AeshinGo

708 posts

AeshinGo banner
AeshinGo

AeshinGo

@AeshinGo1

Katılım Kasım 2022
69 Takip Edilen7 Takipçiler
AeshinGo retweetledi
miw.
miw.@lilaccountz·
makanya menurut w tuh islam udh adil banget ngasih hak dan kewajiban sesuai fitrah masing masing jadi suami berat, harus qowwam terhadap keluarganya (melindungi, membimbing, menafkahi, dll) karena fitrah mereka yg diberi kelebihan dlm kekuatan fisik. dan karena kewajibannya berat, maka dia berhak ditaati istrinya. jadi istri juga berat banget. dengan fitrah mereka yg bisa hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat anak, mereka berhak utk diperlakukan dengan baik dan dipenuhi seluruh kebutuhannya. ga diwajibkan kerja sama sekali. ga heran, kalo kata “ibu” disebut sebut 3x sama Rasul waktu ditanya siapa yg paling berhak utk anaknya berbakti. masalahnya, jaman skrg org lebih suka nuntut dan banding bandingin. nuntut haknya tapi gamau jalanin kewajibannya. banyak suami minta ditaati padahal dzolim. ga nafkahin, ga membimbing, bahkan ga sedikit dia cuma ongkang ongkang kaki di rumah, dan istrinya yg kerja banting tulang. akhirnya ngasih efek domino. banyak perempuan jd takut nikah, takut punya anak, dan ikut ideologi ideologi barat yg menentang fitrah wanita akibat kelakuan oknum oknum lelaki ini. banyak perempuan jadi anti sama syariat. nuntut minta dinafkahi tapi gamau taat sama suami. semoga Allah jaga kita dan selalu memberi hidayahNya☺️
dr. Adam Prabata@AdamPrabata

Semua laki-laki wajib menonton ini biar tau pengorbanan seorang perempuan tuh kaya apa pas lagi hamil. Udah nonton? Sekarang bilang makasih banyak-banyak ke ibu yang udah ngandung lo. Udah nikah dan punya anak? Sekarang bilang makasih juga sebanyak-banyaknya ke istri yang udah ngandung anak lo.

