Uni Papua Football

10.2K posts

Uni Papua Football banner
Uni Papua Football

Uni Papua Football

@UniPapua

Komunitas Sepakbola Uni Papua

Indonesia Katılım Mayıs 2012
1.2K Takip Edilen800 Takipçiler
Uni Papua Football retweetledi
Learn Something
Learn Something@cooltechtipz·
Guide to common woodworking materials.
Learn Something tweet media
English
26
1.6K
7.8K
198.2K
Uni Papua Football retweetledi
Anatoli Kopadze
Anatoli Kopadze@AnatoliKopadze·
Godfather of AI: "If you sleep well tonight, you may not have understood this lecture." This 47-minute lecture is the best thing I saw about AI in the last few months. It will definitely help you understand how it actually works and where it's going. Geoffrey Hinton built the neural networks behind every AI alive, then quit Google to warn the world about it. The part nobody wanted to hear: > AI is already developing abilities its creators didn't intend > in most cognitive tasks it's already ahead of us > the question is no longer if it surpasses us but when > the only decision left is which side of that line you're on Right now the average person opens Claude, types something, gets an answer, closes the tab. They think they're using AI. they're using maybe 10% of it. I went through his entire lecture, built a practical system from what he was describing. 18 steps to actually use Claude the right way, with copy-paste prompts that work today. Full guide in the post below.
Anatoli Kopadze@AnatoliKopadze

