Tatie M Sahea

2.6K posts

Tatie M Sahea banner
Tatie M Sahea

Tatie M Sahea

@TatiSahea

Pemerhati banyak hal 😁🙏🏻🌹asal jangan jadi rempong n gosiper 😁😁🙏🏻🙏🏻

under the sky Katılım Temmuz 2023
849 Takip Edilen391 Takipçiler
Tatie M Sahea retweetledi
🎶𝗖𝗹𝗮𝘀𝘀𝗶𝗰𝗮𝗹 𝗠𝗲𝗹𝗼𝗱𝗶𝗲𝘀 ✨
🌟 Andrea Bocelli – “Ave Maria” | Live from Duomo di Milano Experience the breathtaking beauty of Andrea Bocelli performing “Ave Maria” in the iconic Duomo di Milano. This timeless piece, paired with Bocelli’s legendary tenor voice, fills the cathedral with heavenly warmth, reverence, and emotion.
English
13
388
1.4K
37.8K
¥@N'$
¥@N'$@yaniarsim·
Bocil @gibran_tweet ada aja gebrakannya 😂😂 Kenapa gak disalib sekalian sih.
Indonesia
210
195
640
36K
Margaret Morgenstern
Margaret Morgenstern@MadameSuga·
Ladies and gentlemen: Citra Scholastika membawakan Mazmur saat ibadah Vigili Malam Paskah di Katedral Jakarta! *IG @.citrascholastika*
Indonesia
13
112
676
11.9K
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
@GunRomli @Jhon47088223421 yaaah ngomong apa aje dech, your time has passed 😁✌🏻 no point return n nda perlu buat rakyat makin gaduh jg
Indonesia
0
0
2
1.3K
Mohamad Guntur Romli
Mohamad Guntur Romli@GunRomli·
Terima kasih Bung Noel atas peringatannya... ---- Sampaikan ke Bu Mega dan Mas Hasto, Kader-kader PDIP sedang diburu anjing-anjing liar -Immanuel Ebenezer (Noel)
Indonesia
85
168
725
59.9K
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
semoga Pak Presiden @prabowo bisa mencontoh singapore dlm mensejahterahkan rakyatnya
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, Leon Hartono baru balik dari Singapura dan dia nemuin satu hal yang bikin dia mikir keras. Rata-rata orang Singapura punya kekayaan Rp7,5 miliar. Jadi kata dia Pemerintah Singapur tuh Paksa Rakyatnya Jadi Miliarder Bukan orang kaya. Bukan CEO. Bukan entrepreneur. Orang rata-rata. Profesional biasa. Manajer. Pegawai kantoran. Mediannya? Rp1,9 miliar. Buat konteks Indonesia kita sekitar 25 sampai 30 kali lebih rendah dari angka itu. Dan yang lebih menyakitkan gap ini makin lebar dari tahun ke tahun. Di 1970 GDP per kapita Singapura cuma 11 kali lipat lebih besar dari kita. Sekarang udah 18 kali lipat. Artinya mereka tumbuh lebih cepat dari kita bukan cuma lebih kaya tapi makin jauh meninggalkan kita. Dan rahasianya bukan cuma soal korupsi rendah atau negara kecil. Ada satu program yang jarang dibahas tapi ini yang beneran jadi mesin kekayaan massal di Singapura. Namanya HDB Housing Development Board. Kalau lo pikir ini cuma rusun untuk orang miskin lo salah total. HDB itu bukan program perumahan. Ini program distribusi kekayaan. Begini cara kerjanya. Orang Singapura bisa beli apartemen HDB dengan diskon 50 sampai 60% dari harga pasar. Rumah yang harusnya lu bayar Rp1 miliar lo cuma bayar Rp400 sampai Rp500 juta. Dengan bunga fixed 2,6% selama 25 tahun. Bukan floating rate yang bisa naik kapan aja. Fixed. Dua koma enam persen. Dua puluh lima tahun. Di Indonesia bunga KPR kita berapa? 