Aditya Ramanda

7K posts

Aditya Ramanda banner
Aditya Ramanda

Aditya Ramanda

@aditoss

Certified Cut-Loss Specialist. Expert at buying the dip that keeps on dipping ~ so u don't have to

Indonesia Inscrit le Ağustos 2009
1.7K Abonnements2.7K Abonnés
Tweet épinglé
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Gue pernah average down saham yang sudah turun 30%. Lalu turun lagi. Gue average down lagi. Lalu cut loss di harga yang bikin gue gak bisa tidur tiga malam. Kalau ada sertifikasi resmi untuk itu, gue sudah lulus dengan nilai tertinggi. Tapi dari semua itu, gue sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tidak populer: Sebagian besar edukasi investasi di Indonesia mengajarkan hal yang benar tapi dengan urutan yang salah. Orang diajarkan chart sebelum diajarkan berapa besar loss yang sanggup mereka tanggung. Diajarkan cara entry sebelum diajarkan kapan harus exit. Diajarkan cara beli saham sebelum diajarkan bahwa cut loss itu bukan kekalahan, cutloss itu skill yang butuh latihan. Akibatnya, banyak yang masuk pasar dengan analisis teknikal yang cukup bagus tapi gak punya manajemen risiko. Dan ketika IHSG koreksi, bukan chartnya yang menghancurkan mereka, tapi keputusan yang dibuat di tengah panik. Akun ini ada karena gue gak mau orang lain bayar harga yang sama untuk pelajaran yang seharusnya bisa dipelajari lebih murah. Di bawah, gue kumpulin semua yang pernah gue tulis: dari money management, psikologi cut loss, cara membaca kondisi IHSG dari sudut pandang ritel, sampai kenapa banyak strategi yang viral itu berbahaya tanpa konteks yang benar. Bukan karena gue lebih pintar. Tapi karena kesalahan dan kebodohan yang udah pernah gue alami dulu terlalu mahal dan sayang kalau pelajarannya cuma buat gue sendiri.
Indonesia
25
82
444
29.3K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Gue pernah average down saham yang sudah turun 30%. Lalu turun lagi. Gue average down lagi. Lalu cut loss di harga yang bikin gue gak bisa tidur tiga malam. Kalau ada sertifikasi resmi untuk itu, gue sudah lulus dengan nilai tertinggi. Tapi dari semua itu, gue sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tidak populer: Sebagian besar edukasi investasi di Indonesia mengajarkan hal yang benar tapi dengan urutan yang salah. Orang diajarkan chart sebelum diajarkan berapa besar loss yang sanggup mereka tanggung. Diajarkan cara entry sebelum diajarkan kapan harus exit. Diajarkan cara beli saham sebelum diajarkan bahwa cut loss itu bukan kekalahan, cutloss itu skill yang butuh latihan. Akibatnya, banyak yang masuk pasar dengan analisis teknikal yang cukup bagus tapi gak punya manajemen risiko. Dan ketika IHSG koreksi, bukan chartnya yang menghancurkan mereka, tapi keputusan yang dibuat di tengah panik. Akun ini ada karena gue gak mau orang lain bayar harga yang sama untuk pelajaran yang seharusnya bisa dipelajari lebih murah. Di bawah, gue kumpulin semua yang pernah gue tulis: dari money management, psikologi cut loss, cara membaca kondisi IHSG dari sudut pandang ritel, sampai kenapa banyak strategi yang viral itu berbahaya tanpa konteks yang benar. Bukan karena gue lebih pintar. Tapi karena kesalahan dan kebodohan yang udah pernah gue alami dulu terlalu mahal dan sayang kalau pelajarannya cuma buat gue sendiri.
Indonesia
25
82
444
29.3K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@bmartawardaya Sepakat pak. Sinyal 'pasar menghukum' yang disorot itu bukti kalau masalah utamanya ada di fundamental arah kebijakan. Selama proyek boros dan logika ekonomi yg menyimpang gak dievaluasi, gonta-ganti personel lewat reshuffle pun gak bakal mempan buat benerin sentimen market.
