
Be Problem Solver
6.2K posts

Be Problem Solver
@ProdArchitech
Innovator of 84 Ideas: AI | Web3 | Agrotech | Social Engineering | System. Building big ecosystems for social impact & humanity. For collective good



Padahal urutan idealnya tuh gini: 1. B.J. Habibie (Real MVP. Beresin negara awur-awuran dalam waktu sekejap, padahal cuma sebentar ngejabatnya. Bayangin kalo 5-10 tahun menjabat). 2. SBY (ekonomi bagus, kebebasan ekspresi bener kerasa, konflik di Aceh berhenti). 3. Gusdur (perekat bangsa yang terpecah-pecah, bersikap akomodatif pada berbagai golongan bangsa). 4. Sukarno (ekonomi awur-awuran, tapi minimal Indonesia dihormati dunia). 5. Megawati (bikin KPK, tapi netapin DOM di Aceh) 6. Soeharto (ekonomi bagus tapi gak bebas, rezim otoriter) 7. Jokowi (ekonomi awur-awuran, banyak buzzer buat membungkam, ngomong X yang terjadi Y) 8. Prabowo (ekonomi awur-awuran, ngomong suka asbun, tone deaf, banyak buzzee yg ingin membungkam)



Tidak ada warga negara yang setiap hari mendoakan presidennya segera mati melebihi warga negara Indonesia.






Orang2 tuh banyak yg ngira kita2 yg mau pindah dikira mau nyari uang sebanyak2nya buat jadi milyader. Padahal, kita cuma mau hidup layak



Kadang mikir, kenapa mini market lebih murah daripada pasar tradisional.



Aku dulu termasuk keluarga yang berkecukupan. Kalau mau ganti HP, tinggal merengek ke ibu ku, meski harus tukar tambah. Tabungan keluarga kami juga masih lumayan. Semuanya berubah drastis mulai Juli 2025. Kakakku mengalami musibah di kapal hingga harus meminjam sebagian besar tabungan jangka panjang keluarga. Tak lama kemudian, ibuku kena PHK. Adikku yang sedang kuliah keperawatan dan ngekos semakin menghabiskan sisa tabungan yang ada. Kakakku turun dari kapal dengan membawa banyak hutang. Ganti rugi yang diterimanya justru habis untuk membayar kerugian perusahaan, sehingga ia turun hanya dengan utang dan belum bekerja sampai sekarang. Di saat yang waktu yang semua seolah - olah berdekatan, adikku kehilangan uang kas kampus karna dia bendahara sehingga ia dan temannya terpaksa meminjam pinjol. Mau tidak mau, tabunganku ikut ludes untuk menutupi semua masalah itu. Aku sendiri kuliah sambil bekerja. Gaji pokokku hanya Rp600.000 per bulan. Tiba-tiba ada kebijakan pemangkasan hari kerja—hari Sabtu yang biasanya masuk jadi libur, sehingga potongan uang harian dan uang makan pun hilang (tanggal merah juga tidak dihitung). Penghasilanku menyusut drastis, padahal tanggunganku bertambah: menghidupi keluarga yang masih harus dihidupi kebutuhannya. Aku juga ngalah sehingga harus ambil cuti kuliah agar adik ku masih bisa lanjut. Aku berusaha bertahan dengan cara gali lubang tutup lubang. Meminjam sana-sini untuk menutupi kebutuhan sehari-hari karna tidak ingin menyusahkan ibu ku. Sampai akhirnya aku tidak sanggup lagi. Lubang-lubang itu semakin besar, hutang menumpuk, dan tidak ada lagi yang bisa ditutup. Selesai🫶🏻 Jadi ga semua org karena gaya hidup hedon atau boros. Semua ini murni untuk menutupi kebutuhan hidup keluarga yang tiba-tiba runtuh bersamaan. Makasih yang udah baca pake bahasa belepotan ini. Mwaaaa😚 Aku ga bisa nulis soalnya dan hidup aku ga sedramatis itu😭


Kita lihat IKN seperti apa nanti nya.. 😜


Sama bjir, gw kira kopdes itu hasil tani perdesaan bakalan ditampung sama mereka biar gak rugi, ditampung harga mahal, dijual ke pasar dengan harga murah dan ikan juga gitu di kampung nelayan, ternyata gw salah, malah buat minimarket yang notabenenya saingan sama usaha warga🥴








