
B sons
615 posts

B sons
@Bsons_
akun 18+ anak kecil dilarang follow ! link pemutih selangkangan https://t.co/F4tDsprQQb baju dinas haram https://t.co/hknZdcmmC6
เข้าร่วม Haziran 2026
97 กำลังติดตาม8 ผู้ติดตาม
ทวีตที่ปักหมุด

Idaman para ciwi-ciwi ,
s.shopee.co.id/5AqA5Z4zfm
Coba beli ni boxer murahnya kebangetan.. 50k dapat banyak
Indonesia

You can be EARLY to these projects on Solana...
> @JurassicFi - tokenized dinosaur fossils (launching soon)
> @epicentral_ - decentralized options trading protocol (open beta soon)
> @backyard_fi - DeFi yield manager (join the waitlist)
> @world_xyz - mysterious new Solana project backed by Solana itself (join the waitlist)
> @stealf_finance - privacy-first stablecoin neobank on Solana (beta live)
> @GetRektApp - perps, prediction markets, and live competitions on Solana Seeker
> @tradeonpear - trading platform with prediction markets and long/short pair trades (join the waitlist)
> @PromisFi - yield-bearing stablecoin backed by business cash flow (join early access)
Solana keeps shipping

English
B sons รีทวีตแล้ว
B sons รีทวีตแล้ว
B sons รีทวีตแล้ว

B sons รีทวีตแล้ว

"Buddha: Filsafat sebagai Terapi, Bukan Dogma"
Di antara hampir semua filsuf besar dunia kuno, Siddhartha Gautama menempati posisi yang agak ganjil. Ia tidak terlalu tertarik menjawab pertanyaan yang sejak lama menggelisahkan para metafisikawan: apakah alam semesta memiliki awal? Apakah jiwa kekal? Apakah Tuhan ada? Apa substansi dasar realitas?
Bagi Buddha, pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah salah, tetapi sering kali tidak berguna.
Bayangkan seseorang tertembak anak panah beracun. Alih-alih segera mencabut panah itu, ia justru bertanya: siapa pembuatnya? Dari kayu apa anak panah itu dibuat? Dari desa mana pemanah berasal? Sebelum semua pertanyaan itu selesai dijawab, ia mungkin sudah meninggal.
Begitulah menurut Buddha keadaan manusia. Masalah terbesar kita bukan kurangnya teori tentang alam semesta, melainkan kenyataan bahwa kita menderita.
Filsafat, baginya, bukan permainan intelektual. Ia adalah pengobatan.
Sering kali Empat Kebenaran Mulia diterjemahkan terlalu sederhana menjadi "hidup adalah penderitaan." Kalimat itu sebenarnya menyesatkan. Buddha tidak mengatakan bahwa hidup hanyalah kesengsaraan. Ia mengatakan bahwa seluruh keberadaan yang terus-menerus berubah mengandung dukkha—sebuah istilah yang lebih luas daripada "suffering."
Dukkha mencakup kecemasan, ketidakpuasan, kegelisahan, kehilangan, rasa kurang, hingga kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita cintai pada akhirnya akan berubah.
Kebahagiaan memang ada. Namun ia rapuh. Dan justru karena rapuh itulah kita takut kehilangannya. Ironinya, bukan kehilangan itu sendiri yang paling menyakitkan, melainkan usaha tanpa henti untuk mempertahankan sesuatu yang memang tidak mungkin dipertahankan.
Buku yang kujadikan referensi ini menjelaskan bahwa akar penderitaan adalah "craving" atau nafsu keinginan. Penjelasan itu benar, tetapi masih belum lengkap. Yang sebenarnya menjadi sasaran kritik Buddha bukan sekadar keinginan. Manusia tidak hanya menginginkan. Manusia menciptakan identitas melalui apa yang diinginkannya.
"Aku adalah pekerjaanku."
"Aku adalah agamaku."
"Aku adalah bangsaku."
"Aku adalah tubuhku."
"Aku adalah kenanganku."
Semua identitas itu kemudian diperlakukan seolah-olah tetap dan permanen. Padahal tidak ada satu pun yang benar-benar demikian. Di sinilah konsep anatta @Anatta_21 (ketiadaan diri yang tetap) menjadi revolusioner. Buddha tidak mengatakan manusia tidak ada. Ia mengatakan bahwa "aku" bukanlah benda tetap. "Aku" adalah proses. Arus. Peristiwa yang terus berubah.
Apa yang kita sebut diri hanyalah rangkaian kondisi biologis, psikologis, sosial, dan pengalaman yang terus bergerak.
Berabad-abad kemudian, David Hume akan mengemukakan gagasan yang sangat mirip melalui teori "bundle of perceptions."
Tak ada inti diri yang bisa ditemukan; yang ada hanyalah kumpulan pengalaman yang terus berubah.
