Reza M

44.9K posts

Reza M banner
Reza M

Reza M

@Reza_M67M

...karena pada ujungnya ini hanya pergiliran kuasa dan eksistensi...| #random RT’s or Likes not always endorsement

Katılım Ocak 2011
1.9K Takip Edilen621 Takipçiler
Dosen Kesayanganmu
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen·
Guru Besar UI, ungkap kalau cadangan devisa Indonesia cuma cukup untuk 5 bulan impor. ini bukan untuk menakuti-nakuti, tapi untuk waspada. tadi pas malan siang, nonton siaran podkas Prof. @Rhenald_Kasali. tamunya Prof. Telisa Aulia, guru besar FEB UI. banyak yang dibahas, mulai dari rupiah yang seperti juventus (lemah). dan proses terjadinya krisis. lebih lengkap kalian coba tonton sendiri ya. . . saya lampirken cuplikannya.
Indonesia
24
77
194
47.1K
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@madHink Sourcenya doi : hotradero
Français
0
0
0
64
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@ulil Trading influence Bukan definisi korupsi sederhana : aliran uang. Mungkin hal ini dilakukan jg oleh sosok2 yg pernah kita kenal baik, tapi itu butuh proses yg lama jatuh bangun x.com/i/status/20549…
street lawyers@streetlawyers85

@redaksilain Publik juga perlu tahu uraian jaksa, fakta diketahui jaksa, supaya bisa menilai secara imbang. Hakim yg akan memutus berdasarkan ket saksi & bukti di persidangan.

Indonesia
0
1
5
725
Ulil Abshar-Abdalla
Saya percaya Nadiem bersih. Mungkin kebijakannya ada yg tidak disukai; namanya jg kebijakan, pasti ada pro-kontra. Tetapi dia tidak korupsi.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada yang gue rasa perlu dibahas lebih dalam soal kasus Nadiem dan ini bukan soal membela dia secara membabi buta. Ini soal menelusuri logika di balik kenapa kasus ini tiba-tiba meledak sekencang ini. Karena kalau lo telisik lebih dalam, ada pola yang sangat menarik dan sangat tidak nyaman untuk diabaikan. Apa yang sebenarnya Nadiem bangun selama jadi Mendikbud: Di era Nadiem, lahir satu sistem yang namanya SIPLah Sistem Informasi Pengadaan di Sekolah. Platform digital untuk pengadaan barang dan jasa menggunakan dana BOS dan BOP. Artinya apa? Setiap transaksi tercatat online. Setiap pelaporan bisa dilacak. Nota kosong jadi jauh lebih sulit digunakan. Markup jadi jauh lebih sulit disembunyikan. Selama puluhan tahun sebelumnya dana BOS adalah salah satu ladang basah yang paling mudah dimainkan di tingkat sekolah sampai dinas. Nota fiktif, pengadaan barang yang tidak pernah ada, markup harga yang masuk kantong oknum. Semua itu bisa berjalan mulus karena sistemnya manual dan tidak bisa diaudit dengan mudah. Nadiem menutup lubang