x.com/i/article/2053…

English
143
1.8K
8.6K
1.6M
Uni Papua Football retweetledi
KNOWLEDGE POST
KNOWLEDGE POST@knowledgepost0·
Antibiotics and their uses.
KNOWLEDGE POST tweet media
English
4
544
2K
100K
Uni Papua Football retweetledi
Dr. Biohacker
Dr. Biohacker@Dr_Biohacker·
Hair on your toes: a sign about your cardiovascular health. It may seem like an insignificant detail, but clinically it reveals crucial information about how your body is functioning inside. If you don't have hair on your feet, this is what your body is warning yo
Dr. Biohacker tweet mediaDr. Biohacker tweet media
English
400
3.6K
25.4K
12.9M
Uni Papua Football retweetledi
World of Science
World of Science@Science_TechTV·
Two brain cells are sensing each other. And trying to connect:
English
134
509
4K
375.1K
Uni Papua Football retweetledi
KNOWLEDGE POST
KNOWLEDGE POST@knowledgepost0·
KNOWLEDGE POST tweet media
ZXX
6
375
1.5K
50.8K
Uni Papua Football retweetledi
RASTAFARIAN
RASTAFARIAN@chapterlegacy_·
Fantastic Bird I have Never Seen Before 😱🌿🐦
English
388
2.4K
8.8K
530.8K
Uni Papua Football retweetledi
Massimo
Massimo@Rainmaker1973·
A simple exercise that promises to give relief from sciatica and varicose veins.
English
16
289
1.8K
152.3K
Uni Papua Football retweetledi
Cosmos Archive
Cosmos Archive@cosmosarcive·
This is water freezing, one molecule at a time. On the right, liquid water is in constant motion, with molecules tumbling around as hydrogen bonds break and reform millions of times every second. On the left, ice forms. The same molecules slow down and lock into a hexagonal structure, leaving tiny empty spaces inside. That’s why ice floats, a solid being less dense than the liquid it came from. Nothing magical is happening here, just a quiet shift from chaos to order. As temperature drops, energy falls, and the lattice wins.
English
14
154
657
32.6K
Uni Papua Football retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Tau gak kalian kalau penyakit jantung akhir-akhir ini banyak ditemukan di usia muda? Kalian perlu tau bahwa rata-rata usia diagnosis pertama penyakit jantung di Indonesia makin muda, dari 48,5 tahun pada 2013 menjadi 43,2 tahun pada 2023. Ini jelas bukan tren yang wajar, karena artinya lebih banyak orang berusia muda yang terkena serangan jantung. Lebih dari 60 persen pasien yang mengalami serangan jantung pada usia muda memiliki faktor risiko keluarga. Artinya kalau ada anggota keluarga laki-laki yang kena serangan jantung sebelum usia 45 tahun, atau perempuan sebelum 55 tahun, maka risikonya secara signifikan lebih tinggi. Kenapa peningkatan angka serangan jantung pada usia muda bisa terjadi? Peningkatan angka tersebut berasosiasi dengan prevalensi obesitas, darah tinggi, kebiasaan merokok, diabetes, dan kolesterol tinggi di kalangan usia muda. Sebenarnya faktor-faktor ini dapat dikendalikan loh. Kombinasi kecanggihan teknologi dan kehidupan perkotaan cenderung memicu kebiasaan malas gerak juga dan ini persis kehidupan yang kita normalisasi setiap hari. Pesan delivery, WFH tanpa gerak, begadang scroll TikTok, makan ultraprocessed food karena praktis. Nah jantung kita deh yang menanggung akumulasi pilihan-pilihan ini diam-diam, selama bertahun-tahun. Kalau kalian masih muda dan merasa “ah, jantung itu penyakit orang tua”, maka saatnya merubah persepsi tersebut karena data bilang sebaliknya. Saatnya cek tekanan darah, gula darah, kolesterol. Sekalian juga perbaiki gaya hidup. Semoga bermanfaat.
dr. Adam Prabata tweet media
Indonesia
9
231
679
31K
Uni Papua Football retweetledi
Dreams N Science
Dreams N Science@dreamsNscience·
🚨 Virus vs Bacteria — The difference everyone should know! 🦠🔬 Most people mix them up, but they’re NOTHING alike: • One is a living cell that can survive on its own • The other is a tiny parasite that hijacks your cells 👉 Watch till the end — it’s mind-blowing how different they are! Drop a 🔥 if this cleared things up for you! 🎥 @dreamsNscience
English
4
46
125
4.1K
Uni Papua Football retweetledi
Massimo
Massimo@Rainmaker1973·
How cell membranes keep you alive [🎞️ thebrainmaze]
English
8
98
331
23.9K
Uni Papua Football retweetledi
The Astronomy Guy
The Astronomy Guy@astrooalert·
Behold Nature’s Own Rainbow Canvas! This Stunning Iridescent Cloud arches across the sky, its pink, blue and gold hues shimmering like a rainbow made of light itself. It’s formed when sunlight shines through a thin layer of water droplets or ice crystals in the cloud, causing diffraction and interference that split the light into a spectrum of colors—think of it as a natural prism in the sky. The perfect angle with the sun behind you and a delicate cloud layer creates this magical effect, turning ordinary clouds into a dazzling display. 🌤️💖
The Astronomy Guy tweet media
English
36
454
2.1K
