Defi Kristanti
43 posts


KUTUKAN ALAS MAYIT
Part 1 - Ritual Alas Mayit
Danan dan Cahyo sekali lagi kembali ke Desa Windualit. Mereka menemukan kejadian aneh dimana jasad yang dikuburkan di makam tua di alas mayit, kembali bangkit...
#bacahorror
@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor

Indonesia

@diosetta @ceritaht @bacahorror @IDN_Horor Sudah pasti keren dong endingnya.. wah ga sabar nunggu cerita baru 😁
Indonesia

SINGGASANA ROJOMAYIT
Part Akhir - Patiwongso [Tamat]
“Yang mati, ingin hidup untuk bertobat.. Yang hidup, lupa akan tujuannya…”
#bacahorror
@ceritaht @bacahorror @IDN_Horor

Indonesia

SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 9 - Perang Keramat
Setelah menghadapi sosok yang memangsa jiwa warga desa, Danan dan Cahyo melanjutkan langkah mereka.
Sebuah rumah tua yang kembali dihuni setelah kosong selama puluhan tahun, menyambut mereka.
@bacahorror #bacahorror @IDN_Horor

Indonesia

@diosetta Bacanya sambil menggebu² terharu juga aduhhh epic tenan sudahlah rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata²
Indonesia

Gendra maju diantara yang lain, ia mendekat, namun Bli Waja sudah berpindah dan menghadangnya.
”Berani-beraninya mengusik kami, Kalian pikir kalian siapa?” Gertak Gendra.
Danan yang lukanya sedikit pulih atas bantuaan Api Sukmageni Paklek kembali berdiri. Keris pusaka ragasukma tergenggam di tangannya.
Ia berdiri di samping Bli Waja dan rasa cemas tak lagi terlihat di matanya. Ia menoleh ke arah Naya sejenak, dan melihat kekasihnya itu mengangguk sambil tersenyum.
Kini semua teman-teman terkuatannya ada di sisinya..
“Kami adalah manusia yang menutup celah alam terkutuk, Jagad segoro demit…”
Cahyo ikut berdiri mendampingi Danan.
”Kamilah yang menggagalkan kebangkitan kerajaan demit Setra Gondomayit..”
Dirga ikut berdiri, ia mengangkat kerisnya dan mengacungkan kepada Gendra.
”Kamilah yang menghentikan Perang Tanah Danyang..”
Paklek telah selesai memulihkan Tegar, kini Tegar berdiri dengan wajah penuh percaya diri. Ia melihat siapa saja yang ada disekitarnya dan seketika merasa yakin dengan langkahnya.
”Katakan Danan! Beri tahu! Siapa kalian!!”
Teriak Tegar yang juga penasaran sebenarnya siapa orang-orang yang pernah bertarung bersamanya itu.
“Kami hanya manusia..” ucap Danan.
Tangannya mengepal, ia merasa sudah waktunya untuk menyelesaikan semua.
“Tapi makhluk biadab seperti kalian harus mengenal kami…
PENDEKAR JAGAD SEGORO DEMIT!!!”
Hanya kalimat yang ia ucapkan dengan seluruh berat yang ada di baliknya.
Berat dari semua yang sudah ia lalui, dari semua orang yang kini berdiri di belakangnya, dari semua alasan yang membawa ia berdiri di sini malam ini alih-alih di tempat lain yang lebih aman dan lebih tenang.
Kini seluruh Trah keramat itu sadar, mereka menghadapi lawan yang sepadan. Dan pertarungan besar pun dimulai.
***
(Bersambung Part Akhir)
Indonesia

