Ketika hukum formal kehilangan taringnya menghadapi premanisme, satu komando kesetiaan bergerak dalam senyap malam demi menuntaskan janji jiwa korsa yang tak akan pernah bisa dibeli oleh apa pun juga.
> Selasa dini hari, 19 Maret 2013, di Hugo’s Cafe, Sertu Heru Santoso sedang menjalankan tugas pemantauan wilayah sebelum dikeroyok komplotan Dicky Ambon hingga tewas mengenaskan akibat luka tusukan pecahan botol sangat mematikan.
> Kabar gugurnya rekan satu barak memicu gejolak amarah di Markas Grup Dua Kandang Menjangan, sementara di sudut kota Yogyakarta, warga pendatang asal Indonesia Timur mulai dicekam ketakutan luar biasa untuk keluar rumah.
> Suasana Yogyakarta mendadak sunyi mencekam karena isu pembersihan kelompok preman oleh pasukan elit mulai beredar luas, menyebabkan mahasiswa dan warga asal timur memilih mengunci diri di dalam kos demi keselamatan nyawa.
> Pada 23 Maret 2013 dini hari yang gelap, Serda Ucok Tigor Simbolon bersama sebelas prajurit lainnya memutuskan untuk bergerak menembus sunyinya malam Yogyakarta demi menunaikan misi balas dendam yang tidak terlupakan.
> Mengendarai mobil Toyota Avanza dan membawa senapan serbu AK-47, pasukan khusus ini tiba di Lapas Cebongan pukul satu dini hari, memaksa masuk dengan menggertak petugas sipir menggunakan ancaman ledakan granat mengerikan.
> Setelah berhasil merampas kunci sel Blok A5, Ucok melangkah mantap menuju ruangan sempit yang dihuni tiga puluh satu narapidana, memisahkan empat target utama dari kerumunan tahanan lain yang sedang gemetar ketakutan.
> Di tengah ketakutan dua puluh lebih tahanan lainnya, Ucok dengan tenang memastikan identitas Dicky Ambon dan kawan-kawannya sebelum akhirnya mengarahkan moncong senjata otomatisnya tepat ke arah jantung serta kepala para pelaku.
> Dengan kemampuan menembak tingkat tinggi, Ucok menerapkan prinsip satu peluru satu nyawa hingga keempat preman tersebut tewas bersimbah darah secara instan di hadapan puluhan saksi mata yang hanya bisa membisu pasrah.
> Hanya dalam waktu lima belas menit, operasi balas dendam yang sangat rapi tersebut selesai dilakukan tanpa melukai satu pun narapidana lain, membuktikan profesionalisme sekaligus loyalitas buta prajurit terhadap kawan karibnya sendiri.
> Pada September 2013, Pengadilan Militer Yogyakarta menjatuhkan vonis sebelas tahun penjara bagi Ucok Simbolon, namun namanya tetap dikenang sebagai legenda kesetiaan prajurit yang berani menembus batas hukum demi harga diri korps.
Pada Kondisi Darurat Siapapun Apapun Latar Belakangnya Bisa Jadi Relawan, Membantu disaat² sulit, Tetaplah menjadi Manusia Baik Peduli Pada yg membutuhkan... Karena setiap detik waktu begitu berharga, saling menguatkan, kepedulian kita sangat bermakna bagi mereka 🙏🏻
Dia tahu kamu rindu, tapi jangan terus mengganggunya ya! Bukan hanya kamu yang ingin tenang, dia juga. Cuma bedanya, tenangmu adalah "kabar" darinya, sedangkan hilangmu adalah "tenang" baginya. 😌
Selamat pagi, #SahabatKAI#KAI121
📸 haryokopangestu (IG)