YHTD รีทวีตแล้ว

Guys, ada satu pertanyaan yang sempat bikin geger seluruh Filipina dan menurut gue pertanyaan yang sama perlu kita renungkan juga sebagai rakyat Indonesia.
Apakah seorang pengusaha Indonesia diam-diam ikut menguasai sebuah negara?
Bukan teori konspirasi.
Bukan gossip murahan.
Ini ada bukunya.
Ditulis oleh diplomat dan jurnalis investigasi veteran Filipina bernama Rigoberto de Tiglao mantan duta besar Filipina untuk Siprus dan Yunani.
Judul bukunya: Colossal Deception bagaimana pihak asing mengendalikan sektor bisnis vital Filipina.
Dan nama yang ada di jantung seluruh buku itu adalah:
Anthony Salim.
sekali lagi Anthony Salim.
Seberapa besar sebenarnya kekuatan Salim Group di Filipina:
Kalau lo tinggal di Filipina dan menjalani hari biasa — tanpa sadar lo sudah bersentuhan dengan kekuasaan Salim Group dari pagi sampai malam.
Lo bangun pagi dan cuci muka airnya dari Maynilad, perusahaan air bersih yang menyuplai lebih dari 10 juta warga Filipina. Itu Salim.
Lo nyalakan lampulistriknya dari Meralco, distributor listrik utama untuk ibu kota Manila. Itu Salim.
Lo buka HP dan browsing internet jaringannya kemungkinan besar dari PLDT, tulang punggung internet dan komunikasi nasional Filipina. Itu Salim.
Lo sarapan dengan produk makanan lokal Indofood sudah menjamur di Filipina. Itu Salim.
Lo perlu ke rumah sakit ada 29 rumah sakit besar di bawah jaringan mereka. Itu Salim.
Lo lewat jalan tol atau naik LRT infrastrukturnya ada yang dibangun dan dikelola grup yang sama. Itu Salim.
Lo buka koran atau nonton TV TV5, Philippine Star, Business World, beberapa media koran, dan IP satelit. Semuanya Salim.
Dan kalau ada emas di bawah tanah Filipina tambang emas terbesar di negara itu namanya Philex Mining. Itu juga Salim.
Pendapatan Salim Group dari Filipina saja mencapai Rp37 triliun bahkan lebih besar dari pendapatannya di Indonesia pada 2015 menurut data yang diungkap Tiglao.
Tapi bagaimana ini bisa terjadi padahal hukum Filipina melarang:
Di sinilah bagian yang paling mengejutkan dan paling perlu dipahami.
Hukum Filipina sangat ketat soal kepemilikan asing. Perusahaan media tidak boleh dimiliki asing sama sekali. Sektor vital seperti air dan listrik asing maksimal hanya boleh pegang 40%.
Di atas kertas Salim hanya punya 8% di PLDT.
Tapi Tiglao menelusurinya lebih dalam.
Dan temuannya mengejutkan: 76%.
Bagaimana bisa? Lewat teknik yang disebut Corporate Layering saham disembunyikan di balik nama-nama orang lokal Filipina.
Secara legal kepemilikannya terlihat lokal. Tapi uangnya, keputusannya, dan kekuasaannya tetap di bawah kendali Salim Group.
Soal media yang lebih mengejutkan lagi. Perusahaan induk yang memegang semua media itu namanya MediaQuest Holdings. Dan 99% sahamnya dimiliki oleh dana pensiun karyawan PLDT.
Artinya uang pensiunan karyawan Filipina digunakan untuk membangun imperium media yang sebenarnya dikuasai oleh konglomerat asing.
Kunci masuk ke Filipina dan ini yang paling cerdik:
Setelah hancur di Indonesia akibat krisis moneter 1998 Anthony Salim bangkit habis-habisan di luar negeri lewat First Pacific, perusahaan kecil bermarkas di Hong Kong.
Kunci masuk ke Filipina adalah merekrut satu orang yang sempurna: Manuel P. Pangilinan banker dan negosiator kawakan, wajah lokal asli Filipina, yang dikagumi oleh masyarakat Filipina sendiri sebagai pahlawan bisnis.
