𐚁

12.6K posts

𐚁 banner
𐚁

𐚁

@eastummer

every good (you do) will always come back to you.

with love, Emily شامل ہوئے Aralık 2023
155 فالونگ160 فالوورز
پن کیا گیا ٹویٹ
𐚁
𐚁@eastummer·
ZXX
0
0
0
195
𐚁
𐚁@eastummer·
I would rather cut my hair than my head.
English
0
0
0
31
𐚁
𐚁@eastummer·
the pattern wont stop, i cant even breath
English
0
0
0
139
gentha
gentha@cosmophane·
ya Allah i yearn for a walkable city
gentha tweet media
English
53
9K
44.7K
944.8K
𐚁
𐚁@eastummer·
@mcfluwyoreo ALAMAAAKKKKKK, asmr eden mukbang martabak… coklat kacang…
Indonesia
0
0
0
98
𐚁
𐚁@eastummer·
and if i’m so nostalgic at this age what will i do when i’m 80…
English
0
0
1
219
𐚁 ری ٹویٹ کیا
eda ★
eda ★@edascofield·
ZXX
4
5.2K
14.9K
215.9K
𐚁 ری ٹویٹ کیا
ashishh☀️
ashishh☀️@iashishranjann·
the academic pressure right now isn’t scary, what’s scary is the way i’m fuckin ignoring it
English
90
20.1K
93.3K
870.8K
𐚁
𐚁@eastummer·
so, i’ll choose to die.
English
0
0
0
89
𐚁
𐚁@eastummer·
and if someone ask me, to speak or to die? i know what i need to choose, to speak, but my soul has already died. but my mouth wont let me explain how my mind works or what i think about something when it comes to me. it always the same, i speak for my beloved ones. not for myself
English
1
0
0
133
𐚁
𐚁@eastummer·
maybe i should live longer.. soalnya belum nonton NIKI…
Indonesia
0
0
0
95
𐚁 ری ٹویٹ کیا
mina⁷𝄢
mina⁷𝄢@namu_bear·
the subway exit was so beautiful i stood there for like 5 minutes
mina⁷𝄢 tweet media
English
214
18.6K
275.9K
2.1M
𐚁 ری ٹویٹ کیا
bianca
bianca@biancalovesfilm·
unfortunately i do believe that every time i delay watching a film it’s because it’s going to find me at the perfect time
English
247
36.3K
193.2K
2.1M
𐚁
𐚁@eastummer·
duh males gw
Indonesia
0
0
0
81
𐚁
𐚁@eastummer·
@kingcages emang merinding banget pas bagian ini… aming actingnya… bagus banget… 💧💧💧
Indonesia
0
0
0
148
𝒏𝒂𝒅𝒊𝒏𝒆 ᥫ᭡
jujur gak ketawa samsek bagian tokek “ngincer” dimas, tp org org di studio pd ketawa. ITU SEREM CUY TRAUMATIZING 😭
fillainart@fillainart

Ghost in The Cell (2026) yang disutradarai oleh Joko Anwar barangkali memang sengaja memborbardir penonton dengan tumpukan kritik sosialnya lewat rentetan dialog. Namun, di tengah upaya tersebut, ada satu celah yang justru membuat film ini terperosok ke dalam jurang ambivalensi, yaitu representasi queer. (spoiler alert!) Film ini menghadirkan dua karakter queer yang berdiri di kutub yang sepenuhnya berseberangan, yakni Tokek (Aming) dan Novilham (Magistus Miftah). Tokek digambarkan sebagai algojo kejam dari geng Rendra (Ho Yuhang) yang tak segan menyiksa hingga menghabisi nyawa siapapun atas perintah sang bos. Kehadiran Dimas (Endy Arfian) sebagai tahanan baru menarik perhatian Tokek. Ia memanggil Dimas dengan sebutan “cantik”, dan secara gamblang divisualisasikan ia melakukan serangkaian kekerasan seksual terhadap Dimas. Di sisi lain, Novilham memikul peran sebagai pencair suasana (comic relief) sekaligus sebagai sosok seniman. Eksistensinya seolah didesain murni untuk meredakan ketegangan, memancing gelak tawa penonton lewat gestur gemulai dan tarian femininnya. Dua potret ambivalen ini adalah cerminan dari bagaimana masyarakat Indonesia mengkonstruksi keberadaan kelompok queer. Karakter Tokek mewakili lensa yang memandang individu queer sebagai sebuah ancaman. Sebuah perspektif yang merupakan proyeksi dari alam bawah sadar (unconscious mind) laki-laki hetero yang menyiratkan bahwa mereka juga predator yang memosisikan perempuan sebagai mangsanya. Perspektif yang sama digambarkan dalam adegan KS yang dialami Dimas waktu adegan mandi. KS yang harusnya traumatik, direduksi menjadi sebuah lelucon, terutama bila yang mengalami laki-laki. Sementara itu, karakter Novilham menggambarkan eksistensi queer di Indonesia yang cenderung lebih “ditoleransi” asalkan mereka mengambil peran sebagai seniman dan atau komedian. Ada semacam pemakluman bersyarat dari masyarakat untuk profesi ini. Kedua karakter ini sangat kontras efeknya pada penonton ketika muncul di layar. Kemunculan Tokek menebar teror dan ketakutan, sedangkan gerak-gerik Novilham senantiasa disambut dengan gelak tawa. Bagian yang ironis dari film ini adalah konklusinya. Terlepas dari perbedaan peran yang mencolok antara sang predator dan sang komedian, kedua karakter queer ini pada akhirnya berujung pada nasib yang persis sama. Ini seolah menegaskan bahwa apapun wujud representasinya, individu dengan identitas queer di dalam narasi arus utama tidak akan pernah mendapatkan cerita happy ending. Namun, tentu saja film ini “berbaik hati” memberikan mereka ruang di kredit akhir, membiarkan mereka menari bersama seluruh jajaran cast dan crew sebagai bentuk apresisasi semu. Diberi panggung untuk merayakan di luar cerita, asalkan nasib mereka tetap dihabisi di dalam teks naratifnya.

Indonesia
227
301
3.6K
287.4K
𐚁
𐚁@eastummer·
pengen salt bread banget ya Tuhan
Indonesia
0
0
0
90