
Victor Wahyu Andono
1.6K posts

























Saya sejak awal tak setuju dengan MBG. Persoalan utamanya adalah: SALAH SASARAN. Mayoritas dari uang yang dipakai untuk MBG itu salah sasaran. Pelajar yang mampu dan tak butuh digratisi makan siang pun mendapatkan MBG. Jelas itu salah sasaran. Saya bandingkan dengan Koperasi Merah Putih (KMP). Menurut saya, KMP masih lumayan karena itu program yang sifatnya produktif. Tapi untuk menilai KMP, saya nunggu nanti jalannya seperti apa. Namun sejelek-jeleknya pelaksanaan KMP, pada titik tertentu pengeluaran negara untuk KMP akan berhenti. KMP itu program yang sifatnya produktif, bukan "pos pengeluaran" bagi negara. Beda dengan MBG yang sampai kapan pun, selama program itu ada, negara harus keluar uang terus. Masih banyak pos pengeluaran yang lebih penting di dunia pendidikan, terutama terkait gaji guru swasta yang ada di level paling bawah. Nasib mereka mengenaskan tapi harus melihat uang dihambur-hamburkan negara untuk makan gratis muridnya yang tidsk lebih miskin dari sang guru. Negara tak punya skala prioritas.



