Indonesia
0
0
0
26
Berly Martawardaya
Berly Martawardaya@bmartawardaya·
Tempo makin blak2an dan ngoko ala Jawa Timuran. Seringkali ada godaan melihat kondisi/respon negatif sbg masalah komunikasi dan/atau personal yg akan membaik dgn reshuffle. Tp sering juga masalahnya adalah arah/detil kebijakan. Seperti ditulis sastrawan legend William Shakespeare di lakon Julius Ceasar lebih dari 4 abad lalu: "The fault, dear Brutus, is not in our stars, but in ourselves..."
Berly Martawardaya tweet media
Indonesia
20
153
416
17.6K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
𝐈𝐇𝐒𝐆 +𝟒,𝟏𝟐% 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐧𝐢. 𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐥𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐡𝐢𝐣𝐚𝐮. 𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐠𝐫𝐮𝐩 𝐬𝐚𝐡𝐚𝐦 𝐡𝐚𝐩𝐩𝐲. Dan hampir tidak ada yang menyebut 23 Juni. Bukan untuk mendinginkan pesta. Justru karena kepala lagi dingin, ini momen terbaik untuk melihat MSCI dengan jernih, bukan dalam kondisi panik seperti Mei lalu. Berdasarkan data yang tersedia, saya coba menganalisis probabilitasnya (lihat visual terlampir) Ringkasannya: probabilitas downgrade ke Frontier ada di ~13%. Bukan skenario utama. Tapi ini tiga alasan kenapa angkanya ada di sana, bukan lebih tinggi dan kenapa 13% tetap tidak bisa diabaikan begitu saja. 𝟏. 𝐒𝐞𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐡𝐢𝐬𝐭𝐨𝐫𝐢𝐬, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐨𝐰𝐧𝐠𝐫𝐚𝐝𝐞 𝐬𝐞𝐜𝐞𝐩𝐚𝐭 𝐢𝐧𝐢 Sejak 2000, MSCI mendowngrade empat negara dari EM ke Frontier. Tidak ada satu pun yang dieksekusi dalam hitungan bulan dari warning pertama. Pakistan: warning November 2018, downgrade September 2021 > 34 bulan. Morocco: 36+ bulan dari first concern ke eksekusi. Indonesia dapat warning Januari 2026. Sekarang Juni 2026. Lima bulan. Data historis tidak mendukung downgrade secepat itu. 𝟐. 𝐌𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐞𝐠𝐚𝐫𝐚 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐣𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐨𝐰𝐧𝐠𝐫𝐚𝐝𝐞 Pakistan dan Morocco didowngrade karena pasar yang menyusut secara struktural, butuh bertahun-tahun untuk terbukti. Indonesia dipersoalkan karena kualitas data free float dan transparansi kepemilikan, governance issue, bukan market yang mengecil. Jenis masalah yang bisa diperbaiki regulasi dalam hitungan bulan. Dan sudah mulai: threshold free float naik 7,5%→15%, disclosure kepemilikan diperluas 5%→1%. 𝟑. 𝐅𝐓𝐒𝐄 𝐑𝐮𝐬𝐬𝐞𝐥𝐥 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤, 𝐝𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐢𝐧𝐟𝐨𝐫𝐦𝐚𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐞𝐰𝐚𝐭 FTSE - index provider terbesar kedua - mempertahankan Indonesia sebagai Secondary EM di April 2026, tanpa watchlist. Bahasa MSCI sendiri juga bergeser sejak April: dari "peringatan eksplisit" ke "assessment sedang berlangsung." Dua sinyal yang searah. Tapi 13% bukan nol. Dan konsekuensinya tidak proporsional dengan ukuran probabilitasnya. Kalau downgrade terjadi, passive funds yang track MSCI EM wajib menjual,bukan karena mau, tapi karena mandat mengharuskan. Forced selling sekitar $2,5–3 miliar secara mekanis. Tidak ada diskresi, tidak peduli IHSG lagi ada di mana. Itu kenapa 23 Juni tetap event yg perlu kita ingat. Yang perlu dipantau besok, 18 Juni: MSCI publikasikan Global Market Accessibility Review - sehari sebelum keputusan minggu depan. Bukan keputusan downgrade, tapi bahasa yg mereka pake untuk menilai reformasi Indonesia adalah sinyal awal paling konkret yg tersedia saat ini. Lebih positif dari April → probabilitas 23 Juni bergeser lebih baik. Ada kekhawatiran baru → worth dicatat serius. Rally hari ini punya alasannya sendiri yang legitimate. Tapi euforia +4,12% tidak mengubah apa yang MSCI putuskan delapan hari dari sekarang. Kamu sudah pricing in 23 Juni atau masih full gas ikut rally?
