pernyataan ini seperti mengartikan apabila tidak berjodoh artinya dia adalah orang buruk. Belum tentu. Diluar sana banyak kok pasangan berkepribadian baik, satu visi dan misi, sefrekuensi, financial stable, sudah matang, namun tidak berjodoh. Karena apa? Karena Tuhan tahu bahwa dia bukan orang yang mampu untuk menerima kelemahan terbesar pasangannya seumur hidup. Benar selama berpacaran mereka sudah saling mengenal kekurangan masing-masing, tapi kan itu hanya apa yang terlihat. Bagaimana untuk yang belum terlihat? Perjalanan sesungguhnya belum dimulai. Masing-masing individu masih berlomba menampilkan versi terbaik karena dalam fase mabuk asmara atau pacaran. Mari kita lihat case ini bersama-sama: Case 1, pria dengan sifat tempramen memiliki istri seorang Ibu rumah tangga. Mereka sudah menikah 45 tahun. Tidak ada perceraian hingga maut memisahkan. Apakah dia pasangan terbaik? Tentu tidak. Memang kebaikan apa yang bisa didapatkan dari pria tempramen? Tidak ada. Lalu mengapa mereka berjodoh? Karena hanya sang istri satu-satunya dari miliaran wanita di dunia yang mampu menerima kelemahan suami. Memiliki hati yang sabar dan sangat luas untuk bisa menghadapi suami setiap hari sampai maut memisahkan mereka, sehingga Tuhan mempersatukan mereka. Case 2, wanita dengan IQ 100 alias sedikit lemot menikah dengan seorang dokter. Perbedaan yang mencolok seperti film drama korea. Padahal mantan sang dokter adalah seorang pramugari. Lalu mengapa dia berjodoh dengan si lemot bukan pramugari? Sama seperti case 1, karena hanya sang dokter lah pria yang mampu menerima kelemotan istrinya untuk seumur hidup, sehingga Tuhan mempersatukan mereka. Walaupun setiap hari puyeng menghadapi istri, namun mereka tidak akan bercerai selain dipisahkan oleh kematian. Case 3, bagi pembaca yang sudah menikah mari melihat kembali kelemahan pasangan masing-masing. Jangan menggeneralisir seperti pemalas, tukang ngambek, itu adalah sifat umum. Tapi cek kembali kelemahan spesifik yang paling buruk. Apakah kamu sanggup bertahan? Tentu iya. Kemudian intropeksi kelemahan diri sendiri. Apakah pasangan sanggup menerima? Tentu saja sanggup. Jika tidak kalian pasti sudah bercerai. Ini hanya analisis saya pribadi, berdasarkan pengalaman diri sendiri, teman dan keluarga. Hal ini juga yang saya tanamkan ketika hubungan berakhir dengan mantan: pasti kedepannya bakal ada satu kelemahan terbesar dia yang nggak sanggup aku hadapi seumur hidup atau mungkin kelemahanku yang nggak sanggup dia hadapi, itulah mengapa kami nggak jodoh, huhhh baiklah.

Indonesia
0
0
1
106
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Karena otak mereka bekerja dalam analogi yg sangat simpel. Samakan manusia dengan barang. Kalo sudah pernah berhubungan seksual, artinya sudah bekas. Kamu mau nggak barang bekas? Kamu sudah saya beli dengan mahar yg sangat mahal. Ada juga yg beranalogi bahwa, kalo saya belum berbekas, artinya saya berhak dapat yg sama (perawan/perjaka). Sah-sah saja mereka gunakan analogi simpel ini, kalo terganggu, jangan jadikan mereka pasanganmu. Masih banyak orang yg menganggap pasangannya sebagai individu hidup dan pasangan setara. Mereka nggak masalah berpasangan dengan janda, duda, korban kekerasan seksual, masa lalu yg kelam, atau sejenisnya.
Indonesia
20
3
77
21.8K
YAPPINGFESS
YAPPINGFESS@yappingfess·
yap! kalian para cowo tuh kenapa sih dengan cewe yang udah ga prawan? sehina itu kah buat kalian? dan sepenting itu kah buat kalian hah? temen gw gagal nikah gegara cowonya tau cewenya ga prawan!!
Indonesia
860
81
1.7K
536.7K
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Sebenernya faktor penghasilan naik tapi tetap ngerasa nggak cukup, bisa jadi bukan cuma gaya hidup aja yg naik. Tapi, inflasi. Penghasilannya mungkin naik, tapi inflasi naik lebih banyak dibandingkan penghasilannya. Makanya, penting banget untuk selalu catat arus kas pribadi.
Gin@Sr_Frgn27

