Ann🌙
307 posts


@sideofannora Sebenarnya, konsepnya mirip. Tapi memajukan dan memundurkan koma begitu biasanya susah untuk dibayangkan.
Makanya, konsep tangga ini sangat membantu murid-murid ay🥰
Indonesia

Teknik ini pasti pernah dipelajari waktu SD, akan tetapi banyak yang lupa dengan teknik ini. Nama tekniknya adalah tangga pengukuran.
Kita tahu bahwa 1 km = 1000 m, tapi bagaimana jika angkanya tidak bulat?
Misalkan 456 cm setara berapa kilometer.
Ini bentuk tangga-nya :
| km
|----
| | hm
| ----
| | dam
| ------
| | m
| ----
| | dm
| ----
| | cm
| ----
| | mm
Caranya cukup sederhana, tapi sebelum membahas tekniknya. Kita harus memperkenalkan diri dengan nama-namanya.
Km = Kilometer
hm = hektometer
dam = dekameter
m = meter
dm = desimeter
cm = centimeter
mm = milimeter
Nama "Meter" sebagai satuan "panjang tentu bisa berubah. Misalnya butuh "berat", namanya akan menjadi gram.
Balik ketopik, sebenarnya tekniknya hanya perlu dengan 3 langkah.
Langkah 1 : Taruh angka satuan di satuan panjang yang diketahui.
Langkah 2 : Untuk puluhan, ratusan (ke atas) ataupun pecahan desimal(kebawah), menyesuaikan tempat satuan panjang tersebut.
Langkah 3 : Angka yang kosong, isi dengan 0.
456 cm = ... km?
| km = 0
|----
| | hm = 0
| ----
| | dam = 0
| ------
| | m = 4
| ----
| | dm = 5
| ----
| | cm = 6
| ----
| | mm
Karena satuan akhir yang diminta adalah km, maka satuan pertama adalah 0, dibawah itu merupakan desimal...
Alias 456 cm = 0,00456 km berdasarkan teknik diatas.
Mari kita coba yang lebih menggocek.
2,315 dam = .... dm?
Ingat, langkah pertama adalah menentukan angka satuan, dimana 2,315 dam nilai satuannya adalah "2"
Langkah kedua, kita sesuaikan 2,315 dengan satuan panjang dam
| km
|----
| | hm
| ----
| | dam = 2
| ------
| | m = 3
| ----
| | dm = 1
| ----
| | cm = 5
| ----
| | mm
Langkah ketiga, karena nggak ada angka kosong, kita fokus untuk memberi batas satuan untuk desimeter(dm)
Karena dm-nya adalah "1", maka 2,315 dm = 231,5 dm.
Cara ini sangat praktis, jika kita memahami konsep tangga. Dan tentu saja ini sangat berlaku untuk kasus lain seperti berat, luas, dan volume.
Hanya saja... untuk Luas dan Volume akan ada bab tersendiri untuk cara pengukurannya.
Indonesia
Ann🌙 retweetet
Ann🌙 retweetet

Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia
Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi
Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter
Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal.
========
Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko
Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya.
Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.


Indonesia

@sideofannora Iya, I love you ayank🥰
Filipino

Ditinggal MoLe langsung banyak drama ya ni X.... Cobalah cerita ada apa🗿
Duo with my lover @sideofannora
(Main valirnya ngepush turet, mm-nya kebelet kill😭)


