dany cacing

162 posts

dany cacing

dany cacing

@Dny_cacing

Katılım Mart 2024
82 Takip Edilen1 Takipçiler
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
Kemunculan sosok menyerupai Naya dan Sekar membuat Danan dan Cahyo mengurungkan niat untuk memasuki ke Alas Mayit. Tanpa keberadaan mereka di desa, mereka khawatir hal buruk akan terjadi pada Naya dan Sekar, dan tak ada yang bisa mengatasinya. Saat kembali ke desa, Sekar yang asli sudah menunggu di beranda. Ketika Cahyo muncul dan duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa, Sekar tidak bertanya. Tangannya hanya berpindah ke atas tangan Cahyo seolah memahami kegelisahannya. “Tadi…” Cahyo memulai. “Di jalan ke hutan. Ada demit yang wajahmu.” “Cantik, gak?” Mendengar itu seketika raut wajah Cahyo berubah. “Nggak lah, namanya demit,” Balas Cahyo. “Berarti aku nggak cantik? Katanya wajahku?” Balas Sekar dengan wajah sedikit ketus. “Eh! Nggak! Kalau kamu cantik…” Seketika Cahyo menjadi bingung, namun kecemasannya sedikit berkurang. Sekar pun tertawa melihat wajah cahyo, tapi itu hanya sejenak. Ia memandang Cahyo cukup lama. “Aku sudah tahu,” katanya. “Kamu tahu?” Cahyo tak mengira perkataan itu. “Aku merasakan sesuatu tadi. Seperti… ada yang menarik. Dari dalam. Sebentar saja, tapi terasa.” Sekar menarik napas. “Dan aku tahu kalau kamu pasti langsung panik.” “Aku nggak panik.” “Yakin?” “…sedikit.” Sekar tersenyum kecil. Tapi senyumnya tidak bertahan lama. Ia menatap Cahyo dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan tatapan perempuan yang sedang dihibur. Tatapan seseorang yang sudah memutuskan sesuatu. “Mas Cahyo, aku sudah lama tinggal di desa ini. Jauh sebelum kamu datang. Jauh sebelum jembatan itu dibangun.” Suaranya tidak keras tapi setiap katanya memiliki berat. “Aku tahu bagaimana bertahan di sini. Aku, Bapak, dan warga desa tahu bagaimana menjaga diri dan menjaga desa ini. Bahkan tanpa kehadiran kalian.” Cahyo memandangnya. Ada sesuatu di matanya yang berubah. Pemahaman baru yang terlambat datang. Ia lupa bagaimana berpuluh-puluh tahun Desa Windualit bisa tetap bertahan berdampingan dengan Alas Mayit. “Aku mengerti, Sekar.” “Kalau kamu mengerti, berhenti memperlakukanku seperti sesuatu yang begitu rapuh..” Cahyo tidak menjawab. Ia menatap ke arah gelap, ke arah di mana tadi ia melihat wajah Sekar yang bukan Sekar. Untuk sesaat ada bayangan sesuatu yang rapuh melintas di matanya. Rasa takut kehilangan yang terlalu jujur untuk disembunyikan. “Yang tadi itu… wajahmu, Sekar. Wajahmu yang dipakai.” “Dan itu bukan alasanmu untuk gentar, kan?” Sekar mengerucutkan perbincangannya. “Pasti..” Cahyo mengepalkan tangannya. Kini ia menyadari posisinya. Ia bukan satu-satunya orang yang bisa diandalkan disana. Sekar, warga desa memiliki caranya sendiri untuk melindungi diri. Dan saat memahami itu, Cahyo merasa bahwa ia bisa menangani permasalahan Alas Mayit dengan lebih fokus. *** Di sisi lain rumah, Naya dan Danan duduk di tempat yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Anak tangga rumah singgah. Tempat yang sudah menjadi semacam wilayah mereka tanpa pernah ada yang menyatakannya. Naya berbicara lebih dulu. “Mas Danan, aku perlu bilang sesuatu.” “Hm.” “Aku tahu apa yang Mas Danan lihat di sendang kemarin. Dan aku tahu apa yang baru saja terjadi di jalan.” Danan menoleh. Ia tidak bertanya bagaimana Naya tahu. Ada hal-hal yang tidak perlu ditanyakan kepada seseorang yang sudah belajar dari Nyai Kirana. “Dengarkan dulu,” kata Naya sebelum Danan sempat menyela. Bukan perintah. Tapi ada ketegasan yang baru. Atau ketegasan yang sudah lama ada tapi baru sekarang ditunjukkan. “Mas Danan selalu berpikir bahwa melindungi itu artinya menjauhkan. Semakin jauh aku dari bahaya, semakin aman.” Naya tidak meninggikan suaranya. “Tapi yang terjadi tadi membuktikan sebaliknya, kan? Makhluk itu nggak butuh aku ada di dalam hutan untuk memakai wajahku sebagai ancaman. Jauh atau dekat, aku sudah terlibat. Sejak aku memilih ada di sini, aku sudah terlibat.” Danan diam. Ia tak bisa menjawab ucapan Naya. Apa yang diakatakan Naya benar adanya. “Selama ini Mas Danan melihat diri sendiri sebagai satu-satunya yang menanggung beban. Tapi beban itu bukan milik Mas Danan seorang.” Naya menatapnya. “Dan aku bukan orang yang perlu dilindungi dari kejauhan. Aku orang yang memilih untuk berdiri di tempat yang sama.” Hening panjang. Angin terakhir malam itu berembus lewat. “Kamu benar,” kata Danan pelan. Dua kata yang sederhana, tapi ia tahu bahwa mengucapkannya membutuhkan lebih banyak keberanian dari semua pertarungan yang pernah ia lalui. “Tidak perlu minta maaf,” kata Naya sebelum Danan sempat menambahkan apa pun. “Yang perlu berubah bukan masa lalu. Tapi cara kita melangkah setelah ini.” Tidak ada perdebatan besar pada malam itu. Tidak ada kata-kata keras. Danan hampir lupa, Ia tidak pernah sendirian. Bahkan di saat-saat genting, justru Naya, Ibunya, dan orang-orang desa Kandimaya yang muncul untuk mendukung Danan. Mereka adalah orang-orang kuat yang berada di jiwa-jiwa yang lembut. ***