Seluruh filsafat Buddha berdiri di atas satu observasi sederhana:
Segala sesuatu berubah.
Tubuh berubah.
Pikiran berubah.
Hubungan berubah.
Peradaban berubah.
Galaksi pun berubah.
Masalah muncul ketika manusia menginginkan sesuatu yang berubah agar tetap tinggal. Penderitaan lahir dari benturan antara kenyataan dan harapan. Semakin keras kita menggenggam, semakin besar rasa sakit ketika sesuatu terlepas. Dalam bahasa modern, Buddha sebenarnya sedang mengkritik ilusi kontrol.
Apakah Buddhisme empiris?
Buku ini mengatakan Buddha mengajak kita menguji ajarannya melalui pengalaman sendiri. Ini merupakan salah satu aspek paling menarik Buddhisme.
Dalam Kalama Sutta, Buddha bahkan memperingatkan agar orang tidak menerima suatu ajaran hanya karena tradisi, kitab suci, guru, atau mayoritas mempercayainya.
Namun, di sinilah analisis kritis juga perlu masuk. Tidak semua ajaran Buddha dapat diverifikasi secara empiris. Empat Kebenaran Mulia dapat diuji melalui pengalaman hidup. Meditasi dapat dipraktikkan. Kesadaran dapat diamati.
Namun gagasan seperti kelahiran kembali (rebirth), karma lintas kehidupan, dan berbagai alam eksistensi jauh lebih sulit diverifikasi.
Karl Popper mungkin akan mengatakan bahwa bagian-bagian tersebut tidak memenuhi kriteria falsifiability.
Dengan demikian, Buddhisme memiliki dua wajah. Yang pertama bersifat fenomenologis dan psikologis.nYang kedua bersifat metafisis. Keduanya tidak selalu memiliki tingkat pembuktian yang sama.
Apakah Buddhisme agama?
Buku ini cukup hati-hati menjawabnya. Dan memang jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak." Jika agama selalu berarti kepercayaan kepada Tuhan personal, maka Buddhisme memang berbeda. Namun jika agama dipahami sebagai sistem makna, disiplin moral, praktik spiritual, komunitas, ritus, serta visi keselamatan, maka Buddhisme jelas memenuhi banyak unsur agama.
Yang menarik justru adalah bahwa Buddha sendiri tampaknya lebih menyerupai seorang terapis eksistensial daripada nabi. Ia tidak berkata: "Percayalah kepadaku." Melainkan: "Lihatlah sendiri." Perbedaan kecil ini mengubah seluruh orientasi pencarian kebenaran.
Banyak penemuan psikologi kontemporer justru bergerak mendekati intuisi Buddha. Ilusi mengenai diri yang stabil dipertanyakan oleh ilmu saraf. Mindfulness menjadi bagian dari terapi klinis. Psikologi menerima bahwa emosi muncul dan berlalu seperti gelombang, bukan sebagai identitas permanen. Bahkan terapi seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT) atau Mindfulness-Based Cognitive Therapy mengandung gema yang sangat Buddhis: penderitaan sering kali bertambah ketika kita melawan pengalaman batin secara berlebihan.
Namun psikologi modern tetap berhenti pada dunia empiris. Ia tidak perlu menerima karma maupun kelahiran kembali untuk mengakui nilai praktik perhatian penuh.
Yang paling mengesankan dari Buddha bukanlah jawaban-jawabannya. Melainkan keberaniannya membatasi pertanyaan. Di zaman ketika filsafat sering berubah menjadi perlombaan abstraksi, Buddha justru bertanya:
"Apakah pengetahuan ini benar-benar mengurangi penderitaan?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun ia mengguncang seluruh tradisi filsafat. Karena mungkin ukuran kebijaksanaan bukanlah seberapa banyak misteri yang berhasil kita jelaskan, melainkan seberapa jauh pemahaman itu membebaskan manusia dari ilusi, ketakutan, dan keterikatan.
Di situlah letak relevansi Buddha hingga hari ini. Ia tidak menawarkan kepastian metafisik, melainkan sebuah latihan untuk melihat kenyataan sebagaimana adanya. Apakah seseorang kemudian menerima seluruh kerangka Buddhisme—termasuk karma dan kelahiran kembali—atau hanya mengambil dimensi psikologis dan filosofisnya, itu menjadi wilayah refleksi masing-masing. Yang tetap menarik adalah bahwa setelah lebih dari dua milenium, ajakannya untuk mengamati pengalaman secara jernih dan mempertanyakan keterikatan kita sendiri masih terasa segar dan menantang.


