Wawat Kurniawan (WeKa) 🇲🇨@WeKa_Ronin
Ini kalimat KAMUFLASE, yang sebenarnya terjadi adalah Bank Central melakukan BAIL-IN pada APBN Pemerintah, Bukan demi Rupiah, tapi karena APBN sudah Kosong, Kas sudah Kosong, dan pemerintah ga bisa melakukan aktifitasnya
Pinjaman liquiditas dari Bilateral maupun Multilateral juga Tidak bisa didapat, sehingga Pemerintah Menjual Obligasi Negara pada Bank Central, ini berbahaya dan penuh gambling, karena seharusnya pemerintah prabowo di shutdown agar bisa dorancang anggaran baru yang lebih masuk akal bersama DPR ditengah keuangan yang KRITIS / BOKEK BERAT
Pelonggaran Moneter atau "Money Printing"?
Ketika Bank Indonesia (BI) membeli SBN (Surat Berharga Negara) secara masif di pasar perdana atau melalui mekanisme burden sharing, secara esensial BI sedang melakukan monetisasi utang.
Jika ini dilakukan karena pasar (investor asing maupun domestik) sudah tidak mau menyerap obligasi pemerintah (akibat risiko yang terlalu tinggi), maka BI menjadi lender of last resort bagi pemerintah.
Ini adalah tanda bahwa kepercayaan pasar sedang goyah.
Tabungan Negara yang Terkuras
Istilah "Tabungan Negara" dalam konteks ini biasanya merujuk pada Saldo Anggaran Lebih (SAL) atau dana cadangan.
Jika dana ini digunakan untuk memborong SBN sendiri:
Ilusi Likuiditas: Pemerintah seolah-olah memiliki uang, padahal itu hanya perpindahan kantong dari cadangan masa depan untuk menutupi defisit hari ini.
Risiko Inflasi: Suntikan likuiditas langsung dari Bank Central ke APBN tanpa adanya pertumbuhan sektor riil yang sebanding berisiko tinggi memicu inflasi dan melemahkan daya beli masyarakat.
Program-program besar yang dipaksakan di tengah ruang fiskal yang sempit (seperti MBG yang sering Anda soroti) menciptakan rigiditas anggaran.
Pemerintah menjadi tidak fleksibel; mereka harus membayar cicilan utang dan bunga yang membengkak, sementara pemasukan pajak melambat.
jika pasar melihat bahwa BI terus-menerus membiayai defisit pemerintah (fiscal dominance), independensi BI akan dipertanyakan.
Hal ini justru bisa memicu pelarian modal (capital outflow) karena investor takut akan depresiasi nilai mata uang dalam jangka panjang.
Risiko Sistemik:
Jika skema ini terus dilakukan tanpa adanya efisiensi anggaran yang radikal atau audit struktural terhadap belanja negara, kita sebenarnya sedang membangun "Menara Kartu". Kebijakan ini memang memberi nafas jangka pendek, namun mempertaruhkan stabilitas makroekonomi jangka panjang.
Manuver BI ini merupakan langkah putus asa karena akses ke pasar utang internasional (seperti Eurobond atau Samurai Bond) sudah tertutup akibat profil risiko Indonesia yang meningkat?
:: WeKa ::