Dosenku dulu pernah sharing sampai mana batas manusia. Dia mengeluh hal yang sama, duitnya tidak cukup-cukup padahal gaji dan pendapatan selalu naik. Pada suatu titik dia sadar semakin naik gaji, semakin naik gaya hidup. Padahal dulu mereka sederhanapun bisa hidup.

Indonesia
0
0
0
130
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Perihal pertanyaan sensitif dan personal saat lebaran, seperti: “Kapan nikah? Udah usia segini lho.” “Kerja dimana?” “Kapan nambah anak lagi?” “Kok belum punya anak?” “Kapan lulus kuliah? Kok belum lulus? Bukannya tahun x udah wisuda?” “Kok gendutan/kurusan?” Wajar merasa marah atau kesal, artinya itu adalah pertanyaan sensitif. Yg penting adalah bagaimana kita merespons pertanyaan sensitif itu di saat kita merasa marah atau kesal. Kita juga bisa belajar basa-basi dengan lebih baik, kita bisa tandai pertanyaan yg mendapat kritik dari orang lain. Bagi kita mungkin biasa, tapi bagi orang lain itu menyakitkan. Kita nggak bisa bilang orang itu lebay dan nggak asik, karena setiap individu datang dengan sensitivitas dan luka yg berbeda. Yuk, belajar merespons rasa marah dan kesal sembari menjalankan peran fungsional. Yuk, belajar untuk memahami sensitivitas orang lain dengan menambah perspektif baru.
Liverpool - LGK@id_lgk

Orang yang marah-marah ditanyain kapan nikah itu lebay dan emang gak asik aja orangnya, padahal kalo lu ditanyain gitu ama sodara/tetangga ya bales aja bahas anak2 mereka yang belom nikah🤣 Menurut gw yg agak nylekit itu kalo lu nganggur tpi ditanya kerja di mana🗿

Indonesia
0
0
0
113
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Sebenernya, bukan cewek/cowok zaman sekarang itu sedikit yg punya literasi yg baik. Tapi, mereka (cewek/cowok) yg bener-bener punya literasi yg baik itu populasinya memang lebih sedikit dan biasanya cuma ada di lingkungan tertentu aja. Termasuk juga calon pasangan dengan spektrum kepribadian tertentu lainnya. Misalnya: pasangan reflektif vs reaktif, pasangan dengan kecerdasan sistemik vs kecerdasan linear, dll. Jadi, memang populasinya yg lebih sedikit (nggak cuma di zaman sekarang aja) atau lingkungannya kurang tepat.
Indonesia
1
9
70
2.9K
ziibaasef
ziibaasef@ziibaasef·
@kafirmasi Betul banget. Jujur jaman sekarang susah mencari wanita yang punya literasi baik. Bisa diskusi banyak hal. Kebanyakan wanita jaman sekarang pengetahuannya hanya via tiktok. Ini debatable atau mungkin hasty generalisation. Tapi real ini yang saya temukan.
Indonesia
29
35
437
53.8K
Mada
Mada@kafirmasi·
Faktor lain yang langka dan sulit banget ditemukan dalam berpasangan tuh, 'Rasa aman intelektual'. Banyak pasangan punya Sex, traveling, konser, museum date, foto aesthetic. Tapi pas pulang ke rumah, udah kehabisan topic selama 15 menit karna ga punya bab percakapan yg hidup.
Indonesia
122
2.4K
14.2K
2.2M
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Kenapa sih ‘introvert’ itu selalu dikaitkan dengan nggak bisa basa-basi, nggak bisa tampil di depan umum, cepet capek kalo ketemu orang, dan lain sejenisnya? Seolah hal-hal yg disebutkan itu adalah penyakit kepribadian introvert secara absolut. Saya juga introvert, tapi saya menyukai basa-basi, saya menyukai tampil di depan umum, dan saya senang bersosialisasi, serta hal-hal kontradiktif lain yg sering diberikan label sebagai ciri kepribadian introvert. Saya tidak menyangkal terkait privilege orang kaya yg memiliki kebebasan dalam hal visibilitas, sementara orang yg masih miskin memang mau tidak mau harus terlihat (visible) kalo mau naik. Saya hanya mempertanyakan pemberian label ciri kepribadian introvert dari banyak postingan yg beredar.
bia@bersuwara_