itu. Sertifikasi guru yang ikut didigitalisasi: Sebelumnya sertifikasi guru identik dengan biaya hotel, konsumsi, transportasi, administrasi tatap muka yang semuanya bisa di-markup dan bisa jadi sumber komisi bagi pihak-pihak tertentu. Di era Nadiem sebagian besar proses ini dipindahkan online. Lebih efisien. Lebih murah. Dan jauh lebih sulit untuk dimainkan anggarannya. Chromebook dan ekosistem Google yang sebenarnya paling mengancam siapa: Ini yang paling penting dan paling jarang dibahas. Kalau sekolah pakai Windows lisensi Windows 11 Home saja Rp2,6 juta. Microsoft Office saja Rp2,2 juta. Per laptop. Dikali ratusan ribu sekolah di seluruh Indonesia. Angkanya fantastis. Dan karena banyak yang pakai bajakan ada ruang untuk markup seolah-olah membeli lisensi asli padahal tidak. ChromeOS dan Google Workspace for Education? Gratis untuk institusi pendidikan. Tidak ada lisensi yang perlu dibeli. Tidak ada celah untuk markup lisensi software. Jadi pertanyaannya bukan hanya soal apakah Chromebook bagus atau tidak untuk pendidikan. Pertanyaannya adalah: siapa yang selama ini menikmati ekosistem pengadaan software berbayar di sekolah-sekolah Indonesia dan siapa yang dirugikan ketika ekosistem itu diputus? Polanya terlalu jelas untuk diabaikan: Digitalisasi SIPLah menutup celah korupsi pengadaan. Digitalisasi sertifikasi menutup celah markup pelatihan. Chromebook dan Google Workspace menutup celah markup lisensi software. Audit anggaran jadi lebih mudah karena semuanya tercatat digital. Dan kemudian tiba-tiba kasus Nadiem meledak. Dengan tuntutan 27 tahun. Dengan uang pengganti Rp5,6 triliun yang bahkan diambil dari nilai IPO Gojek di SPT pajak bukan dari uang yang terbukti masuk ke kantong Nadiem. PPATK sendiri tidak menemukan satu sen pun aliran dana ke Nadiem dari siapapun. Kalau ini murni kasus hukum kenapa tuntutannya lebih besar dari pembunuh dan teroris? Kenapa uang penggantinya diambil dari aset yang tidak ada hubungannya dengan dugaan korupsi yang dituduhkan? Gue tidak bilang Nadiem sempurna. Gue tidak bilang semua kebijakannya benar. Tapi ada pertanyaan yang jauh lebih besar di balik kasus ini: Siapa yang paling diuntungkan dari kembalinya sistem lama yang serba manual, serba gelap, dan serba susah diaudit? Dan apakah orang-orang itu memiliki kepentingan — dan kemampuan untuk memastikan bahwa orang yang menutup ladang mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi? Kalau jawabannya iya maka yang sedang kita saksikan bukan penegakan hukum. Itu pembunuhan karakter sistematis terhadap orang yang paling banyak menutup pintu korupsi di dunia pendidikan Indonesia.

