Pembaca retweetledi
Pembaca
283 posts

Pembaca retweetledi

@diosetta Bang, tolong d jawab ya. Aku penasaran ini bang, apakah Danan udah bisa ilmu rogo sukmo bang? Soalnya d cerita perang tanah danyang Danan blm bsa rogo sukmo, sedangkan di cerita desa tanggul mayet, danan bisa rogo sukmo tanpa d sebutin bawa keris. Penasaran ini bang
Indonesia
Pembaca retweetledi
Pembaca retweetledi

@noopiieeeeee Mohon maaf, cuma Tanya ya.
Kalau mnrtmu tanpa hasil, Bagaimana dengan data IMF, data bapenas dan data” international lain yg mengatakan kerjasama indo dengan negara” tetangga, sprti Russia dengan nuklirnya yg sdh d bangun d indo, dengan Amerika terkait teknologi jet tempur
Indonesia

Presiden yang nyaris 30% hari-hari jabatannya dia habiskan di negeri orang.
Pulang tanpa hasil, lalu teriak; "hai antek-antek asing", padahal dia yg paling demen sama asing.
Menebar senyum dinegeri orang, menebar ancaman dan ketakutan di Negara sendiri.
Membanggakan mobil buatan sendiri dinegara orang tetapi mengimpor ratusan ribu mobil buatan negeri orang (India) ke negera yang di pimpinnya.
Mengaum saat jadi capres mengeong saat jadi Presiden.
Dia ingin menjadi Presiden untuk menyelesaikan berbagai masalah tapi ternyata dia adalah masalah terbesar bangsa ini...
pemimpin konaha...

Indonesia
Pembaca retweetledi

SINGGASANA ROJOMAYIT
Part Akhir - Patiwongso [Tamat]
“Yang mati, ingin hidup untuk bertobat.. Yang hidup, lupa akan tujuannya…”
#bacahorror
@ceritaht @bacahorror @IDN_Horor

Indonesia

@KejahatanA @AyaniMel Ketika baca latin nya dan cuma denger orangnya baca saya juga gak tau
Ternyata pakai خ Bukan ك makanya saya bingung
Indonesia

Pembaca retweetledi
Pembaca retweetledi
Pembaca retweetledi
Pembaca retweetledi

@26ers_bp115 @grok give me a news from this video, and what the happen the man after insident
English
Pembaca retweetledi

Selamat membaca
Diosetta@diosetta
SINGGASANA ROJOMAYIT Part 9 - Perang Keramat Setelah menghadapi sosok yang memangsa jiwa warga desa, Danan dan Cahyo melanjutkan langkah mereka. Sebuah rumah tua yang kembali dihuni setelah kosong selama puluhan tahun, menyambut mereka. @bacahorror #bacahorror @IDN_Horor
Indonesia

