Marcus

861 posts

Marcus banner
Marcus

Marcus

@ProLoner28

เข้าร่วม Mart 2020
328 กำลังติดตาม13 ผู้ติดตาม
Marcus รีทวีตแล้ว
hanyur
hanyur@menghanyurkan·
jadi logikanya kalau ada penganut agama X mendiskriminasi penganut agama Y di suatu tempat, penganut agama Y boleh mendiskriminasi penganut agama X di tempat lain? Logika rusak perusak harmoni masyarakat heterogen. Otaknya cuma mentok di bales-balesan.
Bukan Buzzer@ZaynAlfatih4

@menghanyurkan ini juga

Indonesia
26
288
1.2K
26.2K
Marcus รีทวีตแล้ว
zhil
zhil@zhil_arf·
Rule of thumb politik adalah, "uangnya di mana?" Dari sini jelas bahwa "Soeharto jatuh berkat didemo mahasiswa" adalah narasi sesat. Narasi itu tidak menjawab pertanyaan, "uangnya di mana?" "Indonesia merdeka karena kita bergerilya" juga adalah narasi yang tidak lengkap. Uangnya di mana? Setelah 1945, Belanda ingin masuk lagi ke Indonesia karena satu tujuan yaitu uang. Uangnya ada dalam bentuk kayu bulat, karet, migas, kopra, tembakau, dan kopi. "NICA masuk membonceng Sekutu." Apa tujuan NICA masuk? Uang. Pada saat itu Belanda sangat butuh uang karena luluh lantak pasca Perang Dunia II. Agresi Militer I fokusnya adalah merebut dan mengamankan sumber uang, terutama perkebunan cash crop Jawa Barat. Perang gerilya yang dilancarkan TNI dan dikomandoi Jenderal Sudirman membuat Belanda tidak bisa mendapatkan uang dari perkebunan kita. Gerilyawan kemerdekaan menculik dan membunuh mandor kebun, membom rel, dan merampok truk. Rakyat dan para petani perkebunan memusuhi Belanda dan mendukung gerilyawan Republik. Tentara Republik menyerang sumber uang Belanda. Produksi perkebunan luluh lantak selama perang kemerdekaan. Tujuan perang penjajahan Belanda, yaitu memulihkan suplai uang, gagal total. Perjuangan kemerdekaan Indonesia di jalur diplomasi juga berhasil membuat Amerika mengancam memotong suplai uang Marshall Plan yang sangat dibutuhkan Belanda. Konferensi Meja Bundar 1949 berjalan mulus karena Belanda masih mendapatkan apa yang dia cari, yaitu uang, lewat kontrol kepemilikan atas perkebunan cash crop dan pemindahan utang Hindia Belanda ke Indonesia. Hindia Belanda lepas? Siapa peduli. Yang penting uang. Indonesia pun merdeka sepenuhnya pada 27 Desember 1949. Uang, uang, uang. Bom uang, hancurkan uang, negosiasikan uang, ciptakan uang, distribusikan uang. Inilah politik. Indonesia merdeka karena berhasil berstrategi uang. Kejatuhan Soeharto juga sama. Pada 15 Mei 1998, siapapun bisa melihat bahwa Soeharto, Tutut, Bob Hasan, Pangkostrad, dan anggota-anggota inti dinasti Cendana telah gagal total dan sudah mustahil untuk bisa memulihkan ekonomi Indonesia. Krisis ekonomi sejak 1997 telah membuat orang kehilangan uang. Konglomerat kehilangan uang. Jenderal kehilangan uang. Orang partai kehilangan uang. Bahkan preman kehilangan uang. Semua orang kehilangan uang bahkan bangkrut. Semua orang itu ngamuk-ngamuk terhadap Soeharto yang tua, pikun, sakit, kolot, panik, bingung, dan kehabisan ide akan bagaimana menyetop api krisis ekonomi dan kerusuhan yang semakin membakar uang yang ada di Indonesia hingga tidak bersisa. Tidak mungkin mengembalikan "stabilitas politik" dengan membantai mahasiswa yang berdemo, karena demo massal hanya bakal makin ekstrem. Ekonomi pun akan semakin hancur dan uang semakin musnah. Apabila pembantaian pendemo terjadi, IMF dan asing juga akan cabut dan Indonesia akan jadi negara pariah seperti Korea Utara. Uang asing akan hilang. Padahal, Indonesia sangat butuh uang asing IMF untuk memulihkan ekonomi dan menyelamatkan uang. Untuk menyelamatkan uang, tidak ada cara lain kecuali menelan pil pahit, membubarkan Orde Baru, dan melakukan Reformasi. Kalkulasi elite politik menjadi jelas. Reformasi = Uang. Tidak Reformasi = Tidak ada uang. Siapapun arsitek-arsitek yang menginginkan Reformasi, mereka jelas sangat berhasil melakukan cipta kondisi sampai kalkulasi ini bisa-bisanya tercipta. Inilah contoh berpolitik yang sukses: cipta kondisi. Elite politik akan bergerak sendiri sesuai keinginan hati kita, seperti boneka wayang. Golkar terang-terangan mencabut dukungannya lewat pernyataan terbuka yang dibacakan Ketua DPR/MPR, Harmoko. Menteri-menteri mencabut dukungannya dan mundur massal serentak. Aktivitas pemerintahan lumpuh total. ABRI mencabut dukungannya. Panglima ABRI, Wiranto, datang ke rumah Soeharto dan menyatakan bahwa ia "tidak lagi dapat menjamin keamanan pribadi Soeharto". Kalau ada gerombolan orang marah yang datang ke rumah Soeharto dan membantai habis Soeharto dan keluarganya dengan golok, ups, sori tapi ABRI sudah tidak bisa apa-apa lagi. Mati aja lu. Soeharto pun langsung mundur. --- Kalau kamu mau bikin demo besar-besaran, targetnya jelas: sumber uang rezim. Ciptakan kondisi di mana menerima tuntutanmu adalah opsi terbaik untuk menyelamatkan uang. 17+8 pasti gagal karena tidak ada konsekuensi apabila diabaikan. Tidak ada ancaman terhadap uang. Jadinya ya diabaikan lol. Reformasi berhasil karena konsekuensi penolakan Reformasi adalah krisis berlarut --> uang hilang. Hari ini, apa sumber uang rezim yang bisa ditarget? Ya mana gw tau. Tapi banyak opsi. Misal: mogok massal. Kalau karyawan sumber-sumber uang rezim mogok massal, aparat mau apa? Menembak karyawannya? Mogok massalnya pun berubah dari sementara jadi selamanya, karena karyawannya mati dibantai. Perusahaan bangkrut dan uangnya hilang. Mogok massal kemungkinan sangat tidak cukup tho, karena sumber uang rezim yang sesungguhnya adalah sawit dan tambang. Somehow, aliran sumber uang ini harus dipotong. Baik dengan menduduki suatu tempat secara fisik, atau lewat suatu konspirasi politik. Kejatuhan rezim Shah Reza Pahlavi di Iran pada 1979 adalah contoh paling jelas dan dramatis. Karyawan perusahaan migas Iran melakukan mogok massal. Produksi dan ekspor migas seluruh negara distop oleh karyawan yang berdemo. Dana harian operasional pemerintahan termasuk untuk gaji polisi dan tentara pun lenyap. Rezim sang Shah langsung jatuh. Uang. Politik adalah uang. Uang bisa diukur secara angka. Ketika mengancam, ancamlah uang. Ketika menyerang, seranglah uang. Ketika bernegosiasi, tawarkanlah uang. Apabila demo tidak menyentuh sumber uang, tidak ada gunanya.
zhil tweet media
zhil@zhil_arf