Indonesia
60
19
87
37.4K
Kamal Reza
Kamal Reza@andikamalreza·
Hadi just ratioed him lol
Kamal Reza tweet media
English
108
5K
23.1K
416.6K
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@KaZep7 Nomor 1 rekapitalisasi perbankan kali ya maksudnya?
Indonesia
1
0
0
28
Kang aZep
Kang aZep@KaZep7·
Pdhal, di balik penguatan Rp yg fenomenal di era Pres. Habibie itu, ada sosok hebat yg selalu terlupakan, yaitu MenKeu Bambang Subianto Beliau lah yg 1. Melakukan rekapitulasi perbankan 2. Bentuk BPPN 3. Reformasi monopoli 4. Penyusunan UU Pasar Modal Efek: Rp menguat tajam
Zulfikar Akbar@zoelfick

Belum pernah ada yang bisa menyamai rekor Habibie dalam menguatkan rupiah. Iklim politik negeri ini memang tak tertarik dgn pemimpin spt ini. Tokoh-tokohnya lbh tertarik ke siapa paling menguntungkan. Semoga ini bukan cuma asumsi saya saja.

Indonesia
4
14
31
1.5K
#AyoMoveOn2024
#AyoMoveOn2024@Fahrihamzah·
PRABOWONOMICS Vs Neoliberal: Menjawab The Economist! Dalam dua tulisan terbarunya, majalah The Economist kembali mengayunkan gada kritik klasiknya terhadap Indonesia. Melalui artikel berjudul "Indonesia, the biggest Muslim-majority country, is on a risky path" dan "Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy", media benteng liberalisme barat ini menyuarakan kecemasan mendalam: Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dianggap sedang melangkah ke jalur berbahaya karena memperkuat intervensi negara, mengaburkan batas disiplin fiskal, dan mengonsolidasikan kekuatan politik. Namun, jika kita menembus kabut kecemasan tersebut, kita akan mendapati sebuah bias lama yang usang. The Economist sedang melihat Indonesia menggunakan kacamata usang cetak biru Konsensus Washington (Neoliberalisme). Mereka gagal memahami satu hal mendasar: bagi Indonesia, terus berjalan di atas rel ekonomi liberal murni bukanlah sebuah pilihan keselamatan, melainkan sebuah jaminan untuk terjebak selamanya dalam kutukan negara pendapatan menengah (Middle-Income Trap). Prabonomomics hadir bukan untuk merusak ekonomi, melainkan sebagai tesis tandingan (counter-thesis) yang berani untuk menata ulang struktur ekonomi nasional demi keadilan sosial. Kekeliruan Paradigma Pasar Bebas: Belajar dari Sejarah. Selama puluhan tahun, resep neoliberal mendikte negara-negara berkembang untuk menjadi "murid yang patuh": buka pasar selebar-lebarnya, batasi peran negara hanya sebagai wasit, privatisasi sektor publik, dan biarkan modal global mendikte arah pembangunan. Hasilnya? Indonesia terjebak menjadi eksportir bahan mentah. Kita mengalami deindustrialisasi dini, di mana kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menyusut. Kita kaya akan nikel, tembaga, dan bauksit, namun nilai tambah terbesar dari kekayaan alam tersebut dinikmati oleh negara-negara industri maju di Barat dan Asia Timur. Pasar bebas murni, dalam realitasnya, melanggengkan ketimpangan struktural dan menciptakan apa yang disebut para ekonom sebagai commodity curse (kutukan komoditas). Ketika Presiden Prabowo memilih untuk keluar dari jebakan ini, langkah tersebut tidak lahir dari ruang hampa ideologis. Ini adalah kalkulasi pragmatis yang berakar pada konstitusi Pasal 33 UUD 1945: bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Tiga Pilar Prabowonomics: Melawan Skeptisism Barat. Kritik The Economist runtuh ketika dihadapkan pada logika pembangunan jangka panjang yang diusung oleh Prabowonomics, yang bertumpu pada tiga pilar utama: 1. Investasi Manusia (SDM) Bukan Pemborosan Fiskal. The Economist cemas terhadap program-program sosial masif seperti Makan Bergizi Gratis dan perumahan rakyat, menuduhnya sebagai ancaman bagi batasan defisit anggaran 3%. Ini adalah cara pandang akuntansi jangka pendek, bukan ekonomi pembangunan. Dalam Prabowonomics, memberi makan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil adalah investasi infrastruktur manusia terpenting untuk memotong rantai stunting. Bagaimana sebuah negara bisa melompat menjadi negara maju jika angkatan kerjanya mengalami malnutrisi kronis? Belanja ini adalah restrukturisasi modal manusia (human capital) yang akan menaikkan produktivitas nasional 10 hingga 20 tahun ke depan. Disiplin fiskal tetap dijaga, namun anggaran dikelola secara ekspansif-terukur, bukan hemat defensif yang mencekik pertumbuhan.
Indonesia
554
109
320
337K
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@sociotalker Tergantung sama danantara mau neken himbara kasih KPR 40 tahun ga?
Indonesia
0
0
0
325
Joel Picard
Joel Picard@sociotalker·
proyek 3 juta rumah gmn progressnya? udh brp juta yg jadi dan kejual?
#AyoMoveOn2024@Fahrihamzah