ya emang. being an introvert kalau masih miskin jatuhnya penghambat. kalau lu ngikutin rasa nyaman lu karna lu introvert, dengan alasan energi lu yang cepet abis itu, lu akan stuck di situ situ aja. trus gimana? paksa. ngga bisa basa basi? paksa. paksa diri lu buat mulai obrolan meski jatuhnya awkward. nanti lama lama juga lu tau kok gimana caranya biar ngga awkward. lu ngga punya energi buat tampil depan umum? paksa. paksa walau terbata bata, nanti bakal terbiasa. energi lu cepet abis kalau ketemu orang? paksa buat berangkat. paksa diri lu buat berangkat atau lu ngga punya relasi atau ngga punya temen sama sekali. gpp jadi introvert, gw juga introvert, tapi jangan jadi introvert yang terlalu memanjakan diri. kalau terlalu ngikutin zona nyaman lu itu, nanti lu ngga berkembang.

Indonesia
0
0
0
105
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
@tanyakanrl “Memang kalian berhak untuk menyembunyikan”, No. Kalian tidak berhak menyembunyikan sesuatu yg mempengaruhi konsensual (keputusan) pasangan kalian. Mengaburkan konsensual = mengontrol narasi secara sepihak. Aib itu ketika dibuka kepada publik, bukan kepada pasangan.
Indonesia
0
7
117
4K
Tanyarl 💚
Tanyarl 💚@tanyakanrl·
💚 Takut kenalan sm cowo, gara2 klo ada fess yg nanya “Ak dulu hb sama mantan, jujur gk ya ke istri?” selalu banyak yg suruh untuk sembunyikan. Pdhl hal ini penting diketahui. Better kalau ditanya , jujur dan putus dari awal karena klo bohong akhirannya gabakal baik
Tanyarl 💚 tweet media
Indonesia
57
78
737
39.2K
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Bakalan merasa gimana? Merasa happy & curious. Kalo ada perbedaan cara memaknai hari personal tertentu, mungkin aku akan bertanya dan memperlajari lebih lanjut bagaimana tradisi dan kebiasaan keluarganya saat merayakan hari-hari tertentu. Dilanjutkan dengan sharing tradisi keluarga masing-masing. Karena setiap keluarga punya aturan tidak tertulis tertentu.
Indonesia
0
0
0
47
Tanyarl 💚
Tanyarl 💚@tanyakanrl·
💚 alo guys, boleh share opini masing-masi g ya tanpa salty. Terima kasih😊
Tanyarl 💚 tweet media
Indonesia
48
1
31
6.5K
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
“Gua nyesel, kenapa gua nggak belajar bener-bener dulu?” Pernah mendengar kalimat itu? Atau justru pernah mengatakannya? Saya nggak nyangka, kalimat itu keluar dari sahabat saya. Dia tipe yg nyantai. Go with the flow. Berbeda dengan saya yg hidupnya penuh strategi. Teman: “Gua nyesel, kenapa gua nggak belajar bener-bener dulu?” Saya: “Kenapa nggak sekarang aja belajarnya?” Teman: “Sekarang mau ngejar apa?” Saya tanya lagi: “Dulu, kenapa nggak belajar serius?” Jawabannya: “Karena tiap mulai belajar, rasanya membosankan.” Dan di situ, saya menyadari sesuatu. Di sekolah, kita dinilai. Tapi, jarang diajari menikmati proses. Jarang diajari mengelola rasa bosan. Jarang diajari menunda kenikmatan (delayed gratification). Kita dilatih mengejar nilai. Bukan membangun disiplin internal. Akhirnya, banyak yg lulus pendidikan formal tapi nggak belajar bagaimana caranya belajar. Penyesalan sering kali bukan karena kurang pintar, tapi karena dulu nggak pernah belajar mengelola diri.
Indonesia
0
0
0
98
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Pembahasannya menarik. Tapi, beberapa hal perlu dipertegas. Nggak semua pacaran itu nggak saling mengenal satu sama lain, walaupun banyak yg pacaran lama tapi nggak saling mengenal. Orang berpacaran itu tujuannya beragam—ada yg pelarian, kesepian, mencari partner setara, menikah, dll. Masalahnya, nggak semua orang bisa memfilter sendiri terkait orang yg tujuannya sama kayak dia. Nggak semua orang punya skill berelasi yg mumpuni. Disinilah, sistem taaruf atau professional matchmaker bekerja. Kenapa ada yg berpendapat, "taaruf juga seperti beli kucing dalam karung"? Biasanya karena sistem taarufnya belum tersertifikasi sebagai professional matchmaking. Banyak ahli teologi yg cross function jadi perantara/mediator taaruf (matchmaking), padahal matchmaking itu ranah yg berbeda—ada ilmu profesionalnya khusus. Matchmaker itu nggak cuma mencocokan visi, tapi mencocokan pola kepribadian dan pola luka menggunakan teori dualitas. Disinilah, pentingnya untuk memfilter sistem taaruf/matchmaking yg pool-nya cocok sama kepribadian kita. Karena dua individu yg sama-sama ingin menikah, bisa memaknai menikah dan tanggung jawab dengan cara yg berbeda.
Vann@iernow