Sukma Dirga masuk ke dalam keris Dasasukma seperti terjun ke dalam sumur yang tidak berdasar.
Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya tekanan dari segala arah. Bukan tekanan nyata secara fisik, melainkan tekanan dari sesuatu yang sangat lama terkurung dan tidak suka dengan kehadiran tamu.
Namun Dirga tidak berbalik.
Ia terus turun.
Di dalam sana, di inti dari kekuatan yang selama ratusan tahun tersegel, ia menemukan bukan hanya kegelapan yang ia bayangkan, melainkan sesuatu yang lebih mengerikan.
Sebuah ruang.
Bukan ruang yang dibangun oleh manusia. Ruang yang terbentuk dari akumulasi waktu dari setiap dosa yang pernah dilakukan untuk mendapatkan kekuatan ini, dari setiap nyawa yang dijadikan tumbal, dari setiap detik Patiwongso berdiri di atas penderitaan orang lain dan menyebutnya sebagai hak.
Di tengah ruang itu, berdiri sesuatu yang terikat oleh segel yang Resi Jenaya goreskan ratusan tahun lalu.
Wujudnya menyerupai manusia. Seluruh tubuhnya hitam seperti arang yang belum dingin, dan dari satu kakinya memancar cahaya emas, bukan cahaya suci, melainkan cahaya kekuatan yang meminta untuk dibebaskan. Wujud asli dari bagian tubuh Patiwongso.
Ia menatap Dirga.
Matanya kosong seperti lubang di kain hitam.
Dirga menggenggam pecahan kerisnya lebih erat. Ia berharap akan sebuah petunjuk.
Eyang…
Wajah Prabu Arya Darmawijaya melintas dalam benaknya.. bukan wajah raja yang perkasa, bukan wajah leluhur yang berwibawa.
Melainkan wajah seorang manusia tua yang pernah ia lihat sebentar saat melintasi masa, wajah seseorang yang menanggung beratnya kerajaan di punggungnya dan tidak pernah mengeluh, hanya memilih untuk terus berdiri.
Bantu aku. Petunjuk apapun itu… Sesuatu yang bisa menuntaskan ini semua…
Tidak ada jawaban yang datang dengan kata-kata.
Yang datang hanyalah sebuah rasa yang hangat, pelan, seperti tangan yang diletakkan di bahu seseorang yang hampir jatuh.
Dirga mengerti.
Bukan tentang cara mengalahkan kekuatan itu. Bukan tentang mantra atau teknik atau ilmu yang belum ia kuasai.
Berkah titisan raja bukan kekuatan untuk menghancurkan. Ia adalah kekuatan untuk memurnikan.
Dirga melangkah maju. Saat hatinya mantap, segel itu seolah terlepas.
Sosok hitam itu bergerak cepat, brutal, tanpa peringatan. Tangannya menyambar, dan Dirga merasakannya seperti ditabrak sesuatu yang beratnya melampaui logika. Ia terpental ke belakang, seluruh tulangnya seperti protes sekaligus.
Namun ia tidak jatuh.
Ia memecah kerisnya menjadi empat di alam ini juga. Tiga pecahan melesat mengincar sosok itu dari berbagai arah, memaksanya memecah perhatiannya. Satu pecahan tetap di tangan Dirga.
Pertarungan itu tidak indah seperti dalam cerita-cerita tentang pahlawan yang bergerak dengan anggun dan menang dengan cara yang bisa diceritakan kembali dengan bangga.
Ini lebih seperti seseorang yang menolak tumbang, yang terus berdiri bukan karena ia kuat, melainkan karena ada sesuatu yang lebih besar dari rasa sakitnya yang memaksanya untuk tidak menyerah.
Setiap kali sosok itu menghantam, Dirga bergeser. Tidak menghindari sepenuhnya. Ia tidak bisa.
Melainkan menyerap sebagian, membelokkan sebagian, membiarkan sebagian lainnya lewat dan menanggungnya.
Darah, atau apapun yang mengalir di tubuh sukma manusia menetes dari bibirnya di dalam alam itu.
Namun tiga pecahan keris terus mengepung. Terus memaksa sosok itu berputar, terus menciptakan celah kecil yang tidak sempat menutup.
Dan di satu celah itu hanya satu, hanya sesaat Dirga menancapkan pecahan keris yang ia pegang langsung ke dada sosok itu.
Dalam sekejap, sesuatu terjadi yang tidak ia rencanakan.
Dari dalam pecahan keris itu, memancar sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Hangat, bersih, seperti cahaya pagi yang masuk dari jendela yang selama bertahun-tahun tertutup.
Pulung raja dari Prabu Arya Darmawijaya, yang diturunkan ratusan tahun ke sukma Dirga meresap ke dalam keris tanpa Dirga sadari. Sesuatu yang bukan miliknya namun mengalir melalui darahnya seperti sungai yang akhirnya menemukan muaranya.
Sosok hitam itu menjerit.
Bukan dengan suara. Dengan getaran yang terasa di seluruh alam itu, getaran yang terasa seperti sesuatu yang lama terkurung akhirnya dilepaskan, dengan cara yang memaksanya kembali ke tempat asalnya.
Cahaya emas di kaki sosok itu padam.
Lalu seluruh tubuhnya pecah terurai, seperti gula yang larut dalam air, seperti asap yang kehilangan sumbernya.
Kekuatan itu pun lenyap…
Di alam nyata, tubuh Dirga yang terbujur di tanah dengan keris menancap di tanah di depannya mulai bergetar kencang, dan berhenti seketika.
Sukmanya kembali. Masuk ke tubuh yang sudah tidak punya banyak tenaga tersisa.
Dirga pun membuka matanya. Hanya langit gelap yang terlihat pada saat itu. Angin membawa bau asap dan sesuatu yang lebih menyengat dari itu.
Tangannya tidak bisa diangkat, pertarungan dalam ruang itu menghabiskan segala dalam dirinya.
“Aku berhasil?”, pikirnya. Atau mungkin ia mengucapkannya tanpa ia sadari.. ia benar-benar kehabisan seluruh tenaganya, hingga matanya menutup lagi.
Indonesia