Indonesia
Ann🌙 retweetet
Ann🌙 retweetet

Barangkali butuh konteks tambahan, ini saya bahas serius... tanpa embel-embel.
Pernah dengar "Bagaimana Kurt Godel membahas Bukti Tuhan ada lewat Matematika?"
(Kalau tau, langsung di sebutkan premis-premisnya secara lengkap)
Tapi, kali ini tujuannya bukan bahas Tuhan ada atau nggak.
Saya mau mengambil Aksioma 1 saja. Tujuannya betapa pengaruh Bahasa dalam Matematika.
"If φ is a positive property and If It is necessarily true(True in a possibille worlds)that every object with property φ also has property ψ, then ψ is also positive property"
Terjemahan :
"Jika φ merupakan sifat positif dan dan jika sudah pasti benar(benar dalam semua kondisi (skenario) dunia) bahwa setiap hal yang memiliki sifat φ juga memiliki sifat ψ, maka sifat ψ juga merupakan sifat positive"
Ini salah satu cara matematika beragumen layaknya argumen manusia pada umumnya.
Iya, jadi logika matematika memiliki korelasi kuat dari pengaruh bahasa di tempat.
Pertama :
P(φ) dan φ(x) yang dimaknai dua hal berbeda.
P(φ) = sifat φ adalah sifat positif
φ(x) = x memiliki sifat φ
Kalau digabung jadi apa? Benar, P(φ(x))
Ini mirip fungsi Komposisi, menggabungkan fungsi A ke fungsi B.
P(φ(x)) memiliki makna :
x memiliki sifat φ dimana φ merupakan sifat positif(P)
Lihat seberapa besar pengaruhnya bahasa ke dalam konteks matematika. Sedangkan Matematika berpengaruh dari struktur logika bahasa pada sebuah kalimat.
Kedua. Logika Kuantor.
Kalau dalam bahasa inggris, pemakaian "Each" atau "Every" adalah untuk menyebut 'setiap' anggota tanpa terkecuali. Seperti kata "Hi, Everyone"(Hai setiap(semua) orang)
Ini juga sama..
∀x(φ(x) => ψ(x))
Artinya :
"Untuk setiap(semua) anggota x, Jika x memiliki sifat φ maka x juga memiliki sifat ψ"
Ini adalah generalisasi Kuantor, yang nantinya kita bisa sebut :
Semua x yang punya sifat φ pasti juga bersifat ψ
Kayak mendengar :
Semua orang Indonesia yang baik hati pasti juga bersifat penyabar.
Kalau dari sini, kamu bisa menyimpulkan kalau ketemu orang Indonesia yang baik hati pasti sepaket ama sifat penyabar.
Ini adalah kepastian dari logika korelasi ataupun logika sebab-akibat.
Dari maksud pertama kedua, makanya nanti nggak kaget kalau menggabungkan :
1. x memiliki sifat φ dimana φ merupakan sifat positif(P)
2. Semua x yang punya sifat φ pasti juga bersifat ψ
Kesimpulan :
x memiliki sifat ψ yang jelas positif.
Ini disingkat
P(ψ(x))
Tapi perlu diingat, status subjek x ini masih "jika"
======================================
======================================
Requested by : @sideofannora

Kiyan Abhinaya Azkalif | Si Paling Wibu dan Math@yourmathsphere
Matematika sama Bahasa itu setara, saling membutuhkan satu sama lain. Matematika nggak ada gunanya tanpa bahasa Bahasa jadi tak berpola kalau tak ada Matematika. Ini kalau kita berpikir bahasa bukan sekedar kata dan matematika bukan sekedar angka/simbol
Indonesia

@yourmathsphere Ah paham, jadi suhu ekstrem rendah itu kayak jalan pembuka supaya fenomena BEC bisa muncul ya. Thanks penjelasannya, my lovely dosen😋❤️
Indonesia

@sideofannora Ssebenarnya, saya kurang tau detailnya... Tapi, setau saya syarat selain 0K ini dia fokusnya subatomik dari partikel yang bernama boson.
Kayak pecahan/bagian kecil si atom gitu
Indonesia

Plasma dan Bose-Einstein Condensate
Jadi ada 5 wujud benda/zat yang ada di Dunia sampai saat ini, tapi yang bisa dipegang ya benda padat/zat padat saja.
1. Padat
2. Cair
3. Gas
4. Plasma
5. Bose-Einstein Condensate(singkatan : BEC)
momo@momodisinii
duh banyak lagi. contohnya di kolom👇
Indonesia

@empty__core Kulit bertanya, Kacang amnesia?
Indonesia

@sideofannora Mau dibuat thread khusus kah ay? Tapi semuanya spesifik ke logika matematika dulu atau logika berhitung dulu
Indonesia

Matematika itu memang susah, tapi kalau sudah dapat kata kuncinya,Matematika bakal jadi mudah.
Contohnya begini :
25 x 48 = ?
Kita bisa mengerjakan dengan perkalian bersusun :
2 5
4 8
--------- x
2 0 0
1 0 0
---------- +
1 2 0 0
Tapi...
Kalau kita pake trik seperti ini :
25 x 48
x 4 : 4 = 1
------------
100 x 12 = 1200
Memang, secara makna, 25 x 48 berbeda dengan 100 x 12, tapi jika fungsinya hanya untuk menghitung, selama secara logika dapat diterima, masih disebut benar.
Alasannya, adalah karena 25 dikali dengan 4, sedangkan 48 dikali dengan 1/4(bisa dibaca sebagai dibagi 4)
1
4 x --- = 1
4
Ini sesuai dengan logika Matematika. Karena ini menyesuaikan identitas dan invers perkalian dimana
> a x 1 = a
1
> a x --- = 1
a
Tips ini juga bisa berlaku untuk penjumlahan, namun perhatikan sifat identitas penjumlahan adalah ketika suatu bilangan dijumlahkan dengan 0.
Contohnya :
17 + 26
= 17 + 26 + [3 + (-3)]
= (17 + 3) + (26 - 3)
= 20 + 23
= 43
Indonesia

@yourmathsphere Prinsip yang sama juga penting saat menganalisis KPI lain, karena perubahan yang terlihat besar secara persentase belum tentu memberi impact paling signifikan terhadap operasional maupun cost-nya
Indonesia

