


didaytea
7.7K posts

@didaytea
Kerja Di Qatar. Persib, Chelsea, Milan. Suka baca, suka nulis, suka moto, suka nonton.


















Unity in Diversoto. Campaign yg bisa saya apresiasi dari Bekraf di era Ayahanda Sherina Munaf. Pemikiran awalnya adalah Indonesia butuh identitas kuliner yg mewakili bangsa, khususnya jika menggunakan kuliner sebagai bagian dr diplomasi. Thailand - Tom Yum Korea - Kimchi Jepang - Ramen Indonesia - Rendang? Walau rendang enak dan dikenal di Internasional, Ia hanya mewakili satu daerah. Tidak ada rendang Gorontalo atau Surabaya. Maka Bekraf ketika itu hadir dengan premis Soto - ada di hampir semua provinsi dengan berbagai bentuknya. Soto Aceh, Medan, Padang, Betawi, Bandung, Lamongan, Madura, Banjar, coto Manggala, coto - pallubasa Makassar, sroto, sauto, tauto, empal gentong (?), sampai kaledo. Hadirlah campaign Unity in Diversoto, yg dugaan saya akan dipakai sebagai identitas utk gourmet diplomacy. Sayangnya apa? Yak, gak lanjut. Karena apa? Yak, ganti pimpinan - ganti kebijakan. Jadi, apa soto favoritmu?

Tahun lalu sebelum musim 25/26 mulai, Coach RD diwawancarai Inews utk dimintai tanggapan ttg Jens Raven dan Rafael Struick yg pindah ke Liga Indonesia. Dia mendukung dgn alasan pemain harus cari menit bermain. Yang terjadi kemudian omongan Coach RD terbukti. Raven dan Struick musim kmrn catatkan lebih dari 20 match meski mayoritas masih sebagai pemain pengganti. Sebelum ke sini, Raven hanya main di kompetisi U21 sementara Struick hanya main 10x di Australia yang bahkan dalam 15 pertandingan terakhir timnya dia cuma main 3 menit. Coach RD jg menceritakan ttg situasi Dirga Lasut vs Bayu Pradana, yang mana development keduanya baru terasa 3 tahun kemudian. Jadi yang bisa kita judge keputusan benar-salah itu bukan sekarang apalagi sebelum mereka bermain, melainkan nanti di masa depan.

This is the only surviving head of a Dodo, which became extinct 344 years ago