30.9K
Uni Papua Football retweetledi
Hope
Hope@hope_emak·
Sidik Jari, Bukti Kecil yang Sulit Dihilangkan‼️ Bukan hanya anak sekolah saja yg baru tahu kalau sidik jari ternyata bukan cuma garis di kulit luar. Polanya sudah terbentuk sejak masih di dalam kandungan dan berasal dari lapisan kulit yang lebih dalam. Makanya, walau kena luka atau lecet ringan, sidik jari biasanya bisa kembali seperti semula. Sulit memang mengubahnya, tapi di situlah pelajarannya: sesuatu yang sudah jadi bagian dari diri kita tidak mudah hilang begitu saja. Karena dalam hidup juga begitu sulit bukan halangan, selama terus belajar dan bertahan.
Indonesia
40
472
3K
523.1K
Uni Papua Football retweetledi
Massimo
Massimo@Rainmaker1973·
Fun fact. The human brain generates more electrical impulses per day than all the phones in the world combined.
GIF
English
107
576
2.1K
176.7K
Uni Papua Football retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada satu kalimat dari Dr. Bagus Muljadi — dosen di University of Nottingham, PhD dari National Taiwan University, peneliti di Imperial College London yang menurut gue adalah salah satu kalimat paling jujur tentang kondisi Indonesia yang pernah gue dengar. "Inkompetensi itu membunuh lebih banyak daripada kejahatan." Dan dia bukan bicara tentang kebodohan. Dia spesifik banget membedakannya. Kebodohan bisa datang dari lahir, dari keterbatasan akses, dari kondisi yang tidak dipilih. Tapi inkompetensi adalah kemalasan yang dijadikan kultur secara sengaja dan kebodohan yang dari lahir yang tidak dicerdaskan, padahal bisa. Itu dua hal yang sangat berbeda. Dan Indonesia sedang hidup dengan yang kedua. Tentang pendidikan dan ini yang paling bikin gue panas dingin: Ada data dari Kemdikbud sendiri yang menyebut bahwa kemampuan matematika guru SD di daerah-daerah bahkan bisa di bawah kemampuan siswa SMP di Jakarta. Bukan guru antar guru dibandingkan. Tapi guru dibandingkan dengan muridnya sendiri yang lebih muda. Soal pecahan konsep yang harusnya dikuasai 100% oleh seorang guru SD masih ada yang salah. Dan orang-orang inilah yang kita harapkan bisa menginspirasi generasi berikutnya untuk jadi raksasa semikonduktor, untuk menguasai hilirisasi, untuk bersaing di dunia. Bagus bilang dengan sangat lugas: kalau guru SD-nya tidak punya kapasitas itu, dan kita fokus pada hal lain selain kualitas gurunya no hope. Soal anggaran dan ini yang paling sering salah dipahami publik: Banyak orang berpikir masalah pendidikan Indonesia selesai kalau anggarannya dinaikkan. Naikkan gaji guru, bangun gedung baru, kasih smartboard, kasih Chromebook beres. Bagus punya perhitungan sederhana yang membantah logika itu. Kalau Indonesia punya 3 juta guru dan mau menggaji rata-rata Rp10 juta per bulan itu 30 triliun per bulan, atau 360 triliun per tahun. Sementara anggaran pendidikan dari 20% APBN sekitar 400 triliun. Hampir semua tersedot hanya untuk gaji, belum infrastruktur, belum pelatihan, belum yang lain-lain. Artinya: anggarannya memang tidak cukup kalau hanya dilihat dari sisi angka. Tapi yang lebih penting bahkan kalau anggarannya cukup pun, masalahnya tidak selesai. Karena guru yang berkualitas rendah dikasih gaji tinggi tidak otomatis menjadi guru yang berkualitas tinggi. Institusi yang mendidik guru juga harus dibenahi. Sistem rekrutmen guru harus berubah. Kultur mengajarnya harus revolusi. "You cannot buy yourself out of a problem." Tentang cara mengajar yang salah dan kisah paling indah dari Taiwan: Bagus punya pandangan yang sangat berbeda dari kebanyakan orang tentang apa itu pendidikan. Mayoritas orang termasuk kebanyakan dosen berpikir tugas mereka adalah memindahkan pengetahuan dari mulut guru ke kepala murid. Dicekokin. Dihafalkan. Dirumuskan. Dikerjakan. Tapi Bagus bilang pendidikan yang benar adalah memfasilitasi formasi pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di kepala murid. Tugas guru bukan memberi tahu tugas guru adalah melatih cara mengeluarkan pemahaman itu sendiri. Dan dia punya cerita yang menurut gue paling memorable dari seluruh podcast ini. Di Taiwan, ada seorang profesor yang mengajar persamaan Navier-Stokes salah satu persamaan paling kompleks dalam fisika fluida. Di tengah menulis di papan tulis tanpa slide, tanpa PowerPoint, cuma spidol dia lupa. Dia diam. Tiga sampai lima menit diam di depan kelas. Dan seluruh kelas ikut diam bersama dia. Ikut mikir. Tidak ada yang protes, tidak ada yang menertawakan. "That was the most beautiful moment. The whole class stood silent with him." Itulah pendidikan yang benar. Ketika guru dan murid sama-sama sedang dalam proses menemukan sesuatu. Bukan murid menunggu guru mentransfer jawaban yang sudah jadi. Kalau dosen cuma baca slide yang sama setiap tahun apa bedanya dengan AI? Kenapa harus ke kelas? Tentang masalah yang