
Aditya Ramanda
7K posts

Aditya Ramanda
@aditoss
Certified Cut-Loss Specialist. Expert at buying the dip that keeps on dipping ~ so u don't have to
Indonesia Katılım Ağustos 2009
1.6K Takip Edilen2.7K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet

Gue pernah average down saham yang sudah turun 30%.
Lalu turun lagi.
Gue average down lagi.
Lalu cut loss di harga yang bikin gue gak bisa tidur tiga malam.
Kalau ada sertifikasi resmi untuk itu, gue sudah lulus dengan nilai tertinggi.
Tapi dari semua itu, gue sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tidak populer:
Sebagian besar edukasi investasi di Indonesia mengajarkan hal yang benar tapi dengan urutan yang salah.
Orang diajarkan chart sebelum diajarkan berapa besar loss yang sanggup mereka tanggung.
Diajarkan cara entry sebelum diajarkan kapan harus exit.
Diajarkan cara beli saham sebelum diajarkan bahwa cut loss itu bukan kekalahan, cutloss itu skill yang butuh latihan.
Akibatnya, banyak yang masuk pasar dengan analisis teknikal yang cukup bagus tapi gak punya manajemen risiko.
Dan ketika IHSG koreksi, bukan chartnya yang menghancurkan mereka, tapi keputusan yang dibuat di tengah panik.
Akun ini ada karena gue gak mau orang lain bayar harga yang sama untuk pelajaran yang seharusnya bisa dipelajari lebih murah.
Di bawah, gue kumpulin semua yang pernah gue tulis:
dari money management, psikologi cut loss, cara membaca kondisi IHSG dari sudut pandang ritel, sampai kenapa banyak strategi yang viral itu berbahaya tanpa konteks yang benar.
Bukan karena gue lebih pintar.
Tapi karena kesalahan dan kebodohan yang udah pernah gue alami dulu terlalu mahal dan sayang kalau pelajarannya cuma buat gue sendiri.
Indonesia

@Gieehad Di baris terakhir tabelnya tertulis 'Annual Earning (Net Profit)' , bukan saya yg kasih label itu. Kalau memang sudah net profit, interest expense-nya udah masuk? Kalau belum, berarti labelnya yg perlu dikoreksi dulu
Indonesia

@aditoss judulnya kan pendapatan bang. bukan laba. Laba baru dikurang yg abang bilang.
Indonesia

Emas 6000 $BUMI penghasilan nya bisa dapat paling optimist, dari Wolfram, Jubile, Loyal Metal, yang mulai produksi Juni ini,
dan Coal nya yang dapat harga paling optimum tanpa transfer Pricing. (Sekarang Harga Coal 145 USD)

Nostra, House of Gold@Nostre_damus
Who is ready for $6,000 Gold ?
Indonesia

@Don_Cassava Bener bang. Kisah untuk memahami, data untuk memutuskan. Masalahnya keduanya sering ketuker
Indonesia

@aditoss Khan emang kisah itu dibutuhkan retail.
"Kenapa naek"
"Kenapa turun"
Dan parah nya itu wajib dijawab.
Di situ X melakukan tugasnya
Indonesia

Trump baru aja ngasih IHSG tiga katalis bullish sekaligus pagi ini.
Dan ini justru setup yg paling sering bikin orang masuk di waktu yg salah.
Katalis pertama: Deal AS-Iran confirmed > Selat Hormuz dibuka, blokade angkatan laut dicabut. Harga minyak global berpotensi turun signifikan. Untuk Indonesia sebagai net importer minyak, ini nyata: tekanan current account berkurang, inflasi lebih terkendali, ada ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM.
Katalis kedua: Dari 5.342 ke 6.007. IHSG naik 12% hanya dalam satu minggu.
Katalis ketiga: Asing net buy Rp287 miliar Jumat kemarin, pertama kali setelah berminggu-minggu.
Tiga katalis bersamaan dalam satu pagi. Timeline pasti ramai.
Tapi ada satu angka yg belum berubah dari semua kabar baik itu.
IHSG masih di bawah MA20 dan MA200.
Macro catalyst yang kuat bisa mendorong gap up hari ini. Tapi gap up tanpa konfirmasi struktur punya satu skenario klasik yang sering mahal: harga naik cepat di pagi hari, lalu perlahan kembali mengisi gap sebelum penutupan.
Bukan reversal, hanya noise bullish yang terasa seperti reversal.
Soal foreign flow: @Kutekians sudah tunjukkan dengan backtest 4 crash terbesar IHSG bahwa 3 dari 4 bottom terbentuk justru saat asing masih net sell. Artinya net buy kemarin bukan konfirmasi, tapi juga bukan hal yg bisa diabaikan begitu saja.
Yg perlu diperhatikan hari ini bukan seberapa tinggi IHSG buka. Tapi:
✔️Apakah harga bisa menembus dan menutup di atas MA20
✔️Apakah volume naik konsisten bukan sekadar spike satu hari
✔️Apakah terbentuk higher low dari struktur minggu lalu.
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu mulai terjawab positif, baru ada alasan konkret untuk naikkan exposure secara bertahap.
Tiga katalis bullish sekaligus adalah kondisi yang paling sulit untuk tetap disiplin. Tapi justru di sini disiplin itu paling mahal nilainya.
Di luar foreign flow, sinyal apa yg paling kamu tunggu sebelum naikkan exposure? 👇

