yoya

25.6K posts

yoya banner
yoya

yoya

@Rmmive

udah terlanjur lahir, hidup aja.

Palembang Sumali Ocak 2011
233 Sinusundan439 Mga Tagasunod
yoya nag-retweet
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Jujur awalnya juga udah curiga, apa mati lampu begini dampak dari efisiensi atau budget kurang maka hasil juga kurang. Ehhhh, dapet info ternyata emang karena efisiensi, jadi “ga kebeli” batubara?? We’re finished.
txt keluhan warga konoha@keluhkesahkonoh

Ternyata pemadaman listrik bergilir itu karena PLN ga beli batubara, bukan batubaranya yg terbatas. Efisiensi soalny duidnya buat MBG wkwk kocak cc:threadshareitt22

Indonesia
43
42
178
7.6K
yoya nag-retweet
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
- KITA ADA PILIHAN POTONG GAJI PEJABAT. - KITA ADA PILIHAN TARIK BIAYA TUNJANGAN. - KITA ADA PILIHAN SURUH MEREKA BAYAR PAJAK. - KITA ADA PILIHAN STOP MBG, STOP KOPDES TAPI YANG MEREKA PILIH - KITA DISURUH HEMAT - PAJAK DINAIKKAN - CONTENT CREATOR REMAHAN DIPAJAKIN - UMKM KENA PAJAK SEPERTI PT - LISTRIK MENYALA BERGILIR - BBM DINAIKKAN - SUKA BUNGA DINAIKKAN - KALO NGK SUKA DSURUH PINDAH WARGA NEGARA NASIB +62
Indonesia
115
6.8K
12.3K
138.5K
Clownik
Clownik@Clownik_·
@harianTXT timses 01 terlalu bodoh buat strategi timses 02 bisa cari celah buat counter attack tismes 03 terjebak zona nyaman
Indonesia
10
14
452
28.1K
dailyBill
dailyBill@harianTXT·
Saat Pilpres kemarin sebenernya di otak gw - Anis terlalu pake agama - Ganjar terlalu PDI - Prabowo Terlalu bodoh
Indonesia
410
1.7K
18K
560.1K
yoya nag-retweet
Dimar
Dimar@dimarsasongko98·
Lo bilang mahasiswa UI cuma bisa kritik tanpa solusi. Mahasiswa BINUS buka laptop, bangun solusi. Keren. Tapi lo lupa satu hal. MBG , program yang lo bela , dikelola negara, bukan mahasiswa UI. Hasilnya: a. 20 ribu kasus keracunan sepanjang 2025. b. Ombudsman temukan 4 potensi maladministrasi. c. Kejaksaan Agung tangkap pimpinan BGN atas dugaan korupsi Juni 2026. d. Anggaran Rp335 triliun dipangkas. e. Pengelolaan diserahkan ke SPPG milik TNI dan Polri. Itu bukan solusi. Itu laptop yang meledak di tangan rakyat. Lo bilang demonstran cuma bawa spanduk, bukan solusi. Betul. Tapi lo tidak bilang kenapa mereka turun. Mereka turun karena negara yang punya anggaran, punya kekuasaan, punya seluruh sumber daya ,tetap gagal menyuap rakyat dengan makanan yang tidak meracuni. Kritik bukan lawan dari solusi. Kritik adalah prasyarat solusi. Tanpa audit, tidak ada perbaikan. Tanpa tuntutan, tidak ada akuntabilitas. Tanpa demonstrasi 1998, tidak ada reformasi. Laptop lo yang paling canggih pun tidak berguna kalau yang pegang kontraknya TNI dan Polri. Lo bilang sejarah lebih mengingat pencipta solusi dibanding penyampai tuntutan. Sejarah mengingat Munir. Bukan karena dia buka startup. Sejarah mengingat Marsinah. Bukan karena dia pitch ke investor. Sejarah mengingat mereka karena berani menuntut ketika yang berkuasa tidak mau mendengar. Negara tidak dibangun hanya dengan inovasi. Negara juga dibangun dengan keberanian berkata: ini salah, dan harus dipertanggungjawabkan. Siapa yang ngajarin lo bahwa diam adalah solusi?
Muii muii@G3nX_files

UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta. Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat. Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS. UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan. Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional. Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital. Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis. Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat. Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah. Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI : Menuntut harga BBM jangan naik. Menuntut penggunaan APBN tidak boros. Menuntut harga sembako turun. Menuntut harga hasil panen petani naik. Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan. Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik. Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah. Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan. Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang. Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando. Sementara mahasiswa BINUS : Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi. Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian. Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru. Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan. Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi. Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana. Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi. Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan. Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas. Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran. Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar. Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi. Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus. Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi. Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi. Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi. Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja. Kultur perlawanan melahirkan tuntutan. Kultur teknologi melahirkan solusi. Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan. Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi. Pabrik tidak dibangun oleh spanduk. Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara. Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru. Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan." Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya." Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.

