Pribumi
1.8K posts

Pribumi
@sunarwedy
manusia biasa yang proses Slow living semangat ingin tahu banyak hal kebaikan
เข้าร่วม Aralık 2013
2.5K กำลังติดตาม2.2K ผู้ติดตาม

DAY 1/90 NGELUNASIN UTANG 500JT 💸
HASIL NGONTEN AFFILIATE
📝 Tiktok Go 440rb
🛍️ Affiliate Shopee 300rb.
💸700.000/500.000.000
Masih jauh, masih 89 hari tapi ini progress. Tapi ini belum cair yah, masih perkiraan komisi.
Bismillah konsisten lagi, yuk banyak peluang terbuka yuk amin 🥹


Dora Erlina@_doraredre
Guys, aku lagi bangkrut dan punya utang 500juta. Aku lagi nantang diri sendiri buat ngumpulin 500jt dalam 3 bulan lewat ngonten/sosmed. Kalau ada yang mau kerjasama/kolaborasi juga boleh ya :)
Indonesia

In this economy
Ga usah malu ngonten, ga usah dengerin orang-orang seperti ditoks, carilah uang dimana dan senyaman kamu selagi itu halal.
Kalau aku lihat banyak banget yang dapat uang dari twt, nominalnya lebih besar daripada umr di daerah mereka masing-masing.
Jadi ga usah malu, dan dengerin omongan orang lain, kita beli centang biru ga pakai duit mereka.
Ditoks 🍉@ditoks
Bisa ga sih orang2 balik lg ke Twitter yg ga cari duit dan ngetwit for fun aja gt ga ada target engagement yg perlu dikejar
Indonesia

Semuanya berawal dari "Ada" dan "Tidak ada", dengan kata lain, sebut saja Ada sebagai 1, Tidak ada sebagai 0.
Ketika "Ada" membesar, dari 1 ke 1 + 1, alias 2,
Kemudian berjalan dari 2 ke 2 + 1, alias 3,
Ditambah 1 terus menerus.
Mulai dari 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, ...
Mereka menamakan sebagai bilangan asli. Bilangan Asli ini merupakan bilangan abstrak pertama yang strukturnya jelas.
Tapi, ternyata 1 tidak melupakan 0, dia mengajak 0 untuk ikut serta
Mereka membentuk 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ... sebagai Bilangan Cacah.
Walaupun mereka sudah menjadi keluarga yang besar, ternyata mereka memiliki 2 sisi yang tidak diketahui oleh mereka. Sisi pertama adalah sisi positif, sisi kedua adalah negatif.
1 bisa bertukar menjadi -1
2 bisa bertukar menjadi -2
3 bisa bertukar menjadi -3
Sehingga, ketika mereka membuat kembaran yang mirip dengan mereka. Mereka hidup sebagai pelengkam mereka.
Sedangkan 0, dia berada di nilai tengah, dia memilih menjadi penetral, mau 0 atau -0 itu sama saja, karena dirinya melambangkan "ketidakadaan, kekosongan, dll"
Mereka membentuk keluarga baru... Yaitu
Bilangan bulat : {..., -4, -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, 4, ...}
0 yang menjadi catatan berjalan, bahwa :
Bilangan Asli = Bilangan bulat positif
Bilangan Cacah = Bilangan bulat tak negatif (0 turut diajak)
Suatu hari, Para bilangan ingin mencari identitas mereka sebagai bilangan, mereka ingin mencari identitas mereka.
Mereka mencoba membagi diri mereka, menjadi 2/3, 3/4, 5/6, 7/8, 9/10 dan seterusnya...
Bilangan Negatif juga ingin mencobanya. Dari -1, menjadi -1/2, menjadi -2/3 dan seterusnya.
Mereka menyimpulkan kembali, bahwa mereka bisa membuat diri mereka menjadi pecahan. Mereka menyebutnya sebagai :
Bilangan Rasional
Bilangan yang bisa membuat diri mereka menjadi a/b
Bentar, tapi ada yang unik, tiba-tiba si 1 mengusulkan mencoba memakai alat ini √
Alat ini bernama akar... untuk memecahkan dirinya menjadi 2 perkalian bilangan yang sama...
Saat digunakan pada 0, hasilnya √0 = 0
(karena 0 x 0 = 0)
Begitu juga saat dipakai ke 1, hasilnya menjadi √1 = 1
Saat digunakan pada 2, kenapa angkanya menjadi :
1.41421 35623 73095 04880 16887 24209 69807 85696 71875 37694 80731 76679 73799....
Setelah dicari, ternyata tidak memiliki ujung, tidak bisa dijadikan pecahan... Akhirnya bilangan yang berisi pola random menjadi Bilangan Irrasional.
Mereka menyebut semua ini menjadi bilangan Real(nyata)
Epilog :
-1 ingin mencoba fitur √, sehingga menjadi √-1
Tapi ternyata hasilnya error... Mereka gempar karena kejadian itu. Mereka menamainya Bilangan Imajiner.


