sab 🖤👑

40.4K posts

sab 🖤👑 banner
sab 🖤👑

sab 🖤👑

@frencevanilla

K-Pop, Anime, BL, Hay Day, etc

Joined Haziran 2023
385 Following221 Followers
Pinned Tweet
sab 🖤👑
sab 🖤👑@frencevanilla·
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣ 𖤣.𖥧.𖡼.⚘ .𖥔 ݁ ˖𓂃.☘︎ ݁˖ 𝑯𝑨𝒀 𝑫𝑨𝒀 𝑨𝒓𝒄𝒉𝒊𝒗𝒆 .𖥔 ݁ ˖𓂃.☘︎ ݁˖ 𖤣.𖥧.𖡼.⚘
1
0
2
1.8K
sab 🖤👑 retweeted
HONBAE
HONBAE@HONBAE1·
#2ha #二哈和他的白猫师尊
HONBAE tweet mediaHONBAE tweet mediaHONBAE tweet mediaHONBAE tweet media
QME
16
2.2K
6.7K
244K
sab 🖤👑 retweeted
HONBAE
HONBAE@HONBAE1·
HONBAE tweet mediaHONBAE tweet mediaHONBAE tweet media
QME
2
619
5.1K
39.5K
sab 🖤👑 retweeted
麦天/Bakuten
麦天/Bakuten@baku_ten221·
#墨燃0409生日快乐 墨燃:「あーんしてください😚」(師尊の作った長寿麺…💕) 師尊:「…味は保証しないからな…😠」
麦天/Bakuten tweet media
日本語
1
984
3.3K
32.3K
sab 🖤👑 retweeted
SOL 🦭
SOL 🦭@solaulait·
Imo translatorny arogan bgt ya 🤣 tugas translator berusaha spy bs convey cerita dr author ke audience yg beda bahasa, bkn menciptakan pakem baru dan menolak pakem lama dgn alasan “it’s my choice”. Nama ya ga perlu lah diubah2, buat apa selain buat gosok ego biar keliatan beda?
Indonesia
15
27
174
5.4K
sab 🖤👑 retweeted
pourquoi?
pourquoi?@cassiocpeia·
taat agama tuh "oh sorry bro gw gabisa melakukan itu karena aturan agama gw". mabok agama tuh "oh sorry bro ELU gabisa melakukan itu karena aturan agama gw". beda
Indonesia
78
7.8K
35.3K
415K
sab 🖤👑 retweeted
mint
mint@gwiyanok·
i'm so glad i have PFH's ver of Little Mushroom. @gomanga i cancelled my preorder of your ver with a heavy heart because i think the art is beautiful. most fans are doing the same thing. you have the final say, if you want the book to sell you need to fix the translation choices
mint tweet mediamint tweet media
English
7
72
942
19.7K
sab 🖤👑 retweeted
𝓙𝓾𝓹𝔂 @ 爱师尊🤍
But it’s incorrect… “An Zhe” is his full name (that’s how it should be). “Anzhe” implies he has a separate surname (e.g. Chen Anzhe). They also may keep Lu Feng’s title as “Judge” instead of “Arbiter.” I may not be buying this. This is not choice. It’s wrong localization. 😞
Seven Seas Entertainment@gomanga

@jupy314 Hello again! After further internal review, there is no mistake: the spellings “Anzhe” and “An Ze” in our edition are intentional. Sorry for earlier confusion on this.

