zhil@zhil_arf
Dwifungsi ABRI dibentuk pada zaman Soekarno tahun 1957, bukan zaman Soeharto.
Apa itu Dwifungsi ABRI? Jabatan? UU?
Kenyataannya lebih sederhana: uang.
"Nasionalisasi 1957" itu maksudnya semua perkebunan cash crop milik perusahaan Belanda disita oleh AD, di semua daerah.
Orang AD langsung menduduki jabatan sipil yaitu jabatan di perusahaan perkebunan.
Pada saat yang bersamaan, orang AD tetap menduduki jabatan militer.
*Inilah* Dwifungsi ABRI.
Nasionalisasi perusahaan asing ini bisa terjadi setelah darurat militer (SOB) dideklarasikan di masa PRRI/Permesta pada masa rezim Orde Lama.
Darurat Militer memberikan kekuasaan pada pangdam tiap daerah untuk basically melakukan "apapun".
Misalnya, menyita aset perkebunan Belanda yang nilainya fantastis dan mengelolanya seolah milik pribadi.
Boleh dong. Kan lagi darurat militer. Bebas. Kalau tidak setuju ditembak.
Kekuasaan nekolim perusahaan-perusahaan asing Belanda diganti dengan kekuasaan ireng. Londo putih ditukar dengan londo ireng.
Ternyata, kelakuan rezim londo ireng malah lebih red flag.
Setelah pertukaran pemain, kualitas manajemen tata kelola perkebunan yang disita ternyata (1) sangat asal-asalan dan (2) sangat rampok.
Perkebunan dikelola dengan sangat asal-asalan karena ternyata, gerombolan baru yang sombong dan sok tahu ternyata sama sekali tidak terdidik dalam hal manajemen ataupun teknik kehutanan. Mereka hanya terdidik dalam membunuh orang. Akhirnya ngasal saja.
"Sangat asal-asalan" dan "sangat rampok" ini adalah salah satu penyebab langsung robohnya output ekonomi komoditas ekspor Indonesia selama 1958-1967, hiperinflasi, kelaparan massal. Merekalah salah satu dalang terbesar kemiskinan ekstrem di dekade itu. Karena mereka bingung dan ngasal dalam mengelola ekonomi kita. Dan rampok.
Orang yang kritis terhadap perampokan nasional sekaligus bencana buatan nasional ini, seperti Buya Hamka, ditangkap dan disiksa.
Rule of thumb politik adalah, "di mana uangnya?"
Ketika Buya Hamka dipenjara dan disiksa, tanya: "di mana uangnya?" Ternyata uangnya di perkebunan Sumatra.
---
Salah satu anak setan yang dibentuk rahim basah berdarah Dwifungsi ABRI yang ngasal dan rampok ini adalah Pangdam IV/Diponegoro, Kolonel Soeharto. Saat itu Soeharto berkuasa terhadap perkebunan cash crop Jawa Tengah bersama gerombolan banditnya seperti Sudono Salim dan Bob Hasan.
Di Jawa Tengah, gerombolan bandit liar yang diketuai Soeharto ini mencuri kayu bulat, beras, hasil gula, bahkan truk-truk tentara milik negara yang disalahgunakan untuk mengangkut komoditas-komoditas curian itu. Sungguh serakah, truknya ikut dicuri. Sebanyak 200 buah truk milik AD diam-diam dijual Soeharto ke seorang makelar bernama Tek Kiong.
Barangkali Soeharto bukan bandit paling cerdas, karena buktinya ia berhasil tertangkap basah oleh PARAN, lembaga antikorupsi yang dibentuk KASAD A.H. Nasution yang panik melihat gilanya open season korupsi pasca nasionalisasi.
Bandit yang lebih cerdas barangkali adalah bandit di perkebunan Sumatra dan Sulawesi, yaitu di daerah perang aktif PRRI/Permesta yang kebun-kebunnya merupakan war goal Pusat. Siapakah nama-nama bandit di sana? Tidak jelas. Itu dia. Cerdas.
Soeharto juga barangkali bukan bandit terbesar di zaman Orde Lama. Bandit paling besar dan paling rampok sepertinya adalah Ibnu Sutowo, yang diberikan kendali atas Permina pada tahun 1957 (yang lalu berganti nama jadi Pertamina).
Harus diingat bahwa alasan *utama* Jepang menjajah Indonesia tahun 1942 adalah karena mencari sumber daya migas pasca embargo Amerika. Setelah kita merdeka, seluruh bisnis migas raksasa ini malah jatuh dalam kekuasaan Dwifungsi ABRI di bawah keserakahan Ibnu Sutowo yang sekaligus merangkap sebagai penjahat gangster Mafia Tanjung Priok.
