tratatuar

329 posts

tratatuar banner
tratatuar

tratatuar

@Wilddd_deer

-

Katılım Haziran 2020
102 Takip Edilen12 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
tratatuar
tratatuar@Wilddd_deer·
Masih butuh banyak belajar, mohon diingatkan
Indonesia
0
0
0
0
tratatuar retweetledi
Dimar
Dimar@dimarsasongko98·
Seskab Teddy Indra Wijaya . Letkol Kopassus, mantan ajudan Prabowo, nol pengalaman diplomasi , merespons Dino Patti Djalal dengan sindiran: "diplomat hebat, walau cuma 3 bulan jadi Wamenlu." Oke, Pak Letkol. Kita bedah satu-satu. Soal biaya: Lo bilang kelebihan biaya ditanggung "pribadi Presiden." Tapi pesawat kepresidenan, pengamanan TNI-Polri, hotel protokol, tim advance, logistik 50-60 orang , itu semua tetap APBN. Yang "pribadi" cuma excess-nya. Dan Prabowo sendiri yang tanda tangan Inpres No. 1/2025 yang perintahkan seluruh K/L pangkas perjalanan dinas 50%. Guru nyuruh murid hemat, gurunya keliling dunia. Soal rombongan: Lo bangga rombongan turun dari 120 jadi 50-60 orang. Dino tidak pernah bicara soal ukuran rombongan. Dia bicara soal frekuensi , 1 dari 6 hari Presiden ada di luar negeri. Lo jawab pertanyaan yang tidak ditanyakan. Soal investasi Rp 2.430 triliun: Ini total realisasi investasi PMDN + PMA tahunan , tren jangka panjang yang sudah berjalan sebelum Prabowo menjabat, dipengaruhi hilirisasi, regulasi, dan iklim global. Lo tidak bisa buktikan berapa dari angka itu kausal dari kunker. Berdiri di bawah hujan lalu ngaku bisa mendatangkan air. Soal sindiran "3 bulan": Dino punya PhD dari London School of Economics, 26 tahun karier diplomatik, 3 tahun Dubes untuk Amerika Serikat. Yang nyindir dia adalah seorang Letkol yang jabatan Seskab-nya lahir dari loyalitas, bukan keahlian tata negara. Di negara yang sehat, Seskab dijabat teknokrat. Di sini, dijabat ajudan yang merangkak naik karena setia , lalu nyindir diplomat doktoral soal pengalaman. "Speak truth to power," kata Dino. Yang menjawab justru orang yang hidupnya melayani power.
Dimar tweet media
Indonesia
688
10.5K
21.6K
734.5K
tratatuar retweetledi
Arifin Effendi
Arifin Effendi@effendii_·
Gilaaaaa gaisss, gw baru nemu cara bikin Claude kagak iyes-iyesss mulu dan beneran mindblown bangeeet wkwkwk 😂 Gw tu ngerasa selama ini emang Claude tuh default-nya terlalu baik yaaa Gw kasih ide, dia bilang bagus Gw kasih asumsi, dia bilang masuk akal Gw nanya hal yang belum pasti, dia tetep jawab dengan pede Awalnya enak sih Berasa gw pinter benerrr dah 😭 Ternyataaa, yaelahhh dia lagi cosplay ABS doang Literally asal bapak senang, alias asal lu happy aja dahh wkwkwk Nahh ternyata cara benerinnya bukan cuma bilang: “jangan setuju terus ya” Ga mantapp itu cuyy Yang lebih ngaruh ituu, lu harus ngasih instruction yang jelas biar Claude lebih jujur pas belum yakin Jadi dia gak asal: - setuju - ngarang angka - ngarang sumber - sok tau soal info terbaru - ngutip orang padahal belum pasti Ini bukan bikin Claude jadi gaje yaa Tapi bikin dia lebih waras dikit Lebih hati-hati Lebih jujur Lebih gak sotoy kalau emang belum tau Nahh, cara setupnya gampang bangeet. Lu cuman harus: 1) Buka Claude 2) Masuk ke Settings 3) Cari bagian Instructions / Personal Preferences 4) Paste prompt di bawah ini 5) Save Lu bisa pake prompt dari post aslinya Atau pake versi Indonesia yang udah gw rapihin ini: ===START PROMPT=== Utamakan kejujuran, akurasi, dan kejelasan di atas segalanya Prioritas utama bukan terdengar paling yakin. Prioritas utama adalah memberi jawaban yang benar, jelas, dan transparan tentang apa yang diketahui, apa yang belum diketahui, dan apa yang sedang disimpulkan Ikuti aturan ini dalam setiap jawaban: 1) Ketidakpastian Kalau belum sepenuhnya yakin tentang suatu fakta, katakan dengan jelas Gunakan kalimat seperti: - “Saya belum sepenuhnya yakin, tapi…” - “Ini sebaiknya dicek lagi…” - “Saya mungkin keliru di sini, tapi…” - “Berdasarkan informasi yang tersedia…” - “Ini perkiraan terbaik saya, bukan fakta yang sudah terkonfirmasi” Jangan memberikan informasi yang belum pasti seolah-olah itu fakta Kalau jawabannya bergantung pada konteks yang belum ada, jelaskan konteks apa yang kurang Kalau ada beberapa kemungkinan jawaban, jelaskan kemungkinan-kemungkinan utamanya daripada memaksakan satu jawaban seolah itu satu-satunya yang benar 2) Sumber Jangan mengarang sumber Jangan membuat-buat: - judul paper - URL - penulis - studi - statistik - buku - kasus hukum - kutipan - laporan perusahaan - referensi sejarah Kalau tidak bisa menyebutkan sumber nyata yang bisa dicek, katakan saja Kalau jawabannya berdasarkan pengetahuan umum dan bukan dari sumber spesifik, jelaskan itu dengan jujur Saat memakai sumber, prioritaskan: - dokumentasi resmi - sumber primer - paper peer-reviewed - data pemerintah atau institusi - pernyataan langsung dari orang atau organisasi terkait Kalau sumbernya mungkin sudah lama atau informasinya bisa berubah, katakan bahwa sumber tersebut perlu dicek ulang 3) Angka dan Statistik Beri tanda untuk angka, statistik, persentase, ranking, market size, salary, metrik performa, atau estimasi yang belum benar-benar pasti Gunakan kalimat seperti: - “Saya rasa ini kurang lebih…” - “Angka ini mungkin sudah berubah” - “Cek lagi ke sumber utama sebelum menjadikannya acuan” - “Saya tidak punya cukup informasi untuk memastikan angka pastinya” Jangan membuat-buat angka supaya jawaban terlihat lebih berguna Kalau angka yang presisi tidak tersedia, berikan range hanya kalau memang masuk akal. Kalau tidak, katakan bahwa angkanya belum diketahui 4) Informasi Terbaru Jangan menebak-nebak tentang hal yang mungkin sudah berubah Ini termasuk: - berita - pemilu - hukum - regulasi - fitur produk - leadership perusahaan - versi software - kemampuan AI model - data pasar Untuk topik yang cepat berubah, katakan bahwa informasinya mungkin sudah berubah dan sebaiknya dicek ke sumber terbaru Jangan memberikan informasi lama seolah-olah masih pasti berlaku sekarang 5) Orang dan Kutipan Jangan mengaitkan kutipan ke orang nyata kecuali benar-benar yakin bahwa orang tersebut memang mengatakannya Kalau belum yakin, katakan: - “Saya belum bisa memastikan kutipan ini akurat” - “Kutipan ini sering dikaitkan dengan orang tersebut, tapi saya belum bisa memverifikasinya” - “Saya tidak tahu siapa sumber asli kutipan ini” Jangan mengarang pernyataan, keyakinan, atau motivasi orang nyata Pisahkan fakta yang terkonfirmasi dari interpretasi ===END PROMPT=== Save, repost, dan like postingan ini yaa kalau lu ngerasa bermanfaat 🙌
Ruben Hassid@rubenhassid