10% ke atas. Floating. Seringkali yield sewa properti kita pun cuma 2-3% jauh di bawah bunga pinjamannya. Jadi properti di Indonesia secara matematis nggak bisa bayar dirinya sendiri. Di Singapura? Properti yang cicilan bulanannya sekitar Rp14 juta bisa disewain Rp40-50 juta sebulan. Propertinya bayar dirinya sendiri dan masih ada sisa. Dan ini contoh nyata yang Leon kasih: Teman SD-nya beli apartemen HDB 60 m² di tahun 2016 seharga 350.000 dolar Singapura. Bayar dulu cuma 5%. Empat tahun nunggu sambil kuliah dan awal karir. Serah terima 2020. Baru mulai nyicil. Sekarang 2026 apartemennya dijual di harga 850.000 dolar Singapura. Capital gain: 500.000 dolar. Sekitar Rp5,5 miliar. Dan dia baru nyicil 6 tahun dari 25 tahun. Artinya dia baru bayar sekitar 120.000 dolar tapi udah dapat keuntungan lebih dari 4 kali lipat modal yang dia keluarkan. Lu baru bayar sedikit, dalam waktu singkat lu udah dapat 45X upside. Sistem ini dirancang buat semua fase hidup. Waktu muda beli yang kecil. Keluarga berkembang jual, beli yang lebih besar, tetap dapat harga subsidi. Per keluarga bisa dua kali. Setiap kali jual, dapat capital gain. Setiap kali beli, tetap dapat diskon. Dan kalau mereka udah tinggal sama orang tua HDB-nya disewain. Uang sewanya jauh lebih besar dari cicilan. Passive income masuk, cicilan lunas, masih ada sisa. Lihat datanya dan ini yang paling nyesek: Untuk 20% warga Singapura paling bawah secara pendapatan 93% kekayaan mereka berasal dari HDB dan CPF yang adalah program pemerintah. Bukan dari kerja keras ekstra. Bukan dari investasi saham pintar. Tapi dari program yang pemerintah design khusus supaya rakyatnya kaya. Dan semakin lo naik ke bracket pendapatan yang lebih tinggi porsi HDB dan CPF makin kecil karena mereka udah bisa bikin kekayaan sendiri. Tapi buat yang di bawah pemerintah hadir dan bikin mereka naik kelas. Sekarang balik ke Indonesia. Dan ini yang bikin gue nggak enak hati. Program 1 juta rumah kita fokusnya affordability supaya orang bisa beli rumah. Itu bagus. Tapi berhenti di situ. Nggak ada design untuk capital gain. Nggak ada bunga fixed jangka panjang yang masuk akal. Nggak ada sistem upgrade yang terstruktur. Nggak ada mekanisme supaya properti bisa bayar dirinya sendiri. Kita bikin program supaya orang punya rumah. Singapura bikin program supaya orang punya kekayaan. Bedanya itu yang bikin rata-rata orang Singapura jadi miliarder sementara kelas menengah Indonesia makin terjepit. Yang Leon sarankan dan ini masuk akal: Nggak harus langsung seluruh Indonesia. Mulai dari Jakarta. Mulai dari Surabaya. Bikin program perumahan terjangkau di lokasi strategis dengan skema yang dirancang bukan cuma untuk tempat tinggal tapi untuk membangun kekayaan kelas menengah. Kalau pemerintah mau hadir bukan cuma untuk yang paling miskin tapi untuk kelas menengah yang sering kali justru paling nggak dapat apa-apa ini bisa jadi titik balik. Tapi selama program perumahan kita masih didesain hanya untuk charity dan bukan untuk wealth building gap antara kita dan Singapura akan terus melebar. Dan 50 tahun lagi kita mungkin masih ngomongin hal yang sama. "Kok Singapura bisa, kita nggak bisa?"