Tiglao menggambarkan Pangilinan sebagai proxy wajah lokal yang terlihat sempurna untuk menyembunyikan kepemilikan sebenarnya dari pengawasan publik dan regulator.
Sementara Anthony Salim digambarkan sebagai: taipan yang tidak terlihat tapi menguasai segalanya.
Momentum besarnya era Presiden Aquino 2010-2013:
Filipina sedang gencar membangun infrastruktur. Salim Group memenangkan banyak proyek besar jalur kereta LRT, jalan tol Calax, dan berbagai proyek transportasi lainnya.
Koneksinya jelas: mitra bisnis Salim adalah keluarga Ayala dan keluarga Ayala adalah teman dekat Presiden Aquino.
Lebih jauh lagi Menteri Luar Negeri Presiden Aquino saat itu ternyata juga duduk sebagai direktur di perusahaan First Pacific milik Salim.
Orang Salim sudah masuk sampai ke jantung pemerintahan Filipina.
Lalu konflik pecah dan ini yang menunjukkan betapa besarnya kekuatan mereka:
Tahun 2014 konflik terjadi hanya karena satu hal sederhana: tarif air.
Perusahaan Salim mau menaikkan harga 21%. Pemerintahan Aquino menolak karena takut reaksi rakyat.
Respons Salim Group?
Mereka menggugat pemerintah Filipina.
Menggugat istana negara itu sendiri.
Bayangkan kekuatan bisnis yang begitu besar sampai berani menggugat sebuah negara berdaulat di pengadilan.
Sejak itu dukungan politik Salim Group berpindah. Rezim Aquino kalah di pemilu berikutnya. Duterte naik. Dan puncak konfliknya terjadi di tempat yang tidak terduga dunia olahraga.
Selama 13 tahun keluarga Aquino menguasai Komite Olimpiade Filipina. Lalu tiba-tiba jagoan kubu Salim Group Victorio Vargas menang dan mengakhiri kekuasaan keluarga Aquino itu.
POC bukan jabatan olahraga biasa tapi pemegang anggaran miliaran peso dengan koneksi langsung ke pemerintah.
Dan kemudian Presiden Duterte sendiri berbicara terang-terangan di depan publik: Manuel Pangilinan hanyalah boneka Anthony Salim.
Pertanyaan yang Tiglao lempar dan ini yang paling menohok:
Di akhir setiap bab bukunya Tiglao mengajukan satu pertanyaan yang sama: "What kind of country have we become? Negara seperti apa kita sekarang?"
Air minum warga dikuasai asing lewat rekayasa kepemilikan. Listrik dikuasai asing. Telepon dan internet dikuasai asing.
Media yang seharusnya menjadi penjaga demokrasi dikuasai asing. Dan semua itu dilakukan dengan cara yang secara hukum terlihat bersih tapi secara substansi adalah penguasaan yang sangat nyata.
Dan pertanyaan itu relevan untuk Indonesia juga:
Anthony Salim adalah pengusaha Indonesia. Kelompok Salim adalah salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Indomie ada di dapur hampir setiap keluarga Indonesia.
Tapi di saat yang sama mereka membangun imperium di Filipina yang menurut jurnalis investigasi veteran negara itu sendiri sudah melampaui batas kedaulatan nasional.
Pertanyaannya bukan soal apakah Anthony Salim jahat atau tidak. Pertanyaannya adalah soal sistem sistem yang memungkinkan satu grup bisnis lewat rekayasa kepemilikan dan koneksi politik bisa menguasai air, listrik, internet, media, dan rumah sakit sebuah negara tanpa sebagian besar rakyat negara itu menyadarinya.
Dan kalau itu bisa terjadi di Filipina apa yang membuat kita yakin bahwa sesuatu yang serupa tidak terjadi di negara kita sendiri?

Indonesia





