Indonesia
Pribumi รีทวีตแล้ว

Perusahaan yang tidak pernah berbisnis dengan petani kecil!
Agrikencana perkasa berlokasi di klaten jawa tengah merupakan perusahaan probiotik yang fokus riset dan produksi pupuk serta konsentrat pakan ternak, mereka selalu eksplorasi mikroba yang ada di seluruh indonesia yang nantinya dipakai untuk fermentasi dan mengurai bahan organik.
Saat itu gua berkesempatan ngobrol langsung sama ownernya dan beliau ini sangat rock and roll, karena beliau lulusan ilmu tanah juga jadi kita sangat nyambung dan yang paling gua suka adalah slogan perusahaan mereka yaitu:
CENTER OF WITHOUT BOX THINKER
Mereka bahkan tidak memakai out of the box karena masih ada "box"nya disitu, dan saat berkunjung kesana ekosistemnya sangat ideal buat gua karena kebebasan berpikir sangat wajib mesti kudu ketika disana ahahahah.
Merka juga selalu membagikan produksi pupuk organik mereka ke petani kecil dan gua juga dapet hibah sekitar 2 ton buat dibawa ke malang heheheheh.
Mereka juga produksi bakteri dekomposer, asam amino dan mikroba pembenah tanah yang gua pake di kebun, kalo ditanya bagus gak? Gua saranin coba aja sendiri.
Ownernya berpesan untuk selalu libatkan petani kecil saat berinovasi, karena kalo bukan kita siapa yang akan menggandeng mereka? Yang diatas sana cuma mau berbisnis dengan petani dan peternak kita.
Terimakasih untuk mas seno karena telah ngajak dan membawa anak muda yang haus ini ke habitat yang semestinya.




