Dika
44.3K posts





Unpopular opinion about education ?

Kalo ada grup saham VIP kasih tp 1 - 3% mending leave aja WKWKWK









Ijin merangkum untuk tulisan guru guru gw yg bijak 🙏 Position sizing adalah faktor penentu utama apakah suatu strategi investing/trading berhasil atau justru menghancurkan akun kamu. Bukan strategi : "hold forever" "average down" atau "cut loss cepat" yang mutlak benar/salah, melainkan seberapa besar posisi itu relatif terhadap total modal/kekayaan kamu. Kalau posisi kecil (misalnya hanya 3–5% dari total aset), kamu bisa tahan drawdown besar, average down, atau hold lama tanpa tekanan psikologis. Kalau posisi besar (50–80% dari modal trading), perilaku yang sama jadi berbahaya: denial, slow liquidation, dan potensi kehilangan bertahun-tahun compounding. Intinya: Orang kaya sering terlihat "berani" karena mereka bermain dengan uang yang tidak bikin mereka sakit kalau hilang, bukan karena strategi mereka lebih hebat. Trader retail yang meniru perilaku itu tanpa meniru "arsitektur kekayaan" -nya (balance sheet) biasanya rugi besar. Maksudnya ini mungkin ukuran posisi diri dengan orang lain kali Sizing yang benar = ketahui peran setiap posisi di total portofolio, lalu terapkan aturan risiko yang sesuai (contoh: maksimal 1–2% risiko per trade + maksimal 10–20% alokasi per saham). Contoh ( semoga tidak salah ya) Situasi yang Sama: BBCA turun 30% dari average kamu Kasus 1 – Trader Retail (Modal Trading Rp100 juta) Kamu taruh 70% modal di BBCA. Drawdown 30% → rugi Rp21 juta (21% dari total modal trading). Psikologi: panik, denial ("company bagus kok, dividend ada, bank terbesar loh, bla.. bla.. bla" ), lalu average down lagi pakai sisa modal. Hasil: modal cepat terkikis, susah recovery. Ini yang disebut "slow liquidation of their financial future" . Mereka sedang menghancurkan masa depan keuangan mereka sendiri secara pelan-pelan, tanpa menyadari bahwa proses itu sedang terjadi Kasus 2 – Orang Tajir (Total Kekayaan Rp10 miliar) Alokasi saham hanya 3% dari total kekayaan (Rp300 juta di BBCA). Drawdown 30% di BBCA → rugi Rp90 juta. Dampak ke total kekayaan: cuma 0.9%. Psikologi: tenang banget, malah average down karena "BBCA kecil porsinya, sisanya di properti & bisnis". Hasil: strategi sederhana "beli lagi kalau turun >10%" berhasil, tanpa chart atau thesis rumit. Jadi Kesimpulan dari kedua kasus: Perilaku yang sama persis (average down, hold, tidak cut loss) menghasilkan outcome yang sangat berbeda hanya karena ukuran posisi relatif terhadap total capital. Itulah kenapa copying perilaku orang kaya tanpa punya struktur kekayaan yang sama adalah salah satu kesalahan paling mahal di investing. Itu lah kenapa ada orang yg bangkrut aja masih nyicil pajero sementara kamu minus 80% dah teriak pakai duit sekolah anak, duit pinjol, duit arisan dsb nya... Pesan dan guru guru gw yg penuh kebijakan itu : Perilaku investing yang terlihat "bijak" bagi orang kaya (hold lama, average down) bisa menjadi racun mematikan bagi orang yang posisinya terlalu besar relatif terhadap total kekayaannya Kalau salah mohon di maafkan Lain kali saya tulis cara merebus air dengan ilmu termodinamika aja saya selesaikan baca buku :"termodinamika mesin conversi energi" dulu Gambar tidak ada hubungan nya




Ke bandara karena ada flight ❌ Ke bandara buat ngopi dengan view apron ✅ Mahal? Ga juga KRL Tambun-Sudirman 4.000 TJ 4C/1P Dukuh atas-GBK (pp) 7.000 TJ SH2 GBK-Soetta (pp) 7.000 KRL Sudirman-Tambun 4.000 Total 22.000, lebih murah dari harga kopinya 😂







unpopular opinion about trader indonesia




















