Lambe Saham@LambeSahamjja
Guys, lo udah dengar kan angka 5,61%? Udah pada seneng, udah pada bangga, udah pada share-share di medsos bilang Indonesia tertinggi di Asia.
Tapi tunggu dulu.
Rayon Chin baru bedah angka itu sampai dalam. Dan hasilnya bikin dahi mengernyit.
5,61% itu bagus.
Tapi bagus dari mana?
Bayangin lo punya warung.
Omsetnya Rp10 juta sebulan.
Terus lo utang Rp3 juta pakai kartu kredit, terus lo belanjakannya ke warung lo sendiri.
Omset naik jadi Rp13 juta.
Lo seneng?
Seneng lah.
Tapi utang Rp3 juta itu harus dibayar besok plus bunganya.
Nah itu yang lagi terjadi sama ekonomi Indonesia sekarang.
Yang bikin 5,61% itu bukan karena industri kita makin kuat, bukan karena ekspor kita lagi gacor, bukan karena manufaktur kita lagi ngebut.
Yang bikin angkanya segede itu adalah belanja pemerintah naik 21,81% dalam satu kuartal dari yang sebelumnya cuma 4,5%.
Lima kali lipat. Dalam tiga bulan.
Dari mana asalnya?
THR PNS menjelang Lebaran.
Distribusi MBG yang dipercepat di awal tahun.
Total belanja negara di Q1 tembus Rp815 triliun naik 31% dari tahun lalu.
Sektor yang ikut meledak?
Akomodasi dan F&B naik 13% ya karena Lebaran dan liburan. Konsumsi rumah tangga naik 5,52% ya karena orang belanja pas Lebaran.
Ini bukan engine yang jalan terus. Ini momen. Setelah Lebaran lewat, THR habis, MBG balik ke ritme biasa angkanya mau dibawa ke mana?
Yang bikin lebih serem bagian yang jarang diomongin media:
Di kuartal yang katanya tertinggi sejak bertahun-tahun, mesin terbesar ekonomi Indonesia justru melambat.
Manufaktur yang nyumbang 19% dari total GDP — tumbuhnya turun dari 5,4% ke 5,04%. Ekspor cuma tumbuh 0,9% padahal dua kuartal sebelumnya 9,14% terus 3,25%.
Trennya turun terus turun terus turun.
Impor malah naik ke 7,18%.
Pertambangan anjlok 8,20%.
Yang naik adalah sektor yang sifatnya musiman dan tidak akan terulang di Q2.
Yang turun adalah sektor yang harusnya jadi tulang punggung pertumbuhan 10 tahun ke depan.
Dan ini bagian paling tidak enak:
Belanja pemerintah naik 31%.
Pendapatan negara naik cuma 10%.
Defisit APBN di Q1 sudah Rp240 triliun naik 2,5 kali lipat dari Q1 tahun lalu yang cuma Rp83 triliun.
Tapi yang lebih serem lagi adalah defisit primer ini ukuran paling jujur kesehatan fiskal negara.
Tahun lalu Q1 masih surplus Rp22 triliun.
Tahun ini Q1 defisit Rp95 triliun.
Bukan cuma memburuk tapi berputar total.
Dari plus ke minus hampir Rp100 triliun dalam setahun.
Artinya: pendapatan rutin negara tidak cukup untuk biayai operasional dasar bahkan sebelum bayar bunga utang.
Jadi negara harus utang baru bukan untuk bangun jalan atau sekolah, tapi untuk bayar tagihan harian dan cicilan utang lama.
Dan cadangan devisa BI turun 8,4 miliar dolar di Q1 karena harus terus intervensi supaya rupiah tidak makin babak belur.
Siklusnya muter terus:
defisit lebar, utang baru, yield SBN naik, asing kabur, rupiah lemah, BI intervensi, cadangan devisa terkuras.
Dan pertumbuhan 5,61% ini nikmatin siapa?
MBG mengalir ke vendor, catering, kontraktor lalu ke petani dan peternak supplier. Idenya bagus.
Tapi transparansi suppliernya masih gelap.
Belum jelas berapa persen yang benar-benar sampai ke rakyat paling bawah.
THR PNS?
Yang nikmatin ya PNS.
Sementara 60% pekerja Indonesia ada di sektor informal.
Tidak dapat THR.
Tidak dapat kenaikan apapun dari belanja pemerintah ini.
Lebaran spending?
Yang nikmatin kelas menengah ke atas yang punya kapasitas belanja.
Mall, hotel, restoran ramai.
Yang tidak punya duit lebih ya tidak ikut merasakan apapun.
Pekerja manufaktur, buruh harian, petani yang harga gabahnya tidak naik secepat sembako, pekerja informal yang upahnya kalah cepat dari inflasi mereka tidak ikut menikmati 5,61% itu.
Tapi siapa yang nanggung biayanya?
Defisit lebar ujungnya rupiah lemah.
Rupiah lemah ujungnya harga impor naik.
Harga impor naik ujungnya inflasi.
Dan yang paling keras kepukul inflasi adalah mereka yang paling tidak ikut menikmati pertumbuhannya.
5,61% itu angka yang nyata dan sah. BPS tidak bohong.
Tapi angka itu datang dari mesin suntikan belanja pemerintah yang melonjak lima kali lipat, Lebaran yang tidak terjadi setiap kuartal, THR yang hanya dirasakan sebagian kecil pekerja.
Sementara manufaktur melambat, ekspor trennya turun, defisit primer berbalik total dari surplus ke minus hampir Rp100 triliun, dan cadangan devisa terkuras.
Q1 2026 kemungkinan adalah puncaknya. Q2, Q3, Q4 Lebaran sudah lewat, THR sudah habis, MBG kembali ke ritme biasa. Angkanya mau dibawa ke mana?
Itu yang harus dijawab pemerintah. Dan itu yang harus lo kawal.