lebih dalam identitas dan postkolonial mindset: Ini yang paling jarang dibahas tapi menurut Bagus paling fundamental. Orang Inggris kalau ditanya leluhurnya siapa, akan menyebut Isaac Newton, John Stuart Mill, Adam Smith orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Ada rasa malu kalau tidak menghargai pendidikan. Orang Taiwan dan Cina membawa beban bahwa mereka adalah custodian kehormatan keluarga. Mereka harus berprestasi di dunia pendidikan. Kalau orang Sunda atau orang Bugis ditanya leluhurnya siapa apakah ada jawaban yang sama kuatnya? Bukan karena tidak ada. Tapi karena narasinya tidak pernah dibangun. Bagus sudah membuktikan bahwa tradisi jurisprudensi masyarakat Sunda kuno ada dan kompleks tujuh lapisan pemecahan masalah hukum yang jauh lebih kaya dari sekadar hukum tertulis yang kita adopsi buta-buta dari Napoleon via Belanda. Bukti longsor tanah di Bogor 2019 ternyata pola sebarannya persis seperti yang sudah diprediksi dalam manuskrip Sunda kuno warugan lemah. Dan ilmu bumi yang Bagus nikmati di Imperial College London batu gamping yang ada di lorong gedung itu berasal dari Sumatera. Objeknya dari Nusantara, tapi pengetahuannya dihasilkan oleh Barat. Lagaligo kitab sastra Bugis yang panjangnya 1,5 kali lipat Mahabharata baru diterjemahkan empat dari dua belas jilid. Seorang profesor di Unhas yang mendedikasikan hidupnya untuk menerjemahkan sisanya minta dana hanya 400-500 juta untuk tiga bulan kerja tiga orang di Leiden. Tidak dapat. Karena dianggap bukan STEM, tidak ada hilirisasinya. Itu adalah ironi yang sangat menyakitkan. Kita sedang membangun hilirisasi nikel sambil membiarkan hilirisasi pengetahuan leluhur kita membusuk di arsip Belanda. Tentang berpikir cross-disipliner dan kenapa Indonesia tidak bisa: Bagus punya cara pandang yang unik. Dia menggunakan konsep Reynolds Number dari mekanika fluida untuk memahami perdebatan nasionalisme vs liberalisme. Dia melihat pertarungan antara kolektivisme dan individualisme seperti pertarungan antara inertial forces dan viscous forces dalam aliran fluida. Terlalu banyak nasionalisme kaku tanpa ruang individu turbulen, kacau. Terlalu banyak liberalisme tanpa kohesi sosial juga tidak stabil. Seorang engineer tidak bertanya mana yang benar. Dia bertanya mana yang optimal. Tapi di Indonesia, orang yang berpikir lintas disiplin seperti itu justru dianggap aneh atau tidak kompeten karena keluar dari "domain"-nya. Padahal di luar negeri, justru itulah yang membuat seseorang bisa jadi permanent academic karena dia bisa menjawab masalah dari berbagai arah. Kalimat terakhir yang paling gue ingat: "Berpikir itu kodratnya the Dutch colonizers, bukan kita. Kita makannya kerja." Itu bukan kalimat yang dibuat-buat. Itu adalah warisan mental tiga ratus tahun yang masih mengalir dalam cara kita mendidik anak, cara kita merekrut guru, cara kita menghargai intelektualitas. Sampai kita berani bilang ke dunia bahwa ilmu pengetahuan itu bukan monopoli Barat bahwa Nusantara adalah sumber, bukan hanya objek penelitian kita tidak akan keluar dari feodalisme yang mengungkung kemampuan berpikir kritis itu.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
20
192
461
30.5K
Uni Papua Football retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Tato itu "permanen" BUKAN karena tintanya nempel di kulit terus, tapi karena 𝘀𝗶𝗸𝗹𝘂𝘀 𝗽𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗸𝗿𝗼𝗻𝗶𝘀 𝗱𝗶 𝗸𝘂𝗹𝗶𝘁 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗯𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗹-𝘀𝗲𝗹 𝗶𝗺𝘂𝗻. Jadi saat jarum tato menembus kulit, tubuh langsung menganggap ini sebagai luka dan ancaman asing. Pigmen yang masuk langsung "dimakan" oleh sel-sel imun seperti neutrofil, makrofag, dan sel dendritik. Tinta tato ini akan bertahan lama di makrofag karena makrofag punya mekanisme "capture–release–recapture" yang membuat tato bisa bertahan lama. Jadi pas tinta tato itu masuk, makrofag akan berbondong-bondong menelan partikel tersebut. Namun, makrofag tidak bisa mencerna pigmen tinta, karena ukurannya besar dan tahan lama. Akibatnya, makrofag mati, melepaskan pigmen kembali ke jaringan sekitar. Lalu gelombang makrofag baru datang dan mengulangi proses yang sama. Sederhannya tato "permanen" itu sebenarnya bukan karena tinta nempel terus, tapi karena ada relay makrofag yang terus-menerus mengambil ulang tinta yang terlepas saat makrofag lama mati. Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa penumpukan ini bisa mengganggu fungsi imun normal, termasuk respons terhadap vaksin tertentu, serta dikaitkan dengan peningkatan risiko limfoma, yaitu kanker kelenjar getah bening, dan kanker kulit. Semoga bermanfaat! Sumber: Tattoo ink exposure is associated with lymphoma and skin cancers - a Danish study of twins
Massimo@Rainmaker1973