Anak laki-laki itu tak lagi mampu menahan dirinya ketika melihat tubuh ibunya terbaring semakin lemah. Tak ada lagi rintihan, tak ada lagi keluhan—hanya napas yang kian pendek, seolah setiap tarikan adalah perjuangan terakhir yang tersisa. Justru itulah yang paling menakutkan. Rasa sakit yang hilang bukanlah pertanda sembuh, melainkan tanda bahwa tubuh itu mulai menyerah.
Sesaat ia berdiri terpaku di ambang pintu kamar, memandangi wajah ibunya yang pucat dalam cahaya redup. Namun sesuatu di dalam dadanya perlahan berubah—ketakutan yang selama ini menahannya runtuh, digantikan oleh amarah yang panas dan tak terbendung.
Dengan satu hentakan, ia membalikkan tubuhnya.
Pintu kamar terbuka keras, langkahnya tergesa menuju ruang depan. Ia meraih obor yang masih menyala, menggenggam parang dengan tangan yang gemetar namun mantap, lalu berjalan menuju pintu rumah yang selama ini menjadi satu-satunya batas antara dirinya dan kengerian di luar sana.
“Nak… jangan…” suara ibunya terdengar lemah dari dalam kamar, nyaris tenggelam oleh jarak dan keputusasaan.
Ia berhenti sejenak, hanya sesaat.
Namun kemudian ia menggeleng pelan, rahangnya mengeras.
“Diam atau tidak… kita tetap akan mati!” balasnya, suaranya pecah oleh emosi yang selama ini ia pendam.
Ketika ia melangkah mendekati pintu, bayangan hitam sempat melintas di jendela yang terbuka. Sesuatu yang bergerak cepat, tak jelas bentuknya, namun cukup untuk membuat bulu kuduk meremang. Ia menahan napas, jantungnya berdegup kencang, tetapi kali ini ia tidak mundur.
Ketakutan itu masih ada, namun ia memilih untuk melangkah melewatinya.
Pintu terbuka dengan keras.
Udara malam langsung menyergap, dingin dan berat, membawa bau busuk yang menusuk hidung. Jalan desa terbentang di hadapannya dalam kegelapan yang terasa hidup. Di kejauhan, suara rintihan dan bisikan samar mengalir seperti arus yang tak terlihat.
Namun ia tetap melangkah.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Hingga akhirnya ia berhenti di tengah jalan dan berteriak sekuat tenaga, memecah sunyi yang selama ini menindas desa itu.
“Keluar! Kita lawan mereka! Jangan mati seperti ini!”
Suaranya menggema, memantul di dinding-dinding rumah yang tertutup rapat. Ia menatap satu per satu pintu yang masih menyisakan cahaya di balik celahnya, berharap ada yang menjawab, ada yang ikut berdiri bersamanya.
“Pak Narto! Mas Harun! Pak Kades!” teriaknya lagi, lebih keras, lebih putus asa. “Keluar! Kita lawan mereka!”
Namun tak ada jawaban.
Tak ada satu pun pintu yang terbuka.
Lampu-lampu itu tetap menyala, namun seperti mata yang memilih untuk tetap terpejam.
Perlahan, suaranya melemah.
“Ka… kalian takut…?” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Ia tak tahu bahwa di balik pintu-pintu itu, warga desa bukan memilih untuk diam—mereka tak lagi mampu. Kutukan yang menyebar sejak malam itu telah melumpuhkan mereka, menggerogoti tubuh mereka dari dalam. Mereka hanya bisa berbaring, menahan rasa sakit yang tak tertahankan, mendengar teriakan anak itu tanpa sanggup menjawab.
Dan di jalan itu…
hanya dia yang masih berdiri.
Sendiri.
Namun keberanian itu ternyata harus dibayar.
Teriakannya telah memanggil sesuatu.
Dari kegelapan di ujung jalan, sebuah sosok muncul perlahan. Tingginya melampaui atap rumah-rumah, tubuhnya terbungkus kain kafan yang lusuh dan kotor, menggantung longgar seperti kulit yang tak lagi melekat pada daging. Wajahnya samar, namun cukup jelas untuk menunjukkan seringai yang tak manusiawi.
Anak itu membeku.
“Se… setan…” bisiknya, suaranya bergetar, lututnya melemah hingga tubuhnya jatuh terduduk di tanah.
Makhluk itu mendekat.
Pelan.
Pasti.
Air liur menetes dari mulutnya, jatuh di kaki anak itu.
Rasa gatal muncul seketika.
Awalnya hanya di satu titik, namun dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh, seperti ribuan serangga yang merayap di bawah kulitnya.
Ia berusaha menggaruk, namun semakin digaruk, rasa itu justru semakin menyebar, semakin menyiksa.
Namun semua itu seketika terasa kecil ketika makhluk itu menunduk.
Wajahnya mendekat.
Semakin dekat.
Semakin besar.
Mulutnya terbuka lebar, dipenuhi belatung yang bergerak menjijikkan, mengeluarkan bau busuk yang membuat napas tercekat.
Anak itu tak mampu bergerak.
Tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga.
“Nggak… jangan…” suaranya patah, air mata mengalir tanpa ia sadari. “Tolong…”
Ketika kepala makhluk itu hampir menyentuhnya…