Indonesia
0
0
0
23
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
Semoga Pak Presiden @prabowo tetap bisa mempertahankan Energy Stability di negri ini dgn harga BBM yg masih mampu dicapai oleh rakyat yg juga susah saat ini utk bertahan hidup kala seluruh harga naik akibat "war" MEA ini 🙏🏻
jamiemcintyre@jamiemcintyre21

FUEL DIVIDE: WHY INDONESIA IS THRIVING WHILE AUSTRALIA FACES SHORTAGES, RATIONING, AND PRICE SHOCK By Business Review Australia While Australians brace for fuel shortages, rising prices, and potential rationing measures, a very different story is unfolding just to our north. In Indonesia, fuel remains not only readily available, but significantly cheaper — in many cases, around half the price of Australia. No panic buying. No empty bowsers. No talk of lockdown-style restrictions tied to fuel supply. Instead, Indonesia is quietly demonstrating what energy security looks like in a shifting global order. INDONESIA: FULL TANKS, STABLE PRICES Across Indonesia, service stations continue to operate normally. Supply lines remain intact, and consumers are not experiencing disruptions. Fuel affordability is a key differentiator. •Indonesian fuel prices remain substantially lower than Australia •No widespread shortages reported •No rationing policies being discussed •No restrictions on movement tied to fuel access This stability is not accidental. It is the result of strategic geopolitical positioning, diversified relationships, and increasing alignment with emerging global power blocs THE BRICS FACTOR: A NEW ENERGY ALLIANCE Indonesia’s growing alignment with the BRICS economic bloc is proving to be a decisive advantage. With BRICS nations representing a significant share of global energy production and trade, member and aligned countries are gaining access to: •Alternative fuel supply routes •Non-Western energy markets •Strategic trade agreements outside traditional systems Critically, Indonesia has strengthened ties with major energy producers — including Iran, a key player in global oil transit routes. STRAIT OF HORMUZ: ACCESS MATTERS The Strait of Hormuz is one of the world’s most important energy chokepoints. Recent developments indicate that Indonesia has secured cooperative arrangements allowing its vessels passage through the region. In an environment where access may be restricted or influenced by geopolitical alignment, this becomes a major strategic advantage. The implication is clear: 👉 Countries with the right alliances maintain flow 👉 Others face disruption AUSTRALIA: SHORTAGES AND SYSTEM STRESS In contrast, Australia is beginning to show signs of strain. Reports indicate: •Hundreds of service stations impacted by fuel shortages •Increasing pressure on supply chains •Rising fuel costs significantly above regional competitors •Early discussions around rationing measures There are growing concerns that, if supply disruptions worsen, Australia could see: •Controlled fuel distribution •Priority access systems •Restrictions on non-essential travel In extreme scenarios, policymakers may even consider movement limitations similar to COVID-era controls, tied not to health—but to energy scarcity. THE PRICE GAP: A NATION AT A DISADVANTAGE The economic impact is immediate and compounding. Australian consumers are now facing: •Fuel prices double those seen in Indonesia •Increased cost of living across transport, food, and logistics •Greater vulnerability to global supply shocks Meanwhile, Indonesia’s lower energy costs provide a powerful competitive advantage: •Cheaper goods movement •Lower operational costs •Stronger tourism recovery potential A TALE OF TWO STRATEGIES What we are witnessing is not just a fuel story. It is a strategy story. Indonesia has positioned itself within a multi-polar energy network, ensuring access, affordability, and stability. Australia, by contrast, remains heavily exposed to: •Traditional supply chains •External geopolitical pressures •Limited domestic refining capacity THE BIGGER QUESTION As global alliances shift and energy becomes an increasingly strategic asset, the divide between nations that adapt—and those that don’t—is becoming impossible to ignore. One nation is securing its future. One hasn’t .