Dwifungsi ABRI dibentuk pada zaman Soekarno tahun 1957, bukan zaman Soeharto. Apa itu Dwifungsi ABRI? Jabatan? UU? Kenyataannya lebih sederhana: uang. "Nasionalisasi 1957" itu maksudnya semua perkebunan cash crop milik perusahaan Belanda disita oleh AD, di semua daerah. Orang AD langsung menduduki jabatan sipil yaitu jabatan di perusahaan perkebunan. Pada saat yang bersamaan, orang AD tetap menduduki jabatan militer. *Inilah* Dwifungsi ABRI. Nasionalisasi perusahaan asing ini bisa terjadi setelah darurat militer (SOB) dideklarasikan di masa PRRI/Permesta pada masa rezim Orde Lama. Darurat Militer memberikan kekuasaan pada pangdam tiap daerah untuk basically melakukan "apapun". Misalnya, menyita aset perkebunan Belanda yang nilainya fantastis dan mengelolanya seolah milik pribadi. Boleh dong. Kan lagi darurat militer. Bebas. Kalau tidak setuju ditembak. Kekuasaan nekolim perusahaan-perusahaan asing Belanda diganti dengan kekuasaan ireng. Londo putih ditukar dengan londo ireng. Ternyata, kelakuan rezim londo ireng malah lebih red flag. Setelah pertukaran pemain, kualitas manajemen tata kelola perkebunan yang disita ternyata (1) sangat asal-asalan dan (2) sangat rampok. Perkebunan dikelola dengan sangat asal-asalan karena ternyata, gerombolan baru yang sombong dan sok tahu ternyata sama sekali tidak terdidik dalam hal manajemen ataupun teknik kehutanan. Mereka hanya terdidik dalam membunuh orang. Akhirnya ngasal saja. "Sangat asal-asalan" dan "sangat rampok" ini adalah salah satu penyebab langsung robohnya output ekonomi komoditas ekspor Indonesia selama 1958-1967, hiperinflasi, kelaparan massal. Merekalah salah satu dalang terbesar kemiskinan ekstrem di dekade itu. Karena mereka bingung dan ngasal dalam mengelola ekonomi kita. Dan rampok. Orang yang kritis terhadap perampokan nasional sekaligus bencana buatan nasional ini, seperti Buya Hamka, ditangkap dan disiksa. Rule of thumb politik adalah, "di mana uangnya?" Ketika Buya Hamka dipenjara dan disiksa, tanya: "di mana uangnya?" Ternyata uangnya di perkebunan Sumatra. --- Salah satu anak setan yang dibentuk rahim basah berdarah Dwifungsi ABRI yang ngasal dan rampok ini adalah Pangdam IV/Diponegoro, Kolonel Soeharto. Saat itu Soeharto berkuasa terhadap perkebunan cash crop Jawa Tengah bersama gerombolan banditnya seperti Sudono Salim dan Bob Hasan. Di Jawa Tengah, gerombolan bandit liar yang diketuai Soeharto ini mencuri kayu bulat, beras, hasil gula, bahkan truk-truk tentara milik negara yang disalahgunakan untuk mengangkut komoditas-komoditas curian itu. Sungguh serakah, truknya ikut dicuri. Sebanyak 200 buah truk milik AD diam-diam dijual Soeharto ke seorang makelar bernama Tek Kiong. Barangkali Soeharto bukan bandit paling cerdas, karena buktinya ia berhasil tertangkap basah oleh PARAN, lembaga antikorupsi yang dibentuk KASAD A.H. Nasution yang panik melihat gilanya open season korupsi pasca nasionalisasi. Bandit yang lebih cerdas barangkali adalah bandit di perkebunan Sumatra dan Sulawesi, yaitu di daerah perang aktif PRRI/Permesta yang kebun-kebunnya merupakan war goal Pusat. Siapakah nama-nama bandit di sana? Tidak jelas. Itu dia. Cerdas. Soeharto juga barangkali bukan bandit terbesar di zaman Orde Lama. Bandit paling besar dan paling rampok sepertinya adalah Ibnu Sutowo, yang diberikan kendali atas Permina pada tahun 1957 (yang lalu berganti nama jadi Pertamina). Harus diingat bahwa alasan *utama* Jepang menjajah Indonesia tahun 1942 adalah karena mencari sumber daya migas pasca embargo Amerika. Setelah kita merdeka, seluruh bisnis migas raksasa ini malah jatuh dalam kekuasaan Dwifungsi ABRI di bawah keserakahan Ibnu Sutowo yang sekaligus merangkap sebagai penjahat gangster Mafia Tanjung Priok. Gatot Taroenamihardja, jaksa