Indonesia
11
393
1.4K
33.7K
AeshinGo retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Safiera cewek Indonesia yang SMA di Korea pakai beasiswa, lanjut S1 double major ilmu komputer dan bisnis teknologi di kampus riset top Korea, publikasi jurnal ilmiah tahun ketiga, nulis buku Kimchi Confessions tentang kehidupan nyatanya merantau baru ngobrol sesuatu yang menurut gua adalah salah satu obrolan paling penting yang perlu didengar oleh perempuan muda Indonesia sekarang. Dan gua mau mulai dari kalimat yang paling nyakitin yang pernah dia terima dari teman sekolahnya sendiri. "Ngapain belajar capek-capek, bukannya nanti nikah juga digituin?" Safiera bilang waktu itu dia bingung mau jawab apa. Tapi sekarang setelah dia ngelewatin semua yang dia ngelewatin SMA di Korea, kuliah double major, publikasi jurnal, nulis buku dia punya jawaban yang sangat jelas dan sangat tidak bisa dibantah. Perempuan yang tidak berpendidikan tidak hanya merugikan dirinya sendiri. Dia merugikan anak-anaknya. Karena ibu adalah madrasah pertama. Sekolah pertama yang pernah dimasuki setiap manusia di muka bumi adalah pangkuan ibunya. Dan ibu yang tidak berpendidikan akan melahirkan generasi yang tidak berpendidikan. Bukan karena anaknya bodoh tapi karena fondasinya tidak dibangun dengan benar dari awal. Dan ini bukan opini Safiera semata. Ini fakta yang sudah dibuktikan berkali-kali oleh data pendidikan global. Tingkat pendidikan ibu adalah prediktor terkuat dari tingkat pendidikan anak jauh lebih kuat dari pendapatan keluarga, fasilitas sekolah, atau bahkan tingkat pendidikan ayah. Tapi gua mau mundur dulu dan cerita soal perjalanan Safiera karena ini yang bikin semua pemikirannya punya bobot yang beda dari sekadar teori. Safiera bukan anak kaya yang tinggal di Jakarta dengan akses ke semua fasilitas. Keluarganya naik turun secara ekonomi. Tapi orang tuanya punya satu prinsip yang tidak pernah diganggu gugat apapun yang terjadi dengan keuangan keluarga, pendidikan anak-anak tidak boleh dikompromikan. Ketika ekonomi lagi di titik paling bawah, prioritas tetap sekolah dan les dan lomba. Karena kata orang tuanya kami tidak bisa mewariskan harta kepada kalian, tapi kami bisa mewariskan pendidikan. Dan dari situ Safiera dan kakak-kakaknya semua perempuan, semua beasiswa luar negeri, semua jurusan STEM membuktikan bahwa investasi itu benar. Safiera mulai ikut lomba matematika dari kecil. Dari situ dia ketemu kakak kelasnya yang SMA di Korea. Dari situ dia daftar beasiswa yang sama. Dan dari situ dimulailah perjalanan yang kata Safiera sendiri tidak pernah dia bayangkan seindah dan seberat itu secara bersamaan. Korea itu bukan seperti di drama. Safiera bilang ini dengan sangat tegas dan sangat perlu didengar oleh siapapun yang punya romantisasi berlebihan tentang Korea dari tontonan K-drama atau K-pop. Teman-temannya di Korea itu naturally gifted banyak yang memang lahir dengan kapasitas kognitif luar biasa. Tapi yang membuat mereka benar-benar menakutkan bukan kecerdasan bawaannya. Yang menakutkan adalah disiplinnya. Ketika Safiera pulang ke Indonesia liburan, teman-temannya di Korea malah masuk bimbel. Ketika Safiera main, mereka belajar. Dan ketika Safiera baru mulai belajar dua minggu sebelum ujian dengan penuh persiapan ada teman Korea-nya yang belajar dua hari tapi tetap lebih bagus hasilnya karena fondasi mereka sudah dibangun selama bertahun-tahun tanpa henti. Dan dari tekanan lingkungan sekeras itulah Safiera menemukan sesuatu yang sangat berharga dia tidak pernah tahu sejauh mana batas kemampuannya sampai dia dipaksa oleh lingkungan untuk mendorong batas itu. Itu yang dia sebut sebagai hadiah terbesar dari pengalaman Korea. Bukan gelarnya. Bukan jaringannya. Bukan pengalamannya tinggal di luar negeri. Tapi kenyataan bahwa dia sekarang tahu ternyata dia bisa lebih dari yang dia kira. Dan dari sini Safiera kasih tiga hal yang menurut dia paling menentukan keberhasilan dalam belajar dan ini berlaku untuk siapapun, bukan hanya pelajar beasiswa. Yang pertama adalah mental baja. Bukan kecerdasan. Bukan bakat. Tapi kemampuan untuk tidak menyerah waktu gagal, waktu nilainya jelek, waktu teman-teman lebih bagus. Daya juang itu lebih penting dari IQ karena IQ tidak bisa berkembang kalau orangnya berhenti sebelum mencapai batasnya. Yang kedua adalah disiplin. Dan Safiera bilang sesuatu yang sangat mengena dia lebih takut sama orang yang disiplin dan kerja keras daripada orang yang pintar. Karena orang pintar yang tidak disiplin sering berhenti sebelum potensinya keluar sepenuhnya. Tapi orang yang mungkin tidak sepintar dia tapi konsisten dan disiplin mereka secara