Indonesia
Aditya Ramanda retweetledi

Pro tips cara menggunakan MA:
Perhatiin candle yg dilingkari warna ungu. Kemudian perhatikan MA yg warna warni. Itu adl candle pertama dr above all MA awal (excl MA besar 50,100 & 200) jd posisinya blm bullish long term tp safe enough untuk mid-long term. Tergantung dia break resist apa engga & marketnya gimna.
Set up ini yg sering sy maksud dr kalimat "lebih baik ketinggalan kereta drpd jatoh dr kereta".
Why? Karena dibawah candle tsb pijakannya udah cukup kokoh byk supportnya & resist MA diatasnya udah gak ada (excl MA besar) Nyisa resist biasa/trendline.
Sy gak bilang klo dah gini pasti naik, tp ini adl set up ideal buat mereka yg mengedepankan safety dibanding profit.
Yg perlu diperhatikan:
1. Candle harus valid closing daily
2. Tidak ada pattern/candle aneh yg berpotensi bikin bearish
3. Formasi MA tidak dipaksakan. Artinya ada waktu buat build up set up ini terlebih dahulu jd gak terkesan dipaksakan.
It's basically buaya mangap😅😅
Coba praktekkan sendiri ya mumpung bertaburan set up ky gini & jgn lupa liat IHSG nya. Teori apapun bakal percuma klo marketnya ambles parah ky bulan lalu. Selamat mencoba!!


Indonesia

@Don_Cassava Nah ini yg paling pas sebenarnya
Trump, Prabowo, Fed, apapun, itu semua kisah. Yg bergerak adalah order flow, bukan narasinya.
Masalahnya: otak kita lebih mudah percaya kisah daripada data. Dan selama itu terjadi, selalu ada aja yg jualan kisah ke investor ritel 😁✌️
Indonesia

@aditoss Nah.
Kalo merah prabiowo
Kalo ijo trumph.
Padahal 2 orang itu hanya lah "kisah dalam harga"
Indonesia

@SaptonoRagil @WOLF_of_IHSG Ntar pas strukturnya udh kebentuk semoga dananya udh keisi lagi ya om 😁
Yg lebih susah, punya dana tapi ga tau harus masuk dimana. Akhirnya ikutan fomo 😄
Indonesia

@aditoss @WOLF_of_IHSG Agak tenang mau nyetok, masalah nya dana yg sudah kosong
Indonesia

Betul, dan ini yg bikin setup nya beda.
IHSG ke ATH 9.134 ditopang saham konglomerasi, bukan bigbank. Fundamental tipis, makanya jatuhnya brutal.
Kalau sekarang yg menopang justru bigbank, ini base yg secara struktur jauh lebih sehat dari rally sebelumnya.
Volume sustain sampai close + asing konsisten net buy = baru gue naikkan exposure.
Indonesia

@aditoss @WOLF_of_IHSG Dan sekarang kabar Baiknya IHSG ditopang Bigbank, dng fundamental yg kuat dan solid.
Indonesia

Betul, dan justru ini yg gue maksud di atas om.
MA20 jebol + gap up besar + 3 katalis sekaligus = kondisi paling sulit untuk tetap disiplin.
Yg perlu kita pantau: apakah volume hari ini sustain sampai close, atau distribusi? Apakah ini higher low dari struktur minggu lalu, atau masih dalam downtrend yang sedang relief rally?
Kalau dua pertanyaan itu terjawab positif di close hari ini, baru jd alasan konkret buat gue pribadi untuk naikin exposure secara bertahap.
Indonesia