yang mau mengusut Ibnu Sutowo, tiba-tiba dilindas truk di jalan sampai kakinya harus diamputasi. Setelah PRRI/Permesta ditumpas, gelombang-gelombang nasionalisasi lainnya dilancarkan pada perusahaan asing milik selain Belanda yang sebelumnya tak tersentuh. Perampokan dan miskelola semakin parah selama masa Konfrontasi 1963-1965 pasca penyitaan perusahaan-perusahaan Amerika dan Inggris dan pengusiran para manajer and engineernya. Aset-aset produksi komoditas yang disita itu ikut dirampok habis dan dikelola asal-asalan. Keruntuhan ekonomi Indonesia pun semakin ekstrem, apalagi ketika dicombo dengan (1) kematian Djuanda yang meninggalkan kekosongan IQ pemerintahan dan (2) bencana politik luar negeri Soekarno yang mengakibatkan isolasi internasional. Setelah Soeharto jadi presiden, model sistem perampokan kolonial yang ia bangun di Jawa Tengah kemudian malah diterapkan secara formal dan teratur di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Inilah Dwifungsi ABRI. Kontrol Dwifungsi ABRI terhadap Indonesia diamankan dengan kekerasan bersenjata sampai level desa lewat sistem Kodam-Kodim-Korem-Koramil yang ada. Jawa dirampok *dan* luar Jawa dirampok. Uang yang dihasilkan diambil. Inilah Dwifungsi ABRI. Inilah Orde Baru. --- Dwifungsi ABRI adalah rangkap jabatan fungsi militer dengan jabatan fungsi pengamanan produksi uang. Bisnis milik keluarga Soeharto dan struktur mafia nasionalnya diamankan dengan kekuatan senjata Dwifungsi ABRI. Di Kalimantan, Bob Hasan sampai mendapatkan julukan sebagai "Raja Hutan". Uang yang dihasilkan bos mafia hutan nasional ini tentu fantastis. Kelakuan Bob Hasan si Bandit Hutan ini terus berlangsung sampai ia malah ditunjuk jadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Maret 1998, yaitu di tengah kepanikan krismon. Dari posisi ini, Bob Hasan berkuasa terhadap seluruh industri dan seluruh perdagangan dan seluruh ekspor impor yang ada di Indonesia, setidaknya selama 2 bulan. Meanwhile, *40%* tanah di seluruh Timor Timur malah dirampok langsung secara pribadi oleh keluarga Cendana yang saat itu telah menjadi the Lord of Crime di Indonesia. Tanah milik penduduk Timor Timur dicuri keluarga Cendana dan penduduknya ditembak. Sepertiga populasi Timor Timur mati dibantai. Orang yang membantai Timor Timur sangat menyeramkan. Misal, dulu santer seorang komandan gila psikopat melakukan pembantaian bersenjata di daerah Kraras di Timor Timur. Seluruh populasi Kraras termasuk anak kecil dan bayi habis dibantai. Menurut atasannya yang resah, A.M. Hendropriyono, tes psikologi komandan itu menunjukkan "G4 alias gila". Anehnya, si gila pembunuh berantai itu malah dibiarkan asyik melanjutkan perburuan manusia untuk dibantai di Timor Timur. Di Aceh lebih seram lagi karena gerombolan bandit yang menduduki Aceh selama DOM bukan hanya mencuri kayu bulat atau menyiksa penduduk atau berburu manusia atau mencuri cadangan migas Aceh, melainkan juga menanam narkoba seperti kartel Pablo Escobar di Kolombia. Tujuannya adalah uang. Aceh luluh lantak, tetapi seluruh Sumatra dan Indonesia juga ikut rusak karena narkoba. Uang dari perkebunan Sumatra dan Sulawesi, uang dari perkebunan Jawa Tengah, uang dari Kalimantan, uang dari Timor Timur, uang dari migas dan kayu bulat dan narkoba Aceh, uang dari seluruh Indonesia, semua uangnya diamankan di bawah kekerasan bersenjata Dwifungsi ABRI. Inilah Dwifungsi ABRI. --- Hari ini, banyak sekali orang yang entah bagaimana punya lahan sawit, tebu, karet, dll sebanyak ribuan bahkan ratusan ribu hektar bahkan jutaan hektar. Dapatnya kapan coba? Kapan belinya? Uangnya dari mana? Kok bisa sih, tiba-tiba ratusan ribu hektar di Aceh atau Kalimantan jadi punyanya si ini dan si itu? Memangnya itu tanah dulunya punya bapak lo?