mengejutkan bisa melampaui si genius yang tidak punya etos kerja. Yang ketiga adalah time management berbasis prioritas. Safiera bilang dia belajar untuk membedakan mana pelajaran yang butuh 20 persen effort tapi menghasilkan 80 persen hasil dan mana yang butuh effort lebih besar. Tidak semua hal perlu diperlakukan dengan intensitas yang sama. Yang penting adalah tahu mana yang paling menentukan dan fokuskan energi terbesar ke sana. Dan tentang pertanyaan yang paling sering ditanyakan ke cewek pintar di Indonesia soal jodoh dan nikah dan apakah pendidikan tinggi tidak justru mempersulit mencari pasangan Safiera jawabnya sangat cerdas dan sangat tidak minta maaf. Dia bilang perempuan yang mengejar pendidikan tinggi sebenarnya sedang melakukan seleksi alamiah terhadap calon pasangannya. Laki-laki yang minder melihat perempuan berpendidikan tinggi itu bukan kerugian bagi perempuan. Itu informasi gratis bahwa dia bukan orang yang tepat. Karena kalau dari awal dia sudah tidak mendukung semangat belajar pasangannya, bagaimana dia akan mendukung semangat belajar anak-anaknya nanti? Dan dari perspektif agama pun Safiera punya jawaban yang sangat kokoh. Nabi Muhammad bilang menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan. Farida. Wajib. Bukan anjuran. Bukan opsional. Wajib. Dan ada bidang-bidang ilmu yang secara spesifik harus diisi oleh perempuan kedokteran kebidanan, pendidikan di sekolah perempuan, dan sebagainya. Jadi perempuan yang tidak berpendidikan bukan hanya merugikan dirinya dia meninggalkan kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun selain dirinya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
133
4K
16.4K
1M
AeshinGo retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys menurut Jusuf Kalla, kebijakan WFH/WFA yang katanya buat hemat BBM yang bakal dilakuin pemerintah prabowo itu sebenarnya nggak tepat sasaran. Kenapa? Karena energi yang dipakai di kantor itu mayoritas listrik, AC, lampu dan listrik di Indonesia, khususnya Jakarta & Jawa Barat, masih didominasi PLTU berbahan batu bara, bukan BBM. Jadi mau kerja di rumah atau di kantor, konsumsi BBM secara nasional nggak banyak berubah. Yang lebih aneh lagi, masalahnya BBM, tapi solusinya malah WFH. Padahal kalau mau serius hemat BBM, harusnya fokus ke transportasi: paksa penggunaan angkutan umum batasi kendaraan pribadi atau dorong sepeda di daerah. Lah ini? Orang tetap pakai listrik di rumah, bahkan bisa jadi lebih boros karena AC dan alat elektronik nyala seharian. Jadi bukannya hemat, bisa aja cuma mindahin beban energi dari kantor ke rumah. Jadi pertanyaannya sekarang ini beneran solusi hemat energi… atau cuma kebijakan biar keliatan doang?
Lambe Saham tweet media
Indonesia
553
8.3K
25.7K
681.8K
AeshinGo retweetledi
🐈 ☭ 🔻
🐈 ☭ 🔻@Puspen_PKI·
gak akan pernah lelah mengulang kisah ini: ada seorang pangeran yang mengidap penyakit melankolik di masa ibnu sina. si pangeran ini tiap hari menangis dan bersedih. dia merasa dirinya berubah jadi seekor sapi. terus, dia selalu bilang: tolong bunuh aku, supaya aku bisa jadi soto yang enak. ibnu sina datang dan mengikat si pangeran, sambil bawa parang. lalu, beliau bilang: sapi ini terlalu kurus buat disembelih. beri dia makanan yang cukup. si pangeran sapi ini lalu makan dengan lahap supaya bisa gemuk dan bisa disembelih. bersamaan dengan obat-obatan yang dibuat oleh ibnu sina. kemudian, saat nutrisinya tercukupi, si pangeran sembuh :) masalah mental itu gak sama dengan masalah iman. kesehatan jiwa, sama juga dengan kesehatan raga, punya kebutuhannya sendiri-sendiri. adalah betul agama bisa jadi suplemen buat hati, tpi suplemen ya tetap suplemen. dia bukan bahan bakar utama dan juga bukan obat. psikolog, professional, bisa membantu kita untuk mengidentifikasi masalah utamanya ada di mana. supaya kita bisa tahu apa yang harus kita lakukan. lalu, praktik agama itu tidak serta merta menentang praktik psikologis. pun begitu juga sebaliknya. keduanya tidak saling bernegasi dan jalan berbarengan. soal depresi, aku paling suka cerita Maryam. ibu Isa Al Masih. saat tiba-tiba mengandung, Maryam pergi mengasingkan diri. mungkin, siapa yg gk takut? tiba-tiba hamil dan dia harus melahirkan sendirian. rasa sakit bikin dia suicidal, “mendingan aku mati.” dengar itu, Tuhan gak minta dia untuk ibadah. dia juga gak dimarahi. dia disuruh makan dan minum. ada sungai tiba-tiba di bawahnya dan pohon kurma tempat dia bersandar itu tiba-tiba berbuah. kalau ada orang datang, gak usah bicara. betul-betul disuruh makan sampai puas. jadi aku pikir, kalau kamu sedih, makan enak dulu coba :)
🐈 ☭ 🔻 tweet media
ザーラ @00dailyzahra