Ini versi yang lebih berbahaya sebetulnya.
'Masih naik' dari leader grup bisa dibantah dengan data.
Tapi 'bandarnya nanti naikin' ga bisa dibuktikan salah, karena ga ada yg bisa buktiin bandar gak akan naikin.
Dan justru itu yang membuatnya efektif menahan orang dari cut-loss yg seharusnya udah dilakukan jauh sebelumnya
Indonesia

Beberapa waktu lalu seseorang DM gue.
Dia bilang sedang hold saham,
posisi minus, sebetulnya udah mau jual.
Tapi sebelum eksekusi, dia tanya dulu ke leader grupnya.
Jawabannya: "masih akan naik."
Dia gak jadi jual.
Sekarang floating loss-nya 140 juta. Dari porto 350 juta.
Hampir 40%.
Ini bukan cerita tentang saham yg salah pilih.
Ini tentang sesuatu yg lebih berbahaya dari saham yg turun: optimisme yang dibangun sistematis oleh orang yang punya kepentingan berbeda dari kamu.
Ada satu hal yang jarang dibicarakan soal grup saham berbayar:
Leader grup punya insentif yang tidak selalu sejalan dengan keputusan terbaik untuk porto kamu.
Mereka perlu member tetap aktif, tetap percaya, dan tetap di dalam grup.
Kalau semua orang cut-loss dan keluar, grup bubar. Jadi ketika market merah, narasi defaultnya bukan "evaluasi ulang posisimu",
tapi "sabar, tunggu strukturnya balik."
Itu bukan penipuan. Itu insentif.
Dan insentif jauh lebih berbahaya dari penipuan, justru karena terasa seperti kepedulian.
Tiga hal yang perlu dipahami dari pola ini:
"Katanya masih naik" bukan analisis.
Tidak ada yang tahu saham akan ke mana.
Yang ada hanya probabilitas dan framework untuk mengelola ketidakpastian.
Ketika seseorang bilang "masih naik" tanpa konteks stop-loss, tanpa exit plan, itu kalimat yang terdengar meyakinkan, bukan analisis.
Investor pemula paling rentan bukan karena tidak pintar, tapi karena tapi karena mereka belum punya sistem trading sendiri.
Kalau kamu belum punya sistem, kamu default ke sistem orang lain. Dan sistem orang lain didesain untuk prioritas orang lain.
Konkretnya: orang itu tidak cut-loss bukan karena dia yakin sahamnya akan naik, tapi karena dia tidak punya angka yang udah ditulis sebelumnya untuk keluar.
Kekosongan itu yang diisi oleh suara leader grup.
Tidak cut-loss adalah keputusan juga.
Keputusan itu punya konsekuensi.
Floating loss 140 juta tidak terjadi hanya karena sahamnya turun. Itu terjadi karena tidak ada exit plan dari awal, dan ada orang yang kepentingannya menjaga kamu tetap hold.
Gue gak tau apakah 350 juta itu uang yg bisa dia relakan sambil nunggu pemulihan yg enggak jelas waktunya.
Yang gue tau: ceritanya bisa jadi sangat berbeda kalau dari awal ada satu pertanyaan sederhana yang dijawab sendiri sebelum beli:
"Kalau salah, gue keluar di harga berapa?"
Bukan tanya leader grup.
Jawab sendiri. Tulis sendiri. Pegang sendiri.
Gue sadar ini akan terdengar offensive bagi sebagian orang yang sekarang aktif di grup berbayar, atau yang menjalankannya.
Tapi ada pertanyaan yang lebih penting selain dari "apakah leader-nya bisa dipercaya?" :
Kalau besok porto kamu minus 30%, siapa yang menanggung konsekuensinya?
Bukan leader grupnya. Tapi kamu sendiri.
Jadi keputusan keluar atau hold, itu hak kamu.
Dan seharusnya, tanggung jawab kamu juga.
Kamu pernah di posisi ini?
Atau pernah lihat orang terdekat yg lagi ngalamin ini?

Indonesia

@maaa_broo Katalis keempat yg belum masuk saya perhitungkan bro
Dan ini satu-satunya sinyal yg paling ga bisa diprediksi 😄
Indonesia

@bluecandleway @MYasfika @Aris_Prabowoo @BukanPegawaiJP Semoga bisa recover
dan semoga pengalaman mereka bisa jadi pelajaran buat yg belum kena,
agar bisa lebih displin sebelum nyebur dan gak pasrahin trading plan nya ke grup telegram🙏
Indonesia

@aditoss @MYasfika @Aris_Prabowoo @BukanPegawaiJP Thank you Pak sudah diingatkan. Semoga yg lalu-lalu mengalami itu bisa pada recover kembali. Sedih bacanya.
Indonesia