PRABOWONOMICS Vs Neoliberal: Menjawab The Economist! Dalam dua tulisan terbarunya, majalah The Economist kembali mengayunkan gada kritik klasiknya terhadap Indonesia. Melalui artikel berjudul "Indonesia, the biggest Muslim-majority country, is on a risky path" dan "Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy", media benteng liberalisme barat ini menyuarakan kecemasan mendalam: Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto dianggap sedang melangkah ke jalur berbahaya karena memperkuat intervensi negara, mengaburkan batas disiplin fiskal, dan mengonsolidasikan kekuatan politik. Namun, jika kita menembus kabut kecemasan tersebut, kita akan mendapati sebuah bias lama yang usang. The Economist sedang melihat Indonesia menggunakan kacamata usang cetak biru Konsensus Washington (Neoliberalisme). Mereka gagal memahami satu hal mendasar: bagi Indonesia, terus berjalan di atas rel ekonomi liberal murni bukanlah sebuah pilihan keselamatan, melainkan sebuah jaminan untuk terjebak selamanya dalam kutukan negara pendapatan menengah (Middle-Income Trap). Prabonomomics hadir bukan untuk merusak ekonomi, melainkan sebagai tesis tandingan (counter-thesis) yang berani untuk menata ulang struktur ekonomi nasional demi keadilan sosial. Kekeliruan Paradigma Pasar Bebas: Belajar dari Sejarah. Selama puluhan tahun, resep neoliberal mendikte negara-negara berkembang untuk menjadi "murid yang patuh": buka pasar selebar-lebarnya, batasi peran negara hanya sebagai wasit, privatisasi sektor publik, dan biarkan modal global mendikte arah pembangunan. Hasilnya? Indonesia terjebak menjadi eksportir bahan mentah. Kita mengalami deindustrialisasi dini, di mana kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menyusut. Kita kaya akan nikel, tembaga, dan bauksit, namun nilai tambah terbesar dari kekayaan alam tersebut dinikmati oleh negara-negara industri maju di Barat dan Asia Timur. Pasar bebas murni, dalam realitasnya, melanggengkan ketimpangan struktural dan menciptakan apa yang disebut para ekonom sebagai commodity curse (kutukan komoditas). Ketika Presiden Prabowo memilih untuk keluar dari jebakan ini, langkah tersebut tidak lahir dari ruang hampa ideologis. Ini adalah kalkulasi pragmatis yang berakar pada konstitusi Pasal 33 UUD 1945: bahwa bumi, air, dan kekayaan alam harus dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Tiga Pilar Prabowonomics: Melawan Skeptisism Barat. Kritik The Economist runtuh ketika dihadapkan pada logika pembangunan jangka panjang yang diusung oleh Prabowonomics, yang bertumpu pada tiga pilar utama: 1. Investasi Manusia (SDM) Bukan Pemborosan Fiskal. The Economist cemas terhadap program-program sosial masif seperti Makan Bergizi Gratis dan perumahan rakyat, menuduhnya sebagai ancaman bagi batasan defisit anggaran 3%. Ini adalah cara pandang akuntansi jangka pendek, bukan ekonomi pembangunan. Dalam Prabowonomics, memberi makan bergizi bagi anak-anak dan ibu hamil adalah investasi infrastruktur manusia terpenting untuk memotong rantai stunting. Bagaimana sebuah negara bisa melompat menjadi negara maju jika angkatan kerjanya mengalami malnutrisi kronis? Belanja ini adalah restrukturisasi modal manusia (human capital) yang akan menaikkan produktivitas nasional 10 hingga 20 tahun ke depan. Disiplin fiskal tetap dijaga, namun anggaran dikelola secara ekspansif-terukur, bukan hemat defensif yang mencekik pertumbuhan.

