
Ray Heights
3.8K posts



Banyak hewan di laut menghadapi ancaman kepunahan akibat aktivitas manusia seperti polusi, kebisingan laut, dan perubahan iklim.




Forest loss in Indonesia surged by 66% in 2025, hitting its highest rate in eight years as a result of weak environmental protections and an ambitious food and energy self-sufficiency drive, an environmental group said reut.rs/4v1KCpB

@kompascom Gantian urusan pertahanan legitimate, disuruh kembali ke barak. Giliran ngurusin ranah sipil dan nyirem air keras, dibolehin keluar barak. BTW nih orang dulu ditanya Akbar Faizal di podcast ga tau apa2 soal konten UU TNI yg dia sahkan x.com/raysofflight/s…






Dalam kasus upaya pembunuhan Andrie Yunus, indikasi kembali menguat, bahwa perkara inipun hanya akan menyentuh pelaku lapangan. Indikatornya antara lain: _*Pertama*_, para pelaku lapangan terlihat PD alias jumawa. Mereka dengan sengaja teledor melakukan upaya serangannya di hadapan banyak rekaman CCTV, tanpa penutup wajah, tanpa upaya serius dan profesional menghilangkan jejak dan barang bukti. Hal demikian, mengindikasikan, para pelaku merasa aman dan nyaman, tidak khawatir akan dijerat sanksi tegas yang menjerakan. _*Kedua*_, jika benar dugaan ini adalah operasi intelijen, maka garis komandonya mestinya harus dirunut, dan semua dimintai pertanggung jawaban, tidak cukup hanya dengan penggantian KABAIS. Pun, kalau ada yang diberi sanksi pidana penjara, seharusnya bukan hanya kepada pelaku lapangan, tapi hingga ke semua pelaku utama, dan aktor intelektualnya. Indikasi yang sejauh ini menguat, jangankan pelaku utama dihukum, bahkan belum tentu semua pelaku lapangan dijerat. Indikator paling jelas, empat tersangka yang ditetapkan PUSPOM TNI, berbeda dengan inisial pelaku yang diumumkan POLRI. _*Ketiga*_, langkah-langkah menggiring perkara ini ke lingkup pidana militer dan disidangkan di pengadilan militer, adalah modus yang kerap dilakukan untuk melindungi pelaku lapangan hanya dihukum ringan, dan pelaku utama atau aktor intelektual tidak tersentuh hukum pidana sama sekali. _*Keempat*_, tidak menyegerakan pembentukan Tim Pencari Fakta Independen yang melibatkan tokoh Masyarakat kredibel, adalah kesalahan. Karena, menyerahkan kasus bernuansa keterlibatan aparat negara, apakah TNI ataupun Polri, ke proses penegakan hukum biasa, ujungnya tidak akan pernah efektif. Polri akan _ewuh-pakewuh_ menangani perkara yang melibatkan tentara, sedangkan Puspom TNI, biasanya terkendala benturan kepentingan melindungi korps institusinya. Bahkan, dengan Presiden SBY yang membentuk TPF sekalipun, aktor utama yang diduga mendalangi pembunuhan Munir, tetap tidak berhasil diungkap, apalagi ditangkap. Ketika menangani pembunuhan Munir, Presiden SBY mengatakan, _“It is a test of our history”_. Ujian yang hingga kini gagal meminta pertanggung jawaban pelaku utamanya. Dalam kasus serupa, pelaku pembunuhan dengan air keras yang membutakan mata Novel Baswedan, Brigadir Polisi Ronny Bugis dan Brigadir Polisi Rahmat Kadir Mahulette, masing-masing “hanya” divonis 1 tahun 6 bulan dan 2 tahun penjara. Tanpa pernah diungkap siapa dalang yang memerintahkan penyerangan tersebut. Maka, sekarang saatnya, Presiden Jenderal Prabowo memutus mata rangkai kegagalan sejarah yang terus berulang terkait penyerangan dan pembunuhan para aktivis. Sebagai Presiden, Panglima Tertinggi, tidak ada kekuatan yang bisa menghalangi Prabowo untuk mendorong diungkap tuntasnya seluruh pelaku, termasuk penyandang dana, dan pelaku utama atau aktor intelektual penyerangan Andrie Yunus. Yang bisa menghalangi hanyalah ketakutan dan _self-censorship_ dari Prabowo sendiri. Saya berpendapat, dalam hal mengungkap pelaku utama penyerangan ataupun pembunuhan aktivis, aparat negara kita bukanlah tidak _*MAMPU (unable)*_, tetapi lebih karena kita tidak _*MAU (unwilling)*_. Sejarah republik terus mengulang pola yang sama, hanya menghukum dan mengorbankan pelaku lapangan, dan selalu membebaskan pelaku utama atau aktor intelektualnya. Jika sejarah buruk dan mata rantai kejahatan demikian terus dibiarkan, maka dapat dipastikan hanya soal waktu kejadian penyerangan dan upaya pembunuhan aktivis akan kembali berulang. Sebagai pribadi yang dikenal patriot dan cinta Indonesia, serta rela berkorban demi kepentingan republik, sekarang adalah waktu pembuktian bagi Jenderal Prabowo. _The moment of proof_. Ibu Pertiwi memanggil. Saatnya Presiden untuk tegas mengeksekusi aksi, dan tidak hanya bergoyang _gemoy_ ataupun lantang berorasi. _*Indonesia Memanggil Presiden Jenderal Prabowo Subianto!*_






Min @KemensetnegRI, ini saya bertanya murni ya. Berbasis protokoler dan kapatutan pertemuan pemimpin dua negara. Kepala Negara. Ini kan acara resmi undangan Kaisar Jepang ya. Artinya undangan Kepala Negara pada Kepala Negara. Tapi yg mengganjal saya, itu Mas Teddy duduk sebagai apa di meja? Posisi terhormat yang Perdana Menteri Jepang saja tidak akan ambil jika itu pertemuan dua kepala negara (CMIIW). Kedua, Mas Teddy itu hanya eselon 2 di Setneg kan? Masih ada di rombongan yang jauh di atas itu, eselon 1 bahkan Menteri hingga Menko. Kenapa koq malah eselon 2 yang di sebelah kanan Presiden? Kalau putra Presiden, itu wajar dalam jamuan kenegaraan, apalagi memang Pak Prabowo saat ini masih sendiri, wajar duduk bersama Kaisar mendampingi bapaknya di jamuan kenegaraan. Coba jelaskan agar tidak jadi isu, bukan hanya nasional juga International. Mungkin bisa dicek di protokoler Kemenlu, apa pernah kejadian seperti ini. Terimakasih jika dijelaskan.






@KiddieOv @LembagaKERIS Masih belum paham juga..🤦♂️ Kecepatan presiden berbicara itu krusial bahwa dia itu piawai dalam manajemen krisis dan negara hadir bagi warganya. Kalau lamban ya berarti secara simbolis, presiden menganggap prajurit yg gugur itu tidak penting2 amat.





