
⭐ Jän ⭐
428.1K posts






alhamdulillah ngedate kali ini ke notaris buat tanda tangan perjanjian pra-nikah 😆🤍




Guys, ada satu kisah yang menurut gue paling menggambarkan keberanian luar biasa dan ironi politik paling menyakitkan di Indonesia. Dan kontrasnya sangat tajam kalau kita bandingkan dengan posisi orang ini hari ini. Budiman Sudjatmiko dulu jadi musuh nomor satu negara di usia 26 tahun, diburu, dicap komunis, ditod0ng pist0l di kepalanya. Sekarang dia duduk di kabinet pemerintahan yang juga melibatkan keluarga Cendana, dan jauh lebih jinak dari yang dulu. 22 Juli 1996, di aula YLBHI Jakarta, seorang pemuda kurus berkacamata usia 26 tahun berdiri di depan podium membacakan manifesto politik 2.150 kata. Isinya frontal: mencabut lima paket undang-undang politik 1985, mencabut dwifungsi ABRI, menyeret Soeharto ke sidang istimewa MPR, dan mendukung referendum Timor Timur. Membacakan kalimat-kalimat itu di depan publik sama saja dengan menandatangani surat kematian sendiri di era itu. Rezim merespons dengan kemarahan luar biasa. PRD dicap organisasi tanpa bentuk, reinkarnasi PKI gaya baru. Soeharto sendiri menyebut mereka "setan gundul" istilah yang sengaja membangkitkan trauma 1965. Panglima ABRI mengumumkan darurat. Nama Budiman disiarkan setiap jam di radio dan TV nasional sebagai buronan subversif paling dicari. Budiman sendiri menulis dalam catatannya: cap buronan, subversif, dan komunis itu bukan sekadar perang kata-kata. Itu adalah lisensi memb*n*h. Surat izin sah dari penguasa untuk mengeksekusi dan membuang mayatnya ke mana saja. Kenapa rezim militer raksasa sepanik itu menghadapi segelintir mahasiswa miskin yang bahkan belum punya kantor cabang? Karena PRD melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan gerakan mahasiswa sebelumnya. Mereka tidak puas jadi "kekuatan moral" yang main aman di dalam pagar kampus. Mereka turun langsung ke pabrik dan sawah mendirikan Pusat Perjuangan Buruh Indonesia dan Serikat Tani Nasional, menggalang kesadaran politik kaum bawah. Itu mengancam fondasi stabilitas Orde Baru yang dibangun di atas konsep "massa mengambang" strategi sengaja membuat rakyat bawah tetap bodoh, pasif, dan mudah dikendalikan. Dan ketika PRD beraliansi dengan Megawati sebagai simbol perlawanan, kepanikan istana mencapai puncaknya. Hasilnya: tragedi Kudatuli 27 Juli 1996. Penyerbuan kantor PDI yang menewaskan 5 orang, melukai 149 orang, menghilangkan 23 orang secara paksa, dan menahan 136 orang sewenang-wenang. Lalu rezim butuh kambing hitam. Budiman dan PRD dijadikan dalang. Perburuan nasional dimulai. Budiman bersembunyi dari rumah ke rumah, sampai akhirnya tertangkap 11 Agustus 1996 pist0l ditempelkan di pelipisnya, sementara dia dan kawan-kawannya menelan dokumen rahasia organisasi supaya tidak ditemukan aparat. Kawan-kawannya yang lain nasibnya lebih mengerikan. Gilang ditemukan tewas di Madiun. Wiji Thukul dic*lik dan hilang sampai hari ini. Dan inilah ironi paling menyakitkan dalam cerita ini: ketika Budiman dipenjara karena membela Megawati, Megawati sendiri tampil di depan pers internasional dan dengan dingin mengaku tidak pernah kenal Budiman. Padahal sehari setelah Kudatuli, Budiman dan kawan-kawannya jelas berkumpul di rumah Megawati, bahkan suami Megawati sendiri memberinya uang untuk beli kacamata baru yang pecah saat kerusuhan. Budiman tetap memilih membela Megawati lewat telepon ke jurnalis asing meski dikhianati. Dia divonis 13 tahun penjara setelah melakukan walkout dramatis dari ruang sidang, menolak ikut dalam sandiwara hukum Orde Baru. Dan dari balik penjara Cipinang itu perlawanannya justru jadi bahan bakar yang ikut menjatuhkan Soeharto dua tahun kemudian. Sekarang bandingkan semua keberanian dan pengorbanan itu dengan posisinya hari ini. Budiman Sudjatmiko sekarang menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola pengentasan kemiskinan dan duduk di kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran. Pemerintahan yang sama yang melibatkan keluarga Cendana keluarga Soeharto, orang yang dulu memburunya, mencap dia komunis, dan hampir memb*n*hnya. Bahkan Soeharto sendiri sekarang sudah dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintahan yang sama tempat Budiman duduk sebagai pejabat. Dan suara kritisnya yang dulu begitu lantang, begitu radikal, begitu berani menantang langsung jenderal bintang empat sekarang jauh lebih jinak. Tidak ada lagi manifesto frontal. Tidak ada lagi tuntutan menyeret penguasa ke pengadilan. Yang ada justru kolaborasi dengan struktur kekuasaan yang dulu jadi musuh hidup matinya. ini bukan untuk menghapus keberanian luar biasa yang pernah dia tunjukkan di usia 26 tahun. Apa yang dilakukan Budiman dan PRD tahun 1996 adalah salah satu fondasi paling penting jatuhnya Orde Baru. Itu fakta sejarah yang tidak bisa disangkal. Tapi pertanyaan yang pantas diajukan hari ini adalah: apa yang terjadi pada jiwa pemberontak yang dulu menelan dokumen rahasia daripada menyerah pada intelijen, yang dulu memilih walkout dari ruang sidang daripada memohon ampun pada hakim Orde Baru? Apakah ini bentuk kedewasaan politik yang memilih jalur perubahan dari dalam sistem? Atau ini contoh bagaimana sistem yang sama yang dulu dia lawan, akhirnya berhasil menjinakkan bahkan simbol perlawanan paling radikal sekalipun dengan cara yang lebih halus dari pistol di pelipis: kursi kekuasaan. Sejarah akan menilai. Tapi kontrasnya terlalu tajam untuk diabaikan begitu saja.




💔🥀


@BudiBukanIntel Bang Bud. Di reddit narasi begini dah muncul



fresh banget






Sbg org udah berkecimpung di dunia FnB 1 dekade, gua liat ada 2 case yang mungkin berjalan di harga “gak masuk akal” ini 1. Biaya OPEX dan labour cost dari tmpt ini lumayan tinggi dan ada di tempat kawasan elit, jadi mengharuskan dia kasih harga segitu. Rata2 fnb ambil untung itu 40-60% dari harga tercantum. 2. Strategi bisnis. Di bisnis fnb, sering kali mungkin kalian dan kita liat harga ga masuk akal. Gunanya apa? Yak supaya kalian GAK pesan menu itu, dan kalian berpikir “lah mending gua pesen ini aja sekalian”. Yes, psikologi customer mmg slalu seperti itu, comparing harga dgn reason mendang mending. Jadinya apa? Kalian akan pesan menu sedikit lebih mahal dari itu dan lebih worthy.




