English
10
236
1.9K
73.3K
sab 🖤👑 retweeted
Acho
Acho@MuhadklyAcho·
Ya begitulah hasilnya kalo sesuatu dikelola sama orang-orang kompeten. Itulah anehnya BCA.
Acho tweet media
Indonesia
1K
7.1K
46K
1.2M
sab 🖤👑 retweeted
Papa Wiraa
Papa Wiraa@PapaWiraa·
Film pendek Turut Berdukacita (Deep Condolences). Abis nonton film ini, premis ceritanya unik, jadi ceritanya ada seorang perempuan bernama Maria baru aja kehilangan ayahnya. Saat lagi berduka, ia harus menceritakan secara berulang-ulang tentang kematian ayahnya kepada tamu yg hadir dari pertanyaan yg sama “Sakit apa? Kok bisa? Kapan persisnya?” Tapi walaupun dalam kondisi sedang berduka, Maria tetap sabar menjawab dengan kalimat yg sama kepada semua tamu²nya yg hadir. Pesan yg mau disampaikan dari cerita ini sebenernya sederhana, saat kita hadir di tempat orang yg sedang berduka ngga usah jadi pelayat kepo. cukup datang, ucapkan belasungkawa, mendoakan, pulang, dah itu aja.
Papa Wiraa tweet media
Indonesia
37
797
4.3K
161.6K
sab 🖤👑 retweeted
ʙʟᴏssᴏᴍ ⁰·⁵
THIS IS WHAT GODLY VISUALS LOOK LIKE IM LOSING MY MIND (AGAIN) he’s so beautiful it hurts in a way I can’t explain....
ʙʟᴏssᴏᴍ ⁰·⁵ tweet mediaʙʟᴏssᴏᴍ ⁰·⁵ tweet mediaʙʟᴏssᴏᴍ ⁰·⁵ tweet media
English
5
139
1.1K
16.8K
sab 🖤👑 retweeted
fillainart
fillainart@fillainart·
Ada satu anomali yg cukup meresahkan kalau kita ngomongin diskursus anime, yaitu kenapa obrolan soal shounen selalu bising, sementara shoujo kesannya dianaktirikan? Jawabannya sering kali disederhanakan jadi "ya karena audiens shounen lebih masif dan aktif." Padahal, kalau kita mau bedah dikit di struktur sejarahnya, ada bias kultural yg bikin fenomena ini lebih kompleks dari jawaban tadi. Sebenarnya, ada elemen psikologis, resolusi trauma yg kelam, sampai world-building politik yg lahir murni dari manga shoujo. Tapi masalahnya, identitas genre ini sering kali kena kooptasi. Begini polanya: budaya pop yg bias patriarki secara sistemik melabeli shoujo sebagai genre picisan yg isinya cuma romansa dangkal, cowok tsundere dan cewek menye-menye. Label ini terus direproduksi sampai nempel di kepala audiens. Nah, ketika muncul karya dari demografi shoujo yg narasi psikologisnya gelap dan mendobrak batasan—sebut saja Fruits Basket (2019) dengan trauma antargenerasinya, Akatsuki no Yona yg world-building politiknya luar biasa epik, atau Natsume Yuujinchou yg filosofis banget—industri dan audiens "mainstream" akan kebingungan meresponsnya. Bukannya mengakui bahwa shoujo memang punya kapasitas intelektual yg liar, mereka malah memakai taktik penghapusan identitas. Karya-karya tersebut langsung dilabeli sebagai sesuatu yg "melampaui genrenya". Kita mustinya sering denger komentar semacam, "Fruits Basket ini dark banget, psikologisnya udah selevel seinen," atau "Yona ini ceritanya epik banget, lebih mirip shounen!" Ini adalah bentuk perampasan kredit historis. Label shoujo diperlakukan layaknya kasta yg memalukan. Seolah-olah, kalau sebuah karya itu brilian dan punya kedalaman cerita, ia otomatis "naik kelas" dan gak pantas lagi menyandang gelar shoujo. Padahal, justru lewat eksplorasi female gaze dan ruang emosional yg kompleks di demografi itulah narasi-narasi tajam tersebut bisa lahir. Akibatnya, diskursus shoujo di ruang publik selalu terlihat kerdil. Bukan karena mereka gak punya masterpiece, tapi karena setiap kali inovasi itu muncul, statusnya diam-diam dirampas oleh wacana maskulin untuk dinormalisasi sebagai standar shounen atau seinen. Dominasi diskursus shounen bukan cuma menang di ranah kapitalisasi komoditas, tapi juga lahir dari proyek amnesia massal. Kita diajari buat ngeremehin shoujo, sambil diam-diam merampas banyak inovasi narasi dari genre tersebut. Selama komunitas penikmat anime masih menganggap shounen sebagai titik nol dari semua kewarasan naratif, diskursus pop culture kita bakal terus pincang.
fillainart tweet mediafillainart tweet mediafillainart tweet media
Indonesia
26
517
1.7K
70.6K
sab 🖤👑 retweeted
Esdeath
Esdeath@esdeathxz·
Barusan lagi ngobrol di teras bareng Ibu. Aku sempat nanya, kok Ibu sering banget meluk kita? Ibu cuma senyum, lalu pelan-pelan cerita. Katanya, tiap kali dia meluk anaknya, orang lain mungkin lihatnya Ibu yang ngasih pelukan. padahal, menurut Ibu, justru dia yg lagi dipeluk. Ibu tuh kadang capek, katanya pelan. Tapi kalau meluk kalian, rasanya Ibu ikut tenang… kayak dipeluk balik. Dari situ aku ngerti pelukan Ibu bukan cuma buat anaknya, tapi juga cara Ibu buat merasa dipeluk.
Esdeath tweet media
Indonesia
21
106
425
242.4K
sab 🖤👑
sab 🖤👑@frencevanilla·
Karna IPS di SMA gak dikembangkan lewat problem solving. study case cuma berpatok ke "yg ada/pernah terjadi". Pdhl bisa brdmpak ke field lain yg lebih kritis. 1 metode juga gak bisa paten berlaku ke kasus2 lain. Ilmu soshum lebih kritis dan selalu liat dri kacamata besar
zhil@zhil_arf