@diosetta @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Yok mari kita nantikan mingdep part akhir nya 😁sehat selalu buat semuanya..
Indonesia

SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 8 - Tahta Terkutuk
"Bukan hanya kekuatan dan pusaka yang diwariskan… tapi kutukan pun yang memilih siapa yang layak menanggungnya..."
#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia

SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 7 - Tanah Para Pendosa
Di kejauhan, jauh di belakang kerumunan warga, Naya melihat bayangan hitam yang sangat besar.
Diam... Menjulang. Nyaris menyatu dengan gelapnya malam....
#bacahorror @bacahorror @ceritaht

Indonesia

SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 1 - Sang Penagih Janji
Tahta itu tidak diwariskan, ia dipanggil oleh keberanian yang berlumur kutukan. Dan setiap panggilan selalu dibuka oleh darah satu trah yang tumpah di tanah leluhur.
#bacahorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia

@diosetta @bacahorror @ceritaht @IDN_Horor Yang ditunggu-tunggu Tegar dan Wiru
Semoga mereka (Tegar , Wiru, Danan dan Cahyo ) ada project bareng ga bisa bayangin kalo mereka ngumpul pasti seru 😁
Indonesia

ABDI DEDEMIT
Part Akhir - Jiwa Manusia [TAMAT]
Kita selesaikan di Part ini. Tolong bantu share dan komen ya temen-temen.
#bacahorror @bacahorror @ceritaht @IDN_Horor

Indonesia

@diosetta @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Ceritanya mas Dio ini ga pernah gagal . Setiap baca seakan² masuk k dimensi cerita itu ..
Indonesia

ABDI DEDEMIT
Part 3 - Yudhaprana
Serangan gaib yang menghantam pendopo menjadi bukti bahwa Raden Argoyo tidak main-main dengan rencananya.
Lebih dari itu, kini jelas bahwa Trah Wangsapati telah bersekutu dengannya.
#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia

@diosetta Yang ditunggu akhirnya tamat juga , seperti biasa menakjubkan 👍🏼. Sambil nunggu cerita selanjutnya ngulang lagi ah cerita awal danan-cahyo😁
Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part Akhir bag. 2 - Tamat
Danan dan yang lain melangkah masuk tanpa ragu. Di Kejauhan mereka melihat sebuah batang pohon yang begitu besar yang sebagian dedaunanya menembus langit Puri yang terang itu.
Sebuah pohon yang merupakan sumber kekuatan dari Puri Jagatsukma.
#bacahorror @bacahorror @bagihorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia

(Di Desa Punggul…)
Sudah semalaman Jagad termenung di desa. Ia menanti saat-saat kemunculan warga tak kasat mata yang hidup berdampingan dengan warga desa di sana.
Dan ketika malam benar-benar pekat, dua sosok itu muncul.
Seorang perempuan, dan seorang pria tua.
Daya, dan ayahnya…Ki Darsa.
“Mas Jagad… kau benar-benar kembali,” ucap Daya lirih, melangkah mendekati sahabat kecilnya.
Jagad tersenyum. Namun senyum itu runtuh sebelum sempat utuh. Air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan.
“Jangan menangis, Mas Jagad,” ucap Daya lembut. “Apa yang terjadi sekarang… adalah akhir yang baik.”
Perlahan, bayangan lain bermunculan di belakang mereka. Wajah-wajah warga desa di masa lalu. Mereka tersenyum, tenang, tanpa luka.
Mereka menatap satu-satunya anak desa yang selamat.
“Jadi… mereka teman-teman Mas Jagad waktu kecil?” bisik Dirga.
“Bukan hanya waktu kecil, Dirga,” jawab Jagad sambil mengusap air matanya.
“Sejak dulu… sampai hari ini.”
Jagad melangkah mendekat. Ia menatap mata mereka satu per satu—penuh rindu, penuh penyesalan, penuh cinta yang tak pernah sempat terucap.
“Kalian bisa pergi dengan tenang sekarang,” ucapnya.
“Makhluk pengikat ritual tumbal… sudah musnah.
Putri Lindri dan semuanya… telah berakhir.”
“Kami tahu, Jagad,” jawab Ki Darsa tenang.
“Kami sudah merasakannya.”
“Kami hanya menunggumu,” tambah Daya.
“Untuk berpamitan.”
Jagad mengangguk. Kali ini, tangisnya pecah sepenuhnya. Dirga berdiri di sampingnya, menahan bahunya, memberi ruang bagi pamannya untuk merasakan duka yang selama ini terkubur.
“Tapi sebelum kami pergi,” ucap Ki Darsa sambil melangkah ke samping, “ada dua orang yang ingin kau temui.”
Dari balik kerumunan roh, muncul sepasang kekasih.
Jagad membeku.
Wajah-wajah itu—wajah yang ia cari, ia rindukan, ia tunggu puluhan tahun dalam mimpi dan trauma.
“Bapak…?”
“Ibu…?”
Suaranya gemetar.
“Maafkan ibu, Nak,” ucap ibunya dengan mata berkaca. “Kau harus menanggung semua ini sendirian…”