Aditya Ramanda tweet media
Indonesia
2
1
8
340
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@WOLF_of_IHSG TP kecepetan nyesel karena harga lanjut terbang. Kelamaan cutloss nyesel karena makin dalem. Emang bener saham itu bisnis penyesalan😄
Indonesia
1
0
0
11
DiaryTrader
DiaryTrader@WOLF_of_IHSG·
@aditoss bener banget... pas udah rebound, "tau gitu entry banyak deh serokkkk kemaren" pas lanjut naik tapi udah TP: "tau gitu jangan dulu Sell kemaren "
Indonesia
1
0
0
15
DiaryTrader
DiaryTrader@WOLF_of_IHSG·
market memasuki fase mulai muncul sekte penganut "TAUGITUMOLOGY" 😷
Indonesia
2
0
3
207
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@profesor_saham Lebih milih nunggu pullback atau retest setelah breakout prof. Menurut saya lebih aman. Kalau langsung kejar di harga sekarang, rawan kena jebakan false breakout. Risk-reward ratio-nya juga kurang ideal karena posisinya udah mepet resistance.
Indonesia
0
1
0
437
PROFESOR SAHAM
PROFESOR SAHAM@profesor_saham·
Kalau ketemu chart gini, kalian tim nunggu break resistance atau wait and see nunggu down di strong suport Jawabannya menentukan style kalian dan bisa jadi profile resiko juga
PROFESOR SAHAM tweet media
Indonesia
13
1
15
1.4K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@desmondwira Bener banget. Pasar saham nggak akan pernah kehabisan peluang, yg sering kehabisan itu modalnya kalau keseringan FOMO. Don't force trade adalah jalan ninja biar portofolio awet
Indonesia
0
0
0
32
Aditya Ramanda retweeté
Desmond Wira
Desmond Wira@desmondwira·
Telat serok? Gpp, tunggu peluang berikutnya Di pasar saham, peluang berikutnya selalu muncul. Silih berganti. Ngga ada habis-habisnya Seperti kereta, selalu ada kereta berikutnya Tidak perlu FOMO Tidak perlu memaksa beli saat sudah ketinggalan jauh Santai saja. Ketinggalan momen itu biasa dalam trading. Kuncinya: Don't force trade
Dicky@dickyalpiandi

@desmondwira Yah telat deh serok bawah

Indonesia
6
25
129
9.1K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@writingtorch Rotasinya belum ke sektor properti sepertinya, kena sentimen BI Rate higher for longer. Padahal ​engine utama $PWON recurring income (mal & hotel) yg resilient, bukan jualan residensial siklikal yg sensitif bunga
Indonesia
0
0
0
50
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@rickyho_1989 Spot on. Comparing absolute expenses while ignoring median income is half-baked economics. If we use global benchmarks to justify asset pricing, we have to use global benchmarks for labor valuation. Otherwise, the math simply doesn't protect the consumer
English
0
0
2
65
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@unusual_whales Saying the quiet part out loud. The underlying objective has always been supply stability and price control, not ideology or regime change. Purely transactional foreign policy.
English
1
0
0
164
unusual_whales
unusual_whales@unusual_whales·
Trump has said: Oil will now flow... I never cared about regime change.