Indonesia
20
181
607
22.1K
Marcus รีทวีตแล้ว
Europa.com
Europa.com@europa·
🇺🇸🇮🇷 Archbishop Timothy Broglio, head of the US military archdiocese, says the Iran war “does not meet just war criteria” and is therefore not morally justified. Broglio warned Catholic troops they are not bound to obey every order in such a conflict, advising them to “do as little harm as possible” and protect innocent lives. He noted US law allows objection to war in general, not specific conflicts. Broglio also called Defense Secretary Pete Hegseth’s use of Jesus to justify the war “problematic,” saying it is “hard to cast this war as something sponsored by the Lord.” Follow: @europa
Europa.com tweet media
English
205
1.9K
6.6K
200.4K
Marcus รีทวีตแล้ว
Heidi N. Moore
Heidi N. Moore@moorehn·
Protestantism devoted itself to being Not Fun. Catholicism has parties, processionals, music, candles and incense and brass and gold and stone. Festivals galore. Galleries of interesting saints for every purpose. Gothic aesthetics. Hot Italians! Whatever religion claims the Italians is already way ahead aesthetically. Protestantism, on the other hand, mostly forbids dancing and gives you nothing to look at during prayers. Maybe a few wood beams.
English
19
74
1.3K
62.2K
Marcus รีทวีตแล้ว
Italian 🚅🇮🇹🇻🇦
Ngl bit increasingly it feels to me like God choosing the next Pope to be an American in 2025 is as intentional as choosing a Pole in 1978
English
30
308
12.5K
219.6K
Marcus รีทวีตแล้ว
Spicy Dumpling 🇮🇩🇰🇵🍉
"asia must unite" >refuses to admit to war crimes >traps the philippines in debt >extracts resources in indonesia >exports plastic pollution >provokes china >discriminates against koreans in japan
✦✦✦ 𝙿𝚊𝚖𝚙𝚑𝚕𝚎𝚝𝚜 ✦✦✦@PamphletsY