@yourmathsphere Kalau di dunia manufaktur, perhitungan ini kepakai banget, krn evaluasi performa gak cukup lihat persentase aja. Misalnya output naik 200%, tp blm tentu kontribusinya lebih besar dibanding output yg “hanya” naik 50% dari line produksi dgn volume jauh lebih tinggi
Indonesia

Mana yang lebih fantastis perubahannya?
Nilai yang berkembang 500%, memiliki hasil akhir 60.000
atau
Nilai yang berkembang 100%, memiliki hasil akhir 100.000
Selamat datang di #tipsmatematika, mengitung nilai awal, nilai akhir, perubahan secara arimatika, perubahan secara persentase
Misalkan harga awal adalah A, harga akhir adalah B dan x adalah nilai persen pertumbuhan(positif/negatif).
Artinya, Hubungan satu sama lain ditulis sebagai :
(100% + x%) A = B
B
<=> (100 + x)% = ---
A
Ini adalah persentase pertumbuhan
Sedangkan versi aritmatika pertumbuhan :
(100% + x%) A = B
<=> A + A(x%) = B
<=> A(x%) = B - A
Kalau B = 60.000 dan X = 500%
Berarti :
(100 + 500)% = 60.000 / A
<=> 600% = 60.000/A
<=> 6 = 60.000/A
<=> A = 60.000/6
<=> A = 10.000
Ini adalah nilai awal.
Keunggulan secara aritmatika adalah 60.000 - 10.000 = 50.000
Menariknya, karena nilai awal 10.000
10.000(500%) = 60.000 - 10.000
<=> 10.000(500%) = 50.000
Sedangkan kasus ke-2, dimana B(Nilai akhir) adalah 100.000, jika kita terapkan pada kasus yang sama :
(100 + 100)% = B/A
<=> 200% = 100.000/A
<=> A = 100.000/(200%)
<=> A = 100.000/2
<=> A = 50.000
Jika kita membahas selisih secara aritmatika, 100.000 - 50.000 adalah 50.000 juga.
Jadinya, secara aritmatika(bilangan pasti), kasus A dan kasus B memiliki perubahan yang sama, sama-sama berubah sebesar 50.000.
Namun secara persentase perubahannya cukup mengejutkan. Kasus pertama memiliki 5x perubahan lebih kuat dari kasus kedua secara persentase (500% / 100%).
Ini karena Perubahan nilai secara aritmatik tak sama dengan perubahan nilai secara persentase.
Sekarang, mari kita diskusikan, topik ini sangat kepakai dalam bidang apa ya?🤔🤔🤔
Indonesia

@yourmathsphere Tapi setelah ayank jelasin tadi, jadi kepikiran juga soal logika dalam berpikir secara matematis.
Jadi aku penasaran, apakah logika menghitung dan logika matematika ini sebenarnya saling berkaitan, atau memang konsepnya berdiri sendiri sesuai konteksnya?
Indonesia

@yourmathsphere Aku awalnya lebih kepikiran ke logika menghitung sih😄
Gimana kita bisa tahu suatu cara hitung itu ttp valid secara logika, meskipun bentuknya berubah? Jd nggak cuma tahu trik yg bikin hitungan lebih cepat, tapi jg paham alasan di balik knp cara itu ttp menghasilkan nilai yg sama
Indonesia

@yourmathsphere Ada juga jenis gula yang manis tapi gak bikin kenyang loh😊
Indonesia

Sekilas seperti omong kosong, tapi memang ada benarnya. Karena Gula yang kita pakai itu salah satu sumber energi yang sejenis dengan makanan karbohidrat macam nasi, kentang, dll.
Biar gak miskonsepsi, gula sama nasi/sejenisnya itu beda level ya.
Gula itu karbo level dasar
Nasi itu karbo level kompleks
Nah, karbo level kompleks macam nasi, roti dkk, itu ngolahnya lebih lama tetapi energinya bisa tersimpan dalam waktu lama.
Sedangkan gula sebagai karbo level dasar, ngolah cepat tapi ya gampang habis pemakaiannya. Makanya kadang minum es teh banyak bisa bikin kenyang(kembung), tapi ya gak lama kemudian pasti ngerasa lapar/haus.
So, kalau memang lemes belum ngopi, hati-hati, bisa jadi aja ada gula dari krim/bubuk susu tanpa kamu sadari.
LABORUTU@laborutu
Lemes karena belum ngopi? Kamu bukan kecanduan kopi, tapi kecanduan gula.
Indonesia

@yourmathsphere Wow kerenn😆 Kalau dah follow duluan, dapet apa nich😗
Indonesia

Ambil sembarang bilangan prima yang lebih dari 3, kemudian kuadratkan bilangan tersebut, terakhir kurangkan 1.
Saya tebak, itu pasti kelipatan 24.
Jika benar, silahkan follow saya @yourmathsphere sekarang juga.
Indonesia