Indonesia
16
84
491
29.7K
Presiden kopi
Presiden kopi@PresidenKopi·
Semua di penjara sama dia.
Presiden kopi tweet media
Indonesia
728
16.8K
79.4K
1.6M
222 Mountains For 🇵🇸
222 Mountains For 🇵🇸@kafiradikalis·
...Nadiem belagak polos. 1,5 dekade lalu LHI dihukum 18 tahun padahal kerugian negara 0 rupiah. Fakta persidangan ungkap bukti "teramat tipis" rekaman telp LHI terlibat pengaturan kuota impor sapi. Transkrip telp LHI kalo dibaca seperti chat² bocil pas main game online. Ya memang ada nama/kata yg seolah² merujuk kuota impor sapi tapi kalo transkripnya dibaca oleh awam yah kayak narasi bebas ngasal aja ala bocah² kalo lagi mabar lalu chat²an di layar game. Kalo mengaitkan langsung dengan LHI tuh benar² teramat lemah, jauh lebih lemah bukti pada LHI ketimbang pada Nadiem/Ibam. Mentok semua bukti kuat yg dimiliki jaksa hanya bisa diarahkan secara langsung adalah kepada Ahmad Fathonah. Sehebat dan secanggih serta serumit itulah dulu modus kasus impor kuota sapi sampe jaksa kewalahan membuktikan. Itu sebabnya narasi kriminalisasi begitu dominan mewarnai kasus tsb. Tapi pada akhirnya yah majelis hakim bersikukuh putuskan LHI bersalah. Malah di MA ditambahin vonisnya dari 16 menjadi 18 tahun. Kasus LHI itu ibarat tonggak bahwa "bukti" teramat tipis bisa menjerat elit. Bahwa modus operandi korupsi elit itu yah canggih banget. Cara kerja elit dalam mempengaruhi pengadaan barang/jasa yah gak seperti koruptor² kelas kroco lah. Dan harus diingat bahwa LHI tidak memiliki kewenangan/power internal langsung seperti Makarim dengan wewenang eksekutifnya. LHI itu "cuma" legislatif yg kebetulan presiden PKS yg mana kader PKS menjadi mentan pada saat itu. Faktor power eksternal. "Rute wewenang"-nya terlalu jauh, sehingga wajar² saja saat itu jika banyak yg beranggapan kasus LHI terlalu dipaksakan. Beda seperti Nadiem yg punya power internal sebagai eksekutif tertinggi di kementerian. Jadilah seorang boomer elit 1,5 dekade lalu kek LHI yg gak punya power internal aja bisa dihukum 18 tahun dengan bukti "teramat lemah bin tipis". Jaksa-hakim saat itu benar² kesulitan-kepayahan membuktikan modus operandinya secara telak. Harusnya dengan bukti teramat tipis, IMHO, yah harusnya LHI bebas murni. Yang bisa dijerat yah cuma Ahmad Fathonah Nah saat ini, Nadiem, seorang milenial tech bro nan sophisticated masa modus operandi korupsinya macam boomer LHI? Yah pastilah modusnya jauh lebih canggih donk? Gak ada aliran dana langsung ke Nadiem? Ya dulu LHI juga gak ada dana suap langsung ke dia. Mentok ke AF. Bahkan ketika OTT LHI yah sebenarnya kagak OTT sebenarnya, festivalisasi ala KPK aja itu sih. Wong LHI ditangkap di lokasi berbeda yg gak ada kaitan ma peristiwa OTTnya Ahmad Fathonah. So, benar² menghina akal sehat jika modus operandi milenial Nadiem akan seperti boomer LHI 1,5 dekade lalu. Anak techbro yah pasti lebih hebat dari modus boomer elit 1,5 dekade lalu. Itu sebabnya Jurist Tan sang saksi kunci harus kabur dan bersembunyi yah karna Jurist Tan adalah "Ahmad Fathonah"-nya kasus megakorupsi Chromebook. Dan gw juga yakin kalo Nadiem pasti tahu soal 2 kasus besar di era Jokowi yg mana saksi kuncinya hilang: 1. Harun Masiku, suap pemilu 2. Nistra Yohan, TPPU BTS 2 bos mereka bebas karna saksi kuncinya "hilang". Bos Harun Masiku yakni Hasto bebas dapat amnesti. Sementara bos Nistra Yohan yah kini jadi .......... (silahkan google, jangan kaget) Nadiem bisa jadi berharap 2 skema kasus di atas terjadi juga pada dirinya. Kalau gak dapat amnesti seperti bosnya Harun Masiku, maka, bolehlah bernasib seperti bosnya Nistra Yohan yang menjadi ........ahsudahlah silakan google sendiri... (``,)
tempo.co@tempodotco

Nadiem: Kenapa Tuntutan Terhadap Saya Lebih Tinggi dari Pembunuh?

Indonesia
61
151
437
63.1K
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@awangky24 @MiskinTV_ Uangnya nanti dari bansos blt. Ga lama mrk diwjaibkan beli produk2 droping rezim ke kopdes. Lingkaran setan rente oligarki via apbn?
Indonesia
0
0
0
17
Wangky 🇵🇸
Wangky 🇵🇸@awangky24·
@Reza_M67M @MiskinTV_ Rajin belanja 🤔❓, uang nya mana? 😁ada uang pun spt tak lengkap barangnya eh balik lg deh ke alfa indo 🤭, lagian klo koperasi itu seharusnya jual produk UMKM sekitar wilayah tsb, atau kebutuhan petani /nelayan, klo di kota bisa sembako dsbnya (beras wajib dari petani kita)
Indonesia
1
0
0
88
SobatMiskinTV
SobatMiskinTV@MiskinTV_·
Liat video Koperasi Desa Merah Putih ini bukannya yakin, tapi justru tambah pesimis soal keberlanjutan usahanya. Tidak ada pembeda dengan Indomart dan Alfamart, bahkan hampir pasti kalah lengkap. Kalo bersaiang jujur pasti akan kalah saing.
Akun Perayaan Patah Hati@haripatahhati