Dari dulu gue mikir kayaknya taaruf tuh meskipun aturan agama keknya terlalu beli kucing dalam karung deh, tapi pacaran juga kan Allah swt larang karena mendekati zina. Eh setelah perjalanan panjang gw akhirnya nemu titik yg rasional dan dapat diterima pikiran gue kenapa tujuan menikah itu lebih realistis dengan taaruf dibanding pacaran, karena gue pernah pacaran dan kalo dibilang saling mengenal tuh kek ngga juga malahan ga ada pembahasan yg ntar nikah gimana, visi misi nikahnya gimana, which is jujur aja emg banyakan mendekati maksiatnya dan engga pun kayak malah ngebuang energi dan perasaan ke yg belom tentu jadinya karena ga ada aturan/ batasan mutlak. Ternyata bukan taarufnya yg kurang baik mengatur cara mengenal sebelum menikah, tp gue yg ga paham konsep dan aturan taaruf yg baik😭

Indonesia
0
0
0
103
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Setuju, bahwa keempat hal (budaya belajar, keamanan psikologis, beban kognitif, kurangnya contoh dan model berpikir) dapat memengaruhi berkembangnya kemampuan metakognitif seseorang—khususnya pada murid-murid di Indonesia. Tapi, bukan berarti kemampuan tersebut tidak akan berkembang secara absolut. Begini cara mengakses kemampuan metakognitif secara bertahap yg bisa dilakukan secara mandiri. 1. Berlatih membuat jurnal setiap hari (Journaling) Tidak perlu diisi dengan hal-hal yg berat. Isilah mulai dari apa yg terjadi hari ini. Fungsinya, supaya bisa mengamati dan mengevaluasi aktivitas keseharian kita. Misalnya: "Hari ini, saya bermimpi..." "Hari ini, tidak ada sesuatu terjadi karena..." "Hari ini, teman saya bercerita bahwa..." 2. Berlatih menamai emosi sendiri (Naming Emotions) Selanjutnya berlatih menamai emosi sendiri yg bisa ditulis di dalam jurnal harian ataupun pada notes singkat. Fungsinya, supaya bisa mengamati cara tubuh dan pikiran memproses emosi dari kejadian sekitar. Misalnya: "Hari ini, saya marah karena... . Karena saya merasa marah, maka saya melakukan... dan menurut saya itu wajar/tidak wajar karena... . Jadi, seharusnya... ". 3. Berlatih untuk menunda pemberian label untuk diri sendiri maupun orang lain (Delaying Labels) Menunda pemberian label memberikan ruang agar otak tetap berpikir kritis dan tahan pada kompeksitas. Misalnya: • Ketika kamu gagal memahami/mempelajari sesuatu dan temanmu berhasil, alih-alih langsung memberikan label "Ah dia emang IQ tinggi/pinter sih dan aku emang nggak bisa aja", ganti dengan "Kok dia bisa dan saya tidak bisa, kenapa ya?". Kalo belum tau jawabannya, catat dulu karena mungkin jawabannya memang belum diketahui sekarang. • Ketika bertemu dengan orang yg menjengkelkan, meyebalkan, ataupun apapun itu yg sejenis, jangan terburu-buru memberi label ‘dia jahat’, ‘dia bodoh’, atau sejenisnya—boleh dikategorikan dulu sebagai ‘difficult person’ dari perspektif kepribadian kita. Alasannya bukan karena untuk menjadi baik kepada semua orang. Tapi untuk menyusun strategi: bagaimana cara menghadapinya secara bersih, apa motifnya, bagaimana orang sekitar kita menghadapi orang yg sama, dll. Bukan untuk menyenangkan orang, tapi supaya goals kita yg seolah dihalangi oleh 'difficult person' itu tercapai. Sebenarnya, banyak cara agar kita bisa mengakses kemampuan metakognitif kita sendiri. Walaupun lingkungan memblokir kita terhadap akses tersebut. Ketiga hal di atas adalah hal-hal dasar yg bisa dilakukan secara rutin agar dapat mengakses kemampuan metakognitif secara bertahap. Penting untuk diketahui bahwa metakognitif bukan tentang menjadi overthinking, tapi tentang menyadari proses berpikir untuk mengambil keputusan lebih sadar.
