
.
173 posts







Menganulir Gol Mesir ke Gawang Argentina adalah Keputusan yang Salah Sebuah analisis dari pakar perwasitan dan mantan wasit Premier League, Graham Scott via The Athletic. ✅Keputusan menganulir gol Mesir adl keputusan yang salah. Benturan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dlm proses terjadinya gol Ziko pada menit ke-67 merupakan kontak fisik yang wajar dan seharusnya dinilai seperti itu, alih-alih dianggap sbg sebuah pelanggaran. ✅Insiden itu juga terjadi hampir 100 yard (sekitar 91 meter) dari gawang, dan Argentina punya setiap kesempatan untuk merapatkan barisan dan bertahan, tidak heran jika Mesir merasa dirugikan karena gol tersebut akhirnya dianulir setelah peninjauan VAR. ✅Jika kita melihat insiden tersebut, memang ada sedikit kontak, baik kaki-ke-kaki maupun tarikan baju sekilas, tetapi tidak ada pelanggaran yang cukup berat di sini hingga layak membuat VAR mengintervensi untuk membatalkan gol. (GAMBAR 1) ✅Bagi Scott, ini adalah intervensi yg sangat mencengangkan dan bentuk penyalahgunaan wewenang yang masif dari tugas VAR. Seharusnya, VAR hanya mengoreksi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious errors). ✅VAR secara rutin memeriksa fase serangan sebelum terjadinya setiap gol dan dalam kasus ini, peninjauan akan ditarik mundur hingga momen perebutan bola (turnover of possession). ✅Agar sebuah gol dapat dibatalkan, harus ada pelanggaran yang jelas, dan hal itu tidak ada di sini. Sebagai aturan umum yang praktis, semakin lama waktu dan semakin jauh jarak antara sebuah benturan dengan terjadinya gol, maka dugaan pelanggaran tersebut harus semakin serius. Namun, tidak ada pelanggaran yang berarti di sini, dan tidak ada hal yang mendekati ambang batas bagi VAR untuk ikut campur. ✅Dengan logika yang sama, klaim penalti Mesir atas dugaan pelanggaran terhadap Mohamed Salah sesaat sebelum gol kemenangan Argentina, sudah tepat untuk diabaikan. Ada sedikit kontak kecil pada sepatunya, tetapi tidak cukup kuat untuk membuat Salah terjatuh. Itu bukan sebuah pelanggaran.





Many people don’t know this, but the crossed-arms “X” signal is FIFA’s universal gesture for reporting racist abuse. When a player, coach, or team official makes that signal, they’re informing the referee that racist abuse has occurred. It is meant to trigger FIFA’s three-step anti-racism protocol: first stop the match, then suspend it if the abuse continues, and ultimately abandon the match if it doesn’t stop. Today, Egypt manager Hossam Hassan made the “X” gesture from the touchline. Instead of initiating the protocol, the referee booked Hassan with a yellow card and allowed play to continue.






This might be the best Cristiano Ronaldo edit I’ve seen in a while.






You aren't Asian. You're American As an Asian from Asia, I have the authority to tell you that Asians have always eaten rice with their hands




Retreat itu pemborosan. Tempatnya di Akmil, militeristik. Boros, gak sesuai program efisiensi presiden. Militeristik, gak sesuai semangat Reformasi. Instruksi ini dah bener. Setuju.


Membuat text tanpa memberikan konteks yang benar di dalam textnya bahkan lebih berbahaya dari orang yg membaca buruk , mengapa? Karena salah satu pintu masuk adu domba adalah membuat text dengan mengabaikan konteksnya, apalagi jika dibuat dengan sebuah pretensi

Apapun namanya, ayo suarakan agar itu dihentikan. Berhenti mengutuk siapapun.

Rekaman video CCTV tabrakan di Mloko Sleman sore tadi


Pep Guardiola has become the quickest manager to reach 200 Premier League wins. He did it in 53 fewer games than Sir Alex Ferguson 🤯


