Hanya orang oon yg melakukan kesalahan tapi dengan bangganya ngrekam balik sambil ketawa2.
Terus kita harus mengikuti ujian SIM dengan oknum polisi modelan kayak gini??? 🤮🤮🤮
Ya Allah Gusti, paringi rakyat Indonesia kesabaran seluas samudera.
Belum usai kasus 50 santri di pati.
Kembali muncul kasus baru....
Apakah sedasyat itu palkon hipersonik para kiyai ?
Heii nitizen yg doyan berisik ngatain islamphobia. Noh kiyai kalian krisis pengendalian palkon 😭
👇
Aksi pawai kelulusan yang dilakukan oleh siswa dari salah satu sekolah di Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, menuai sorotan dan kecaman dari warganet.
Kegiatan yang seharusnya menjadi momen perayaan atas kelulusan justru dinilai berlebihan dan mengganggu ketertiban umum.
Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, tampak rombongan siswa melakukan konvoi di jalan raya dengan atribut yang mencolok serta aksi-aksi yang dianggap kurang pantas. Beberapa di antaranya terlihat mengendarai kendaraan secara ugal-ugalan dan menimbulkan kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar.
Reaksi warganet pun beragam, namun sebagian besar menyayangkan tindakan tersebut. Mereka menilai perayaan kelulusan seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih positif dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Tidak sedikit pula yang meminta pihak sekolah dan orang tua untuk lebih mengawasi kegiatan para siswa.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah terkait aksi tersebut. Namun, masyarakat berharap kejadian ini menjadi evaluasi bersama agar perayaan kelulusan di masa mendatang dapat dilakukan dengan lebih tertib dan memberikan contoh yang baik bagi generasi muda.
KAMPUS DISURUH MASAK? WHAT??
"Tugas kami mendidik, bukan memasak!" Rektor UI
Seminggu belakangan ini, dunia pendidikan Indonesia diramaikan oleh satu permintaan yang bikin banyak rektor mengernyitkan dahi.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana
meminta perguruan tinggi turut
membuka
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias
dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan sekadar wacana permintaan ini disampaikan langsung dalam Forum U25 yang dihadiri para rektor dari 24 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di Makassar,
seiring peresmian
dapur MBG pertama di lingkungan kampus di Universitas Hasanuddin.
ALASAN BGN: BUKAN SEKADAR MASAK-MASAKAN
BGN punya argumen yang lebih luas dari sekedar "tolong buatin nasi boks". Ini alasannya:
1. Kampus = Gudang Ilmu + Sumber Daya
Dadan menegaskan bahwa teknologi, SDM, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi dinilai sangat bermanfaat bagi program MBG, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis.
2. SPPG = Lab Hidup untuk Mahasiswa
SPPG di kampus dimaksudkan sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik, sekaligus laboratorium hidup untuk mengembangkan riset dan inovasi mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pangan, hingga manajemen rantai pasok.
3. Skala Kebutuhannya BESAR banget
Satu unit SPPG saja membutuhkan sekitar 8 hektare lahan sawah untuk suplai beras,
19 hektare lahan jagung
untuk pakan ternak, dan
3.700–4.000 ekor ayam petelur untuk kebutuhan protein harian.
BGN menilai kampus punya kapasitas untuk menyuplai semua itu dari civitas akademikanya sendiri.
4. Penggerak Ekonomi Lokal
SPPG di kampus diharapkan jadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal, menciptakan kolaborasi antara kampus, petani, peternak, dan UMKM dalam satu sistem ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
RESPONS REKTOR UI: TUNGGU DULU!
Rektor UI, Heri Hermansyah, menegaskan bahwa tugas utama perguruan tinggi adalah
pendidikan,
penelitian,
riset, inovasi, dan
pengabdian masyarakat
bukan operasional dapur.
Jika pun ada SPPG, seharusnya dikelola oleh unit usaha kampus yang relevan,
bukan universitas itu sendiri.
PRO VS KONTRA
Yang PRO:
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menilai pelibatan kampus dalam MBG merupakan langkah strategis karena kampus memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan sistem pangan berbasis ilmu pengetahuan, dari produksi hingga konsumsi dan gizi.
Yang KONTRA:
Akademisi dari Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas HKBP Nommensen mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh diperlakukan sebagai ruang operasional proyek. Kampus harus tetap menjadi institusi yang menjaga kebebasan berpikir dan otonomi intelektual.
LBH Makassar bahkan mengkritik keras Unhas yang sudah terlanjur membangun dapur MBG, menyebutnya menyimpang dari mandat Tridharma Perguruan Tinggi dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Niat BGN sebenarnya mulia melibatkan kampus sebagai knowledge hub yang mengintegrasikan sains, riset, dan praktik dalam program gizi nasional.
Tapi pertanyaannya tetap relevan: apakah ini tugas kampus, atau seharusnya ada lembaga lain yang mengambil peran operasional ini?