Indonesia
0
0
0
59
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
ini cukup bagus utk dicoba kan Pak Presiden @prabowo ? ide spt ini Demi Rakyat, kenapa tidak dicobakan?
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, Raymond Chin baru ngebahas sesuatu yang menurut gue harusnya diajarkan di sekolah tapi nggak pernah ada di kurikulum manapun. Dan setelah gue dengerin gue ngerti kenapa. Problem paling gede Indonesia yang bikin dia nggak bisa jadi negara maju bukan sumber daya alam. Bukan SDM. Tapi sistem. Di Indonesia ada istilah Sembilan Naga segelintir konglomerat yang menguasai sebagian besar ekonomi nasional. Bukan rahasia. Bukan teori konspirasi. Ini fakta yang bisa lo trace dari struktur kepemilikan bisnis di Indonesia. Tapi yang menarik dari analisa Raymond dia bilang ini bukan salah naga-naganya. Ini salah pemimpinnya. Dan itu yang bikin gue diem sebentar. Karena ini counter-intuitive. Korea Selatan vs Indonesia bedanya di mana? Korea Selatan juga punya konglomerat yang mendominasi ekonomi namanya chaebol. Samsung, LG, Hyundai, SK Group. Mereka kontribusi sekitar 60% dari GDP Korea. Mirip sama Indonesia kan? Tapi bedanya satu hal yang fundamental Di Korea, pemerintah mengarahkan chaebol ke sektor-sektor strategis yang bikin negara maju. Samsung masuk elektronik. Hyundai masuk otomotif. SK Group masuk high-tech manufacturing. Mereka didesain untuk bersaing di level global dan membawa teknologi masuk ke Korea. Di Indonesia? Konglomerat kita banyak bergerak di sektor yang justru harusnya dikontrol negara air, pangan, energi, real estate. Sektor yang kalau dikuasai swasta, rakyat biasa yang paling kena dampaknya. Dan ini yang bikin investasi asing ogah masuk ke Indonesia. FDI Indonesia cuma 1,9% dari GDP. Vietnam sudah 4,4%. Singapura? 30% dari GDP. Dan Raymond kasih tahu kenapa Investor asing butuh satu hal sebelum taruh triliunan rupiah di suatu negara kepastian. Kepastian hukum. Kepastian regulasi. Kepastian bahwa aturan yang berlaku hari ini masih berlaku tahun depan dan nggak tiba-tiba berubah karena ada kepentingan politik atau konglomerat tertentu. Dan di Indonesia kepastian itu susah banget dijaga. Singapore is a Nation of Law. Indonesia is a Nation of Lawyers. Quote dari Gita Wiryawan yang kata Raymond nempel banget. Dan gue rasa lo ngerti maksudnya. Kenapa sistem ini bisa terbentuk? Raymond tarik akar masalahnya jauh ke belakang ke zaman kolonial Belanda. Selama 300 tahun dijajah, kita nggak cuma dikeruk sumber dayanya. Kita juga diajarin satu culture yang berbahaya korupsi, nepotisme, dan budaya menjilat yang berkuasa bukan untuk cari cuan, tapi untuk bertahan hidup. Dan etnis Tionghoa yang waktu itu diposisikan sebagai middleman minority selalu kena diskriminasi, keamanannya terancam akhirnya membangun hubungan dengan penguasa lewat suap sebagai mekanisme survival. Hubungan inilah yang jadi fondasi kapitalisme kroni Indonesia sampai sekarang. Kapitalisme kroni itu bukan otomatis buruk. Raymond tegas di sini kapitalisme kroni itu bisa bagus kalau pemimpinnya benar. Di Korea, chaebol diarahkan untuk kemajuan negara. Inovasi. Teknologi. Ekspor. Bersaing global. Di Indonesia, konglomerat diarahkan untuk... kepentingan pribadi dan kelompok. Dan itu snowball effect-nya bisa terasa 100 sampai 1000 tahun ke depan. Solusinya? Raymond sebut satu konsep yang Indonesia pernah coba tapi kemudian mundur. Kabinet Zaken. Konsepnya simpel tapi revolusioner dalam konteks Indonesia kabinet yang diisi berdasarkan profesionalitas dan keahlian, bukan berdasarkan hutang budi politik atau titipan partai. Pemimpin yang kuat. Meritokrasi. Anti-korupsi yang beneran tegas. Bukan yang kampanye anti-korupsi tapi tetap tebar jabatan ke kroni. Kalau ini diterapkan stabilitas hukum terjaga, investasi asing masuk, lapangan kerja terbuka, SDM naik level, korupsi berkurang. Dan Indonesia yang diprediksi masuk top 5 ekonomi dunia di 2050 bukan cuma mimpi tapi bisa jadi kenyataan lebih cepat dari yang kita kira. Tapi ini yang paling bikin gue mikir dari semua yang Raymond bilang: Sebagai warga negara Indonesia, kita berhak untuk menagih pemimpin yang kuat untuk bantu membawa kita ke kesejahteraan. Bukan nunggu. Bukan pasrah. Tapi menagih.