Indonesia
2
2
23
1.2K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
KUTUKAN ALAS MAYIT Part 2 - Danyang Ketika Danan & Cahyo mencoba kembali ke Alas Mayit, Sosok Naya & Sekar menghadang. Namun mereka sadar, itu bukanlah mereka.. melainkan sebuah ancaman, bahwa Naya &Sekar juga akan menanggungnya.. @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht #bacahorror
Diosetta tweet media
Indonesia
2
78
158
5.5K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
KUTUKAN ALAS MAYIT Part 1 - Ritual Alas Mayit Danan dan Cahyo sekali lagi kembali ke Desa Windualit. Mereka menemukan kejadian aneh dimana jasad yang dikuburkan di makam tua di alas mayit, kembali bangkit... #bacahorror @bacahorror @ceritaht @IDN_Horor
Diosetta tweet media
Indonesia
10
151
442
30K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
Di luar, di antara reruntuhan sumur tua, Guntur berdiri dengan punggungnya ke arah kotak kayu itu. Tubuh Dirga dan Sahmo duduk diam di tanah, diam dengan cara yang berbeda dari tidur, diam dengan cara yang membuat Guntur tidak bisa tidak terus melirik ke arah mereka untuk memastikan dada mereka masih naik turun. Masih naik turun… Untuk sekarang, masih. Kliwon mendesis pelan di dekat kakinya. Dari arah utara, dua sosok bergerak mendekat. Mayat hidup milik Gendra yang entah bagaimana masih berfungsi meski Gendra sendiri sedang sibuk menghadapi Bli Waja. Mayat itu berjalan sendiri dengan insting gelap mencari kehidupan untuk dimangsa. Guntur memposisikan dirinya di antara mereka dan dua tubuh yang tidak berdaya di belakangnya. "Oke," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Keris Dirga di tangannya. Kaki terpasang di kuda-kuda. Tulang rusuk masih nyeri dari malam-malam latihan yang tidak pernah terasa cukup keras sampai sekarang. Mayat pertama melesat maju. Guntur menghindar ke kanan dengan cara seseorang yang sudah berlatih cukup untuk tidak panik dan belum cukup untuk terlihat hebat. Keris di tangannya menghantam lutut mayat itu, keras, memaksanya terjauh satu langkah. Mayat itu tidak merasakan sakit. Tapi satu langkah adalah satu langkah. Kliwon melesat, kera kecil itu bergerak dengan kecepatan yang tidak proporsional dengan ukurannya, mengincar mata mayat kedua, mencakar, mengalihkan. Bukan mengalahkan. Hanya mengalihkan. Guntur memanfaatkan celah itu. Kayu menghantam tenggorokan mayat kedua. Mayat itu tergoyah. Tidak jatuh, tidak berhenti, namun melambat. Satu langkah lagi. Cukup. Guntur menarik napas. Selama cukup lama. … Di sisi barat lapangan, Elang merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sejak malam pertama ia menyatukan dirinya dengan Buto Bhayak. Rasa asing. Seperti sesuatu yang selama ini menempel di dalam dadanya bukan rasa sakit, bukan benda fisik, melainkan kehadiran — tiba-tiba bergeser. Setengah inci saja. Namun setengah inci itu terasa seperti seseorang yang menarik permadani dari bawah kakinya dengan sangat pelan. Buto Bhayak yang baru saja kembali bangkit setelah hantaman Bli Waja terhuyung. Bukan karena Buto Kendil menyerangnya. Bukan karena Cahyo melakukan sesuatu. Makhluk itu terhuyung sendiri, seperti seseorang yang pusing mendadak di tengah percakapan. Cahyo yang sedang bersiap menyerang di atas punggung Buto Kendil merasakannya. "Hei," ucapnya pelan. "Ada yang berbeda." Buto Kendil mendesis — bukan setuju, bukan tidak setuju. Hanya menunggu. Elang yang berdiri di bawah menoleh ke arah tangannya. Kerisnya masih berputar di jarinya. Buto Bhayak masih berdiri. Namun ada sesuatu yang tidak lagi terasa sama. Seperti volume suara yang dikecilkan sedikit tanpa ada yang menyentuh tombolnya. Ia merasa kekuatan Buto Bhayak melemah. "Apa ini?" gumamnya. …
Indonesia
1
4
79
3.9K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