sesuatu menghantam dengan keras.
Bruggghh!!!
Seekor kera melesat dari kegelapan dan menabrak wajah makhluk itu dengan kekuatan yang tak terduga. Tubuh besar itu goyah, tubuhnya mundur setengah, seolah untuk pertama kalinya sesuatu berani menentangnya.
“Bagus, Kliwon!”
Suara itu datang bersamaan dengan sosok seorang pemuda berkalung sarung yang berlari memasuki desa, napasnya terengah namun gerakannya pasti. Dalam waktu yang hampir bersamaan, empat bilah keris melesat di udara, berputar cepat, lalu mencabik tubuh makhluk itu tanpa ampun.
Kilatan logam itu meninggalkan luka yang menganga.
Suara robekan terdengar berulang kali, diiringi jeritan berat yang mengguncang malam.
Seorang pemuda lain yang sedikit lebih tua dari anak itu datang berlutut di samping anak itu, mengulurkan tangan dan menariknya berdiri dengan cepat.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya singkat, matanya tetap waspada ke arah makhluk itu.
Anak itu hanya mampu mengangguk lemah, pandangannya masih terpaku pada pertempuran di hadapannya.
Di antara kilatan cahaya dan bayangan, ia melihat sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami, sebuah sosok seperti roh, melesat dengan cepat, menggenggam keris, lalu mencengkeram kepala makhluk itu sambil melantunkan ayat-ayat suci yang bergema di udara.
Dalam sekejap, makhluk itu menjerit.
Suara beratnya pecah oleh rasa sakit yang tak tertahankan.
Panas menyelimuti tubuhnya, menjalar dari dalam, hingga api mulai muncul, membakar perlahan namun pasti. Jeritannya menggema ke seluruh desa sebelum akhirnya meredup, bersama tubuhnya yang perlahan habis dilalap api.
Anak itu terdiam. Dadanya naik turun, matanya masih basah, namun kini ada sesuatu yang berbeda di sana—bukan lagi sekadar ketakutan.
“Ka… kalian siapa…?” tanyanya pelan.
Pemuda di sampingnya menggeleng singkat. “Tidak penting,” jawabnya. “Cepat masuk. Bersihkan liur itu dengan tanah dan garam, jangan sampai menyebar.”
“Ta… tapi warga desa…” suara anak itu kembali bergetar, kali ini bukan karena takut, melainkan karena khawatir.
Saat itu, seorang pemuda lain, yang sebelumnya tampak seperti bayangan melangkah mendekat setelah menyarungkan kembali kerisnya. Wajahnya serius, namun sorot matanya tidak dingin.
“Kami tidak bisa menjanjikan apa pun tentang mereka,” ucap Danan jujur, tanpa mencoba menenangkan dengan kebohongan. “Tapi setidaknya… kita masih bisa memilih untuk bertahan hidup malam ini.”
Danan, Cahyo, dan Dirga tak menjanjikan apapun pada anak itu. Mereka sendiri datang tanpa yakin mampu untuk menghentikan segala kekacauan yang terjadi dalam waktu singkat itu.
Kata-kata itu sederhana. Tanpa janji kemenangan. Tanpa kepastian keselamatan. Namun justru di situlah sesuatu dalam diri anak itu mulai berubah.
Ia masih takut. Ia masih tidak tahu apakah dirinya akan selamat. Namun untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, ia tidak lagi merasa sendirian.
Di tengah kegelapan yang menelan desanya, di antara kematian yang mengintai di setiap sudut, ada orang-orang yang memilih untuk berdiri, bukan karena mereka yakin akan menang, tetapi karena mereka menolak untuk menyerah.
Penentuan tahta, Geger Trah keramat, tak lagi bisa dihentikan
***
(Bersambung Part Akhir)
Indonesia
Pembaca retweetledi

SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 8 - Tahta Terkutuk
"Bukan hanya kekuatan dan pusaka yang diwariskan… tapi kutukan pun yang memilih siapa yang layak menanggungnya..."
#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht

Indonesia
Pembaca retweetledi
Pembaca retweetledi

TERIMA KASIHH!!!!
Akhirnya cerita ini bisa selesai di Twitter. makasi banget atas semua dukunganya baik yang di Karyakarsa, WA, Youtube, ataupun berupa komen, retweet dan likenya.
Mungkin ini bukan cerita terbaik, namun ini adalah cerita terpanjang dan terberat yang saya tulis selama ini. Semoga cukup untuk menghibur teman-teman semua ya..
Seperti biasa. Minta tolong tinggalin komen ya biar saya semangat buat tulisan berikutnya. Bantu retweet juga supaya JSD makin menjangkau banyak pembaca.
Pokoknya Terima kasih sudah mendukung hingga sejauh ini!!!
Saat ini belum ada cerita baru di Karyakarsa. rencananya akan ada spesial chapter lagi tentang roro mayit tapi tunggu dulu ya... yang belum baca spesial chapter tentang widarpa dan Nyi sendang Rangu bisa mampir ke sini :
karyakarsa.com/diosetta69/per…
Indonesia














