Heran. Kok masih ada yg mendewakan akademik.
Tapi nggak koreksi gimana mereka mengupayakan orisinalitas mencapai keberhasilan akademik. Emang akademik itu penting. Nah makanya penting bukannya musti diimbangi sama upaya memajukannya? @
Sampai akhirnya tiba pada kesadaran bahwa kami hanya kaum rendahan yang sebaiknya selalu menghamba. Tidak boleh menjadi beban kuasa. Harus selalu tunduk patuh meski salah dan angkuh.
Ada pada situasi yang lebih baik kita meninggalkan. Bukan kalah atau mengalah, lebih pada menyelamatkan diri sendiri. Sedikit egois mungkin, tapi beginilah baiknya.
Walau setengah nafas. Masih ada orang2 yang bisa jadi sumber energi. Allah selalu maha Baik, memberi hal lain yang bisa memperbaiki hidup. Memberi kesempatan lain untuk bisa lebih bermakna.
Jadi kayak gini rasanya disleding kenyataan. Berkorban macam2 tetapi satu aja harapan masih perlu kesabaran untuk menunggu terwujud. Tapi alhamdulillah masih ridho, apapun yang terjadi nerimo ing pandum
Dulu motivasi terkuat untuk pulang adalah jagain embah yang emang sudah usia lanjut. Dari 2012 udah nemenin dan walau pun justru sering ngerepotin tapi tinggal sama embah bener2 jadi moodbooster yang super duper asik.