Psikolog mahal mending tahajud

Indonesia
81
2.6K
8.3K
181.9K
AeshinGo
AeshinGo@AeshinGo1·
@elvbr_cs AAAA 😍😍😍 Penasaran banget lagi kalan yg biasanya manjain ella gantian jd ndusel ndusel manjah gemesss. Ayo gas ngenggg kak
Indonesia
1
0
1
8
eL 🍒
eL 🍒@elvbr_cs·
@AeshinGo1 HSJSHSGSHDK yang ada nanti Kalan malah ngedusel gemes terus karena Ellana KETAR-KETIR 👋😭😭😭
Indonesia
1
0
0
16
AeshinGo retweetledi
ody IS SEEING BTS ⊙⊝⊜
‼️URGENT‼️ teman-teman, mohon bantuannya lagi adik sepupu saya yang sedang koma kemarin atas nama oksan mengalami penurunan HB dan membutuhkan 3 kantong tambahan goldar A+ untuk pelaksanaan operasi, sekiranya ada yang berkenan minta tolong dm ke aku terimakasih banyak🙏🙏
Indonesia
19
2.1K
2K
57.7K
AeshinGo retweetledi
ann
ann@anhtiss·
Orang dewasa punya standar tinggi kalau ketemu anak kecil. Di mata orang dewasa, anak harus ceria, harus mau respon segala pertanyaan, harus mau salim, harus mengikuti norma sosial dengan perfect. Anak kecil teriak dikit "Gak diajarin ortunya ya?" Anak kecil nangis "Kok cengeng sih?" Anak kecil slow to warm up "Masih kecil udah introvert ya" Anak kecil ikut ortu nongkrong, bosen, butuh input stimulus lain "Rewel ya ternyata" Kata gw mah elu yg rewel. Udah dewasa tapi judgemental banget ke anak-anak. Anak kecil tuh sedang belajar memahami dirinya sekaligus memahami dunia yang semua isinya tuh besar-besar. It gets too overwhelmed sometimes. It's a part of the growth process. Mari kita jadi orang dewasa yg wajar gitu lho.
JazEe | Web 3 Thinker@JazEWeb3

Unpopular opinion about child ?

Indonesia
224
7.6K
23.8K
946.2K
AeshinGo retweetledi
NIKI | Coinfest Asia | Bali 20-21 Agustus 🇮🇩✈️
Banyak perempuan diajarin untuk jadi kuat, tapi bukan untuk punya power. Kuat itu tahan banting, sabar, ngalah, bisa handle semuanya sendiri. Power itu berani untuk punya pilihan, bisa bilang no, bisa ninggalin, bisa set boundary tanpa rasa bersalah. Dan ironisnya society sering ngepraise perempuan yang kuat (yang tahan disakiti, tetap stay, tetap ngurus semua), tapi uncomfortable sama perempuan yang punya power (yang tegas Dan gak mau compromise terus). Semua perempuan kuat kok, gak kekurangan strength, yang sering kurang itu permission untuk pakai powernya.
Abid@abid0588

Unpopular opinion about woman ?