Ingatan Jagad kembali pada malam ketika ibunya menyelundupkannya keluar desa, dengan api, jerit, dan perpisahan tanpa janji.
Jagad menggeleng pelan.
“Tidak, Bu,” katanya lirih.
“Jagad tidak menyalahkan siapa pun.”
Melihat mereka kembali saja… sudah lebih dari cukup.
“Bapak… Jagad juga tidak menyalahkan Bapak,” lanjutnya, menatap ayahnya.
Sang ayah akhirnya tak mampu menahan air mata. Ia tahu dosa apa yang pernah ia lakukan.
Dan beban apa yang ia wariskan pada anaknya.
“Kau adalah keturunanku, Jagad,” ucapnya dengan suara bergetar. “Putra dari Wangsa Putra Sambara. Dan trah Sambara memikul takdir yang berat.”
Ia menarik napas dalam.
“Tapi Bapak tahu… kau mampu melaluinya.”
Jagad mengangguk. Ia berusaha menggenggam tangan orang tuanya. Namun sentuhan itu tak pernah sampai.
“Iya, Pak.. Bapak tidak usah kawatir..” Balasnya. “Jagad punya rekan-rekan hebat yang selalu peduli sama Jagad..”
Sang ibu ingin berbicara, namun jagad mendahuluinya.
“Jagad tinggal sendiri, tapi keluarga Dirga baik sekali sama Jagad..”
“Jagad belum punya pacar, tapi Jagad tahu pasti Jagad akan menikah dengan perempuan sebaik ibu…”
Jagad terhenti karena terisak, dan kedua roh itu berusaha semakin dekat dengan Jagad.
“Syukurlah, kami tahu Jagad bisa..” Ucap sang ibu.
“Jangan ulangi kesalahan Bapak,” lanjut sang ayah.
“Geger Trah yang akan datang kelak akan membuka wajah-wajah asli kerabat kita. Pastikan kau berdiri di pihak yang benar.”
Ia menatap Jagad dalam-dalam.
“Dan sebagai penerus Sambara Penghancur Pusaka… hanya ada satu pusaka yang benar-benar cocok untukmu. Temukanlah. Ia akan membantumu menghadapi Geger Trah nanti.”
“Jagad mengerti…” ucap Jagad pelan.
Malam semakin pekat. Dan satu per satu, wujud warga gaib Desa Punggul mulai memudar—kembali ke alam yang lebih tenang.
“Mas Jagad… Dirga…”
suara Daya terdengar untuk terakhir kalinya.
Mereka menoleh bersamaan.
“Kalian harus bahagia, ya.”
Dan malam itu menjadi perpisahan terakhir antara Jagad dan masa lalunya.
Dengan desa. Dengan trauma. Dengan luka yang selama ini tersembunyi di lapisan terdalam jiwanya.
Dirga menatap pamannya. Ia melihat perubahan, bukan pada raut wajah, melainkan pada keteguhan langkah yang kini tumbuh di dalam diri Jagad.
Ia tahu… apa yang terjadi malam itu
telah melahirkan Jagad yang baru.
***
Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part Akhir - Semesta Roh
Puri Jagatsukma sudah menentukan pilihan. Dia yang akan mewarisi hasrat dari jiwa Puri Jagatsukma
@bacahorror #bacahorro @IDN_Horor