“Ba—baik, Mas… aku tak teripikirkan cara lain saat itu,” ucap Dirga dalam wujud keris Dasasukmanya. “Kerja bagus..” ucap Cahyo. “Selama kau hidup, itu cukup.” Cahyo membawa kedua tubuh tanpa roh itu semakin ke darat. Mereka belum mampu menerka keberadaan mereka saat itu. Namun mereka yakin, mereka tidak berada di pulau yang sama. Tring… tring… tring… Dalam kebingungan itu, samar-samar mereka mendengar suara kereta kencana. Suara yang sedari tadi mereka dengar tanpa wujud. “Dia masih disini?” Ucap Danan melayang ke atas lautan. “Dia siapa?” Dirga yang mengikutinya bingung. “Apa kali ini ia akan menampakkan wujudnya?” Cahyo penasaran memandang dari jauh. Benar saja, samar-samar cahaya mendekat. Namun aluh-alih berwujud sesuatu, cahaya itu justru melesat menuju dahi roh danan. Sraaat!... “Kita bertemu lagi….” Danan mengenali suara itu, namun saat itu ia menyadari bahwa ia tak berada di tempat yang sama. Ia seolah berada di sebuah keraton tua yang dihiasi suar deburan ombak. “Kau…?” Bukan sosok perempuan yang anggun, bukan sosok kereta kencana, namun di hadapan Danan adalah seorang pria tua berwajah bersih, berambut putih panjang. Sekilaspun Danan merasakan kebijakasanaan terpancar dari wajahnya. “Manusia di zamanku memanggilku, Resi Jenaya. Dan tempat ini adalah tempatku berguru di masa itu…” “Resi Jenaya?” Danan masih bingung, namun dari pertemuan sebelumnya, ia sadar bahwa pertemuan kali ini pun akan singkat. “Aku sudah mati, namun bagian dari sukmaku masih tertinggal untuk memperingatkan kalian.. Satu tugasku tak sepenuhnya selesai, aku tak bisa mengalahkan keabadian saat itu..” Ucap Resi Jenaya. “Keabadian?” Resi jenaya mengangguk, ia mengajak Danan mengelilingi keraton yang dipenuhi warnah hijau dan emas. “Namanya Patiwongso.. Manusia yang hampir menyentuh kekuatan Batara dan mendapatkan keabadian..” Resi Jenaya menceritakan bagaimana kejamnya sosok Patiwongso di zamannya. Ia takut akan kematian, hingga mencari kesaktian tertinggi agar tak terkalahkan. Sayangnya, ia tak bisa mengalahkan penyakit dan umur hingga ia menggunakan segala cara, mencari berbagai guru, dan mencari jejak para dewata untuk mendapatkan keabadian. “Dan ia berhasil menyempurnakan ilmu itu, ia tak bisa mati. Tak ada yang bisa membunuhnya…” Jelas Resi Jenaya. “Patiwongso? Berarti dia masih hidup?” Tanya Danan. Resi Jenaya mengangguk, “Dan ia menikmati segala darah, nyawa, dan dosa yang dipersembahkan padanya hingga menjadi lebih kuat." Resi Jenaya menceritakan bagaimana ia mendapat mandat dari seorang raja yang telah mengorbankan umurnya untuk mencari cara menghentikan Patiwongso. “Aku tak bisa membunuhnya, yang aku mampu hanya membagi tubuhnya menjadi enam dan menyegelnya di enam tanah keramat. Aku tahu, suatu saat ia akan bangkit. Namun aku yakin, di zaman ia bangkit akan ada orang-orang yang bisa benar-benar menghentikannya..” Danan termenung sejenak, ia teringat tragedi yang ia hadapi di tanah yang dijaga oleh Brangtalung. “enam? Itu artinya… Sangkaratuh, Buto Bhayak, mayat trah Wangsapati…” “Benar, mereka perwujudan dari bagian tubuh Patiwongso. Sekarang kau bisa menebak hal terburuknya..” ucap Resi Jenaya. Danan membayangkan bagaimana jika keenam kekuatan itu bersatu, dan sosok yang benar-benar abadi itu bangkit. Ting!! Tiba-tiba resi jenaya menyentuh dahi Danan. Danan tak mengerti apa yang terjadi, namun untuk sesaat tubuhnya terasa hangat. Setelahnya, Tubuh resi jenaya mulai memudar. “Ada hitam, ada putih. Ada mati, ada hidup, ada kehancuran, ada penciptakan. Dan ketika ada bencana, pasti juga ada ketenangan. Percayalah bahwa Sang Pencipta menciptakan segalanya dengan seimbang.. Temukan keseimbangan dari keabadian Patiwongso..” Sraattt!!! Tiba-tiba danan kembali ke kesadarannya. Ia tak lagi dalam wujud sukma, dan ia sudah kembali ke tubuhnya. Dirga memaksakan diri untuk kembali, ia menjerit kesakitan saat merasakan luka di tubuhnya, namun ia sekuat tenaga menahannya. “Tenang Dirga, setelah ini semua akan selesai..” ucap Danan sambil membacakan amalan penyembuh untuk meringankan rasa sakit Dirga. Sayangnya, itu tak cukup. Setidaknya rasa sakit yang ia alami berkurang. “Seandainya ada paklek..” keluh Cahyo. Saat Dirga mulai tenang, Danan menceritakan pertemuannya dengan Resi Jenaya. Perbincangan itu belangsung larut selama ombak masih terus berdebur di sekitar mereka. Kali ini mereka tahu, siapa lawan mereka yang sebenarnya. “Patiwongso. Artinya kekuatan di keris ini adalah perwujudan bagian tubuhnya?” Tanya Dirga. Danan mengangguk. “Dia abadi, pantas saja aku tak bisa memusnahkan kekuatan ini..” ucap Dirga. Saat itu tak ada yang dapat mereka perbuat selain menunggu laut menjadi lebih tenang, dan keberadaan kapal nelayan yang melintas agar mereka bisa kembali ke pulau Jawa.