Gatot Taroenamihardja, jaksa yang mau mengusut Ibnu Sutowo, tiba-tiba dilindas truk di jalan sampai kakinya harus diamputasi.
Setelah PRRI/Permesta ditumpas, gelombang-gelombang nasionalisasi lainnya dilancarkan pada perusahaan asing milik selain Belanda yang sebelumnya tak tersentuh.
Perampokan dan miskelola semakin parah selama masa Konfrontasi 1963-1965 pasca penyitaan perusahaan-perusahaan Amerika dan Inggris dan pengusiran para manajer and engineernya.
Aset-aset produksi komoditas yang disita itu ikut dirampok habis dan dikelola asal-asalan. Keruntuhan ekonomi Indonesia pun semakin ekstrem, apalagi ketika dicombo dengan (1) kematian Djuanda yang meninggalkan kekosongan IQ pemerintahan dan (2) bencana politik luar negeri Soekarno yang mengakibatkan isolasi internasional.
Setelah Soeharto jadi presiden, model sistem perampokan kolonial yang ia bangun di Jawa Tengah kemudian malah diterapkan secara formal dan teratur di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Inilah Dwifungsi ABRI.
Kontrol Dwifungsi ABRI terhadap Indonesia diamankan dengan kekerasan bersenjata sampai level desa lewat sistem Kodam-Kodim-Korem-Koramil yang ada.
Jawa dirampok *dan* luar Jawa dirampok. Uang yang dihasilkan diambil. Inilah Dwifungsi ABRI. Inilah Orde Baru.
---
Dwifungsi ABRI adalah rangkap jabatan fungsi militer dengan jabatan fungsi pengamanan produksi uang.
Bisnis milik keluarga Soeharto dan struktur mafia nasionalnya diamankan dengan kekuatan senjata Dwifungsi ABRI.
Di Kalimantan, Bob Hasan sampai mendapatkan julukan sebagai "Raja Hutan". Uang yang dihasilkan bos mafia hutan nasional ini tentu fantastis.
Kelakuan Bob Hasan si Bandit Hutan ini terus berlangsung sampai ia malah ditunjuk jadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Maret 1998, yaitu di tengah kepanikan krismon. Dari posisi ini, Bob Hasan berkuasa terhadap seluruh industri dan seluruh perdagangan dan seluruh ekspor impor yang ada di Indonesia, setidaknya selama 2 bulan.
Meanwhile, *40%* tanah di seluruh Timor Timur malah dirampok langsung secara pribadi oleh keluarga Cendana yang saat itu telah menjadi the Lord of Crime di Indonesia.
Tanah milik penduduk Timor Timur dicuri keluarga Cendana dan penduduknya ditembak. Sepertiga populasi Timor Timur mati dibantai.
Orang yang membantai Timor Timur sangat menyeramkan. Misal, dulu santer seorang komandan gila psikopat melakukan pembantaian bersenjata di daerah Kraras di Timor Timur. Seluruh populasi Kraras termasuk anak kecil dan bayi habis dibantai. Menurut atasannya yang resah, A.M. Hendropriyono, tes psikologi komandan itu menunjukkan "G4 alias gila". Anehnya, si gila pembunuh berantai itu malah dibiarkan asyik melanjutkan perburuan manusia untuk dibantai di Timor Timur.
Di Aceh lebih seram lagi karena gerombolan bandit yang menduduki Aceh selama DOM bukan hanya mencuri kayu bulat atau menyiksa penduduk atau berburu manusia atau mencuri cadangan migas Aceh, melainkan juga menanam narkoba seperti kartel Pablo Escobar di Kolombia. Tujuannya adalah uang.
Aceh luluh lantak, tetapi seluruh Sumatra dan Indonesia juga ikut rusak karena narkoba.
Uang dari perkebunan Sumatra dan Sulawesi, uang dari perkebunan Jawa Tengah, uang dari Kalimantan, uang dari Timor Timur, uang dari migas dan kayu bulat dan narkoba Aceh, uang dari seluruh Indonesia, semua uangnya diamankan di bawah kekerasan bersenjata Dwifungsi ABRI. Inilah Dwifungsi ABRI.
---
Hari ini, banyak sekali orang yang entah bagaimana punya lahan sawit, tebu, karet, dll sebanyak ribuan bahkan ratusan ribu hektar bahkan jutaan hektar.
Dapatnya kapan coba? Kapan belinya? Uangnya dari mana?
Kok bisa sih, tiba-tiba ratusan ribu hektar di Aceh atau Kalimantan jadi punyanya si ini dan si itu? Memangnya itu tanah dulunya punya bapak lo?