𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀.
1.5K posts

𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀.
@systemofdrown
PSEUDO. From dusk’s last breath to dawn’s first sigh. Part of ᮓᮔᮥᮓᮤᮠᮁᮓ᮪ᮏᮃ, 2OOO.
KR-ID, STRICTLY-IC. เข้าร่วม Kasım 2024
177 กำลังติดตาม198 ผู้ติดตาม

ᅠ
Ini adalah gambaran orang ga baca grup.
ᅠ
GAGAS@lockedheroes
_𝒔𝒊𝒈𝒂𝒈𝒂𝒔_ posted a new photo Minal aidzin walfaidzin from Lee Daeshim & Citra Daksina Danudihardja family 🙏🏻 Saltum dikit gapapa, definisi kalcer sesungguhnya.
Indonesia

ᅠ
Happy Ied, Celestine.
ᅠ
CELESTINE KATARINA.@perseverent
⠀ ͏ A day late, but happy Eid, everyone. I hope everyone spent it joyously. 🩷 ⠀ ͏
한국어
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว

ㅤ ㅤㅤ
A package arrived for ͏@selarikisah @lockedheroes @INSEQUENCES @ICALKUL @topengsemu @adriajoenath @bebtala @clausium @costtte @adoremour @wispsoflights @systemofdrown as the recipient.
ㅤ ㅤㅤ
한국어
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว


ALHAMDULILLAAAAH YA ALLAAAAAAAH MEMANG A RAGA GANTENG SEJAKAT RAYA SEANTERO BUMI DAN LANGIT.
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀.@systemofdrown
ㅤ 𝗠-𝗧𝗥𝗔𝗡𝗦𝗙𝗘𝗥 Status : SUCCES ㅤ( 19/03/26 ) ( 19:36:00 ) ㅤ𝘽𝘾𝘼 725 4679 9832 a.n Tsabitha Arunika Sastranagara ㅤRp. 150.000.000,- Notes: THR. - @clausium - ㅤ
Indonesia

@wv_arion ᅠ
[ @DTRIOLOGY_ masih buka kerjasama. Barangkali berminat boleh ketuk dm basenya atau ke saya. ]
ᅠ
Indonesia
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว

@lunespectre ᅠ
Semalem masih tenang baca buku tiba-tiba kamu ngabarin begitu, siapa nggak kaget?
ᅠ
Indonesia

ㅤ
Aga lama banget sampai kering nunggunya.
ㅤ
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀.@systemofdrown
ᅠ 𝘢𝘵 𝗦𝗢𝗘𝗧𝗧𝗔 𝗔𝗜𝗥𝗣𝗢𝗥𝗧. Untung udah ketemu, sendirian pula di pintu kedatangan. ᅠ
Indonesia
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว

ᅠ
Adakah shi jack di dadamu? Ada, ada, ada. Jadi kangen mau kesana.
ᅠ
RUEL KSHATRA@dxlcelatte
ㅤ ㅤ Nyusu nyusu nyusu, aku suka nyusu. Tapi ke shi jack doang. 🙏🏻 Semoga owner dan pegawainya, semua masuk surga, AMEN 🙏🏻 ㅤ ㅤ
Indonesia
𝐑𝐀𝐆𝐀𝐍𝐓𝐀. รีทวีตแล้ว