Indonesia
1
2
91
5.5K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
SINGGASANA ROJOMAYIT Part 8 - Tahta Terkutuk "Bukan hanya kekuatan dan pusaka yang diwariskan… tapi kutukan pun yang memilih siapa yang layak menanggungnya..." #bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht
Diosetta tweet media
Indonesia
7
106
317
21.8K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
PARA PEMUJA IBLIS Malam itu, awan hitam menutupi langit di sebuah pulau kecil, pulau berbukit yang dulu pernah menjadi persinggahan tokoh-tokoh besar pembangun Nusantara. Angin menderu, ombak berdebur tanpa henti. Alam sama sekali tidak tenang. Dua kapal sempat tertambat, namun segera meninggalkan pulau itu saat menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi. Raden Argoyo berdiri di pusat pulau, ditandai sebuah batu yang dikelilingi patung-patung kayu tua yang nyaris hancur dimakan waktu. Baru saja ia menaburkan kembang di sekitar batu itu, tiba-tiba sebuah tangan hitam mencengkeram kakinya. Raden Argoyo tak gentar. Ia meludah ke arah tangan itu, dan seketika api menyala membakarnya. Namun alih-alih lenyap, semakin banyak tangan hitam bermunculan dari dalam tanah. “Tunjukkan wujudmu…” ucap Raden Argoyo, menyadari ada seseorang di balik semua ini. “Hahahaha… payah! Padahal aku masih ingin bermain!” Seorang pemuda muncul dari balik kegelapan. Ia memainkan keris kebanggaannya, dan tangan-tangan hitam itu seketika berubah menjadi asap, lalu merasuk ke dalam keris tersebut. “Keris itu… Brotoguno?” tebak Raden Argoyo. “Ya! Ingat namaku—Elang Brotoguno! Adik dari Jelma Brotoguno yang kau habisi dengan bengis!” balas Elang, wajahnya berubah penuh amarah. Raden Argoyo hanya tertawa kecil. Ia memalingkan wajah, lalu kembali menabur bunga, melanjutkan ritualnya seolah tak peduli. “Meremehkanku?” Elang tersenyum tipis, menikmati keadaan itu. Srrabb!! Dalam sekejap, Elang sudah berada di belakang Raden Argoyo, mencengkeram kepalanya. “Memegang kepala orang tua itu tidak sopan!” Suara itu kini justru terdengar di belakang Elang. Dalam sekejap, posisi mereka berbalik—Raden Argoyo kini mencengkeram kepala Elang. Namun Elang tidak lengah. Kerisnya berputar dan langsung menghujam perut Raden Argoyo. “Bodoh!” ucap Elang tanpa menoleh. Ia merasakan kerisnya menancap, namun tak ada jeritan. Wujud Raden Argoyo tiba-tiba menguap. Elang menoleh. Serangannya tak berarti apa-apa. Menyadari ada yang janggal, ia menebaskan kerisnya. Gelombang kekuatan yang dilepaskannya memperlihatkan wujud asli sosok di hadapannya. “Sangkaratuh…” desis Elang geram. Sejak tadi, yang ia hadapi bukanlah Raden Argoyo, melainkan tangan kanan setianya—Sangkaratuh. “Khehehe… ternyata kau butuh waktu lama untuk menyadarinya,” ejek Sangkaratuh. “Kau yakin?” “Aku bisa membaca niatmu, Elang Brotoguno! Apa pun yang kau lakukan, kau takkan bisa mengalahkan Raden Argoyo!” ucapnya. Elang tersenyum sinis. “Tujuanku memang kau, Sangkaratuh.” “Hoo…” Sangkaratuh berpura-pura terkejut. “Kau pikir aku tak tahu bahwa Raden Argoyo berada di titik ritual yang sebenarnya?” Senyum Sangkaratuh seketika memudar. “Apapun rencanamu, kau takkan bisa mengalahkan tuanku.” “Dulu tidak… tapi sekarang…” Tiba-tiba, raungan menggema dari sisi lain hutan. Suara itu membawa rasa ngeri, menyelimuti seluruh pulau. “Aku sudah mendapatkannya… bagian yang lebih kuat darimu!” ucap Elang. Menyadari ancaman yang jauh lebih besar, Sangkaratuh seketika menghilang... meluncur menembus kegelapan, kembali menuju tuannya. Dharr! Dharr!! Banaspati berterbangan liar, menghantam tumpukan batu peninggalan masa silam. Namun semuanya terhenti sebelum mencapai pusatnya seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahan, melindungi sesuatu yang jauh lebih besar. Di pusat pulau, Raden Argoyo berdiri. Wajahnya murka. Satu matanya meneteskan darah, sementara pertempuran tak kasat mata berlangsung dahsyat di sekelilingnya. “Siapa kau!? Apa urusanmu denganku!?” teriaknya, suaranya menggema melawan badai. Tak ada jawaban. Hanya raungan… panjang, berat, dan