English
259
174
3.1K
331.7K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@dedewizard19 @Catmosphere__ Bisa survive di tengah bear market itu validasi terbaik buat sebuah sistem trading. Kuncinya emang di evaluasi berkala dan kedisiplinan eksekusi, bukan nyari holy grail atau bocoran info kanan-kiri. Semangat terus buat komunitas DCN Trades.
Indonesia
0
1
1
98
dedewizard
dedewizard@dedewizard19·
Kondisi market 4 bulan terkahir ini kan emang bearish, wajar aja kalo nguras mental kalian. Kalo saat ini porto kalian lg kena drawdown, percayalah itu hal wajar temen-temen apalagi buat kalian yg masih baru banget di market. @Catmosphere__ pernah bilang kan ke kalian, bisa survive di bear market aja udh satu langkah awal yg bagus. Kalo api semangat kalian mulai redup, biarkan dedewizard ini jadi bensinnya. Semangat terus belajarnya teman-teman. Ingat kata @marketwizardidn juga "Yg bikin sukses di market itu bukan karena ada info A0-A100, tapi disiplin. Butuh keberanian untuk jadi orang sukses, ragu terus ga akan kemana mana."
Indonesia
4
14
83
2.9K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Sejujurnya, ketiganya gak saya bobot secara formal, ini judgement, bukan output model. Kalau dipaksa ranking: preseden historis adalah anchor terberat. Karena blm ada satu negara pun yg pernah didowngrade lebih cepat dari 34 bulan. MSCI punya behavioral pattern yang terdokumentasi dan bisa dicek dari public record. Ini yang paling susah dibantah. Kedua: perubahan bahasa MSCI sendiri di April 2026 , ancaman frontier dihapus dari statement resmi mereka. Ini berbeda dari sinyal eksternal, ini institusinya sendiri yang mengubah framing. Bisa diverifikasi langsung. FTSE jadi penguat thesis, bukan anchor. kalau FTSE juga khawatir, argumen utama jadi lebih lemah. Karena mereka engga, ini menambah confidence tapi tidak menggerakkan angkanya sendiri. Konsensus analis saya taruh paling ringan, analis cenderung mengikuti market, bukan lead. 13% adalah titik tengah dari range 10–15%, bukan output formula. Yg paling bisa menggerakkan angka ini ke atas adalah kalau MSCI Accessibility Review besok (18 Jun) mengeluarkan bahasa yang lebih keras dari April.
Indonesia
0
0
2
66
Imade Djibril
Imade Djibril@Kubu_tambahan·
@aditoss Excellent analysis Om, jadi belajar lagi. Boleh nanya, kuantifikasi ~13% dari bobot 3 point tersebut mana yg berpengaruh paling tinggi?
Indonesia
1
0
0
73
Aditya Ramanda retweeté
Gilang R.
Gilang R.@gilangrmdhn·
[Marketstudio Insight] Pengalokasian APBN itu sebenarnya ga kayak rumah tangga pribadi. Makin banyak yang disalurkan makin bagus untuk menghidupkan sektor sektor ekonomi. Jadi mau defisit pun sebenarnya juga ga masalah. .Uang yang beredar karena belanja negara akan meningkatkan kegiatan ekonomi disuatu negara apalagi kalau dihabiskan ke sektor yang masa depan atau jangka panjang seperti infrastruktur, investasi dan fasilitas pendidikan. Kegiatan konsumtif seperti subsidi layanan masyarakat juga baik untuk meningkatkan daya beli masyarakat. . Adapun defisitnya bisa dibiayai oleh obligasi pemerintah, sehingga masyarakat punya instrument investasi dan dibeli juga oleh pihak asing yang ngeliat prospek bagus di suatu negara. . Akan jadi suatu masalah jika uang APBN dihamburkan ke pengeluaran yang sifatnya konsumtif tanpa memikirkan dampak ekonomi dan psikis. Seharusnya diadakan kajian terlebih dahulu tiap tiap bidang untuk strategi jangka panjang karena hanya akan mengakibatkan penumpukan uang di beberapa golongan . Begitu pula dengan korupsi yang menggerogoti APBN sampai sampai uangnya ga mengalir karena ditaruh di brankas. Kegiatan seperti itu yang membunuh roda ekonomi nasional.
