Fairuz, R. 🍉

43.6K posts

Fairuz, R. 🍉 banner
Fairuz, R. 🍉

Fairuz, R. 🍉

@Fairuuz

To be a rock and not to roll!

Salatiga, Jawa Tengah Katılım Mart 2010
2.1K Takip Edilen2.9K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Fairuz, R. 🍉
Fairuz, R. 🍉@Fairuuz·
😡🤨😐😬🙂
Fairuz, R. 🍉 tweet media
QME
0
1
5
7.4K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
mazik 🫒
mazik 🫒@mazikmazid·
Seorang pelawak mendapat panggilan impian untuk tampil di The Tonight Show. Di hari yang sama, dokter putrinya bilang kanker anaknya kambuh lagi. Itulah titik balik kehidupan Anthony Griffith di tahun 1990. Pindah dari Chicago ke LA untuk mengejar mimpi, hidupnya mendadak terbagi jadi dua dunia yang totally different. Siang hari, dia bergelut dengan monitor jantung, jarum infus, dan badan kecil putrinya yang lebam karena suntikan bahan kimia. Malam hari, dia berdiri di panggung klub komedi, ketawa bareng para komedian hebat, sambil memendam rasa takut dan marah yang ga bisa dia gambarkan. Dia berhasil tampil di Tonight Show. Bahkan Johnny Carson sendiri memujinya dan memintanya kembali. Tapi kabar gembira itu datang ketika putrinya kembali dirawat di rumah sakit. Kanker yang tadinya sudah jinak, tiba tiba balik lagi lebih ganas. Semakin sukses di panggung, semakin hancur hatinya di dunia nyata. Dia mesti tertawa biar tagihan rumah sakit, sewa rumah, dan cicilan mobil bisa kebayar. Tapi di dalam hati kecilnya, dia menjerit. Penampilan Tonight Show ketiganya adalah yang paling memilukan. Putrinya sudah "pergi". Bukan setelan jas yang dia kenakan, melainkan kain kafan yang dia siapkan untuk anak semata wayangnya. Meski penonton tertawa dan memberinya tepuk tangan meriah, dia tak lagi peduli. Yang dia rindukan hanyalah berbagi satu porsi french fries lagi dengan putri kecilnya, seperti dulu saat belum ada panggung besar dan kanker yang merenggut segalanya. "Ini adalah waktu terbaik sekaligus adalah waktu terburuk," ucapnya di akhir cerita, mengutip novel klasik Charles Dickens. Sumber 📽️: The Moth on YouTube.
mazik 🫒@mazikmazid

Akhir-akhir ini gw rasanya makin susah buat nemu hiburan buat diri sendiri. Musik rasanya terlalu bising di telinga. Film pun terasa terlalu panjang buat diikutin. Apalagi dengan tuntutan rutinitas di real life yang makin menuntut ini itu. Konten YouTube juga berjejer dengan segala daya tariknya. Tapi ada satu channel yang menurut gw unik, original, dan nggak banyak noise: THE MOTH. Isinya video storytelling dari komunitas dengan nama yang sama.

Indonesia
1
17
83
15.9K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto@prabowo·
14. Anggaran perjalanan dinas: Rp. 20 T per tahun. Ini pemborosan. Harus dicoret. Jika saya presiden, tidak boleh pejabat RI plesiran ke LN.
Indonesia
4.6K
35.2K
42.2K
0
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Mas Gres
Mas Gres@erlanishere·
Karena dulu ngebesarin anak itu kerjaan satu keluarga besar dan satu kampung. Makanya ada istilah: "it takes a village to raise a child". Dulu, ibu lagi gak bisa ngurus anak, masih bisa di-cover saudara, bibi, paman, nenek, ipar, tetangga, ibu-ibu satu kampung, dst. Sekarang struktur keluarga makin kecil, beban mengurus anak jadi murni tugas orang tua, terutama di kota-kota besar. Beban membesarkan anak menjadi sangat berat. Ibu-ibu zaman sekarang itu kasian sebenernya. Banyak yang kerja, kepikiran anak di rumah, gak ada yang bantuin, stres dipendam sendiri. Ya Allah... 😭😭
Noucampline.@noucampline

Kenapa orang tua dulu bisa punya anak 10-17 tapi gak seperti ini yaa🥲 wdyt?

Indonesia
145
1.3K
8.7K
571.6K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Rizky Banyualam Permana
Not all the awardees, but LPDP scheme seems to incentivise this kind of behaviour as its selection committee and system are attracted to pop ‘scientist’ profiles like them — remember the mandatory task to post the awardees’ life plan in multiple social media?
Danastri 🐺🇵🇸 ꦢꦤꦱ꧀ꦠꦿꦁ@anamoelya

I am so mad that I gathered all my last pieces of energy into looking for this b*tch UNY 2015 ITB 2020 (LPDP awardee) The IMCD BioMed Research Foundation (seems fake)