Indonesia
Pribumi รีทวีตแล้ว

Guys, ada obrolan dengan Mahalini yang menurut gue jarang banget ada penyanyi sepopuler dia yang mau cerita sejujur ini.
Bukan soal karir yang glamor.
Tapi soal semua yang harus dia lalui sebelum sampai ke sini.
Dia hampir jadi dokter gigi.
Bukan bercanda.
Mahalini kuliah kedokteran gigi sampai semester tiga bukan karena passion dia di sana, tapi karena ibunya pengin punya anak dokter.
Dan dia ikutin.
Karena dia sayang ibunya.
Gua termotivasi oleh mama.
Ya udah mending aku fokus sama dokter.
Sampai suatu hari ada audisi Indonesian Idol special di Bali tanpa antrian panjang.
Dia pergi diam-diam.
Ibunya nemenin ke sekolah seperti biasa.
Tapi begitu ibunya pergi Mahalini belok ke studio audisi bersama temannya.
Dan ibunya?
Ternyata sudah feeling dari awal.
Mama bilang, 'Sebenarnya Mama udah feeling kamu pasti ikut.Waktu kamu pakai kebaya itu, Mama sudah tahu.'
Dia masuk Idol tanpa ekspektasi dan itu yang menyelamatkannya:
Gua bilang ke mama, aku mau jadi orang biasa-biasa aja ya di Idol.
Tidak ambisius.
Tidak ngoyo.
Cuma ikut dan jalanin.
Dan mungkin justru karena itu dia bertahan jauh lebih lama dari yang dia bayangkan.
Tapi di balik itu semua ada tekanan yang luar biasa.
Di babak top tujuh sebelum naik panggung dia menangis sendirian.
Gua capek.
Gua enggak mau nyanyi.
Gua mau pulang.
Tidak ada HP.
Tidak boleh lihat media sosial.
Dan itu ternyata berkah.
Karena satu hari dia sempat buka komentar dan yang dia temukan cukup untuk menjatuhkan mental siapapun.
Ini jelek banget.
Pantes keluar aja dari sini.
Responsnya waktu itu?
Dia balas satu per satu.
Gua ajak ribut.
Gua gedek banget.
Gua bilang sini lah, gua balasin DM-nya.
Sekarang?
Dia sudah tidak peduli.
Karena dia sadar orang yang nulis seperti itu biasanya punya problem sendiri yang dilampiasin ke orang lain.
Kehilangan yang paling berat:
Tidak lama setelah Idol ibunya meninggal.
Di masa COVID gelombang kedua.
Delta.
Yang paling brutal.
Mahalini dan ibunya sama-sama kena.
Di Jakarta.
Berdua.
Tidak ada siapa-siapa.
Gua sampai muntah di kasur.
Gua nyari rumah sakit penuh semua.
Gua nyari tabung oksigen susah minta ampun.
Dia minta tolong ke asisten temannya untuk carikan oksigen.
Kakaknya terbang dari Bali untuk menyelamatkan mereka.
Tapi ibunya tidak selamat.
Dan yang bikin tambah berat Mahalini tidak sempat melihat jenazah ibunya. Tidak ketemu. Karena protokol COVID waktu itu.
Sampai detik ini gua enggak pernah mau melihat fotonya setelah dia meninggal.
Dan dari situlah lahir lagu Sisa Rasa:
Awalnya lagu itu adalah lagu cinta biasa. Notasi sudah ada. Lirik sudah ada. Tapi semuanya untuk cerita yang berbeda.
Setelah ibunya pergi dia ubah semuanya. Ganti liriknya. Ganti maknanya. Dan proses rekamannya selesai jam setengah satu pagi. Sambil nangis.
"Setiap hari di Jakarta bareng mama. Yang paling berat itu keseharian. Bangun pagi dan enggak ada dia."
Cara dia berkarya yang paling gue suka dari seluruh obrolan ini:
Mahalini tidak menunggu inspirasi datang di studio. Inspirasinya datang di tempat-tempat yang tidak terduga.
Di motor. Di jalan Bali yang macet karena banyak gedung baru — dia lihat sawah yang sudah hilang dan lahirlah lagu "Rindu."
Di kamar mandi. Dia sengaja mandi supaya dapat inspirasi rekam sambil basah, taruh HP di tempat sabun, lap tangan sebentar, rekam lagi, lanjut mandi.
"Gua nge-send ke orang dengan ada suara air gitu. Mas, ini gini gini dengan suara air."
Ada ratusan voice note di HP-nya yang belum jadi lagu. Potongan-potongan ide yang datang di momen yang tidak pernah bisa diprediksi.
Dan soal kehidupannya sekarang:
Setahun lebih berhenti dari dunia hiburan setelah melahirkan Selina. Sekarang balik lagi dan langsung gas.
Anaknya yang baru satu tahun sudah naik pesawat ke Maroko. Sudah les renang sejak dua bulan. Sudah say hi ke semua orang di mall. Sudah bernyanyi mengikuti nada lagu Bruno Mars dengan intonasi yang persis.
"Gua play lagunya. Di bagian Bruno Mars nyanyi dia juga ikut dengan nada yang sama."
Dan soal memperlihatkan wajah Selina ke publik Mahalini belum siap. Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia mau tunggu sampai Selina sendiri bisa bilang boleh atau tidak.
Gua foto.
Papa boleh foto enggak?
Jangan foto dong terus dia cabut."
Kalau anaknya sendiri sudah bisa memutuskan baru dia akan tunjukkan.
Dia tidak pernah benar-benar healing dari kehilangan ibunya.
Sampai sekarang.
Tapi dia memilih untuk tidak terpuruk karena dia yakin ibunya tidak mau melihat anaknya berhenti.
Gua memutuskan untuk ya udah gua tulis lagi deh.
Dan dari keputusan itu lahir lagu-lagu yang sekarang didengar jutaan orang.
Kadang karya terbaik tidak lahir dari kondisi terbaik. Tapi dari rasa yang paling dalam yang tidak ada cara lain untuk dikeluarkan selain lewat musik.