🚨🇯🇵🇰🇷🇵🇭🌏 BREAKING — Asia Must Unite! Protests In Japan, South Korea, Philippines Against US-Israel Strikes On Iran

English
18
82
701
20.2K
Marcus รีทวีตแล้ว
Marcus รีทวีตแล้ว
ABC+ Kontrol Pekerja
ABC+ Kontrol Pekerja@ABC_Pekerja·
Teruslah bertingkah konyol walau sudah menikah; Modernitas Kapitalis akan terus berusaha mendisiplinkan kita menjadi dewasa menurut definisinya—untuk kebutuhan tenaga buruh yg tidak ekspresif, hingga akhirnya segala keluhan, keceriaan, etc* dianggap memalukan.
Shariq@77_shariq

Marriage is scary… what if she’s serious, overly mature and not goofy, clingy, playful, dramatic, chaotic, childish and full of life.

Indonesia
8
713
2.4K
60.4K
Marcus รีทวีตแล้ว
codename unknown autistic girl
all these mainstream shonens getting shit endings is cosmic retribution for them acting like they were any better than people who read superhero comics tbh
English
39
171
1.3K
20.6K
Marcus รีทวีตแล้ว
A24
A24@A24·
A24 tweet media
QME
179
2.5K
25.1K
922.9K
Marcus รีทวีตแล้ว
Aristonkle
Aristonkle@ParanoidPol·
Every major sports organization generally wishes people a happy holiday for major holidays across religions. Posts for a Happy Eid, Easter, or Passover aren’t new concepts. This just happened in the quote tweets for a major German soccer team wishing people a Happy Passover.
English
27
90
1.3K
57.9K
Marcus
Marcus@ProLoner28·
@txtfromIR republik ceko karena dizholimi kiri kanan, shut-in, sama irreligious paraguay dan bulgaria karena masa depan suram
Indonesia
0
0
0
11
HI Kuning 🟡
HI Kuning 🟡@txtfromIR·
Jika diibaratkan negara = manusia. Kira2, negara apa yg secara karakter menurut lu tuh 'gw banget'?
Indonesia
21
4
42
5.8K
Marcus
Marcus@ProLoner28·
@idextratime jerman kalo sane goretzka dikunciin di wc/ nagelsmann ga ngide2. realistisnya, spanyol atau inggris. prancis depan belakang bagus tapi tengah agak kurang, argen keknya g mentereng2 amat pemainnya diklub skrg. portugal depannya kurang meski belakang tengah bagus
Indonesia
0
0
0
10
Nabastala ☁️
Nabastala ☁️@lowkeycomfy·
@idextratime Perancis no debat 2022 jg bisa menang cuma squadnya pada kena demam pas final. Akuin aja dengan keterbatasan itu mereka tampil kompetitif dan jadi final pildun terseru
Indonesia
2
1
18
1.2K