How to make Claude (brutally) honest. So, it stops agreeing with everything I say. Here's how: → Start by reading this: ruben.substack.com/p/youre-just-a…. → Go to Claude > Settings. → Paste the prompt in 'Instructions for Claude': "You are committed to honesty, accuracy, and epistemic humility above all else. Your priority is not to sound confident. Your priority is to be correct, clear, and transparent about what you know, what you do not know, and what you are inferring. Follow these rules in every response: 1. UNCERTAINTY If you are not fully certain about a fact, say so clearly. Use phrases like: - "I'm not certain, but..." - "You should verify this..." - "I may be wrong here, but..." - "Based on the information available to me..." - "This is my best estimate, not a confirmed fact." Never state uncertain claims as facts. If the answer depends on missing context, say what context is missing. If there are multiple plausible answers, explain the main possibilities instead of pretending there is only one. 2. SOURCES Do not invent sources. Never fabricate: - paper titles - URLs - authors - studies - statistics - books - legal cases - quotes - company reports - historical references If you cannot name a real, verifiable source, say so. If you are relying on general knowledge rather than a specific source, say that clearly. When citing sources, prefer: - official documentation - primary sources - peer-reviewed papers - government or institutional data - direct statements from the relevant person or organization If a source may be outdated, say so. 3. STATISTICS AND NUMBERS Flag any number, statistic, percentage, ranking, market size, salary figure, performance metric, or estimate that you are not fully confident in. Use phrases like: - "I believe this is approximately..." - "This number may be outdated." - "Verify this against a primary source before relying on it." - "I do not have enough information to confirm the exact figure." Do not make up numbers to make an answer sound more useful. If a precise number is unavailable, give a range only if it is justified. Otherwise say the number is unknown. 4. RECENT EVENTS Do not guess about current events. For any topic that may have changed recently, including: - news - elections - laws - regulations - product features - company leadership - software versions - AI model capabilities - market data Say that the information may have changed and should be verified with a current source. Do not present outdated information as current. 5. PEOPLE AND QUOTES Never attribute a quote to a real person unless you are certain they said it. If unsure, say: - "I cannot confirm this quote is accurate." - "This quote is commonly attributed to them, but I cannot verify it." - "I do not know who originally said this." Do not invent statements, beliefs, or motives for real people. Separate confirmed facts from interpretation. If any answer is "yes," revise before responding."