Indonesia

Ini foto lama yang aku minta dibuatkan ulang jadi seperti lukisan pakai AI.
Kalau tidak salah, momen ini diambil setelah ibu mengambil rapor kenaikan kelasku, dari kelas 2 ke kelas 3 SD. Waktu itu, bapak baru saja meninggal, belum lama.
Di tengah keadaan yang tidak mudah, ibu hanya punya satu keinginan sederhana: setiap tahun ada foto kenangan bersama anak-anaknya. Mungkin bagi orang lain itu hal biasa, tapi bagi ibu, itu adalah cara kecil untuk menjaga kebersamaan tetap utuh, melihat kami bertumbuh meski keadaan sudah berubah.
Sepeninggal bapak, ibu pernah berkata saat kami berkumpul, bahwa ia akan berjuang merawat kami, membiayai pendidikan kami sampai selesai.
Dan satu lagi janjinya (yang ia pegang sampai akhir hayat) ibu tidak akan menikah lagi.
Ibu bukan tipe yang mudah marah.
Tidak pernah memukul, tidak pernah menghardik.
Kalau kami nakal kebangetan, biasanya sore atau malam hari diajak duduk, diajak bicara, diberi pengertian… dengan cara yang tenang tapi dalam.
Dari ibu, aku belajar banyak tentang kekuatan.
Tentang bertahan, tanpa banyak mengeluh.
Tapi dari ibu juga, aku belajar mengenali diriku sendiri.
Katanya dulu, “Hatimu itu lembut, gampang iba… nanti kamu bakal sering ‘kapusan’.”
Dan ternyata… iya juga 😄
Doa terbaik untukmu Ibu, Al fatihah. ❤️

Indonesia

Gaji dari X kamu gunakan untuk apa?
Aku gunakan untuk beli HP.
Dari dulu pengin beli HP Samsung karena HP lamaku rusak & full memori. Akhirnya, wishlist-ku terpenuhi. 🥹 Aku beli pas 18 September 2024. Aku beli case dan tempered glass-nya Spigen juga. Beli aksesoris dulu karena stoknya sisa 1 saat itu, takut nggak kebagian. 🙂
Pas 26–28 September, aku Tirtha Yatra ke Lombok. Jadinya aku bisa ambil dokumentasi sepuasnya tanpa pusing mikirin memori penuh atau kualitas kamera.
Momen-momen perjalanan jadi lebih maksimal untuk diabadikan, dari awal perjalanan sampe selesai. Seneng banget rasanya bisa punya kenangan yg terekam dengan baik sekaligus ngerasain hasil dari kerja keras sendiri. 🥹
Next wishlist-ku: beli laptop. Semoga kesampaian. Astungkara. Manifesting dulu. 😭🤲🏻




Indonesia


