Gilang R. tweet media
Indonesia
1
3
8
851
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@TradingDiary2 MA20 breakout dan stochastic yang mulai naik dari oversold sinyal valid secara teknikal Tapi risiko tetep ada, di bearish trend yg dalam, sinyal teknikal bullish jangka pendek bisa jadi valid, tapi bisa juga jadi Bull Trap sebelum leg down berikutnya.🙏
Indonesia
0
0
2
157
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@andrewmanik21 Ini udah paling bener pak 👍 Grup berbayar sebagai referensi tambahan, bukan sebagai pemegang keputusan. Exit plan ditulis sendiri bukan didelegasikan. Tetep jadi investor bukan follower, karena risiko drawdown porto kita sendiri yg tanggung 👍
Indonesia
1
0
1
12
Andrew Johannes Manik
Andrew Johannes Manik@andrewmanik21·
@aditoss Saya ikut grup berbayar sebagai tambahan referensi, tapi saya selalu punya exit plan cut loss sih
Indonesia
1
0
0
18
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Beberapa waktu lalu seseorang DM gue. Dia bilang sedang hold saham, posisi minus, sebetulnya udah mau jual. Tapi sebelum eksekusi, dia tanya dulu ke leader grupnya. Jawabannya: "masih akan naik." Dia gak jadi jual. Sekarang floating loss-nya 140 juta. Dari porto 350 juta. Hampir 40%. Ini bukan cerita tentang saham yg salah pilih. Ini tentang sesuatu yg lebih berbahaya dari saham yg turun: optimisme yang dibangun sistematis oleh orang yang punya kepentingan berbeda dari kamu. Ada satu hal yang jarang dibicarakan soal grup saham berbayar: Leader grup punya insentif yang tidak selalu sejalan dengan keputusan terbaik untuk porto kamu. Mereka perlu member tetap aktif, tetap percaya, dan tetap di dalam grup. Kalau semua orang cut-loss dan keluar, grup bubar. Jadi ketika market merah, narasi defaultnya bukan "evaluasi ulang posisimu", tapi "sabar, tunggu strukturnya balik." Itu bukan penipuan. Itu insentif. Dan insentif jauh lebih berbahaya dari penipuan, justru karena terasa seperti kepedulian. Tiga hal yang perlu dipahami dari pola ini: "Katanya masih naik" bukan analisis. Tidak ada yang tahu saham akan ke mana. Yang ada hanya probabilitas dan framework untuk mengelola ketidakpastian. Ketika seseorang bilang "masih naik" tanpa konteks stop-loss, tanpa exit plan, itu kalimat yang terdengar meyakinkan, bukan analisis. Investor pemula paling rentan bukan karena tidak pintar, tapi karena tapi karena mereka belum punya sistem trading sendiri. Kalau kamu belum punya sistem, kamu default ke sistem orang lain. Dan sistem orang lain didesain untuk prioritas orang lain. Konkretnya: orang itu tidak cut-loss bukan karena dia yakin sahamnya akan naik, tapi karena dia tidak punya angka yang udah ditulis sebelumnya untuk keluar. Kekosongan itu yang diisi oleh suara leader grup. Tidak cut-loss adalah keputusan juga. Keputusan itu punya konsekuensi. Floating loss 140 juta tidak terjadi hanya karena sahamnya turun. Itu terjadi karena tidak ada exit plan dari awal, dan ada orang yang kepentingannya menjaga kamu tetap hold. Gue gak tau apakah 350 juta itu uang yg bisa dia relakan sambil nunggu pemulihan yg enggak jelas waktunya. Yang gue tau: ceritanya bisa jadi sangat berbeda kalau dari awal ada satu pertanyaan sederhana yang dijawab sendiri sebelum beli: "Kalau salah, gue keluar di harga berapa?" Bukan tanya leader grup. Jawab sendiri. Tulis sendiri. Pegang sendiri. Gue sadar ini akan terdengar offensive bagi sebagian orang yang sekarang aktif di grup berbayar, atau yang menjalankannya. Tapi ada pertanyaan yang lebih penting selain dari "apakah leader-nya bisa dipercaya?" : Kalau besok porto kamu minus 30%, siapa yang menanggung konsekuensinya? Bukan leader grupnya. Tapi kamu sendiri. Jadi keputusan keluar atau hold, itu hak kamu. Dan seharusnya, tanggung jawab kamu juga. Kamu pernah di posisi ini? Atau pernah lihat orang terdekat yg lagi ngalamin ini?
