Post



Albert Camus pernah menulis bahwa satu-satunya cara menghadapi dunia yang absurd adalah dengan menjadi pemberontak terhadap keputusasaan itu sendiri. Selama 22 tahun, empat musim terakhir yang mengiris hati, Arsenal adalah Sisifus. Berulang kali mereka memikul batu harapan dengan susah payah menuju puncak bukit, hanya untuk melihatnya terhempas kembali ke dasar jurang setiap kali bulan Mei tiba. Mereka ditertawakan oleh takdir, dipaksa menelan realita bahwa penderitaannya seolah tidak berujung. Namun, mereka menolak takluk. Mereka terus merangkak, menyusun ulang pondasi yang hancur, dan kembali memikul batu itu. Hari ini, pemberontakan panjang itu selesai. Batu itu akhirnya menetap abadi di puncak. Air mata yang jatuh hari ini adalah saksi bahwa mahkota paling indah hanya pantas melingkar di kepala mereka yang berani memeluk penderitaan tanpa henti. The struggle itself towards the heights is enough to fill a man's heart. One must imagine Arsenal happy. 🔴⚪️🏆 @Arsenal #Arsenal #AFC #Gunners