Indonesia

“Kidung itu doa,” ucap Bulek pelan.
“Dan Jati itu keteguhan,” sahut Paklek...
“Kalau anak kita tak sempat hidup…”
“Setidaknya cinta kita tetap bernama.”
Diosetta@diosetta
Kan kalian yang minta spill cerita tentang anaknya paklek.. 😞
Indonesia

Cahyo dan danan segera berlari menghampiri seorang lainnya yang menyusul dari belakang. Seseorang yang sangat mereka nantikan.
“Paklek!” Teriak Cahyo.
Paklek menyambut Danan dan Cahyo dengan senyuman saat mengetahui mereka berdua baik-baik saja, namun Danan dan Cahyo merasakan ada yang berbeda dari raut wajah Paklek.
“Apa Mbah Praja nyuruh Paklek bawa potongan tangan juga buat bisa masuk sini?” Cahyo mencoba bercanda, memecah suasana seperti biasanya.
Namun Mbah Praja hanya menggeleng pelan.
Paklek mengangkat tangan kanannya. Di sana,simbol Jagatsukma terpahat jelas di kulitnya.
“Simbol ini…”
Paklek berbisik lirih,
“…muncul dengan sendirinya.”
Danan sadar… Pundra tidak ikut bergabung bersama mereka.
Ia berdiri beberapa langkah jauhnya, wajah menegang seperti wilah keris yang baru ditempa.
“Pundra? Ada apa?” Danan memanggil hati-hati.
Namun Pundra hanya menatap Paklek tanpa berkedip. Sorot matanya bukan lagi ragu… melainkan amarah yang ditahan selama bertahun-tahun.
Cahyo mencoba mendekat, “Pundra, mereka ini keluarga kami. Teman kami. Mereka datang untuk—”
Mata Pundra berkaca-kaca, membalas Cahyo tanpa memalingkan wajahnya dari Paklek berada jauh di depannya.
“Kau tahu apa arti simbol Jagatsukma?”
Suara Pundra menggema seperti petiryang tertahan di dada.
“Simbol itu bukan tanda pilihan…” Ia menggeram pelan. “…melainkan tanda dosa.”
Cahyo terdiam. “M—maksudmu?”
Pundra menatap Paklek dengan pandangan yang menusuk hingga tulang.
“Pria itu…”
Tangannya terangkat, menunjuk Paklek dengan gemetar penuh kebencian yang sulit dibendung.
“Dia adalah salah satu dari pasangan yang kuceritakan!” Suaranya pecah. “Ayah dari dua janin yang sekarang diperebutkan di kubangan darah ini!”
Seluruh dunia seakan berhenti. Tidak ada suara selain detak jantung yang saling bersahutan.
Danan dan Cahyo melihat Paklek. Mereka menunggu…
berharap… Paklek akan menyangkalnya.
Namun Paklek hanya menunduk. Bahunya bergetar. Ia tak bisa… tak sanggup membela dirinya sendiri.
Pundra menatapnya dengan air mata yang muncul karena amarah. Danan merasa bahwa Pundra ada di saat itu, saat dimana kedua jasad janin itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.
“DIALAH MANUSIA PENDOSA YANG MEMBUNUH ANAK-ANAKNYA!!”
Suaranya pecah menghantam udara, suara yang membuat yang lainnya hening..
“Dia yang mengorbankan dua darah dagingnya demi menyelamatkan nyawanya sendiri!!!”
***
(Bersambung Part 11)
Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part 10 - Dosa
Ada zaman dimana batas antara manusia dan gaib belum tercipta...
#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia

@diosetta Wow plot twist nya keren
kidung dan jati ini nih bikin penasaran 😁
Indonesia