Anak Soshum tidak dihargai dan dianggap bodoh di Indonesia, karena ketika SD SMP SMA, mata pelajaran IPS terlalu gampang. Mau Soshum dihargai? Simpel. Persulit ujiannya. Tidak boleh ada persepsi "IPA pintar, IPS bodoh". Keduanya harus sama-sama horor dan sadis. Reputasi matpel IPS masih dirasa kurang horor? Persulit lagi ujiannya. Persulit lagi quiz dan PR nya. Barangkali ini tidak akan sulit-sulit amat untuk diterapkan. Misal: 1 buku paket biasanya cukup untuk pelajaran eksak, karena ilmu pasti. Soshum harusnya tidak boleh begitu. Ujiannya harus didominasi pemahaman sosio-kontekstual akan hal yang ada di luar buku. Siswa yang survive hanyalah siswa yang banyak baca. Sastra juga demikian. "Bahasa Indonesia", misalnya, tiba tiba akan jadi sangat sulit apabila siswa hanya bisa lolos ujian jika dan hanya jika sudah sering membaca, menghayati, dan menghargai karya-karya sastra fundamental. Pada zaman dahulu, semua calon mahasiswa Soshum di Barat diwajibkan bisa bahwa Latin dan bahasa Yunani Kuno *sebelum* masuk kuliah, karena kebanyakan naskah penting ditulis dalam bahasa itu. Kemampuan bahasa ini mereka bangun lewat hobi membaca puisi, sastra, dan karya Latin dan Yunani Kuno. Menurut gw ini standar kompetensi minimum yang sangat bagus. Hari ini kita tidak literally butuh bahasa Yunani Kuno, tapi kita butuh sesuatu yang sama sulitnya. --- Kalau mau diseriusin lagi: - Idealnya, partisi STEM-Soshum-Sastra dalam bentuk apapun di level SMA dihapus. Di sekolah yang ideal, semuanya diajarkan dan dijelalkan masuk. Sayangnya ini hanya bisa berhasil apabila guru-gurunya elite dan bergaji tinggi. - Idealnya, akademis SMA sengaja dibikin sangat susah dan sangat sadis dan sangat horor. Alasannya satu, yaitu memaksa lulusan SMP mempertimbangkan opsi masuk SMK dengan serius. Masalahnya, kualitas SMK di Indonesia sangat buruk sehingga ini harus diperbaiki duluan. - Role edtech yang paling dibutuhkan adalah meringankan beban pekerjaan guru. Memeriksa soal, otomatisasi administrasi, memantau progress tiap siswa, dll. Barangkali siswa tidak perlu melihat atau menyentuh aplikasi edtech sama sekali. Spekulasi liar: - Di zaman AI, fungsi utama sekolah di bidang akademis barangkali akan berubah jadi ruang ujian saja. Bayangkan tiap hari ujian intensif, kertas dan pulpen, essay, tidak ada AI dan tidak ada kalkulator. Tapi jam pulang adalah jam 11 pagi. Setelah itu bebas mau ngapain. Pacaran, Valorant, motoran, ekstrakurikuler, belajar mandiri, silakan. Karena tiap hari ujian, anak terpaksa memiih belajar mandiri. Well, tinggal minta diajarin oleh AI. AI nya ngawur? Akan ketahuan di ujian besoknya dan menjadi shock therapy bagi anaknya. Salah sendiri terlalu percaya sama AI. - Ini diperkuat dengan sistem Romusha Tutor (atau Sistem Tutor Oxford). Tiap kakak kelas diberikan tanggung jawab terhadap prestasi akademis 1 adik kelas. Kalau adik kelas tidak lulus, kakak kelas tidak lulus. Asumsi di sini adalah bahwa hanya manusia yang bisa menyelesaikan hal seperti "memotivasi anak untuk belajar" dan bahwa AI tidak bisa melakukan ini. Well, ya sudah, romushakan saja kakak-kakak kelas untuk jadi tutor. Kakak kelas bingung harus ngapain? Tanya AI. AI nya ngaco? Akan ketahuan di ujian besok. - Spekulasi liar ini mengasumsikan bahwa pemerintah kita sama sekali tidak melakukan apa-apa dan useless dan gabut. Gw jauh lebih percaya bahwa teknologi AI akan bisa sangat murah Rp 2rb / bulan daripada percaya bahwa pemerintah akan peduli untuk "menaikkan gaji guru" atau semacamnya. Untuk isu yang ini, barangkali sebaiknya kita menyerah saja.

Indonesia
0
0
2
33
sab 🖤👑 retweeted
risa-!
risa-!@boyoknangis·
dari 2 dokter ini, pilih berobat ke siapa? dr. Gia: mohon diminum obatnya😄🥰 dr. Tirta: BESOK BELI NISAN!!😠😤 Kasih sayang VS Kasih Paham
risa-! tweet media
Indonesia
359
4.2K
38.8K
2.3M