Yang jelas, antar
"kampus sebagai mitra riset" dan "kampus sebagai pengelola dapur"
itu
bedanya jauh banget.
Dan Rektor UI sudah memilih jawabannya dengan elegan
Gimana menurut kamu? Kampus seharusnya ikut masak atau cukup kasih resep ilmiahnya? Komen di bawah!
Wes ora kesuwen POTONG titit e, 50 Santriwati lo jadi korban, kalau ketemu NITIP 100 anteman, nek miturut syariat ISLAM harusnya sudah di RAJAM antemi NDASE
@Tita83079013@Kemenag_RI Realita mas brooo.. jangan suka berlari dari kenyataan.. syetan aja sungkem sama manusia model begini.. eeh mau ngikut nutupin kelakuan nya.. 🤦
Simak baik2!!
"Saya satu-satunya menteri, sejauh yang saya pahami, saya haramkan pemberian uang dari staf ke saya,”
Artinya menteri2 yg lain mau menerima uang dr stafnya?
Wadaawww 😲
@yaniarsim Kalau lombanya diadakan di luar negri saya percaya tanpa edit..
Kalau yg ada di tv nasional mah banyak "setingan dan editan" , fokus sama yg modalin dulu dari pada prestasi pesertanya.
@Urrangawak Gak bakal bisa.. gak nyampe ilmunya.. konten bapak onoh soalnya isinya banyak tentang kehidupan sosial , yg tidak ada komisinya yg bisa diambil dari anggaran. 😀
Ambruk di Negeri yang Salah Urus
Purbaya Yudha Saksama ambruk.
Bukan karena korupsi.
Bukan karena skandal.
Ia ambruk karena kerja keras sesuatu yang di negeri ini ternyata lebih berbahaya dari keduanya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal itu roboh di tengah tugasnya menanggung beban angka-angka defisit, proyeksi inflasi, dan rapat tanpa ujung yang menggerogoti tubuh dan pikirannya pelan-pelan. Dokter bilang kelelahan.
Wajar.
Namanya juga ngurusin duit negara, duit yang jumlahnya selalu kurang, tapi peruntukannya selalu banyak.
Kita, warga +62, cuma bisa manggut-manggut dari balik layar hape sambil scroll.
Ya iyalah ambruk, Pak.
Kami yang rakyat biasa aja udah capek duluan dan kami bahkan nggak punya akses ke ruang rapat itu.
Sementara itu, di gedung seberang, ada cerita yang berbeda. Kepala Badan Gizi Nasional justru sedang dalam kondisi yang bisa dibilang luar biasa. Pipinya makin tembem. Jasnya makin ketat di bagian perut. Senyumnya makin sumringah. Foto-fotonya beredar di media sosial, dan netizen +62 yang tajam matanya langsung menangkap sesuatu yang tak bisa dibohongi oleh filter kamera manapun beliau makin subur. Tentu saja. Setiap hari beliau mengawasi program makan bergizi gratis untuk anak-anak Indonesia.
Mengawasi sebuah kata yang terdengar penuh dedikasi, sekaligus, rupanya, penuh kalori.
Dan di sinilah kita, warga +62, mulai bertanya-tanya dengan polosnya:
Kok bisa ya, yang tiap hari mikirin gimana caranya uang negara cukup untuk semua kebutuhan rakyat badannya makin kurus, makin sakit, akhirnya ambruk? Sementara yang tiap hari tugasnya mastiin rakyat kenyang badannya justru yang paling meyakinkan bahwa program ini berhasil? Apa ini namanya dedikasi? Atau memang begini cara kerja gravitasi di republik ini beban selalu jatuh ke orang yang paling ikhlas menanggungnya?
"Yang ngurusin duit negara sakitan. Yang ngurusin makan malah ikutan makan." "Pak Purbaya istirahat dulu ya Pak, kerjaan sampeyan emang berat.
Beda sama yang lain kerjaan ringan, makannya berat." Dan yang paling dalam, dari seorang netizen tanpa nama yang mungkin adalah kita semua: "Sehat-sehat ya Pak Purbaya. Di negeri ini, orang yang beneran kerja emang harus ekstra jaga diri karena sistem nggak akan jaga kita."
Itulah ironi Republik ini, yang bekerja dengan presisi sempurna tanpa pernah ada yang merancangnya: Yang kurus karena mikirin uang rakyat ambruk duluan. Yang gemuk karena program rakyat makin sehat, makin segar, makin layak difoto.
Negeri +62 di mana beban kerja membunuhmu lebih cepat dari kolesterol, dan di mana keikhlasan adalah satu-satunya hal yang tidak pernah naik gajinya.
Semoga lekas pulih, Pak Purbaya. Meski kami tahu, begitu pulih pun bebannya masih akan sama beratnya.
Sumber: Facebook