English
9
230
817
24.7K
ame
ame@taurosze·
@thetaintedsrrw Tapi kalau liat LinkedIn kakaknya, beliau sepertinya sangat pintar tp ngapain sampe nipu yaa hmm Aku nemu ini di ig, apakah difoto ini orng yg sama kak?
ame tweet media
Indonesia
8
2
38
19.7K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
wind 🍉🏒
wind 🍉🏒@thetaintedsrrw·
spill disini Siapa tau ada yang kenal anak s1 UNY jurusan matematika angkatan 2015 terus s2 nya ITB matematika (jalur LPDP) namanya PRIHANTINI, ini dia dan temen2nya fraud bikin jurnal palsu, ikut conference dan dapet travel grant dari eo di banyak negara cuma buat jalan2 doang
wind 🍉🏒 tweet mediawind 🍉🏒 tweet mediawind 🍉🏒 tweet mediawind 🍉🏒 tweet media
Indonesia
116
2.9K
8.6K
712.3K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Fairuz, R. 🍉
Fairuz, R. 🍉@Fairuuz·
Sedihnya, info begini2 seringnya tidak masuk pembicaraan di kampus. dosen mending sibuk borang akreditasi, kejar jumlah mahasiswa baru, bikin video profil prodi, jadi panitia, ikut pelatihan integritas ASN dll. yang jauh dari aktivitas keilmuan☺️🙏🏼 @direktoridosen @PNS_Ababil
Ardianto Satriawan@ardisatriawan

Ada yang lagi rame: DUGAAN Beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir dan TERUNGKAP di Konferensi ilmiah di Denmark?? Masih menunggu kesimpulannya. Karena ini berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.

Indonesia
1
4
11
1.7K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Pemalsuan riset terorganisir yg baru ketahuan saat konferensi di Denmark ini jatuhnya WHITE COLLAR CRIMINAL. Saya pun penasaran jejaring pelakunya. Di akun IG w.o.d.d sebenarnya udah di-spill nama2nya. Tapi saya penasaran jejak digitalnya di internet. Dan ini yg saya temukan
M. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
129
5K
14.2K
497.1K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Kok bisa lolos ke conferencenya? Emng ga dibaca? Conferencenya abal? FYI katanya conferencenya bergengsi dan bukan abal ya gais. Kenapa bisa lolos? Saya highlight 3 alasan utama: 1. Karena yang disubmit buat diseleksi itu HANYA ABSTRAK. Ya paling 200-300 kata aja. Bukan riset keseluruhannya. Jadi kalo bisa nulis abstrak wahh itu menang banyak. 2. Karena BLIND REVIEW. Jadi reviewer Gak tau siapa yang nulis abstrak ini. Semuanya. Gada nama2nya, gada instansinya. Niatnya biar OBJEKTIF. Dan mereka juga asumsi peniliti2 yanh submit itu semuanya punya INTEGRITAS. Tapi juga jadi loophole ternyata. 3. Ya karena paper tim ini abstraknya WAH banget, datanya dari mancanegara dan pakai metode terbaru yang WAH. Jadi terlihat outstanding dibanding abstrak2 paper lain. Bisa baca pejelasan Mba W.O.D.D dibawah:
Ardianto Satriawan tweet mediaArdianto Satriawan tweet media
Ardianto Satriawan@ardisatriawan

Ada yang lagi rame: DUGAAN Beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir dan TERUNGKAP di Konferensi ilmiah di Denmark?? Masih menunggu kesimpulannya. Karena ini berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.

Indonesia
35
1K
4K
276.5K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
alfin rizal
alfin rizal@alfinrizalisme·
pak faiz tadi ditanya audiens: “apa kalimat yang tepat, yang pengin didengerin orang2 yang lagi berduka?” dijawab: “gak ada. gak perlu. mereka gak butuh itu. diam saja. kalau mau membantunya, pastikan aja kalau kamu selalu ada.”
Indonesia
77
3.3K
11.2K
241.2K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Indra Charismiadji
Indra Charismiadji@icharis·
Terlepas benar/tidaknya klaim “skandal” di ISPPD 2026, ini alarm keras: Pasal 31 ayat 5 UUD 1945 telah dilanggar secara TSM. Indonesia tak punya research university sejati—kampus kita mayoritas hanya teaching university, bahkan sering jadi “SMA Jilid 2”. Dosen diperlakukan seperti birokrat, bukan ilmuwan dengan ekosistem tenure track. Akibatnya, ilmu baru tak lahir; kita hanya mengulang pengetahuan usang dari luar negeri. Jangan kaget jika yang tumbuh bukan budaya riset, tapi budaya gelar, sertifikat, dan pencitraan akademik. #DaruratPendidikan #ReformasiPendidikanTinggi #ResearchUniversity #Pasal31UUD1945 #PendidikanIndonesia
Ardianto Satriawan@ardisatriawan

Ada yang lagi rame: DUGAAN Beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir dan TERUNGKAP di Konferensi ilmiah di Denmark?? Masih menunggu kesimpulannya. Karena ini berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.