Indonesia
47
2.2K
13K
667.7K
tratatuar
tratatuar@Wilddd_deer·
Manarik untuk disimak.
Prastowo Yustinus@prastow

Sebagai orang yang 30 tahun menggumuli isu pajak, berikut pendapat saya tentang Pajak Kekayaan: 1. Fakta ketimpangan yang menganga dan penguasaan kekayaan pada segelintir orang ini valid. Ketimpangan yg lebar dan terus dipertahankan akan membuat kehidupan sosial dan demokrasi tidak sehat. Maka secara ideologis Pajak Kekayaan adalah alat redistribusi yang sah. 2. Implementasi Pajak Kekayaan di berbagai negara cenderung kompleks dan kurang berhasil, bahkan di negara2 maju. Maka perlu kontekstualisasi dan menyediakan syarat2 perlu agar ide ini bisa diterapkan dg baik. 3. Syarat perlu yang utama adalah kapasitas negara, dalam hal ini otoritas pajak, terkait kesiapan regulasi dan administrasi. Karena Pajak Kekayaan amat dekat dengan isu fairness: siapa yang akan dikenai (database yg baik), kekayaan seperti apa (fixed asset, aset finansial, intangible asset) dg threshold berapa (kriteria superkaya yg disepakati), apa dasar pengenaannya (hasil valuasi), kapan dikenakan (tahunan atau opsi lain). 4. Tanpa kesiapan teknis, akan timbul ketidakpastian dan celah administrasi yang berpotensi menciptakan ketidakadilan (pemilik aset tetap vs aset keuangan), dan mendorong penghindaran pajak (pengalihan ke jenis aset tertentu, penyembunyian, deklarasi lebih rendah, manipulasi valuasi). 5. Namun mematikan diskursus terkait ketimpangan, oligarkhi, dan redistribusi juga berisiko merusak fondasi hidup bernegara. Tugas negara menciptakan kemakmuran dan pemerataan, dan pajak adalah alat redistribusi yang legitim. 6. Maka perlu diupayakan pendekatan pragmatis. Ruang apa yang tersedia dlm jangka pendek. Skenario penyiapan syarat perlu dibuat. Diformulasikan skema pemajakan yang feasible, fair, dan workable secara administrasi. Misal: PBB progresif utk land hoarding (kepemilikan kedua dst), Pajak Warisan (threshold tertentu), land value capture di TOD, windfall profit tax utk SDA saat booming, dll.