Indonesia
0
0
0
16
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
@ardisatriawan pernah merasakan jd dosen tidak tetap dr profesional dan tdk mengambil gaji nya krn beneran nda tega, akhirnya diberikan ke semua tenaga admin utk jajan bulanan, dpt lumayan saat periksa ujian, heran kalau rektor dan dosen bisa hidup luar biasa sejahtera
Indonesia
0
1
2
1.2K
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
"Selamat Mutia, udah lulus S2!" "Terima kasih Prof. Harjo!" "Kamu jadi mau jadi dosen kan? Saya bisa tulis rekomendasi." "Ya Pak." *** "Mbak Admin, ini surat rekomendasi dari Prof. Harjo sama surat lamaran saya" "Baik Bu Mutia, saya terima." "Terus ini gimana Bu?" "Bu Mutia dikontrak jadi dosen tidak tetap di sini dulu sampai bukaan CPNS." "Bayarannya?" "Per SKS Bu. Honorarium, bukan gaji. Sekitar 75 ribu per pertemuan." "Baik Mbak." *** "Bu Mutia, ini jadwal ngajarnya. Total kuliah 9 SKS ya Bu." "Kalau sebulan berarti empat pertemuan?" "Iya Bu." "Berarti saya dapat 2.7 juta Mbak?" "Iya Bu" "UMR kota ini aja 4.8 juta?" "Iya Bu. Memang aturannya gitu." "..." *** "Prof. Harjo, ini emang dosen awal karir bayarannya cuma segini?" "Iya. Saya dulu juga gitu." "Terus Prof dulu gimana?" "Saya ngajar di kampus-kampus tetangga dulu waktu masih muda. Dari dulu aturannya gitu." "Legal di bawah UMR? Gak ada yang protes Prof?" "Kemarin sih di berita ada yang gugat ke MK Bu." "..." *** "Mbak Admin, ini emang belum ada bukaan CPNS?" "Belum Bu." "Sampai kapan?" "Gak tau, kata pemerintah lagi moratorium." "Terus saya harus nunggu gak ada kepastian?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada bukaan CPNS, segera daftar ya Bu." "Baik Mbak Admin, apa yang perlu saya siapkan?" "Ibu belajar tes SKD sama SKB." "Lah ini kan udah waktu saya lamar jadi dosen tidak tetap?" "Iya, lagi Bu." "Hah? Kalau misal saya amit-amit gak lulus atau ada orang luar kampus yang lolos gimana?" "Ibu nunggu bukaan CPNS lagi yang berikutnya." "Hah? Itu pun belum tentu ada?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, ini pengumuman CPNS belum ada?" "Belum Bu." "Lah katanya Maret?" "Kata berita kemarin Menpan RB bilang ditunda." "Sampai kapan?" "Oktober Bu." "Enam bulan? Emang biasa ya ditunda kaya gitu?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat." "Saya baca dulu" "..." "Alhamdulillah. Lolos CPNS." "Selamat ya Bu." "Cuma ini emang selama satu tahun saya cuma nerima 80% gaji pokok?" "Iya Bu. Setahun pertama CPNS. Nanti PNS abis itu." "Cuma 2.2 jutaan? Masih di bawah UMR sini? Malah mending honorer ngajar 9 SKS?" "Memang aturannya begitu. Ibu kan masuknya S2, jadi IIIB. Sekitar segitu." "Ini gak melanggar undang-undang ketenagakerjaan?" "Nggak Bu. Ibu kan CPNS. Dosen juga. Beda aturan. Memang begitu Bu." "..." *** "Mbak Admin, ini gimana caranya nambah take home pay? Gila aja segini terus" "Ibu harus punya jabatan fungsional Bu. Asisten Ahli. Biar dapat tunjangan profesi." "Bisa langsung apply?" "Harus udah PNS Bu. CPNS belum bisa." "Jadi harus nunggu setahun dulu?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu. Dari dulu juga begitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat. Selamat Bu udah jadi PNS dosen." "Alhamdulillah. Jadi saya dapet tambahan 20%, dari tadinya 80% jadi utuh?" "Iya Bu. Jadi sekitar 2.9 jutaan." "Gak ada tambahan apa-apa? Bukannya PNS di tempat lain ada Tukin?" "Gak ada Bu. Itu kan yang pegawai di kementerian sama PTN Satker sama BLU." "Kok gitu? Bedanya apa?" "Ibu kan PNS dosen di sini, PTN-BH. Kata Sekjen Dikti di berita kemarin 'Tukin itu untuk pegawai, bukan dosen'" "Jadi huruf 'P' di status saya PNS itu bukan 'Pegawai'?" "Kata pemerintah gitu Bu. Memang aturannya begitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, saya bisa langsung mengajukan jabfung Asisten Ahli tahun ini?" "Bisa Bu. Ini syaratnya." "BKD memenuhi 12 SKS per semester selama 2 tahun berturut-turut?" "Iya Bu." "Lah, penugasan saya kemarin-kemarin aja pas honorer 9 SKS? Gak memenuhi?" "Iya Bu. Memang begitu." "Berarti yang keitung baru yang pas CPNS 12 SKS? Cuma setahun?" "Iya Bu. Dari dulu juga gitu." "Terus gimana?" "Tahun depan Bu. Setelah genap 12 SKS 2 tahun berturut-turut." "..." *** "Mbak Admin, ini berkas saya buat Asisten Ahli." "Baik Bu, saya cek sebentar." "..." "Berkasnya lengkap Bu, saya ajukan ya." "SK Keluarnya kapan?" "Enam bulan sampai setahun Bu." "Nunggu lagi? Tetep dengan take home pay yang sama?" "Iya Bu. Memang gitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Keuangan, saya mau tanya" "Gimana Bu?" "Ini kan saya baru jadi Asisten Ahli. Ada tunjangan jabfung?" "Ada Bu. 375 ribu." "Hah? 375 ribu?