ann@anhtiss

Eileen menunjukkan apa yg tidak dimiliki murid Indonesia pada umumnya: ✨️ metacognition knowledge ✨️ Metakognisi itu kemampuan “ngeliatin isi kepala sendiri.” Gak cuma berpikir, tapi SADAR bahwa kita SEDANG BERPIKIR. Lebih jauh lagi, kita bisa mengevaluasi cara berpikir itu, apakah membantu, apakah bikin stres, apakah perlu diubah. Persis kayak Eileen yang pensive. Dia kelihatan banget kalau nyaman jadi orang yang banyak mikir. Dia nggak lihat proses refleksi itu sbg overthinking tapi malah dia jadiin tools to grow. Eileen ini bukti kalau orang hebat itu ya orang yg paham cara kerja pikirannya sendiri, gak cuma yang pintar/berbakat aja. Murid Indonesia belum banyak yg terlatih skill metakognisinya. Kenapa? Ini menarik bangettttt. 1. Budaya belajar berorientasi jawaban Pendidikan kita menjadikan murid terbiasa untuk fokus ngejar nilai, akhirnya selalu memikirkan 1-2 jawaban yg benar. Untuk jawab soal dengan cepat dan tepat, akhirnya juga sekadar menghafal konsep. Akibatnya, jarang dilatih bertanya: - kenapa harus pake strategi ini? - biar cepet paham harus ngapain? Padahal metakognisi itu berkembang ketika proses jauh lebih dihargai dibanding hasil. Sistem pendidikan kita gmn? Maunya ke mana? Please kami mah juga bingung, belajarnya disuruh ala finland, asesmennya ala asia. 2. Keamanan psikologis Ini masih berkaitan dengan poin 1. Naturally, murid itu akan reflektif ketika mereka merasa aman dalam mengekspresikan pikiran. Mereka gak takut salah jawab/bertindak atau gak takut dicap bodoh. Kalau lingkungannya masih menekankan budaya malu bertanya dan takut salah, ya udah selamanya akan terjebak pada pengetahuan level prosedural aja. Keamanan psikologis berkaitan erat dengan poin berikutnya. 3. Beban kognitif dan tekanan sosial Banyak murid menghadapi kondisi tekanan ekonomi keluarga dan lingkungan yang kurang suportif. Kondisi ini malah membuat murid dalam mode fight, energinya lebih banyak dipakai untuk mikir gimana cara bertahan hidup besok alih-alih belajar dan melakukan refleksi mendalam. Banyak kan kalian lihat di TikTok/Instagram, anak SD sepulang sekolah mulung beras di pasar, anak SMA bangun sebelum subuh karena masak risol buat dijual ke sekolah. Murid saya? Sepulang sekolah mereka ke ladang. Kalau musim panen, pasti wali kelas sering dapat izin "Assalamu'alaikum bu, besok saya izin gak masuk sekolah karena ikut panen kubis/jeruk/dll" 🥺 Kenapa ya anak kecil sampe punya beban ekonomi? Karena penghasilan ortunya gak cukup meski udah kerja siang malam. Kenapa kok bisa gitu? Emangnya gak ada lapangan pekerjaan kah? 4. Kurang contoh dan model berpikir Metakognisi itu bisa berkembang melalui modeling. Kalau murid jarang melihat - gurunya making thinking visible (thinking out loud) - orang dewasa yg merefleksikan pengalaman bisa jadi murid gak akan punya contoh bahwa proses berpikir dan merefleksi itu wajar. Nah sekarang pertanyaannya gaji pokok guru apakah layak?