Your tattoo isn’t just decorative ink: it’s a permanent trigger that keeps your immune system locked in a lifelong cycle of chronic inflammation. As soon as the ink is injected into your skin, your body recognizes the pigment particles as foreign invaders. Immune cells called macrophages immediately swarm the area and attempt to swallow them up. But because they can’t actually break down the ink, the macrophages eventually die, releasing the pigment back into the surrounding tissue — only for a new wave of macrophages to arrive and repeat the process. This endless cycle is what keeps the tattoo permanently visible, while also maintaining a state of ongoing, low-level inflammation in the skin. Over time, some of these ink particles migrate through the lymphatic system and accumulate in the lymph nodes, placing constant stress on the body’s defense mechanisms. Emerging research suggests this internal ink buildup may interfere with normal immune function, potentially reducing the effectiveness of certain vaccines, including mRNA types. Additionally, many tattoo inks contain heavy metals like nickel and cobalt. Combined with the chronic inflammation, this has been linked to a modestly elevated risk of lymphoma and skin cancer. While tattoos remain a powerful form of self-expression, they represent a complex, decades-long biological conflict between your immune system and foreign substances embedded in your skin. [Nielsen, C., Jerkeman, M., & Jöud, A. S. (2024). Tattoos as a risk factor for systemic lymphoma: A population-based case-control study. eClinicalMedicine]

Indonesia
199
4K
14.9K
979.7K
Uni Papua Football retweetledi
Massimo
Massimo@Rainmaker1973·
Snow leopards are highly acrobatic predators capable of jumping up to 50 feet (15 meters) in a single leap
English
145
1.9K
6.5K
106.3K
Uni Papua Football retweetledi
Things Worth Knowing
Things Worth Knowing@Worth_Knowin·
Types of Salt .
Things Worth Knowing tweet media
English
6
670
2.4K
61.4K