Indonesia
0
0
1
16
tratatuar
tratatuar@Wilddd_deer·
@DJ_Luvly @NephilaXmus Yg bela Nadiem/ibam di kasus ini tuh tdk otomatis juga bela kebijakannya selama jadi menteri, bahkan banyak yg sebelumnya juga ngritik.
Indonesia
0
1
7
410
nephilaXmus
nephilaXmus@NephilaXmus·
Gila. Panjang, lebar dan tinggi upaya masif bela bekas mas mantri. Media international dikerahkan.
Indonesia
21
57
248
24.7K
tratatuar
tratatuar@Wilddd_deer·
Wkwkwk lucu banget "celah software"
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada cerita di balik pencopotan dua pejabat tinggi Kemenkeu yang menurut gue jauh lebih menggelikan dan lebih mengerikan dari yang diakui secara resmi. Dan kuncinya ada di satu kalimat dari Purbaya sendiri ketika ditanya pers soal kenapa Dirjen Anggaran dicopot: "Mungkin Anda tebak saja sendiri." Kronologi yang perlu dipahami dulu: BGN Badan Gizi Nasional mau beli 25.644 unit motor listrik untuk kepala SPPG dapur MBG. Harganya Rp42 juta per unit. Totalnya sekitar Rp1 triliun lebih. Purbaya sudah menolak pengadaan ini. Eksplisit. Jelas. Ditolak. Tapi anggaran itu tetap lolos. Tetap masuk. Tetap dieksekusi. Dan sampai akhirnya 21.081 unit sudah terlanjur datang sebelum semuanya terbongkar. Caranya? Ada celah di software milik Ditjen Anggaran Kemenkeu. Dan lewat celah itulah pengadaan yang sudah ditolak Menkeu bisa tetap berjalan. Dua pejabat tinggi dicopot dan ini yang paling menggelikan: 21 April 2026, dua Dirjen Kemenkeu dicopot sekaligus. Luky Alfirman sebagai Dirjen Anggaran. Febrio Kacaribu sebagai Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal. Keduanya pejabat senior. Keduanya dicopot mendadak. Dan ketika pers tanya Purbaya apakah pencopotan itu berkaitan dengan lolosnya anggaran motor listrik jawabannya bukan iya, bukan tidak. "Tebak saja sendiri." Dari seorang Menteri Keuangan. Tentang kebijakan di kementeriannya sendiri. Tentang pencopotan pejabat yang berada di bawah otoritasnya. Yang paling miris dari seluruh cerita ini: Pertama — motornya sudah datang. 21.081 unit sudah terlanjur dikirim sebelum ada yang berani bilang stop. Uang sudah keluar. Barang sudah ada. Dan baru sekarang semua orang ribut. Kedua — motornya identik dengan produksi China, dirakit di Cikarang. Di saat pemerintah gencar kampanye beli produk dalam negeri dan bangga-banggain Maung buatan Indonesia sampai dibawa pakai Hercules ke KTT ASEAN motor untuk program unggulan presiden sendiri beli dari mana? Ketiga — ini bukan program kecil. MBG adalah program prioritas utama Prabowo. Anggarannya ratusan triliun. Dan di dalam program sebesar itu pengadaan senilai lebih dari Rp1 triliun bisa lolos tanpa sepengetahuan Menkeu hanya karena ada "celah di software." Software. Celah di software. Rp1 triliun lebih lolos karena celah di software. Yang perlu dipertanyakan: Kalau Purbaya sudah menolak siapa yang tetap menjalankannya? Celah software itu ditemukan secara tidak sengaja atau memang dimanfaatkan? Dan kalau memang dimanfaatkan siapa yang tahu celah itu ada dan siapa yang menggunakannya? Karena kalau jawabannya hanya "salah software" maka dua Dirjen senior itu bisa bertindah tanpa purbaya tahu di belakang? Tapi yang dicopot adalah dua Dirjen. Dan Purbaya bilang tebak saja sendiri. Gue sudah menebak. Dan tebakannya tidak menyenangkan. Program makan gratis untuk anak-anak Indonesia yang anggarannya dipotong dari berbagai pos termasuk pendidikan di dalamnya ada pengadaan motor listrik Rp1 triliun lebih yang ditolak Menkeu tapi tetap lolos. Motornya sudah datang. Dua pejabat dicopot. Dan penjelasan resminya adalah celah software. Ini bukan soal motor listrik. Ini soal seberapa dalam lubang yang ada di dalam sistem penganggaran negara ini dan seberapa banyak yang sudah lolos lewat lubang itu yang belum pernah ketahuan.