menekan jiwa. Berkali-kali Raden Argoyo melepaskan ilmunya, ilmu yang mampu menghabisi setengah desa dalam semalam. Namun malam itu, semua kekuatannya seolah lenyap tak berarti. Saat ia menarik kerisnya, tekanan di udara berubah. Sosok itu… mulai terlihat. Sebuah senyum mengerikan terukir di wajahnya. “Buto…” desis Raden Argoyo. Ia tahu, ini bukan lawan biasa. Namun Buto Bhayak justru menyambutnya. Raden Argoyo merapalkan mantra. Saat kerisnya terhunus, gelombang kekuatan hitam meledak dari tubuhnya. Buto Bhayak membalas. Matanya menghitam pekat, memancarkan kekuatan yang setara. Tanah bergetar. Langit bergetar. Dua kekuatan gelap saling menghantam, mengguncang pulau hingga ke akarnya. Namun Buto Bhayak tetap tersenyum. Perlahan, ia membuka mulutnya, dan dari dalamnya, api berbentuk ular melesat, membelah hujan, mengincar Raden Argoyo. DHARR!!! Ledakan mengguncang langit. Namun api itu tak pernah mencapai targetnya. Sangkaratuh telah tiba. Ia berdiri di hadapan tuannya, menahan serangan itu tanpa bergeming. “Buto… makhluk itu lahir dari sumber yang sama denganku,” ucapnya tenang. “Aku sudah tahu,” balas Raden Argoyo dingin. Tak lama kemudian, Elang muncul. Ia menepuk tangannya perlahan, menikmati kekacauan yang terbentang di hadapannya. “Kalian terlalu sombong…” ucapnya sambil tertawa. “Buto Bhayak adalah yang terkuat. Sosok peniru seperti Sangkaratuh takkan bisa mengalahkannya!” Raden Argoyo melangkah maju, tenang, dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Di hadapannya, Sangkaratuh melayang, setia menjaga. “Bodoh…” Raden Argoyo tertawa rendah. “Jika kau mengira Sangkaratuh hanyalah roh peniru… maka kau benar-benar tak mengerti apa yang kau hadapi.” “Cuih!” Elang meludah ke tanah. “Aku tahu kekuatan Sangkaratuh! Semuanya! Kemampuannya, kutukannya, dan sumber kekuatannya! Dan semua itu… tetap bukan tandingan Buto Bhayak!”
Indonesia
1
7
89
7K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
SINGGASANA ROJOMAYIT Part 6 - Garis Darah Terkutuk Satu persatu kekuatan Patiwongso mulai menemukan tuannya, banjir getih tak bisa dihindarkan... #bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @bacahorror
Diosetta tweet media
Indonesia
6
112
338
20.8K
dany cacing retweetledi
yauda maap
yauda maap@gesangnurh·
yauda maap tweet media
ZXX
12
344
938
16.5K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
Singgasana Rojomayit Part 5 - Dosa Sambara "Darah yang diturunkan tak menentukan jiwa yang ditumbuhkan. Hasrat dan dendam menodai kesucian darah yang disucikan.." #bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht
Diosetta tweet media
Indonesia
9
116
326
44.2K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
“Ia menyelamatkan roh-roh warga desa dari ritual penumbalan. Ia berdiri di antara mereka… dan kematian.” Jagad memejamkan mata sejenak. “Raganya memang mati. Tapi rohnya tetap tinggal… menjaga mereka.” Ia membuka matanya kembali. “Sampai semuanya benar-benar bisa pergi dengan tenang.” Pak Purnomo menunduk. Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, tidak ada kewaspadaan di wajahnya. Hanya duka. “Syukurlah…” bisiknya. “…setidaknya ia tidak pergi sebagai pendosa.” Jagad mengangguk pelan. Itu satu-satunya penghiburan yang ia miliki. Keheningan kembali hadir, namun kali ini tidak lagi terasa seperti ancaman. “Jadi…” suara Pak Purnomo kini lebih lembut. “Apa tujuanmu datang ke sini, Jagad?” Jagad terdiam. Lalu ia mengingat kata-kata terakhir ayahnya. Suara itu masih hidup di dalam dirinya. “Geger Trah yang akan datang kelak akan membuka wajah-wajah asli kerabat kita. Pastikan kau berdiri di pihak yang benar.” Jagad mengangkat wajahnya. “Mimpi itu mulai datang,” katanya pelan. “Sepotong demi sepotong.” Ia menatap kegelapan hutan di depan mereka. “Geger trah akan terjadi.” Ia menelan napas. “Dan Trah Sambara… akan berada tepat di tengah pusarannya.” “Jadi… ramalan itu benar-benar mulai terjadi,” gumamnya pelan. Jagad tidak segera menjawab. Ia hanya menatap hutan di hadapan mereka, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik gelapnya pepohonan. “Saya datang bukan untuk membuka luka lama, Pak,” katanya akhirnya. “Saya hanya ingin tahu kebenaran tentang Sambara. Teman-teman saya sedang menghadapi tragedi lain. Jadi hanya saya yang bisa memastikan… bahwa tidak ada di antara kita yang akan kembali tersesat seperti dulu.” Kalimat itu tidak terdengar sebagai tuduhan. Justru lebih menyerupai permohonan—atau mungkin tekad yang lahir dari rasa takut kehilangan. Pak Purnomo menatapnya dalam-dalam. Ia memahami maksud itu. Tanpa kebencian. Tanpa dendam. Hanya keinginan untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk. “Kita selamatkan Roro dulu,” ucap Pak Purnomo akhirnya. “Setelah itu, akan kuceritakan semua yang perlu kauketahui.” Jagad mengangguk. Napasnya sudah jauh lebih teratur sekarang. Tubuhnya masih lelah, tetapi tekadnya kembali utuh. “Roro tidak berada di alam ini,” katanya pelan. “Dia disembunyikan di sisi lain… di wilayah yang dikuasai Sangkaratuh. Aku sempat merasakan jejaknya saat melarikan diri tadi. Kalau Pak Pur bisa mengenali auranya, aku bisa membuka jalan ke sana.” Pak Purnomo mengangguk mantap. Ia mungkin bukan seorang pendekar seperti para pewaris Sambara lainnya, tetapi dalam hal membaca jejak energi, ia telah mengabdikan hidupnya untuk itu. Mereka kembali menyusuri hutan, melewati makam tua yang telah lama dilupakan. Malam masih menyisakan hawa dingin yang merayap di antara akar dan batu nisan yang retak dimakan usia. Pak Purnomo memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meraba aliran yang tak kasatmata. “Argoyo sudah pergi,” bisiknya kemudian. Jagad menoleh. “Apakah anak-anak itu dijaga oleh ingonnya?” Pak Purnomo menggeleng pelan. “Tidak. Sepertinya… kita bahkan tidak dianggap ancaman.” Jawaban itu justru terasa lebih mengerikan. Artinya, bagi Raden Argoyo, anak-anak itu hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami. Jagad menarik napas panjang, lalu mulai membaca mantra. Kabut putih perlahan muncul di sekelilingnya, tipis pada awalnya, lalu semakin pekat hingga membentuk batas antara dua dunia. Udara berubah dingin dan berat, seolah hutan itu sendiri menahan napas.
Indonesia
1
4
89
4.4K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
(Di Ujung Timur Pulau Jawa…) Di pinggir sungai yang alirannya pelan dan keruh oleh cahaya bulan, Watara masih terduduk memeluk kepala satu-satunya teman manusia yang pernah ia miliki. Tangisnya tidak lagi keras—hanya isak yang tertahan, seperti suara ranting patah di dalam dada. Seharusnya lelaki itu sudah meninggalkan desa sejak lama. Desa itu bukan lagi milik manusia sepenuhnya. Sosok-sosok gaib telah lebih dulu menguasainya. Namun ia tetap kembali, berulang kali, karena tak pernah tega meninggalkan Watara sendirian. Kini yang tersisa hanyalah kepala yang dipeluknya erat. “Watara… kita kuburkan dengan layak, ya,” ujar Danan perlahan. Ia berlutut, mencoba meraih kepala itu dengan hati-hati. Namun baru saja tangannya menyentuh, Watara mengamuk. Matanya merah, tubuhnya gemetar. “Pergi!!!” Teriakannya menggema di tepi sungai. Setelah itu ia kembali menangis, memeluk kepala itu seperti anak kecil yang kehilangan segalanya. Cahyo menepuk bahu Danan pelan. “Beri dia waktu.” Danan mengangguk. Ia mundur beberapa langkah, membiarkan pemandangan ganjil dan menyayat itu berlangsung sedikit lebih lama. Mereka kemudian menghampiri Mbah Prawita yang berdiri tak jauh dari sana. Wajah lelaki tua itu tampak lebih renta dari biasanya, seperti satu malam telah merenggut bertahun-tahun dari usianya. “Aku gagal…” ucapnya lirih. “Aku gagal melindungi tanah itu.” Danan menepuk punggungnya perlahan. “Tidak, Mbah. Mbah sudah menjalankan tugas Mbah. Mungkin memang sudah waktunya kutukan itu menemukan tuannya.” Ucapan itu tidak sepenuhnya menghapus rasa bersalah Mbah Prawita. Ia, istrinya, ayahnya, kakeknya—bahkan leluhur yang namanya telah dilupakan waktu—telah menjaga tanah itu ratusan tahun lamanya. Kini yang tersisa hanya dirinya dan Watara. Cahyo memandang Watara yang masih menangis di tepi sungai. Hatinya