Indonesia
0
1
3
376
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Tag “kabur aja dulu” sempat naik karena merupakan representasi dari rasa frustasi rakyat Indonesia atas sistem pemerintahannya saat itu. Sementara dalam kasus DS, permasalahnnya adalah DS pamer paspor Inggris milik anaknya lewat video unggahannya (di-unboxing dan dipamerkan dengan framing “paspor kuat”). Seolah membuat narasi superioritas dan delegitimasi terhadap identitas kolektif (WNI). Ditambah DS dan suaminya adalah penerima LPDP Scholarship, jadi seperti meludah di sumur sendiri. Makanya, postingannya menuai pro dan kontra. Bisa jadi, kamu termasuk yg ‘pro’ kalo dilihat dari komentarmu ini.
Indonesia
1
0
1
226
rajjiun
rajjiun@potradjaya1·
@neVerAl0nely___ 𝘿𝙪𝙡𝙪 𝙖𝙙𝙖 𝙩𝙖𝙜 "𝙠𝙖𝙗𝙪𝙧 𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙪𝙡𝙪". 𝙎𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙄, 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙄 𝙝𝙖𝙟𝙖𝙧, 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙖𝙜 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙞𝙩𝙪 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙤𝙢𝙤𝙣" 𝙎𝙖𝙟𝙖?
Indonesia
3
0
0
2.5K
Never
Never@neVerAl0nely___·
Nama Arya Iwantoro mendadak ramai diperbincangkan publik setelah unggahan istrinya, Dwi Sasetyaningtyas tentang kewarganegaraan anaknya viral dan menuai pro-kontra. Sorotan terhadap Arya semakin tajam karena latar belakangnya sebagai akademisi sekaligus alumni beasiswa LPDP yang kini berkarier di Inggris. Arya Iwantoro merupakan lulusan S1 Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2013 sebelum melanjutkan studi ke Belanda. Nama Arya mulai "diburu" publik setelah muncul spekulasi mengenai statusnya sebagai alumni penerima beasiswa LPDP untuk jenjang S2 dan S3. *Mungkin kalau pake uang orang tua untuk kuliah akan beda
Never@neVerAl0nely___

Ramai konten Dwi Sasetyaningtyas soal " cukup aku saja yang WNI tapi anakku jangan" Dan Dwi sudah minta maaf, Berikut tanggapan menteri keuangan Purbaya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyesalkan tindakan alumni penerima beasiswa LPDP Dwi Sasetyaningtyas yang enggan anaknya menjadi WNI dalam kontennya. Menurut dia, konten Dwi seperti menghina negara, padahal dia dan suaminya yang saat ini masih menempuh S3 bisa kuliah di luar negeri karena uang negara. Buntut dari masalah itu, Purbaya akan blacklist mereka dari instansi pemerintahan dan meminta uang beasiswa yang mereka gunakan dikembalikan ke negara. Disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (23/2). 📸: Dok. YouTube Kementerian

