
anonym
3.1K posts










Dan dengan AI, communication/coordination overhead itu bisa sangat dikurangi Bayangkan 1 orang (+ AI) yang bisa sendiri ngerjain BE + FE + PM + Design + Infra --> koordinasinya hanya internal di otak satu orang itu dan di chatting dia dengan AI. Nggak perlu bottleneck ini lagi: - nunggu chatnya direply - standup/sprint meeting - agree-in prioritization - bikin docs yang clear dipahami semua - baper2an, dll Dan karena cyclenya (jauh) lebih cepet, gak masalah scrap things. "Gak works nih ternyata, ya sudah buang aja dan coba yang lain" Relate dengan itu, skill yang penting sekarang adalah agency*. Bagaimana dia insiatif solving problem, tanpa ada yang nyuruh --- *or minta AI: "gak tahu nih harus ngapain sekarang. Kamu cari tahu deh problem yang impactful disolve. Terus kerjain yang paling high impact. Saya tidur dulu, kabarin ya kalau udah jadi. Silakan chat2 koordinasi aja ya sama stakeholders. Oh ya, lakuin itu tiap hari"


di era orang-orang kenal di social media, dating apps. aku masih pengen ketemu special someone di pinggir jalan, minimarket, di resto, coffee shop dan tempat umum lainnya..

@0tk0il miskin tapi keluarganya harmonis. percuma lahir dari orang kaya kalau keluarga ga harmonis



unpopular opinion about work in indonesia


@maliqey boleh sebagai bahan evaluasi utk kedepanya, tapi sebaiknya jgn di compare dgn yg lalu












