RobbaTech | Second Brain
1.6K posts

RobbaTech | Second Brain
@robbatech_id
🏠 @robbanin_id 💻 Yuk Belajar Membiasakan Pakai Teknologi, untuk Bantu Manage Hidup Sehari-hari, dan Mencapai Tujuan Hidup

Sangat realistis Selama kita sendiri bener-bener rutin baca buku Dan, tambahan dari aku Kita target jug ,supaya diri kita dan anak-anak kita itu... mengasosiasikan gadget, utamanya, untuk hal-hal yang seproduktif mungkin di kehidupan sehari-hari Bukan justru utamanya untuk main medsos, hiburan, main game, dll Gimana caranya?

Anak gue nanti ga perlu dipaksa suka membaca. Setiap hari dia tumbuh dengan melihat orang tuanya dekat dengan buku. Anak gue juga ga perlu mencari pelarian ke mana2, semoga saat dunia terasa bising, dia selalu bisa menemukan ketenangan dalam buku.

punya anak yg hobi baca buku adalah cita citaku tapi di era gempuran sosmed dan gadget gini masih mungkin ga yaaa




setuju gak?




Sebelum lolos S3 plus dg beasiswanya, aku beneran baca puluhan jurnal wkwk. Aku bikin ringkasannya, terus jadi proposal yg cuma 8 halaman itu :') Bacanya lebih lama drpd nyusun 8 halaman itu. Tapi percaya deh, teman2 mahasiswa. Daripada kalian minta AI -- yg sering gak tepat itu -- mending kalian luangkan waktu buat baca. Pake AI untuk translate deh kalo emang bener2 gak paham. Tapi baca sendiri. Ketika sdh selesai, kalian bakalan 'kekenyangan' sama referensi, terus langsung cepetttt banget nulis karena semua hasil bacaan di otak kalian harus dikeluarin. Ya hasil dikeluarin itu berbentuk artikel atau proposal.




Fakta mengajar yang jarang dibahas: -> Ketika guru menjelaskan dengan sangat jelas, murid sering merasa sudah paham meskipun sebenarnya belum benar-benar paham. Fenomena ini disebut illusion of understanding (ilusi pemahaman). Saat mendengarkan penjelasan guru yang runtut dan mudah dipahami, otak murid mengenali informasi tersebut dan muncul perasaan, "Oh iya, saya mengerti." Namun pengenalan (recognition) berbeda dengan pemahaman (understanding) yang sesungguhnya. Cara termudah membuktikannya adalah dengan bertanya, "Sekarang coba jelaskan kembali dengan kata-katamu sendiri." Bisa jadi banyak murid terdiam. Mereka merasa paham saat mendengar, tetapi belum mampu: - menjelaskan kembali, - memberi contoh baru, - menerapkan pada situasi berbeda, - atau mengajarkannya kepada teman. Karena itu, indikator terbaik bahwa murid memahami sesuatu bukanlah ketika mereka berkata, "Saya paham." Melainkan ketika mereka mampu menjelaskan, menerapkan, dan menghubungkannya dengan situasi lain. Kondisi ini juga menjelaskan fenomena di mana banyak guru merasa, "Tadi di kelas semua sudah mengerti. Kok waktu ujian banyak yang salah?" Sering kali yang terjadi bukan murid lupa. Namun mereka sebenarnya belum pernah benar-benar memahami sejak awal. Mereka hanya mengalami ilusi pemahaman karena penjelasan guru terlalu lancar dan mudah diikuti.


Gw bacain replies dan benar-benar deh, kemampuan berhitung dan berlogika udah ga ketolong. "Carcep" yang dituliskan oleh Fiory ini bisa digunakan kalau udah paham soal distribusi dan tentunya punya "sense" di angka. Nah harusnya "sense" ini dimiliki kalau sudah belajar aritmatika. Dan ya benar, dengan melihat 10 detik juga bisa selesai. Kenapa bisa selesai? Karena opsi jawabannya obvious banget. Single digit dan angkanya berbeda semua. Ketika pilihan jawabannya adalah 11, 21, 31, dan 1, ya di sini baru menggunakan proses aritmatika sederhana. Waktu pengerjaannya mungkin lebih dari 10 detik tapi kurang dari semenit. Gw rasa inilah alasan guru selalu meminta muridnya untuk hafal pertambahan/pengurangan/pembagian/perkalian 1-10 di luar kepala. Biar sensenya dapat.


The old iPhone design feels a bit odd now







