Ketika Stasiun Glodok telah resmi beroperasi nanti, kami ingin memastikan bahwa identitas dan cerita yang telah lama hidup di kawasan ini tetap terasa di dalamnya.
Sebab Glodok tidak pernah hanya dikenal karena satu hal. Di satu sisi, kawasan ini tumbuh menjadi pusat perdagangan yang terus bergerak mengikuti zaman. Di sisi lain, Glodok memeluk jejak sejarah panjang sebagai kawasan Pecinan tertua di Jakarta.
Dua karakter yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun itu kemudian diterjemahkan ke dalam aksen Stasiun Glodok; dualisme warna merah dan putih. Warna putih merepresentasikan wajah kawasan yang dinamis dan komersial, sementara warna merah menjadi penghormatan terhadap akar budaya Tionghoa yang telah membentuk identitas Glodok hingga hari ini.
Cerita tersebut tidak berhenti pada elemen visual semata. Melalui prinsip desain yang intuitif, warna putih akan mengarahkan pelanggan menuju sisi kawasan komersial, sedangkan warna merah membawa mereka lebih dekat pada kompleks Candra Naya sebagai salah satu jejak cultural heritage yang masih bertahan di tengah modernisasi kota.
Nantinya, cerita ini akan semakin lengkap dengan hadirnya instalasi menyerupai kain sutera yang membentang di dalam stasiun. Sebuah elemen yang mengikat perjalanan, ruang, dan identitas kawasan ke dalam satu pengalaman yang utuh.
Foto: Pembangunan konstruksi area concourse Stasiun Glodok.
#MRTJakarta#UbahJakarta
MBG harus udah sampai sekolah pagi jam 7-an. Ada ratusan siswa yang harus dapet makanan. Belum harus disiapin di ompreng dan ditutup. Belum delivery nya.
Kalo dimasak ga dari jam 3, mau masak jam berapa? Ketauan gapernah jualan atau rewang 😭😭😭
@TwipsX Coba aja di Indo buat hitungan gaji per jam,
mungkin org bisa makin kritis.
Bandinginnya:
Kerja di sini per jam sekian, di sana per jam sekian.
Pilih yg mana?
Anyway, 1 juta per bulan gak worth it.
Kalo di Jakarta, ngantar tamu dari Indonesia Timur bisa dapat 300-400k per hari.
Percaya ga percaya, masih banyak orang di Indonesia yang kerja dengan gaji sekitar Rp1 juta per bulan.
Biasanya posisi yang dibayar segini ada di pekerjaan yang non skill, kayak waiter, helper, penjaga toko, kasir, atau buruh harian.
Menurut gue, secara pribadi ini nggak manusiawi.
Bayangin kerja 8 jam sehari, 6 hari seminggu, sebulan penuh, tapi penghasilannya bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar secara layak.
Tapi di sisi lain, realitanya masih banyak orang yang tetap apply pekerjaan dengan gaji segitu.
Dan selama jumlah pencari kerja jauh lebih banyak daripada lapangan kerja yang tersedia, fenomena seperti ini akan terus ada.
Buat perbandingan, di Amerika, posisi waiter bisa menerima upah sekitar US$15–20 per jam (belum termasuk tip).
Kalau dihitung 40 jam kerja per minggu, penghasilannya bisa mencapai sekitar US$2.600–3.500 per bulan atau setara Rp42–57 juta per bulan.
Perbedaan ini nunjukin kalo pekerjaan yang sama bisa dihargai dengan nilai yang sangat berbeda tergantung produktivitas ekonomi dan kondisi pasar tenaga kerja suatu negara.
Menurut kalian, worth it ga kerja gaji Rp1 juta/bulan?🤔
Sushi Mentai
Salah satu resto sushi 'budget' di Jogja (Kotabaru). Disini varian sushi railnua di 10rb, 13rb, 15rb.
Sedikit 'hack' dari gw, biar ga kalap makan sushinya, pesen aja Garlic Fried Rice Rp12rban. Minum Ocha Rp5rb (free flow).