Mantrijeron, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
779
1.2K
6.5K
628.7K
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@HidsalJ Npl nya yg kecil seiring dengan kenaikan biaya pendampingan/pengawasan yg besar
Indonesia
1
0
0
164
Cal !
Cal !@HidsalJ·
Untuk memahami dampak penurunan bunga PNM Mekaar, pertama-tama perlu dipahami bahwa ini bukan bank digital atau bank komersial biasa yang bisa langsung memangkas bunga lewat efisiensi teknologi. Model bisnis PMN Mekaar memang dirancang mahal sejak awal karena mengandalkan pendampingan langsung ke nasabah ultra mikro. Pada kondisi saat ini, dengan bunga sekitar 24%, struktur keuangannya kira-kira seperti ini: Pendapatan: >>>Bunga kredit: 24% × Rp50 triliun = sekitar Rp12 triliun per tahun Pengeluaran: >> Cost of fund sekitar 6% = Rp3 triliun >> Pendapatan bunga bersih (NII) tersisa Rp9 triliun Dari Rp9 triliun tersebut, sebagian besar habis untuk: >> Gaji lebih dari 40 ribu account officer >> Operasional lapangan dan pertemuan mingguan >> Ribuan kantor cabang hingga daerah terpencil >> Pendampingan usaha nasabah Total biaya operasional diperkirakan sekitar Rp7,5 triliun per tahun atau setara 15% dari total portofolio kredit. Ditambah provisi kredit bermasalah sekitar Rp0,5 triliun, laba sebelum pajak PNM hanya sekitar Rp1 triliun per tahun. Jadi sebenarnya margin keuntungannya sudah sangat tipis sejak awal. Mengapa biaya operasionalnya besar? Karena model Mekaar adalah high-touch lending. Petugas lapangan mendatangi kelompok nasabah setiap minggu secara langsung. Justru model inilah yang membuat NPL tetap sangat rendah, di bawah 1%. Masalah muncul ketika bunga diturunkan menjadi 8%. Jika portofolio naik menjadi Rp55 triliun karena nasabah bertambah, maka: >>Pendapatan bunga turun menjadi sekitar Rp4,4 triliun >> Cost of fund tetap sekitar Rp3,3 triliun >> NII yang tersisa hanya sekitar Rp1,1 triliun Padahal biaya operasional diperkirakan naik menjadi Rp8,3 triliun karena jumlah nasabah bertambah. Akibatnya, PNM berpotensi mengalami kerugian sekitar Rp7,8 triliun per tahun jika tidak ada subsidi pemerintah. Masalah utamanya ada pada spread. Dengan bunga 8% dan cost of fund 6%, spread yang tersisa hanya 2%. Spread setipis ini mungkin masih cukup untuk bank digital yang operasionalnya berbasis aplikasi. Tetapi PNM Mekaar membutuhkan: >>Puluhan ribu account officer >> Pertemuan mingguan door-to-door >>Kantor cabang hingga daerah 3T >> Pendampingan usaha langsung Karena itu, PNM sebenarnya membutuhkan spread sekitar 15–16% hanya untuk mencapai titik impas operasional. Artinya, tanpa subsidi negara, bunga PNM secara realistis harus tetap berada di kisaran 22% agar model bisnisnya tetap berjalan mandiri. Namun di luar hitungan keuangan, ada beberapa faktor risiko yang juga perlu diperhatikan. Pertama, risiko tekanan ke fiskal negara. Jika bunga dipaksa turun ke 8%, maka negara harus menyediakan subsidi sekitar Rp7–9 triliun per tahun agar PNM tidak merugi besar. Beban ini pada akhirnya masuk ke APBN. Kedua, risiko terhadap laba Bank Rakyat Indonesia Group. Karena PNM berada dalam ekosistem BRI, kerugian PNM berpotensi menekan laba konsolidasi BRI. Jika kerugian tidak ditutup subsidi penuh, laba BRI bisa turun beberapa triliun rupiah dan berpengaruh ke dividen negara. Ketiga, risiko crowding out terhadap KUR. Jika subsidi dialihkan dari program KUR ke Mekaar, maka pelaku UMKM di segmen lain bisa mendapat kuota lebih kecil atau bunga lebih tinggi. Keempat, risiko moral hazard kelembagaan. Jika seluruh kerugian selalu ditutup negara, tekanan untuk efisiensi operasional bisa melemah. Karena itu, subsidi idealnya tetap disertai target kinerja dan reformasi operasional. Meski begitu, risiko kredit nasabah sendiri sebenarnya relatif terkendali. Nasabah Mekaar umumnya meminjam bukan karena mengejar bunga murah, tetapi karena sebelumnya tidak punya akses pembiayaan formal. Sistem tanggung renteng dan pendampingan mingguan juga membuat disiplin pembayaran tetap kuat. Jadi inti persoalannya bukan pada risiko gagal bayar nasabah, melainkan pada apakah negara siap menanggung biaya besar dari model pembiayaan ultra mikro yang memang mahal secara operasional.
Rulie Maulana@ruliemaulana