⠀⠀⠀
𝗝𝗔𝗞𝗔𝗥𝗧𝗔,
𝗠𝗔𝗥𝗖𝗛 𝟭𝟮’ 𝟮𝟬𝟮𝟲.
Takdir menyimpan banyak rahasia.
Kadang ia datang selembut pelangi yang diam-diam membentangkan warna selepas hujan—indah, tenang, seolah dunia akhirnya berpihak pada kita. Namun di lain waktu, ia menjelma seperti ledakan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya; mengguncang bumi tempat kita berdiri, meruntuhkan setiap rencana yang telah kita bangun dengan harapan dan keyakinan.
Dalam sekejap, semuanya runtuh.
𝘏𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳.
𝘉𝘦𝘳𝘬𝘦𝘱𝘪𝘯𝘨.
Lalu perlahan berubah menjadi debu yang beterbangan bersama angin yang tak pernah peduli pada siapa pun.
Tawa yang semula memenuhi ruang tiba-tiba lenyap begitu saja, digantikan oleh tangis yang pecah tanpa peringatan. Raungan, rintihan, dan kesunyian yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada suara apa pun. Luka-luka yang tak kasat mata merambat pelan di dalam dada—seperti racun yang mengalir dalam darah. Ia tidak membunuh dengan segera, namun cukup perlahan untuk 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘥𝘦𝘵𝘪𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯.
𝘒𝘦𝘫𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢, takdir tidak pernah memberi aba-aba.
Ia tidak mengetuk pintu sebelum masuk, tidak pula memberi waktu agar kita sempat menyiapkan diri. Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada jeda untuk mencerna apa yang terjadi. Ia datang, merenggut apa yang kita cintai, lalu meninggalkan kita berdiri di tengah puing-puing kehidupan yang dulu kita 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩.
Dan ketika semuanya telah runtuh, yang tersisa hanyalah kenangan—rapuh dan samar, seperti bayangan yang perlahan memudar ditelan waktu. Harapan yang dulu terasa begitu dekat kini menggantung di ambang kehancuran, seakan hanya menunggu saatnya jatuh dan menghilang sepenuhnya.
Di sanalah kita berdiri.
𝘚𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯.
Sementara waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Ia tidak berhenti hanya untuk melihat seseorang tersesat dalam kesedihan. Ia terus berjalan, tanpa menoleh, tanpa peduli apakah langkah kita masih mampu mengikutinya atau tidak. Semakin lama seseorang tenggelam dalam gelapnya duka, semakin jauh pula waktu meninggalkannya di belakang—membiarkannya terjebak di tempat yang sama, perlahan membusuk dalam kesunyian yang tak berujung.
Hari-hari berlalu begitu hampa.
𝘒𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨.
𝘔𝘰𝘯𝘰𝘵𝘰𝘯.
Pagi datang tanpa makna, dan malam jatuh tanpa kehangatan. Langkah kaki terasa berat, seolah setiap detik adalah beban yang harus diseret melewati lorong waktu yang panjang dan dingin. Ada saat-saat ketika seseorang bahkan lupa bagaimana rasanya benar-benar hidup.
Namun waktu tetap bergerak.
Ia memaksa kita berjalan bersamanya—pelan, tertatih, bahkan sambil merangkak. Dan tanpa kita sadari, jarak antara luka dan hari ini perlahan bertambah. Bukan karena rasa sakit itu benar-benar menghilang, tetapi karena hati manusia diam-diam belajar hidup berdampingan dengannya.
Seperti bekas luka yang tidak pernah benar-benar hilang dari kulit. Suatu hari nanti, mungkin kita akan menyadari bahwa rasa perih itu tidak lagi setajam dulu. Bukan karena semuanya telah pulih seperti sediakala, melainkan karena kita telah belajar menata ulang diri di sekitar retakan-retakan yang tersisa. Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah tentang selalu sembuh. Kadang-kadang, hidup hanyalah tentang tetap berdiri di antara puing-puing yang tersisa—menatap langit yang sama, menarik napas yang sama—dan memilih untuk melangkah sekali lagi, meskipun dunia pernah menghancurkan kita tanpa ampun.
█ “𝘈 𝘵𝘪𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘴 𝘢 𝘭𝘪𝘵𝘵𝘭𝘦 𝙥𝙖𝙞𝙣𝙛𝙪𝙡, 𝘉𝘶𝘵
𝘐'𝘮 𝘰𝘯 𝘮𝘺 𝘸𝘢𝘺. 𝘚𝘰 𝘵𝘩𝘢𝘵 𝘐 𝘤𝘢𝘯 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥 𝘢𝘨𝘢𝘪𝘯
𝘦𝘷𝘦𝘯 𝘰𝘯 𝘥𝘪𝘧𝘧𝘪𝘤𝘶𝘭𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘺𝘴.”
𝗥𝗜𝗦𝗔𝗡𝗚 𝗡𝗔𝗥𝗔𝗗𝗛𝗜𝗣𝗧𝗔 𝗗𝗔𝗡𝗨𝗗𝗜𝗛𝗔𝗥𝗗𝗝𝗔,
ᮞᮤ ᮊᮘᮚᮔ᮪, 𝟮𝟬𝟮𝟲.⠀⠀⠀
⠀
⠀⠀⠀

Indonesia