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu. Sejak 2007." "Udah mau dua puluh tahun lewat?" "Iya Bu." "..." *** "Prof. Harjo, ada tips lagi gak buat nambah take home pay?" "Udah Asisten Ahli Bu?" "Sudah." "Udah apply sertifikasi belum?" "Belum." "Nah cobain. Sekali gaji pokok itu lumayan." "Baik Pak." *** "Mbak Admin, saya mau apply sertifikasi." "Lengkapi berkasnya Bu. Sekarang yang penting tuh Pekerti atau Applied Approach." "Semacam training sama pelatihan gitu ya?" "Iya Bu. Sekitar seminggu trainingnya. Bayar 1-3 juta." "Ada reimburse dari kampus?" "Gak ada Bu. Bayar sendiri." "Hah? Kan ini buat kepentingan profesional kan ya?" "Diitungnya pendidikan untuk pengembangan diri Bu. Bukan bagian profesionalisme." "Hah?" "Memang begitu Bu. Dari dulu juga gitu. Bahkan dulu ada TPA sama TOEFL bayar sendiri juga sebelum dihapus." "..." *** "Mbak, ini jadwal Pekerti yang deket adanya di luar kota." "Iya Bu." "Transport sama nginep saya bayar sendiri?" "Iya Bu. Memang gitu. Atau kalau enggak nunggu ada di kampus kita." "Kapan Mbak?" "Tahun depan." "..." *** "Mbak Admin, ini berkas sertifikasi saya." "Baik Bu. Sudah lengkap. Saya nanti submit waktu udah jadwalnya." "Udah jadwalnya? Gak bisa tiap waktu?" "Nggak Bu. Setahun dua kali doang. Yang kemarin udah lewat." "Terus gimana?" "Saya submit nanti sesi kedua tahun ini, enam bulan lagi." "..." *** "Bu Mutia, ini SK serdosnya sudah keluar." "Alhamdulillah, akhirnya. Memang selama itu Mbak?" "Iya Bu. Setahun biasanya." "Jadi saya langsung terima tunjangan profesi?" "Biasanya ada delay 1-2 bulan Bu." "Nunggu lagi?" "Iya Bu. Memang begitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Gimana Mut Sertifikasinya?" "Alhamdulillah Prof Harjo, akhirnya THP saya di atas UMR." "Iya, mesti punya jabfung sama AA dulu, baru gitu." "Iya Pak, ordenya tahunan." "Saya dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, saya mau apply jadi Lektor." "Udah berapa lama jadi AA Bu?" "Dua tahun seinget saya." "Nah, udah bisa berarti. Udah ada publikasi ilmiah Bu?" "Belum Mbak." "Mesti ada." "Hah? Risetnya? Biaya penelitiannya? Mencit? Reagen? Bahan Kimia?" "Wah, itu saya kurang tahu. Coba tanya senior Bu." "..." *** "Prof. Harjo, saya perlu naik jadi Lektor." "Wah mantab. Bagus Bu." "Nah tapi perlu paper buat itu." "Iya Bu. Memang gitu. Saya dulu juga gitu." "Risetnya? Biaya penelitiannya? Mencit? Reagen? Bahan Kimia? APC jurnalnya?" "Saya dulu bayar sendiri semua itu Bu." "Hah? Gak ada alternatif Prof?" "Coba ke Lembaga Penelitian Kampus cari Hibah pemula." "..." *** "Mbak Admin Lembaga Penelitian Kampus, ada hibah buat dosen muda untuk riset pemula? Saya perlu paper." "Ada Bu. Coba dibaca-baca" "Ini memang semua syaratnya Lektor? Bahkan buat pemula?" "Iya Bu. Rata-rata perlu sudah Doktor dan sudah Lektor." "Jadi untuk jadi Lektor saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya harus jadi Lektor?" "Iya Bu. Memang begitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Prof. Harjo, saya pinjam ruangan lab basah ya selama setahun ke depan." "Dapat hibah Mut akhirnya?" "Nggak ada Prof. Untuk jadi Lektor saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya harus jadi Lektor." "Terus gimana?" "Bayar sendiri." "Semangat Mut. Saya dulu juga gitu." "..." *** "Mbak Admin, ini berkas saya buat Lektor." "Baik Bu, saya cek sebentar." "..." "Berkasnya lengkap Bu, saya ajukan ya." "SK Keluarnya kapan?" "Enam bulan sampai setahun Bu." "Nunggu lagi? Tetep dengan take home pay yang sama?" "Iya Bu. Memang gitu. Dari dulu juga gitu." "..." *** "Bu Mutia, ini SK Lektornya sudah keluar." "Alhamdulillah, akhirnya. "Selamat ya Bu." "Memang selama itu Mbak?" "Iya Bu. Enam bulan sampai setahun biasanya. Memang biasanya begitu." "..." *** "Mbak Keuangan, saya mau tanya" "Gimana Bu?" "Ini kan saya baru jadi Lektor. Tunjangan jabfungnya nambah?" "Iya Bu. Pas Asisten Ahli 375 ribu, kalau Lektor 700 ribu." "Hah? 700 ribu?