Sepakat. Kehatihatian itu penting. Kalau testimoni mantan orang holding ultra mikro BRI sih, cost terbesar itu operasional karena butuh banyak AO untuk nilai kecil. Tapi mumpung izin usaha NIB dan KTP sudah digital dan nilainya cuma 10jt, mestinya bisa inovasi berupa apps verifikasi biometrik. Seperti pinjol. Toh sebagai bank pemerintah, meski belum tentu bisa dibilang etis, mereka bisa konek kelancaran pembayaran ke akses pelayanan publik lain. Saat ini dari holding klaim sudah menyalurkan 631,9 triliun untuk 34,7 juta debitur aktif. Masih model outlet 1.031 unit. Sementara untuk KTA UMi BRI, sebelum ini bunganya 14%. Jadi untuk jadi 9% mestinya ngga terlalu menyeramkan.

Indonesia
14
36
97
10.4K
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@angkvgadang Kasihan peserta cowo yg kena tanah lapangan pas basah 😄 Demi liat wamenhaj seneng sepatu gw jadi kotor
Indonesia
0
0
0
33
Reza M
Reza M@Reza_M67M·
@kafiradikalis @boreeeees Plus dicabut hak politik utk dipilih lagi dlm jabatan publik, cuma boleh kasih suara aja.
Indonesia
0
1
2
213
222 Mountains For 🇵🇸
222 Mountains For 🇵🇸@kafiradikalis·
@boreeeees ...Pernah tahu kasus LHI gak? Gak ada kerugian negara, bukti² tipis, tapi pelakunya dihukum 18 tahun... (``,)
Indonesia
1
2
6
1.2K
222 Mountains For 🇵🇸
222 Mountains For 🇵🇸@kafiradikalis·
...Masih ada waktu bagi Nadiem untuk menyatukan lebih banyak elemen agar beri tekanan hebat pd hakim. 1. Elemen guru Rilis permintaan maaf yg tulus kpd ratusan ribu guru yg dirugikan akibat kebijakannya 2. Elemen massa Islam Rilis pernyataan soal KM 50, ingatkan pd publik bahwa apa yg terjadi pada kasus KM 50 bisa terjadi pada siapa saja. 3. Elemen SJW Rilis statement agar publik nonton film dokumenter "Pesta Babi" karya Watchdoc, agar publik dapat kode soal opung. Bahwa diduga kuat yg kambinghitamkan Nadiem adalah opung 4. Elemen Ojol Minta maaf saat membesut Gojek, abai terhadap kesejahteraan² ojol bahkan bpjs kesehatan aja luput diperhatikan 5. Elemen Jurist Tan Kontol²in Jurist Tan, suruh dia keluar, jangan lagi bersembunyi. 5 itu dilakukan, sidang² berikutnya itu bakal dipenuhi ribuan massa bahu membahu bersolidaritas. Massa kanan (Islam) sampai massa kiri (SJW) ditambah ojolers, bakal membludak bahkan bikin macet luar biasa. Bukan gak mungkin malah Jurist Tan tampil sebagai orator di atas mokom... (``,)
Indonesia
15
40
119
11K