Indonesia
41
4.9K
10.4K
249.9K
AeshinGo retweetledi
esa
esa@pacarghiffa·
Kenapa liat foto kaya gini vibesnya wonwoo banget 😭
esa tweet media
Indonesia
50
649
5K
48K
AeshinGo retweetledi
Sean
Sean@seandre0101·
Kemarin pas kajian pranikah bab finance pernikahan (sst diem kalian), ustaznya pakai ayat ini untuk jadi landasan kalau nanti akan datang masa kita ga produktif lagi (masa pensiun) setelah masa produktif Jadi duluan mana nabung untuk anak dan nabung untuk hari tua? Ya hari tua-
Indra Wahyudi@InWahyudi581

Joseph's cycle juga menjadi salah satu rujukan dalam mengenali siklus ekonomi dan keuangan, yang kemudian jadi tool kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial dari otoritas terkait untuk mengelola dinamika perekonomian negara

Indonesia
15
640
4.1K
157.7K
AeshinGo retweetledi
Lifa
Lifa@Kholifazyn·
Unpopular opinion: Pilih pasangan yang bisa hidup tanpa kamu. Karena artinya mereka memilih kamu dengan sadar, bukannya terpaksa atau butuh sesuatu. Bisa hidup tanpa kamu, tapi tetep milih bareng kamu. Punya opsi yang lain, tapi tetep milih kamu juga.
YAPPINGFESS@yappingfess

yap! unpopular opinion about relationship

Indonesia
120
6.1K
24.4K
597.1K
AeshinGo retweetledi
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Sependapat dg Prof.Burhan. Sebagai org yg jg pernah menerima awardee, saya justru melihat ini sbg ilusi meritokrasi. Knp demikian?, Krn kita seolah menilai “yg terbaik”, padahal yang kita ukur sering kali hanyalah siapa yang paling siap secara akses. Bahasa—yang seharusnya alat— telah berubah jadi gerbang yang menutup banyak potensi bangsa. Anak2 dari kelas menengah tanggung (yg tdak miskin, tdk kaya tapi juga tdk punya privilese) sering jatuh di celah ini karena jalur mereka cuma seleksi n tdk ada jalur afirmatif spt.yg lain. Lalu kita sebagian menyebutnya sbg seleksi objektif ?. Di titik itu, saya sepakat dengan Prof. Burhan: negara tdklah cukup hanya menyaring, tapi harus berani mengoreksi ketimpangan ini. Bukan menurunkan standar— tapi mengakui bahwa garis start kita memang tidak sama. Tidak semua hal bisa dipaksakan seragam. Uniformitas sering jadi penyakit birokrasi: semua diukur dengan alat yang sama, seolah semua berangkat dari titik yg setara. Padahal realitasnya tidak begitu. Di titik itu, yg tampak objektif sering kali hanya terlihat rapi— bukan benar-benar adil.
Indonesia
0
41
174
9.7K
AeshinGo retweetledi
ALIRA
ALIRA@aliralira·
What I read: she knows he loves her, yet she does not feel loved. Can we stand not feeling loved for the rest of our life? Ternyata gw ga bisa. I’ve decided to talk it out and eventually end the relationship. He’s a total green flag, but we couldn’t love each other correctly.
Tanyarl 💚@tanyakanrl

💚 masa putus cm karena ini doang ... btw pas PDKT dan awal2 pacaran mah dia ga gini. Tapi dia konsisten sih bersikap soft dan kind sejak dulu.

English
57
898
5K
487.9K
AeshinGo retweetledi
Humanies Project
Humanies Project@humaniesproject·
Aceh masih belum pulih. Kami kembali membuka layanan cek kesehatan gratis untuk masyarakat Aceh Tamiang. Mari teruskan kebaikan bersama Humanies Project melalui: bit.ly/humaniesbencan… atau BRI 118501000499563 (Yayasan Huma Inisiatif Indonesia)
Humanies Project tweet media
Indonesia
17
4.7K
8K
121.6K