Indonesia
24
74
242
761.9K
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Saya baru sadar, nggak semua orang yg ‘nggak peduli penampilan’ itu karena ingin sederhana. Ternyata karena ‘ejekan’ yg diulang sejak kecil. Hari ini bukber sama teman SMP. Ada satu hal yg selalu konsisten darinya: nggak pernah dandan. Sama sekali. Bahkan, menyentuh skincare pun nggak pernah. Dulu waktu SMP, tiap dia dandan sedikit saja, ibunya sering mengejek: “Genit.” Sekarang dia dewasa, menjauh total dari semua bentuk merawat diri. Banyak yang bilang: “Itu pilihan hidupnya.” Padahal seringkali itu bukan pilihan sadar, melainkan respon trauma. Dari tampil cantik jadi rasa bersalah. Dari merawat diri jadi takut dihakimi. Banyak kepribadian orang dewasa tidak tumbuh bebas, melainkan dibentuk oleh luka kecil yg berulang. Itulah kenapa parenting bukan cuma soal membesarkan anak, tapi membentuk siapa dia ketika dewasa nanti.
Indonesia
0
0
0
200
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Saya juga banyak melihat fenomena "orang religius bermasalah" dan sempat mempertanyakan batasan seseorang dikatakan religius itu apa. Ternyata setelah dicari tau bahwa orang yg sering diberi label religius lebih ke orang yg melakukan "spiritual by passing". Jadi, bukan benar-benar orang yg memahami value/spirit agamanya dan cerdas secara spiritual. Lebih tepatnya paham dogmatis, bukan iman reflektif. Namun, satu hal perlu diluruskan bahwa religiusitas itu biasanya tidak performatif dan berbeda dengan ahli teologi.
Indonesia
0
0
0
274
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Hal-hal yg sekiranya jika diungkap akan mempengaruhi hubungan, maka harus diungkap. Kecuali jika diungkap atau tidaknya hal tersebut tidak akan mempengaruhi hubungan, ini jadi opsional. Sementara kelima hal tersebut—riwayat hubungan seksual, masalah psikologis, latar belakang ekonomi dan keluarga, orientasi seksual—yg pasti berpengaruh terhadap kelanjutan hubungan, maka harus diungkap. Bukan untuk dihakimi, tapi transparansi atas konsensual kelanjutan hubungan. Jangan berlindung dibalik narasi "aib harus ditutupi". Aib ditutupi dari pengetahuan publik, bukan dari pengetahuan pasangan.
Indonesia
0
0
1
3K
ITBFess - kirim menfess di itbfess.wtf
Misuh! Mau nanya bagi yg muslim, menurut kalian mana yg sebenarnya aib dan harus disembunyikan dari pasangan kita? 1. Pernah HS di luar nikah 2. Punya masalah psikologis 3. Ekonomi ortu buruk 4. Berasal dari keluarga abusive 5. Orientasi menyimpang
Indonesia
52
12
882
122.8K
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
@sushiforjungwoo Boleh. Nama brand lokalnya Atelierkr asal Jakarta. Mereka menerima course produk kulit asli grade full grain, PO produk, request personalisasi produk, dll. Adminnya lebih fast response lewat WA.
Indonesia
0
0
0
34
🐶
🐶@sushiforjungwoo·
@Octivanny Halooo kak boleh tau brandnya apaa? Kebetulan lagi cari lanyard untuk kado temen aku thank youuu 😊
Indonesia
1
0
0
33
Octivanny
Octivanny@Octivanny·
Beberapa hari yg lalu, PO lanyard dari artisan lokal dengan desain ada namaku di belakang lanyardnya. Pas nyampe, di lanyardnya nggak ada emboss namaku. Tapi, lanyardnya bagus banget. I requested using full grain (cow) leather. Nggak mewajarkan ketidaktelitiannya, tapi saya sangat mengapresiasi hasil kerjanya.
Indonesia
1
0
0
4.2K