fillainart@fillainart
Sekali-kali kita coba rewatch dan membedah Saint Seiya klasik vs baru dgn kacamata cultural studies. Kita akan temukan sebuah ironi tentang bahayanya eksploitasi via term tentara anak (child soldiers), yg kemudian diperparah oleh industri modern lewat versi "remake" nya di Netflix.
Di versi klasiknya, anime ini menormalisasi hegemoni penderitaan dan "kultus" pengorbanan tubuh. Coba kita ingat kembali premis dasar dari serial ini yg sering tertutup oleh kemegahan nostalgia masa kecil kita: proyek tumbal seratus anak yatim piatu.
Mitsumasa Kido secara harfiah mengumpulkan seratus anak-anak, melucuti hak sipil mereka, dan membuang mereka ke kamp pelatihan mematikan di berbagai penjuru dunia. Sebagian besar dari mereka tewas secara mengenaskan, dan sisanya yg selamat dipaksa pulang untuk saling bunuh di atas ring Galaxian Wars demi hiburan korporat Yayasan Kido dan perebutan kekuasaan para dewa.
Dalam versi klasik ini, anak-anak berusia 13-15 thn itu direduksi menjadi homo sacer—subjek yang nyawanya gak lagi berharga di mata sistem. Estetika visualnya dibangun di atas literatur darah dan mutilasi diri yg cukup gamblang.
Kita disuguhi pemandangan traumatis bagaimana Ikki dipaksa menjadi mesin pembunuh yg dingin setelah disiksa dan dipaksa membunuh gurunya sendiri di Death Queen Island. Kita juga menormalisasi adegan di mana Shiryu dengan "sukarela" mencungkil matanya sendiri agar menjadi buta demi menyelamatkan teman-temannya, hingga Seiya yg tubuhnya musti hancur dan kehilangan kelima inderanya saat memanjat 12 Kuil.
Meskipun narasi ini sangat problematis karena mengkampanyekan loyalitas buta yg berujung pada penyiksaan diri, versi klasik ini setidaknya jujur dalam memperlihatkan realitas horor dari konsep "tentara anak", yg sebenarnya sudah diupayakan dilarang di 1977 (konferensi jenewa) hingga mantab di 2000. Ia menyajikan fakta bahwa untuk mempertahankan hegemoni penguasa absolut seperti Athena, tubuh kelas bawah memang harus dieksploitasi, dikoyak, dan dikorbankan sampai habis.
Lalu masuklah Netflix dengan remake CGI-nya yg terkesan rapi dan bersih. Di sinilah terjadi apa yg bisa kita sebut sebagai sanitisasi kekerasan ala kapitalisme modern.
Demi memenuhi standar sensor penyiaran global dan algoritma tontonan yg ramah keluarga, elemen darah, mutilasi, dan rasa sakit jasmani yg "visceral" itu dihapus total.
Pemandangan mengerikan dari anak-anak malang yg saling banting tulang (literally) satu sama lain digantikan dgn koreografi laser warna-warni, pukulan kosmik yg clean, dan pertarungan melawan tentara bayaran atau helikopter militer.
Secara permukaan, pendekatan ini mungkin terlihat lebih manusiawi karena audiens gak lagi disuguhi pemandangan eksplisit penyiksaan anak di bawah umur.
Tapi secara sosiologis, sanitisasi ini justru jauh lebih mengerikan karena ia sepenuhnya mengaburkan eksploitasinya itu sendiri. Dgn menghilangkan elemen rasa sakit jasmani yg brutal, versi remake secara diam-diam menormalisasi fakta bahwa anak-anak yatim piatu ini pada dasarnya tetaplah tumbal yg dipaksa berperang.
Penindasan strukturalnya masih ada dan gak berubah, tetapi karena visualnya dibuat seolah tanpa friksi, tanpa kucuran darah, dan dikemas layaknya petualangan pahlawan super yg generik, penonton gak lagi merasakan simpati atas trauma psikologis maupun fisik yg seharusnya dialami oleh tentara anak.
Versi modern ini mengemas ulang eksploitasi kelas bawah menjadi sebuah tontonan yang bersih, membuktikan bahwa hegemoni industri modern gak perlu repot-repot menghentikan penindasan; mereka cukup membungkusnya dengan visual yg bersih agar kita lupa bahwa anak-anak di dalamnya sebenarnya sedang dieksploitasi habis-habisan.