Indonesia
24
306
1.1K
63.5K
yoya nag-retweet
Komisi Wasit
Komisi Wasit@MafiaWasit·
Keselnya dapat banget nih mbak Wartawan!!
Indonesia
210
3.2K
12.4K
310.1K
yoya nag-retweet
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
NANIK S. DEYANG, EX-WAKIL KEPALA BGN, SEKARANG KEPALA BGN: SAYA GAK TAU PENGADAAN KAOS KAKI DAN MOTOR LISTRIK. SAYA GAK PERNAH DIAJAK RAPAT. Jadi gue ngomongnya gak pernah. Ini rapat keputusan mau kaos kaki, kayak lu apa, kayak apa, lu pengadanya rame-rame tuh, seuprit kucing pun gue gak ngerti Motor listrik? rame itu Gak, gak, gak, gak, gak tau, gak Jangan kan terlibat, tau aja gak, gak, gak Karena gue selama di BGN udah setahun, hampir setahun, September, gue masuk akhir September sih, hampir Jadi kalau ada pengadaan-pengadaan, enak aja, gue gak ikut. Pengadaan kan bulan Juni, apa-apa ya gue gak ikut. Selain gak ikut gue nih, gak pernah di rapat. Gue tuh gak pernah diajakin rapat. Kalau mau RDP (Rapat Dengar Pendapat) aja, saya tanya bahan, dikasihnya besok, pas pagi mau RDP, ini bahannya. Jadi gue baca aja disitu. Jadi gue gak tau yang disusun nih apa, gue gak ngerti
Indonesia
369
295
1.1K
122.2K
yoya nag-retweet
Abah
Abah@embah72·
Antek² asing yg lebih perduli terhadap bangsa lain ketimbang negaranya sendiri.
Indonesia
13
354
1.3K
40.9K
yoya nag-retweet
5tePh3N
5tePh3N@P3gEl·
Alimuddin vs virdian.... panas.....virdian : orang yang mendukung pemerintahan lebih sibuk mengkritik orang yang mengkritik pemerintah
Indonesia
77
431
2.3K
143.4K
yoya nag-retweet
Uni liswara
Uni liswara@Uniliswara0·
Fahri hamzah ngamuk saat disebut cara berpikirnya seperti buzzer oleh Bang Feri Amsari.. Fahri inimah lebih gila dari buzzer sih menurutku, ada gila"nya juga ini orang 🤣
Indonesia
139
448
2.1K
59.9K
yoya nag-retweet
fin
fin@awaaannnn__·
saking udah gatau lagi gimana caranya agar suara kita didengar oleh presiden, permintaan yang diwakilkan oleh wakil ketua BEM UI ini kerasa bgt hopelessnya. kaya kita tuh cuma mau didenger loh, kita cuma minta hak kita, kita cuma minta pemerintah berpihak kepada rakyat.
Indonesia
283
27.7K
89.4K
916.4K
yoya
yoya@Rmmive·
@Nadyamulyadi tuhh anakk DAH KEBURUUU KECEBURRR!!!!😤😤 gemess bgtt gaa sih wkwk
Indonesia
1
1
28
5K
Nadya DM
Nadya DM@Nadyamulyadi·
Ini Fatimah lembut banget jawabnya, kalo gue yang ada di situ, mungkin akan jawab: NAH ITU LO TAU AKSES KESEKOLAH JELEK!!! NAPA GAK LO BENERIN DULU SEBELOM EMBEGE2AN??? HAH???🙂🫵🏻🙏🏻
Nda ! 🧳@Naandaa27

Jubir @Gerindra kok ga ada yg cerdas ya. Sdh tau Anak2 sekolah hrs menyebrangi sungai spy bisa sekolah. Solusinya malah dikasih MBG 🤭 Pantes kalo langsung diskak sama wakil ketua BEM UI. ************* 1 Suro Vozinha -----------