Indonesia
21
808
1.7K
48.7K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
txtdaritaxpayer
txtdaritaxpayer@txtdaritaxpayer·
Kl jd pemimpin, di mana pun itu, yg pertama kali diperbaiki adlh sistem insentifnya Di rumah: Jgn marahi anak yg jujur. Itu artinya kasih insentif buat dia bohong. Di kantor: Jgn kasih kerjaan ke staff yg bagus doang. Nanti dia demotivated, malah free rider yg keenakan. Di negara: Jgn cuma rekrut kolega terdekat, sodara, keponakan, satu almamater doang. Biarin meritokrasi bekerja. Kalo ada yg salah dihukum. Ada yg bagus diappreciate. Jgn cuma mau denger berita bagus doang, "pokoknya gini" dan marah kalo denger kabar buruk. Bikin anak buah jadi ABS smua. Mau Indonesia bisa bikin mobil dan handphone? Perbaiki insentif inovasi. Gimana mau inovate? Kalo proyekan pemerintah aja yg menang bukan yg paling murah dan paling bagus, tapi yg bisa kasih suap ke pejabat. Orang jadi ga ada insentif untuk inovate. Insentifnya geser jadi ngedeket ke politisi dan pejabat biar bisa menang project. See? It's very important to set the incentive on the right path.
Eka Wicaksana Putra 📊@pak_erte92

Jika kalian dikasih kesempatan untuk jadi Presiden, mau dibentuk seperti apa negara ini? Kalo gua, Indonesia betul2 mengimplementasikan Pancasila dalam segala aspek kehidupan.

Indonesia
1
202
579
19.4K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
cozy 🕷️
cozy 🕷️@cozyaltruis·
Kenapa pemimpin negara boleh lansia, tapi kerja corporate 30an dianggap ngga produktif? Dan kenapa ngelamar kerja harus pake SKCK? sedangkan banyak pejabat negara aja mantan napi
Indonesia
382
28.5K
63.1K
690.8K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Video & Arsip Sejarah
Video & Arsip Sejarah@VideoSejarah·
Che Guevara yang menggemari fotografi tengah asyik memotret di Borobudur dalam kunjungannya tahun 1959. Beberapa bulan sebelumnya ia dan Fidel Castro baru saja menggulingkan rezim Batista di Kuba.
Video & Arsip Sejarah tweet mediaVideo & Arsip Sejarah tweet mediaVideo & Arsip Sejarah tweet mediaVideo & Arsip Sejarah tweet media
satrio@biangkerok

@VideoSejarah waktu Che di Borobudur dia pegang kamera, penasaran sama jepretannya beliau

Indonesia
33
1.1K
5.1K
187.5K
Fairuz, R. 🍉 retweetledi
Aakash Gupta
Aakash Gupta@aakashgupta·
Your brain has a circuit that doesn't know you live in a city. Its only job is to monitor whether birds are still singing. When they stop, something dangerous is nearby. When they continue, the coast is clear. This wiring predates primates. These kids are being sedated by the oldest safety signal in the mammalian nervous system. The Max Planck Institute tested this in 2022 with 295 participants. Six minutes of birdsong reduced anxiety and paranoia with medium effect sizes. Six minutes of traffic noise increased depression by the same margin. The effect worked on people who had never left dense urban environments. Their bodies responded to a signal their conscious minds had never learned. King's College London ran a larger study. 1,292 participants, real-time mood tracking through a phone app, 26,856 assessments over three years. Hearing or seeing birds improved mental wellbeing for up to eight hours afterward. The effect held for people diagnosed with depression. Trees, plants, and waterways didn't explain it. The birds themselves were the variable. Now here's where Italy connects to Finland. 95% of parents in the Finnish city of Oulu let their babies nap outside starting at two weeks old. A 2008 study confirmed the children took longer, deeper naps outdoors. Parents reported letting them sleep in temperatures as low as -15°C. 66% said their babies were more active afterward compared to indoor naps. The practice started as a public health initiative from Nordic maternity clinics in the early 1900s and became cultural infrastructure. The Italian kindergarten in this video is running the same program the Nordic countries have been running for a century. Outdoor naps, natural soundscapes, no white noise machines, no blackout curtains. Meanwhile, American kindergartens have been eliminating nap time entirely to squeeze in more instruction. A UMass study showed that children who skipped naps forgot 12% of what they learned that morning. The nap itself was the learning. The irony is that the countries spending the least on sleep technology for children are producing the best sleep outcomes. No sound machines. No apps. Just birds.
Science girl@sciencegirl

Children in a kindergarten in Italy napping to the sound of birds singing.

English
63
1.2K
7.8K
1M
Fairuz, R. 🍉
Fairuz, R. 🍉@Fairuuz·
@memethmeong Di kabupaten Kendal masih ada tradisi Kalang Obong, yang konon tradisi suku Kalang. Tapi saya tidak tahu pasti apakah ini suku Kalang yang sama atau berbeda. 🙏🏼
Indonesia
3
2
66
35.6K
Fairuz, R. 🍉
Fairuz, R. 🍉@Fairuuz·
@hifdzikhoir Hentikan hismi kamu sudah keterlaluan melibatkan shaggydog. Makin ke mana2 ini hip.
Indonesia
0
0
0
570