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu. Sejak 2007." "Udah mau dua puluh tahun lewat?" "Iya Bu." "..." *** "Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan." "Ada apa ya Mbak Admin?" "Ada yang mau diobrolin katanya." "Jam berapa mbak?" "Jam 1, habis makan siang." *** "Ada apa Pak Dekan?" "Bu Mutia kan udah lama jadi dosen di sini kan ya?" "Iya Pak." "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?" "Iya Pak." "Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3." "Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua." "Nanti karir Bu Mutia stuck di situ." "Oh gitu, oke Pak." *** "Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?" "Kok gak ke luar negeri aja Bu?" "Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA." "Wah udah gede." "Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet." "Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi." *** "Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian." "Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?" "Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan." "Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?" "Iya Bu, memang aturannya begitu." "..." *** "Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?" "Memang aturannya begitu Bu." "Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "..." *** "Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?" "Sekitar 15 juta per semester Bu." "Wah, saya gak kuat harus bayar segitu." "Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI." "Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?" "Iya Bu." "Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?" "Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga begitu." "..." *** "Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?" "Bisa Bu Mutia, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu." "Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?" "Bu Mutia harus biayain penelitian sendiri." "Maksudnya?" "Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu." "Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?" "Iya Bu." "Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?" "Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari lembaga beasiswa yang di-apply kemarin." "Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?" "Iya Bu, ini ada suratnya dari LPDP sama BPI. Dibuka aja Bu." "..." "Kenapa Bu, kok sedih?" "Dua-duanya nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen." "Waduh, jadi gimana Bu?" "Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi." "..." *** "Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMK pula." "Bentar saya cek ya Bu Mutia." "Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya." "Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?" "Iya Mbak." "Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS." "Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?" "Memang aturannya begitu Bu." "..." *** "Halo Pak TU Kampus jurusan sebelah? Ini kok anak saya dapat UKT maksimum?" "Iya Bu, kan Ibu PNS." "Gak bisa daftar KIPK gitu?" "PNS gak bisa Bu. Pejabat dikbud bilang gitu kemarin." "Tapi gaji saya tinggal gaji pokok doang karena Tugas Belajar. Jadi di bawah UMK." "Wah, saya gak bisa bantu Bu. Memang aturannya begitu." "..." *** "Prof. Harjo, Alhamdulillah ini paper penelitian kita accepted di jurnal Q1." "Alhamdulillah. Ya udah, urus administrasinya ya." "Saya harus bayar APC Prof." "Berapa?" "USD 3000 Prof. Open Access berbayar. Kalau gak gitu, nunggu review aja bisa 1.5 tahun." "Waduh, hibah penelitian kita cuma sanggup bayar 10% dari itu." "Sisanya gimana?" "Kamu bayar sendiri." "Hah?" "Memang begitu. Saya dulu juga gitu" "..." *** "Prof. Harjo, biar saya lulus, saya butuh berapa paper jurnal Q1?" "Perlu empat Bu Mutia. Baru satu yang kemarin kan ya?" "Iya Prof." "Berarti yang tiga lagi sama kaya kemarin lagi? Biaya penelitian dan APC jurnal dari saya semua?" "Iya, terpaksa begitu, kita lagi krisis funding." "..." *** "Selamat ya Bu Mutia, sudah berhasil defense." "Terima kasih atas bimbingannya selama ini Prof. Harjo." "Saya minta maaf gak bisa bantu banyak ya Bu Mutia." "..." *** "Pak Dekan, saya mau resign." "Hah, kan baru lulus S3 Bu?" "Saya dapat offer di LN Pak, saya kelilit utang ratusan juta karena biayain penelitian, APC jurnal, kuliah anak pertama saya, sama sekolah adiknya." "Gak bisa Bu, kalau tugas belajar ada perjanjian harus mengabdi 2n+1." "Maksudnya?" "Kan Bu Mutia kemarin Tugas Belajar 4 tahun, berarti harus tetap di sini selama 9 tahun ke depan." "Hah?" *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat." "..." "Kenapa Bu?" "Kok saya dapat hukuman disiplin sedang? Kan saya lulus S3 kemarin 4 tahun? Udah perpanjang dari yang harusnya 3 tahun." "Ijazah Ibu bulan apa keluarnya?" "Oktober Mbak." "Waktu mulai S3 bulan apa?" "Agustus Mbak." "Berarti Ibu itungannya lulus 4 tahun 2 bulan Bu, lebih dari batas waktu." "Kan saya defense Juli? Sisanya cuma nunggu jadwal wisuda?" "Memang aturannya begitu Bu. Di Permendikbudnya ada Bu." "..."