Indonesia
91
3.8K
14.8K
270K
yoya nag-retweet
Nix aja
Nix aja@cemeNix7·
@LambeSahamjja Bis sekolah siapain Biar ke sekolah ga susah payah Itu baru solusi konkret Laah klo di biarin cape lalu "cuma" Dikasih makan 🤬 Biadab bener solusinya Padahal lebih dr 70% MBG dilakukan di pusat kota
Indonesia
4
79
1.3K
43.5K
yoya nag-retweet
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
orang gerindra : anak sekolah naik perahu ke sekolah buat makan MBG, kalian orang kota tidak tahu yang di rasakan orang desa mahasiswa UI : lah bukannya bangun jmabatan dulu, kok ngasih makan MBG
Indonesia
873
8.8K
36K
962.5K
thelazycadet
thelazycadet@baronjalom·
@Rmmive @DeanApri21 @okkymadasari Anak abah emang orang gila. Mereka tuh setiap hari mimpi basah anis jadi presiden. Fuck anis sebangsat dan se di dukung itu ama riza Chalid aja mereka dukung. Pantesan Indonesia ga maju2. Para pendukung anis penghianat bangsa semua
Indonesia
3
0
0
53
Okky Madasari
Okky Madasari@okkymadasari·
Ya lo bayangin aja, bikin forum di kampus pembicaranya Budiman Sudjatmiko, Nusron Wahid, Sudaryono. Mikir dong!
Indonesia
107
464
3.3K
71.9K
yoya nag-retweet
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Dipikir-pikir gugatan ke Mahkamah Konstitusi itu mirip kaya "demo" versi lebih advanced. 1) Kita bisa protes, presentasikan data, memperlihatkan keadaan, ke negara. 2) Bebas dari gangguan parcok dan parjo. 3) Sidangnya beberapa kali, semua terekam live. Dokumentasinya ada PDF-nya semua. 4) Tiap sidangnya diliput sama jurnalis. Ditulis di berita di media. 5) Didengarkan hakim yang keputusannya bisa mengubah undang-undang. 6) Undang-undang mau gak mau dilaksanakan oleh pemerintah. *** Saya ngikutin beberapa kasus di MK: a) Tunjangan dan sertifikasi dosen diberhentikan selama tugas belajar b) Tuntutan upah guru dan dosen agar minimum UMR c) Tunjangan fungsional dosen yang nominalnya gak berubah sejak 2007 d) Anggaran pendidikan gak boleh dipakai MBG, digugat oleh 6-7 pihak sekaligus. *** Semua keluhan yang nyata. Sepertinya kita harus lebih banyak manfaatkan. Kalau Gibran aja manfaatin, kenapa kita enggak?
Ardianto Satriawan tweet media
Indonesia
76
2.6K
6.1K
130.4K
yoya nag-retweet
rangga🗡
rangga🗡@flamedelaflame·
HAHAHAHA negara udah bubarin ratusan atau bahkan ribuan diskusi pelajar, mahasiswa, & gerakan lainnya. Sekalinya mahasiswa yang bubarin atau sabotase langsung playing victim ngerasa hak kebebasan berpendapatnya dibatasi.
fox_lyan@O5Bravo

Udah kayak mahasiswa woke di Amerika yang main cancel culture bubarin acara yang mereka gak suka. Lupakan itu semua nilai demokrasi seperti kebebasan berpendapat dan pertukaran ide dan pandangan.

Indonesia
9
3.8K
8.9K
106.1K
yoya nag-retweet
Nix aja
Nix aja@cemeNix7·
@alfinrizalisme Sang penghianat reformasi lagi menggurui buat ga nyerang personal Sebuah hal yg dilakuin si penghianat itu dulunya Bagus cuma di usir Ga di gebukin loe bud
Nix aja tweet media
Indonesia
9
53
303
17.8K
alfin rizal
alfin rizal@alfinrizalisme·
ini sebelum digeruduk mahasiswa. budiman mendongeng. ia berusaha menyisipkan kesan bahwa kementerian dan juga prabsky itu selalu dengerin kritik dan sangat lindungi tiyo. ah masa sih? menurut keyakinanku, kok ceritamu terlalu pencitraaan, bud. terlalu kosmetik. makanya kami muak cik.
Indonesia
151
1.2K
4.1K
516.6K
yoya nag-retweet
tempe.co
tempe.co@tempedotc0·
🚨 UGM MELAWAAANNN!!! 🔥🔥 Diskusi yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026 dalam acara 'Kopdar Bareng Mas Dar' berakhir ricuh. Budiman Sudjatmiko yang selalu menyebut dirinya sebagai aktivis gerakan reformasi '98 adalah pengkhianat reformasi itu sendiri... Mereka yang bertanggung jawab atas carut marutnya negara ini tergabung dalam SPPG (Satuan Penjilat Prabowo Gibran) TETAP KAWAL DAN MELAWAN DEMI RAKYAT... 🔥🔥🔥 TERIMA KASIH TEMAN-TEMAN UGM ✊🏻🔥
Indonesia
500
9.5K
24.5K
1.2M