
Badranaya.
12.9K posts

Badranaya.
@TLedenk
BHINEKA TUNGGAL IKA🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨. NGAPAK


















Posisi utang pemerintah sudah nyaris mendekati Rp 10.000 triliun. Hingga 31 Maret 2026, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat total utang pemerintah mencapai Rp 9.920,42 triliun dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,75 persen. Jumlah tersebut terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 8.652,89 triliun dan pinjaman Rp 1.267,52 triliun. Pemerintah menyebut komposisi utang mayoritas berupa instrumen SBN yang mencapai 87,22 persen serta masih berada di bawah batas maksimal rasio utang 60 persen terhadap PDB sesuai UU No.1/2003 tentang Keuangan Negara. Di tengah tekanan pasar obligasi dan tren kenaikan yield sejak awal tahun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyebut akan meluncurkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara 📸: Dok. Shutterstock. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: bisnisupdate | update | bisnis | oneliner | R205 | R029 | E036 #bicarafaktalewatberita #kumparan

Posisi utang pemerintah sudah nyaris mendekati Rp 10.000 triliun. Hingga 31 Maret 2026, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat total utang pemerintah mencapai Rp 9.920,42 triliun dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 40,75 persen. Jumlah tersebut terdiri dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 8.652,89 triliun dan pinjaman Rp 1.267,52 triliun. Pemerintah menyebut komposisi utang mayoritas berupa instrumen SBN yang mencapai 87,22 persen serta masih berada di bawah batas maksimal rasio utang 60 persen terhadap PDB sesuai UU No.1/2003 tentang Keuangan Negara. Di tengah tekanan pasar obligasi dan tren kenaikan yield sejak awal tahun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyebut akan meluncurkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara 📸: Dok. Shutterstock. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: bisnisupdate | update | bisnis | oneliner | R205 | R029 | E036 #bicarafaktalewatberita #kumparan



Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan. Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura. Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN. Naik Singapore Airlines. Penerbangan komersial biasa. Turun dari garbarata seperti penumpang biasa. Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal. Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan. Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung dan segala kebutuhan rombongan. Konteksnya yang membuat ini makin menohok: Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia. Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun. Jadi analoginya begini: ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya. Terus ada acara arisan di kompleks. Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer. Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer. Itu bukan gaya hidup orang kaya. Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya. Dan bedanya sangat jauh. Yang paling ironis: Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan. Masih banyak bagian yang diimpor. Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia. Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun. Dan yang paling menyakitkan: Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya. Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi. Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial, sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan. Kesederhanaan bukan tanda kelemahan. Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial. Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan. Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri. Bangsa yang benar-benar besar tidak perlu selalu terlihat besar. Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.















