


Goalskorer
216 posts

@Goalskorer
Football is a game of mistake. Jakarta,ID








Apa yang sebenarnya berubah dalam sepak bola? Dulu gelandang bukan posisi yang “seksi” di bursa transfer. Sorotan selalu tertuju kepada striker. Mereka mencetak gol, menjadi wajah klub, dan memecahkan rekor transfer. Namun semuanya berubah sejak Real Madrid membeli Zinedine Zidane pada 2001. Transfer Zidane ke Real Madrid seharga €77 juta menjadi titik balik. Untuk pertama kalinya, dunia melihat bahwa seorang gelandang juga layak dihargai setinggi langit. Investasi itu terbukti berhasil. Zidane membawa Real Madrid menjuarai Liga Champions, LaLiga, hingga menjadi ikon sepak bola dunia. Sejak saat itu, cara klub memandang gelandang mulai berubah. Puncaknya terjadi beberapa tahun terakhir. Enzo Fernandez (€121 juta), Declan Rice (€116 juta), Moises Caicedo (€116 juta), Sandro Tonali, hingga Elliot Anderson yang kini menjadi gelandang termahal dunia. Pertanyaannya, kenapa? Jawabannya sederhana. Karena sepak bola modern tidak lagi dimenangkan hanya oleh pencetak gol. Sepak bola sekarang dimenangkan oleh siapa yang menguasai lini tengah. Gelandang modern bukan lagi sekadar penghubung. Mereka harus mampu: • membangun serangan • memutus serangan lawan • mengatur tempo • melakukan pressing • membaca ruang • menciptakan peluang • bahkan mencetak gol Artinya satu pemain harus menguasai banyak kemampuan sekaligus. Dan pemain seperti itu sangat langka. Hukum ekonomi berlaku. Permintaan tinggi. Persediaan sedikit. Harga otomatis naik. Belum lagi aturan Homegrown di Premier League. Pemain lokal berkualitas menjadi rebutan karena klub wajib memenuhi kuota. Akibatnya, harga pemain Inggris seperti Declan Rice melonjak jauh di atas harga pasar normal. Ada faktor lain yang jarang dibahas. Efek domino. Ketika Chelsea membayar €121 juta untuk Enzo Fernandez, seluruh klub langsung mempunyai patokan baru. Jika Enzo bernilai €121 juta… Mengapa gelandang kami hanya dihargai €70 juta? Standar harga langsung berubah. Kini klub juga memiliki teknologi yang jauh lebih canggih. Mereka tidak hanya melihat assist atau gol. Mereka melihat: • Progressive Passes • Progressive Carries • Pressing Success • Ball Recovery • Expected Threat • Line Breaking Pass Semua kontribusi gelandang kini bisa diukur dengan data. Dan datanya menunjukkan satu hal. Gelandang elite mampu mengubah permainan sebuah tim lebih besar dibanding posisi lain. Karena itu, mereka diperlakukan sebagai investasi, bukan sekadar pemain. Prediksi saya? Harga gelandang belum mencapai puncaknya. Selama sepak bola masih mengutamakan penguasaan bola, pressing, dan positional play, pemain lini tengah akan tetap menjadi aset paling mahal. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita akan melihat transfer gelandang pertama yang menembus €200 juta. Kalau menurut kalian, siapa gelandang yang paling layak menjadi pemain pertama dengan harga €200 juta? (youtu.be/f7A8I37mOGE?si…)










Menjelang bergulirnya ASEAN Championship 2026, saya kembali teringat masa kecil ketika sangat mengidolakan Bambang Pamungkas. Bukan hanya karena gol-golnya di lapangan, tetapi juga karena tulisan-tulisannya. Di era modem internet yang lemot, saya sering menghabiskan waktu membaca blog BP20 dari komputer di kamar kecil saya. Dari sanalah saya belajar bahwa sepak bola bukan sekadar soal menang dan kalah. Salah satu tulisan yang paling membekas adalah “Tetap Semangat Garudaku”, yang ditulis setelah kegagalan Indonesia di final AFF 2010. (bambangpamungkas20.com/2011/01/02/tet…) Saat itu Indonesia tampil luar biasa. Enam kemenangan dari tujuh pertandingan, menjadi tim paling meyakinkan sepanjang turnamen, tetapi tetap gagal membawa pulang trofi. Sebuah ironi yang hanya bisa dijelaskan oleh sepak bola. Yang membuat tulisan Bambang Pamungkas begitu istimewa bukan karena ia mencari kambing hitam. Ia justru menolak menyalahkan siapa pun. Ia tidak menyalahkan sinar laser di Bukit Jalil. Ia tidak menyalahkan rekan setimnya. Sebagai kapten, ia memilih berdiri paling depan untuk memikul tanggung jawab. Ada satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat: “Sebagai sebuah tim, kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah bersama-sama.” Di ruang ganti, saat banyak pemain menangis dan merasa bersalah, Bambang memilih menguatkan mereka satu per satu. Ia menenangkan Firman Utina yang gagal penalti, memeluk Irfan Bachdim, bercanda dengan Arif Suyono, dan memastikan tak ada satu pun rekan setimnya merasa sendirian. Bagi saya, di situlah arti seorang kapten. Menjelang ASEAN Championship 2026, saya berharap cerita itu tidak hanya menjadi kenangan. Semoga generasi Timnas Indonesia hari ini mampu menyelesaikan apa yang dulu belum sempat diselesaikan. Sudah terlalu lama kita menunggu. Semoga tahun ini menjadi tahun ketika trofi yang selalu kita dambakan akhirnya pulang ke Indonesia.

One week on... 🏆 The best photos from the @FIFAWorldCup 2026 Final! 📸