terasa sesak. Watara tak pernah benar-benar hidup sebagai manusia. Ia menjaga tanah itu dengan setia, menerima segala konsekuensi, bahkan melindungi nyawa orang-orang yang tak pernah mengenalnya. “Mungkin…” Cahyo terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. “Mungkin ini saatnya Mbah dan Watara bebas. Serahkan sisanya pada kami yang lebih muda.” Mbah Prawita menoleh pada Watara. Sebagai orang tua, ia tak pernah benar-benar memikirkan kebahagiaan anaknya. Watara lahir untuk menjaga, bukan untuk memilih. “Apa itu… boleh?” tanya Mbah Prawita polos, seperti anak kecil yang baru pertama kali diberi pilihan. Danan dan Cahyo saling pandang. Mereka sadar, pertanyaan itu bukan hanya tentang tanah keramat. Itu tentang hidup yang tak pernah diberi kesempatan untuk dijalani. “Tentu saja, Mbah,” jawab Cahyo mantap. “Setiap orang berhak memilih jalannya sendiri.” “Tidak semua masalah bisa kita selesaikan sendirian,” tambah Danan. “Kadang kita hanya perlu menerima bahwa kita tidak mampu lagi, dan itu bukan dosa.” Mbah Prawita terdiam lama. Ia mengingat bagaimana Watara tidur di atas tanah kuburan, makan seperti hewan hutan, hidup berdampingan dengan bayangan yang tak kasat mata. “Sepertinya… kalian benar,” gumamnya. “Aku dan Watara akan pergi. Tapi…” Ia berdiri, membersihkan tanah di lututnya. “…setelah kita menuntaskan ini.” Danan dan Cahyo mengangguk. Meski mereka mendorong Mbah Prawita untuk melepas beban, jauh di dalam hati mereka sendiri belum tahu bagaimana cara mengalahkan kekuatan terkutuk itu. Tiba-tiba, langit malam yang tenang tampak bergetar. Bukan petir. Bukan awan. Seperti retakan halus pada kaca hitam. Danan merasakan bulu kuduknya berdiri. Cahyo pun merasakan hal yang sama. “Dia sudah melepaskannya,” ucap Mbah Prawita dengan suara berat. Di langit, sesuatu terbentuk dari pancaran energi yang berasal dari tanah hitam terkutuk itu. Cahaya gelap berpilin, naik seperti asap yang memiliki kehendak. “Dia memanggil buto?” tanya Cahyo. “Bukan, Jul… ini lebih gila dari itu.” Danan duduk bersila, Keris Ragasukma menempel di dadanya. Dalam satu tarikan napas panjang, rohnya terlepas dari tubuh dan melesat ke langit. Dari ketinggian, ia melihat tanah hitam itu. Seorang manusia diritualkan di tengahnya. Tubuhnya tak lagi sepenuhnya manusia. Energi kutukan menyatu dengan rohnya, membungkus kesadarannya. Makhluk itu bukan buto.
Indonesia
1
7
108
5.8K
dany cacing retweetledi
Diosetta
Diosetta@diosetta·
TAK DISANA… Perjalanan Tegar dan Wiru membawa mereka menembus jalur perbukitan yang berkelok, menuju sebuah desa adat yang tersembunyi di balik lipatan tanah Bali bagian utara. Jalanan sempit itu hanya diterangi sisa cahaya senja yang menggantung malu-malu di cakrawala. “Benar ini tempatnya?” tanya Tegar untuk kesekian kali, matanya menyapu hamparan bukit yang serupa satu sama lain. “Benar, Gar. Sesuai peta yang kubawa,” jawab Wiru mantap, meski tangannya sendiri mulai ragu saat membuka kembali gulungan peta tua itu. “Dari tadi kamu bilang benar. Tapi kita malah sudah salah masuk lima desa.” Wiru berdeham kecil. “Salah itu wajar, Gar. Yang penting kita terus mencoba.” Ucapannya terdengar bijak, meski senyumnya terlalu dipaksakan. Tegar menghela napas panjang. “Kalau terus mencoba berarti terus tersesat, kamu jalan sendiri saja. Sudah malam. Aku ngantuk.” “Eh! Nggak! Kali ini bener. Aku yakin.” Yakin yang lahir dari keputusasaan, bukan kepastian. Mereka melanjutkan langkah. Desa itu akhirnya muncul di hadapan mereka, rumah-rumah tradisional berdinding bata merah dan kayu tua berdiri berjauhan satu sama lain. Di antara halaman-halaman itu terbentang sawah yang hampir menguning, batang padi mengangguk pelan diterpa angin sore yang mulai dingin. Langit perlahan berubah warna. Jingga pudar menjadi keunguan, lalu merambat menjadi biru tua yang sunyi. Dan saat kaki mereka benar-benar memasuki gerbang desa, sesuatu terasa ganjil. Tidak ada suara. Tidak ada gong dari pura keluarga. Tidak ada anjing menggonggong. Tidak ada asap dapur yang mengepul. Hanya suara angin yang menyentuh dedaunan bambu. Wiru memperlambat langkahnya. “Harusnya… jam segini masih ada orang.” Tegar mengangguk pelan. Instingnya mulai waspada. Ia memperhatikan jejak di tanah, bekas roda gerobak yang masih relatif baru, namun tak terlihat aktivitas lain. Mereka menyusuri jalan tanah itu dengan hati-hati. