Human
1.2K posts



apa opini kamu tentang sepak bola atau fan culture yang bikin kamu ada di posisi kayak gini?

What's a 10/10 save?


Choose your striker ? -Bepe yang klinis dan punya senjata jumping header? -Ilham Jaya Kusuma akselerasi yang bombastis dan efisien -Boaz Solossa skillfull dan speed nya kenceng - Kurniawan cerdas dan movement tanpa bola oke banget Siapa favoritmu?


Dari cerita Taufik Hidayat ini pula, ada satu hal menarik di Pelatnas Cipayung yang terungkap. Di Pelatnas Cipayung, ukuran senioritas atau sosok terpandang, bukan ditentukan oleh umur. Tapi, oleh prestasi. Ketika usia muda tapi berprestasi akan lebih dihormati dan didengar dibanding pebulutangkis yang sudah lebih berumur tetapi prestasinya kurang. Taufik Hidayat sendiri menjalani hal tersebut dalam perjalanannya di Pelatnas Cipayung. Masuk di tahun 1996 ketika masih usia belasan, Taufik jelas tidak dianggap. Bahkan ada momen ia diremehkan. Namun seiring tahun berjalan, prestasi datang, kehormatan dan derajat Taufik Hidayat terus terangkat. Ketika ia sudah berprestasi, ucapan serta komentar yang ia sampaikan lebih didengar. Dari situ, Taufik Hidayat belajar. Bahwa bila pebulutangkis berprestasi, ia bakal lebih dipandang dan dihormati. Itulah yang kemudian terjadi. Sifat keras Taufik Hidayat, termasuk soal keinginan hanya ingin dilatih Mulyo Handoyo, dibarengi dengan prestasi dan potensi. Dalam gelimang prestasi yang ia raih, Taufik juga sering jadi penyambung lidah pebulutangkis lainnya dan juga junior-junior di Pelatnas Cipayung. Setelah Taufik Hidayat keluar, Nova Widianto (yang secara usia lebih tua dari Taufik) bahkan mengeluhkan kehilangan sosok Taufik. Keluhan pemain, terhadap kebijakan PBSI yang dinilai merugikan pemain, tidak bisa disampaikan dengan lebih mudah bila dibandingkan saat Taufik masih ada di dalam Pelatnas Cipayung. Taufik sendiri tidak pernah merasa dirinya sempurna dan jadi contoh yang tepat untuk dijadikan teladan seutuhnya sebagai atlet di Pelatnas Cipayung. Dalam banyak kesempatan, Taufik memilih untuk berkomentar realistis. "Ambil yang baik dari saya. Jangan ambil yang buruk dari saya."

The Sun has only 22 galactic orbits left. Earth races around the Sun at ~67,000 mph (107,000 km/h), giving us our familiar 365.25-day year and changing seasons. But the Sun is in motion too—hurtling through the Milky Way at ~514,000 mph (828,000 km/h) on a grand orbit around the galactic center. One complete lap, known as a cosmic year, takes roughly 225–230 million years. When the Sun finished its most recent galactic orbit, the earliest dinosaurs were just beginning to roam Earth. Since its birth ~4.6 billion years ago, our star has completed about 20 such orbits. Stellar models predict the Sun will keep fusing hydrogen in its core for another ~5 billion years before it swells into a red giant and eventually fades into a white dwarf. At its current orbital speed, that leaves roughly 22 more laps around the Milky Way. Each cosmic year sweeps the entire Solar System tens of thousands of light-years across the galaxy—through dense spiral arms rich with star-forming regions, past ancient globular clusters, and amid countless other stars. Continents drift, mountains rise and erode, entire species evolve and vanish—all within a tiny fraction of one galactic circuit. Human civilization, from the first cities to today’s digital age, has existed for less than 0.001% of a single cosmic year. We are passengers on a star halfway through its ~10-billion-year galactic journey across a 100,000-light-year-wide disk—witnessing just the briefest sliver of one ongoing lap in an unimaginably vast cosmic dance.





