Di kejauhan, Bulek menatap Paklek dengan hati yang semakin gundah. Sudah beberapa malam berturut-turut suaminya duduk bersila di pendopo, bersemedi tanpa henti. Tubuhnya semakin pucat, matanya cekung, dan keringat terus mengalir tanpa ia sadari.
“Pak… sudah, istirahat dulu,” ucap Bulek pelan, mencoba menghentikan semedinya.
Ia mendekat, mengambil handuk dan mengusap wajah Paklek yang banjir keringat. Namun Paklek tetap saja tidak bergeser, seolah tubuhnya dipaku di tempat oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.
“Sudah beberapa malam aku mimpi buruk, Pak…” Bulek duduk di sisinya, suaranya bergetar.
“Apa Danan dan Cahyo baik-baik saja di sana…?”
Ia tidak benar-benar berharap jawaban. Ia hanya ingin berbagi ketakutan, agar tidak merasa sendiri melawan bayang-bayang dari mimpi buruk yang terus menghantuinya.
Tak lama kemudian, Paklek tersadar dari semedinya. Napasnya terengah.
“Bu…” suaranya lemah.
“Alhamdulillah, Pak.” Bulek langsung bangkit. “Aku siapin makanan dulu, ya. Bapak sudah puasa berhari-hari…”
Namun tangan Paklek menahan lengannya. Bulek menoleh dan melihat wajah suaminya yang tampak lebih ngeri daripada lelah.
Perlahan Paklek mengangkat tangan kirinya, menunjukkan sebuah tanda hitam yang baru muncul di kulitnya.
Simbol itu hidup, seperti ukiran gaib yang menegaskan keberadaannya.
“Pak… i-ini…” Bulek menutup mulutnya. “Ini simbol Jagatsukma?”
Paklek mengangguk pelan.
Bulek memegang tangan itu, mencoba menghapus tanda tersebut—namun sia-sia. Tanda itu tidak bergerak, tidak memudar. Ada aura dingin yang merambati kulitnya.
“Puri itu… muncul lagi?” bisiknya.
“Benar, Bu.” Suara Paklek pecah.
“Danan, Cahyo, Jagad—semuanya sudah masuk ke tempat terkutuk itu.”
Bulek hampir tak bisa bernapas. “Terus, Bapak? Bapak mau menyusul mereka, kan?”
Paklek hanya menunduk.
“Bapak takut, Bu…”
Kata itu menghentikan waktu. Bulek tidak pernah mendengar suaminya mengucapkan kata takut selama mereka hidup bersama.
“Bapak takut tidak bisa berbuat apa-apa di sana,” lanjutnya.
“Takut luka lama ini muncul lagi… dan justru menghalangi mereka.”
Bulek melihat tubuh laki-laki yang selama ini selalu kokoh itu… kini gemetar di depannya. Ia langsung memeluknya dari belakang, menahan air mata yang perlahan jatuh.
“Sudah, Pak… sudah,” ucapnya lirih sambil mengusap punggung Paklek.
“Jangan salahkan diri lagi. Semua itu sudah lama terjadi. Tidak ada yang menyalahkan Bapak…”
Namun pelukannya tak cukup menahan getaran di tubuh suaminya.
Luka itu terlalu dalam. Terlalu lama membusuk di dalam dada mereka.
“Jasad mereka masih ada di sana…” suara Paklek pecah, hampir tak terdengar. “Bahkan membawa jasadnya pulang pun aku gagal…”
Bulek menahan isak, namun dadanya seperti diremas.
Paklek menutup wajahnya, bahunya terguncang hebat.
“Aku tidak takut mati di sana, Bu…”
suaranya retak, jujur, dan penuh luka yang tak pernah ia berani buka selama bertahun-tahun.
“Aku takut kalau nanti… Kidung dan Jati…”
Air matanya jatuh.
“Jika mereka membenci kita…”
Bulek memeluknya erat. Lebih erat dari sebelumnya. Seolah pelukan itu satu-satunya cara agar suaminya tidak hancur berkeping-keping.
***
(Bersambung Part 10)
Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part 9 - Alam Tanpa Batas
Setiap wilayah di Puri Jagatsukma memiliki penguasanya sendiri. Sosok yang takkan membiarkan siapapun lolos dari cengkeramannya..
@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor
#bacahorror

Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part 8 - Danyang Purwakala
Dan mereka pun menampakkan dirinya, para Danyang yang terbuang dan menguasai Puri terkutuk itu..
#Bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia

@diosetta @bacahorror @ceritaht @IDN_Horor Lagi bayangin Danan ngomong "Setelah ini... Semuanya akan berubah."
Aduhh merinding rasanya 🤭🤭🤭
Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part 7 - Satria Pinilih
Mereka telah tiba di sana. Di hadapan sebuah puri keramat dimana kekuatan gelap tertidur menanti siapa yang berhak menjadi tuannya...
#Bacahorror
@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor

Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part 6 - Alas Kedaton
Pusaka pisau batu Linus ditemukan membuka celah Pagar Sembagi Wana. Kekacauan itu membawa mereka memasuki hutan yang menjadi pelataran Puri Jagatsukma... Alas Kedaton.
#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia

PURI JAGATSUKMA
Part 5 - Nyai Kunti
Saat Rizal memberi tahu keadaan ayahnya dan adiknya. Danan dan Cahyo segera bergegas menuju padepokan Mbah Widjan. dan yang menanti mereka adalah pasukan mayat yang kembali hidup...
@IDN_Horor @bacahorror
#bacahorror

Indonesia