Aditya Ramanda tweet media
Indonesia
7
8
57
12.6K
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@Gieehad Di baris terakhir tabelnya tertulis 'Annual Earning (Net Profit)' , bukan saya yg kasih label itu. Kalau memang sudah net profit, interest expense-nya udah masuk? Kalau belum, berarti labelnya yg perlu dikoreksi dulu
Indonesia
1
0
0
64
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
@Don_Cassava Bener bang. Kisah untuk memahami, data untuk memutuskan. Masalahnya keduanya sering ketuker
Indonesia
0
0
1
34
Don~Cassava
Don~Cassava@Don_Cassava·
@aditoss Khan emang kisah itu dibutuhkan retail. "Kenapa naek" "Kenapa turun" Dan parah nya itu wajib dijawab. Di situ X melakukan tugasnya
Indonesia
1
0
0
52
Aditya Ramanda
Aditya Ramanda@aditoss·
Trump baru aja ngasih IHSG tiga katalis bullish sekaligus pagi ini. Dan ini justru setup yg paling sering bikin orang masuk di waktu yg salah. Katalis pertama: Deal AS-Iran confirmed > Selat Hormuz dibuka, blokade angkatan laut dicabut. Harga minyak global berpotensi turun signifikan. Untuk Indonesia sebagai net importer minyak, ini nyata: tekanan current account berkurang, inflasi lebih terkendali, ada ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM. Katalis kedua: Dari 5.342 ke 6.007. IHSG naik 12% hanya dalam satu minggu. Katalis ketiga: Asing net buy Rp287 miliar Jumat kemarin, pertama kali setelah berminggu-minggu. Tiga katalis bersamaan dalam satu pagi. Timeline pasti ramai. Tapi ada satu angka yg belum berubah dari semua kabar baik itu. IHSG masih di bawah MA20 dan MA200. Macro catalyst yang kuat bisa mendorong gap up hari ini. Tapi gap up tanpa konfirmasi struktur punya satu skenario klasik yang sering mahal: harga naik cepat di pagi hari, lalu perlahan kembali mengisi gap sebelum penutupan. Bukan reversal, hanya noise bullish yang terasa seperti reversal. Soal foreign flow: @Kutekians sudah tunjukkan dengan backtest 4 crash terbesar IHSG bahwa 3 dari 4 bottom terbentuk justru saat asing masih net sell. Artinya net buy kemarin bukan konfirmasi, tapi juga bukan hal yg bisa diabaikan begitu saja. Yg perlu diperhatikan hari ini bukan seberapa tinggi IHSG buka. Tapi: ✔️Apakah harga bisa menembus dan menutup di atas MA20 ✔️Apakah volume naik konsisten bukan sekadar spike satu hari ✔️Apakah terbentuk higher low dari struktur minggu lalu. Kalau pertanyaan-pertanyaan itu mulai terjawab positif, baru ada alasan konkret untuk naikkan exposure secara bertahap. Tiga katalis bullish sekaligus adalah kondisi yang paling sulit untuk tetap disiplin. Tapi justru di sini disiplin itu paling mahal nilainya. Di luar foreign flow, sinyal apa yg paling kamu tunggu sebelum naikkan exposure? 👇
Aditya Ramanda tweet media
Indonesia
3
10
68
8.6K