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Beberapa bahkan diganjal dari luar, seolah ditinggalkan tergesa. “Ini bukan desa yang sedang tidur,” gumam Tegar pelan. “Ini desa yang ditinggalkan.” Ucapan itu membuat dada Wiru terasa berat. Ia sadar, tidak ada yang aneh dengan rumah-rumah di situ. Jika memang ditinggalkan warga, maka sudah pasti belum lama. Lalu, di kejauhan, sebuah cahaya terlihat. Satu-satunya rumah yang menyala di seluruh desa. Rumah itu berdiri sedikit lebih tinggi dari yang lain, menghadap ke lereng sawah. Sebuah pohon kamboja tua tumbuh di halaman depannya, rantingnya berliku seperti tangan renta yang berdoa. Wiru menelan ludah. “Itu rumah Ajik Wayan.” Langkahnya tanpa sadar menjadi lebih cepat. Tegar menahannya. “Tunggu, Wiru. Ada yang aneh.” Saat Wiru ingat keadaan desa itu, Ia pun menahan langkahnya dan memilih untuk lebih berhati-hati. Mereka pun mendekat tanpa suara. Lampu minyak di dalam rumah memantulkan bayangan pada jendela kayu yang sedikit terbuka. Bayangan itu bergerak. Lebih dari satu orang. Wiru hendak memanggil, namun Tegar menarik lengannya. “Dengar dulu.” Mereka merunduk di balik tembok bata rendah. Dari celah jendela, suara percakapan terdengar samar, bercampur dengan suara kayu terbakar di perapian. “…Aku bilang, orang tua itu sudah tahu kita datang,” suara seorang pria terdengar berat dan dalam. “Bagaimana bisa? Kita menyeberang tanpa jejak,” sahut yang lain. “Kalian lupa siapa Ajik Wayan. Dia bukan orang sembarangan.” Wiru membeku. Itu bukan suara Ajik Wayan. Tegar memberi isyarat agar ia tetap diam. Suara pertama kembali terdengar, kali ini lebih jelas. “Ingon-ingon kita sudah kita pindahkan ke kuburantua di utara. Tidak ada yang boleh tahu. Terutama kerabat Ajik Wayan.” “Yang dari garis AdIkhara?” tanya seseorang pelan. “Benar, Mereka pasti pasti sudah mempersiapkan sesuatu. Kalau perkataan mereka benar, maka ini satu-satunya cara kita mendapatkan kekuatan untuk mengimbangi Raden Argoyo..” Jantung Wiru berdentum keras. Ingon. Kata itu bukan kata biasa. Dalam keluarga tertentu, ingon bukan sekadar roh. Ia adalah sosok yang telah dipersiapkan untuk membawa kematian bagi lawannya. Tegar memperhatikan wajah Wiru yang mulai pucat. Di dalam rumah, percakapan berlanjut. “Ajik Wayan sudah mencium kedatangan kita bahkan sebelum kita menepi di pesisir. Entah bagaimana caranya.” “Tapi dia tidak melawan.” “Dia memilih mengosongkan desa. Pintar. Dia tahu membawa warga pergi lebih penting daripada menghadapi kita.” Wiru meremas tanah di bawah jemarinya. Ajik Wayan… sudah pergi. “Kalau begitu kita aman?” tanya suara lain. “Tidak sepenuhnya. Keluarga Wagiatmo tidak menyeberangi samudra untuk bermain-main. Ingon itu harus dijaga sampai waktunya tiba.” Suasana sunyi sejenak. Lalu terdengar tawa kecil yang membuat bulu kuduk berdiri. Tegar perlahan menjauh dari jendela. Tatapannya berubah tajam. “Itu bukan pasti bukan kerabatmu kan, Wiru?” bisiknya. Wiru mengangguk pelan. “Itu keluarga Wagiatmo, aku pernah melihat mereka.” Angin perbukitan bertiup lebih kencang. Lampu minyak di dalam rumah bergetar, bayangan di dinding menari seperti makhluk yang tidak memiliki bentuk pasti. Desa itu kosong bukan karena ketakutan. Desa itu kosong karena sudah diperingatkan.
Indonesia
3
6
119
6.6K
dany cacing retweetledi
🦕
🦕@rrizkikiki·
[ Niatnya ngekost biar hepi new year eh kok malah di gangguin setan a thread ] @bacahorror #bacahorror
Indonesia
2.8K
25.6K
85.8K
0
dany cacing retweetledi
Lakon Story
Lakon Story@Lakonstory·
Pukul 03.00 dinihari, Mereka berlari menyelamatkan diri dan keesokan harinya ketika mereka kembali mereka menemukan kenyataan yang lebih mengerikan. Akhirnya mereka depresi dan hampir gil4
Indonesia
1
2
9
16.9K