Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral
19.4K posts

Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi

KAMPUS DISURUH MASAK? WHAT??
"Tugas kami mendidik, bukan memasak!" Rektor UI
Seminggu belakangan ini, dunia pendidikan Indonesia diramaikan oleh satu permintaan yang bikin banyak rektor mengernyitkan dahi.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana
meminta perguruan tinggi turut
membuka
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias
dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan sekadar wacana permintaan ini disampaikan langsung dalam Forum U25 yang dihadiri para rektor dari 24 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di Makassar,
seiring peresmian
dapur MBG pertama di lingkungan kampus di Universitas Hasanuddin.
ALASAN BGN: BUKAN SEKADAR MASAK-MASAKAN
BGN punya argumen yang lebih luas dari sekedar "tolong buatin nasi boks". Ini alasannya:
1. Kampus = Gudang Ilmu + Sumber Daya
Dadan menegaskan bahwa teknologi, SDM, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi dinilai sangat bermanfaat bagi program MBG, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis.
2. SPPG = Lab Hidup untuk Mahasiswa
SPPG di kampus dimaksudkan sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik, sekaligus laboratorium hidup untuk mengembangkan riset dan inovasi mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pangan, hingga manajemen rantai pasok.
3. Skala Kebutuhannya BESAR banget
Satu unit SPPG saja membutuhkan sekitar 8 hektare lahan sawah untuk suplai beras,
19 hektare lahan jagung
untuk pakan ternak, dan
3.700–4.000 ekor ayam petelur untuk kebutuhan protein harian.
BGN menilai kampus punya kapasitas untuk menyuplai semua itu dari civitas akademikanya sendiri.
4. Penggerak Ekonomi Lokal
SPPG di kampus diharapkan jadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal, menciptakan kolaborasi antara kampus, petani, peternak, dan UMKM dalam satu sistem ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
RESPONS REKTOR UI: TUNGGU DULU!
Rektor UI, Heri Hermansyah, menegaskan bahwa tugas utama perguruan tinggi adalah
pendidikan,
penelitian,
riset, inovasi, dan
pengabdian masyarakat
bukan operasional dapur.
Jika pun ada SPPG, seharusnya dikelola oleh unit usaha kampus yang relevan,
bukan universitas itu sendiri.
PRO VS KONTRA
Yang PRO:
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menilai pelibatan kampus dalam MBG merupakan langkah strategis karena kampus memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan sistem pangan berbasis ilmu pengetahuan, dari produksi hingga konsumsi dan gizi.
Yang KONTRA:
Akademisi dari Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas HKBP Nommensen mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh diperlakukan sebagai ruang operasional proyek. Kampus harus tetap menjadi institusi yang menjaga kebebasan berpikir dan otonomi intelektual.
LBH Makassar bahkan mengkritik keras Unhas yang sudah terlanjur membangun dapur MBG, menyebutnya menyimpang dari mandat Tridharma Perguruan Tinggi dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Niat BGN sebenarnya mulia melibatkan kampus sebagai knowledge hub yang mengintegrasikan sains, riset, dan praktik dalam program gizi nasional.
Tapi pertanyaannya tetap relevan: apakah ini tugas kampus, atau seharusnya ada lembaga lain yang mengambil peran operasional ini?
Yang jelas, antar
"kampus sebagai mitra riset" dan "kampus sebagai pengelola dapur"
itu
bedanya jauh banget.
Dan Rektor UI sudah memilih jawabannya dengan elegan
Gimana menurut kamu? Kampus seharusnya ikut masak atau cukup kasih resep ilmiahnya? Komen di bawah!

Indonesia
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi

Kasus dugaan pelecehan seksual massal yang melibatkan 50 santriwati sebagai korban oleh pengasuh pondok pesantren di Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, telah memicu kemarahan publik.
Ribuan warga dan aliansi santri menggeruduk lokasi kejadian pada Sabtu, 2 Mei 2026, menuntut keadilan. Pelaku diduga merupakan pengasuh pondok pesantren berinisial AS (dalam beberapa laporan disebut 'S' atau 'A'). Jumlah korban diperkirakan mencapai 50 santriwati, termasuk anak-anak di bawah umur.
Pengasuh tersebut diduga memanfaatkan status yatim dan kurang mampu para korban, serta mengancam akan mengeluarkan santri jika menolak melayani syahwatnya. Aksi bejat ini diduga dilakukan di kamar yang bersebelahan dengan istri pelaku.
Indonesia
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi

Ancaman Gelombang PHK dan Krisis Ekonomi di bulan Mei - Juni Tahun Ini
Bank2 digarong demi MBG, daerah2 sudah nangis budget hanya bisa bertahan utk beberapa bln lagi
ꦩꦸꦂꦠꦝ@MurtadhaOne1
Otw menuju 17.845 di HUT RI nanti😅
Indonesia
Ary Kopral retweetledi
Ary Kopral retweetledi