Haha, gue di sini bukan mau menghakimi siapapun ya om-om semua ✌️
Yg bikin gue nulis ini: setiap kali IHSG crash, yg paling terdampak selalu ritel. Dan yg paling sering gak balik lagi ke pasar juga ritel.
Bukan karena pasarnya salah. Tapi karena waktu pertama kali masuk, gak ada yang ngajarin mereka bahwa exit plan itu wajib, bukan opsional.
Pasar modal Indonesia butuh ritel yang tumbuh dan bertahan, bukan yang trauma setiap ada koreksi. Itu yang gue mau ikhtiarkan dengan post² kayak gini🙏
Indonesia

Bener banget.
'Mengendalikan diri' di market itu konkretnya satu hal:
keputusan exit ditulis sendiri sebelum entry, bukan didelegasikan ke orang lain saat sudah panik.
Selama itu belum jadi kebiasaan, siapapun - mau influencer, leader grup, atau bahkan gue - bisa jadi sumber masalah tanpa niat buruk sekalipun
Indonesia

Gue sengaja gak sebut nama siapapun, karena ini bukan soal orangnya.
Polanya yang perlu dikenali.
Dan sayangnya, pola ini gak eksklusif milik satu grup tele.
Gue posting ini karena udah beberapa orang yg DM dengan cerita yang sama:
udah tahu mau keluar, tapi nunggu konfirmasi dari orang yang insentifnya beda dari mereka. Dan akhirnya terlambat.
Kalau satu orang baca ini dan mulai nulis exit plan-nya sendiri sebelum entry berikutnya, itu udah cukup
Indonesia

@midnightnavyy Makasih udah baca sampe habis ya.
Pernah di posisi yg mirip atau lihat orang terdekat yang ngalamin ini?
Indonesia

@DuitMudacom Terima kasih sobat #DuitMuda
Soal musuh, ga masalah.
Yang lebih penting: pastikan sobat #DuitMuda tau bahwa nasihat terbaik bisa datang dari siapapun, termasuk dari gue, jadi gak berguna kalau gak ada exit plan yg ditulis sendiri sebelum masuk.
Indonesia

Bull Trap ini yg paling bahayanya emang karena terasa seperti konfirmasi.
IHSG +12% dari low, asing mulai net buy, MACD crossover positif, semua sinyal "benar" muncul bersamaan.
Dan itu yang membuat orang masuk agresif di momen yang paling berbahaya.
Menurut saya, yg jadi jadi pembeda Bull Trap dari trend reversal sesungguhnya bukan hanya di chart, tapi di kondisi makro yg belum banyak berubah.
Selama tekanan strukturalnya masih ada, setiap kenaikan perlu diperlakukan sebagai hypothesis dulu, bukan konfirmasi🙏
Indonesia


Gue pernah average down saham yang sudah turun 30%.
Lalu turun lagi.
Gue average down lagi.
Lalu cut loss di harga yang bikin gue gak bisa tidur tiga malam.
Kalau ada sertifikasi resmi untuk itu, gue sudah lulus dengan nilai tertinggi.
Tapi dari semua itu, gue sampai pada satu kesimpulan yang mungkin tidak populer:
Sebagian besar edukasi investasi di Indonesia mengajarkan hal yang benar tapi dengan urutan yang salah.
Orang diajarkan chart sebelum diajarkan berapa besar loss yang sanggup mereka tanggung.
Diajarkan cara entry sebelum diajarkan kapan harus exit.
Diajarkan cara beli saham sebelum diajarkan bahwa cut loss itu bukan kekalahan, cutloss itu skill yang butuh latihan.
Akibatnya, banyak yang masuk pasar dengan analisis teknikal yang cukup bagus tapi gak punya manajemen risiko.
Dan ketika IHSG koreksi, bukan chartnya yang menghancurkan mereka, tapi keputusan yang dibuat di tengah panik.
Akun ini ada karena gue gak mau orang lain bayar harga yang sama untuk pelajaran yang seharusnya bisa dipelajari lebih murah.
Di bawah, gue kumpulin semua yang pernah gue tulis:
dari money management, psikologi cut loss, cara membaca kondisi IHSG dari sudut pandang ritel, sampai kenapa banyak strategi yang viral itu berbahaya tanpa konteks yang benar.
Bukan karena gue lebih pintar.
Tapi karena kesalahan dan kebodohan yang udah pernah gue alami dulu terlalu mahal dan sayang kalau pelajarannya cuma buat gue sendiri.
Indonesia