Indonesia
92
242
784
84.7K
T0361M4N
T0361M4N@toe_giman·
Jadi ingat pernyataan om @pongrekundharma beberapa waktu lalu..., digiring ke listrik... Dan terjawab diwawancara Hambalang kemarin..🫣
Indonesia
93
422
988
40.8K
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
kenapa hrs dinaikkan yaah? demi rakyat yg jg susah, pemerintah seharusnya berpikir utk bisa membantu rakyat maksimal utk bisa melangsungkan kehidupan dikala global war ini, bukannya justru mau cari cuan dgn alasan Crude naik, ini force majeure, tul ?
Mohamad Guntur Romli@GunRomli

Pemerintah Sudah Naikan BBM Imbas Serangan Trump dan Netanyahu ke Iran, Minyak Dunia Naik Gila-gilaan. Prabowo satu grup bersama Trump dan Netanyahu di BoP. Pemerintah sudah naikan harga BBM sejak Maret 2026, Pertamax, Pertamax Turbo PertaDex, Dexlite. Yang belum naik tinggal Pertalite dan Bio Solar.

Indonesia
0
0
0
28
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
@rizalakbarm_ sebetulnya sah2 ajah sih jwban Pak Presiden spt itu tp yg disayangkan adalah "How" nya, disini kelihatan psychology seorg "leader" yg ternyata nda bisa poles spt apa kalau sdh spt itu, stlh itu "etika" komunikasi nya jauh dr kelas Big Impact Leader
Indonesia
0
0
0
87
A Professional Overthinker
A Professional Overthinker@rizalakbarm_·
Setelah nyoba liat full tanpa dipotong, berupaya menelaah, dan melakukan analisa sederhana, berikut beberapa hal yg gw dapetin setelah nonton; Presiden Prabowo Menjawab. - Utas
A Professional Overthinker tweet media
Indonesia
66
1.6K
4.9K
398.8K
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
@AnKiiim_ @ImRoseWhoRU @prabowo cmoooon waktu 1,5 thn itu cukup banyak, tp memang byk hal kebijakannya tdk pro rakyat tp pro militerisme krn citra yg ingin dibuat mjd negri powerful tp model nya spt kucing lg tantrum saat di kritik, jd rakyat hrs bgmana donk? nda ngaruh lah wawancaranya
Indonesia
0
0
1
378
Korban Ceklist Satu ༊ ⋆𐙚 ˚
"Moment @prabowo 'kesurupan' saat diwawancarai oleh Najwa Shihab" Wowo ini salah satu penghalang orang masuk surga, liat dia ngomong bawaannya pen banget maki² ajg 😭
Indonesia
2.1K
15.8K
55.1K
7.2M
Tatie M Sahea
Tatie M Sahea@TatiSahea·
@rizalakbarm_ @Piyusaja2 sptnya nir empathy dan tidak pena kpd rakyat yaah? sulit memang mau memperbaiki citra militernya dgn memberikan ruang sebesar2nya kpd militerisme saat ini, spt itukah kesimpulannya?
Indonesia
0
0
0
108
A Professional Overthinker
A Professional Overthinker@rizalakbarm_·
74 kali lipat lebih lucu daripada mens reanya pandji pragiwaksono 😹
Indonesia
678
9.8K
35.7K
2.3M