Indonesia

tab.markets soft shill spotted
"a signal stops being a signal the moment it becomes one"
that's alpha decay. by the time it's legible, the edge is gone. the game was never spotting signals. it's acting the instant one fires, before the majority can.
triggers > signals, actually
Him@himgajria
Low IQ: Signalling is dead (lvmh is down). High IQ: Signalling will never die, just perpetually shift forms. A signal stops being a signal the moment it becomes one.
English
B sons รีทวีตแล้ว

LOL ‼️ Menkes Kampanye MBG
Presiden kopi@PresidenKopi
Penderita TBC harus makan MBG biar sehat. Obat TBC udah ready belum?
Indonesia

@PanggilAta @itzbasaurus Gak kok masih pedes yang Indomie goreng ayam geprek
Indonesia
B sons รีทวีตแล้ว

@ideamah_ lebih rapi, lebih halus dan juga lebih elegan..
kalau yang onoh, sampai pake putusan MK aokwowkowk
Indonesia
B sons รีทวีตแล้ว

@abulmuzaffar10 Satu lagi, anaknya mau terjun ke politik tetep pensiun dulu dari TNI. Turun ke politik setelah bapaknya gajadi presiden.
SBY ada jeleknya sbg presiden, tp gak segrasak grusuk yg dua setelahnya.
Indonesia
B sons รีทวีตแล้ว

Yang paling mantap dari rezim SBY ya (walau ga sempurna)
- KPK ga dilemahkan, tiap bulan ada aja OTT
- Gaji ASN naik tiap tahun
- Konflik Aceh bisa diselesaikan
- Sertifikasi profesi untuk guru dan dosen
- TNI dan Polri jauh dari kehidupan sipil
- Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6%
- Utang IMF lunas
- Bebas mengkritik rezim, sampai rezimnya dikatai "kebo", "lamban", "saya prihatin"
Dan tentu saja:
Tidak ada pidato "nDaSmu" dan "SaYA aKAn lAWAAAAN!

Ardianto Satriawan@ardisatriawan
Pidato Presiden terakhir yang nggenah. Setelah itu gak ada yang beres.
Indonesia

Agnezmo cuma nyanyi santai gini aja view-nya 8,7juta bjir
Indonesian Pop Base@iPopBase
AGNEZ MO sings ‘Teruskanlah’ in new video.
Indonesia


Pap for tonight🌛 #moots gantian jagain bumi dulu yaa.
Ketua mau rehat, ada yg mau nemenin ketua bobo? 👉🏼👈🏼

Indonesia