Indonesia
0
0
0
88
tratatuar retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Karena ramai sekali di linimasa... Saya coba menonton jawaban Prof. Stella Christie, khususnya soal Market Value di kalangan teman-teman @direktoridosen Q: Seandainya Prof Stella dikasih wewenang untuk membuat kebijakan yang seluas-luasnya. Apa yang pertama kali diubah atau dibikin, diperbarui based on your background? Kalau tidak ada obstacle soal anggaran, enggak ada birokrasi lah. Seorang peneliti itu ada kegeraman individu karena kita sudah tahu knowledge-nya, tapi praktiknya tidak begitu A: Wah ini bisa panjang. Tapi saya kasih yang pendek ya, yang paling penting. Talent Development. Dan saya akan bahkan khusus untuk universitas kita. Kita belum sepenuhnya menghargai secara tepat betapa pentingnya talent kita di Universitas. Artinya pada saat ini, ada suatu problem yang jarang diketahui oleh publik, yaitu begitu sulitnya seorang dosen pindah dari suatu PTN ke PTN lainnya. Dan ini tidak terjadi di negara yang saya sudah lama, seperti di Amerika Serikat maupun di Tiongkok dan saya sangat tahu tentang iklim Eropa. Kalau di tempat-tempat lain, masing-masing individu dosen itu mempunyai kekuatan karena dialah yang menghasilkan hasil riset, dialah yang sungguh-sungguh dicari oleh universitas. Jadi kalau seorang yang sangat mampu, yang sangat berhasil meritokrasi ini, nanti akan dicari oleh Universitas lain, ditawarkan gaji yang lebih tinggi. Di sini susah, karena kita pakai sistem PNS yang semuanya sama rata gitu. Kita harus memberikan market value kepada talent kita terutama di akademia. Tentu saja banyak yang kita bisa ubah. Tapi kalau di swasta, ini sudah market value. Di akademia, di Indonesia, kita belum. Dan ini luar biasa, menjadi impediment kita untuk menghasilkan industri dan perekonomian berbasis sains dan teknologi. Karena kalau kita tidak mempunyai market value terhadap talent kita, terhadap dosen-dosen kita... mereka tidak akan berlomba-lomba menghasilkan pemikiran dan inovasi yang paling baik. Saya gampang saja. Kalau kita tanya, apakah kita punya startup industry yang berbasis teknologi di Indonesia. Tidak ada. Korea punya Samsung. China punya ya sudah tidak disebut lagi, punya banyak banget, Huawei. Tentu saja industri paling maju pada saat ini, paling masif dan banyak uang adalah industri AI, berbasis teknologi. Semua itu berbasis riset. Kita tidak punya itu, atau masih sangat sedikit. Karena kita tidak punya riset yang kompetitif. Kenapa kita risetnya tidak kompetitif, bukan karena dosen-dosen kita tidak mampu, mereka sangat mampu. Tetapi mereka tidak punya insentif untuk menghasilkan yang paling kompetitif karena mereka bahkan untuk bisa dipindah dari satu universitas ke universitas lain itu pun sulit. Jadi ekosistem... beberapa sudah saya mulai, insentif untuk melakukan riset yang terbaik. Insentif finansial kepada orangnya. Kemampuan ini sebagai di-market value. Jadi apa yang mereka kerjakan itu harusnya di-value oleh market dengan sekian. Kita harus bisa berani menginvestasikan, mendatangkan, atau memberikan gaji dan remunerasi yang setara dengan yang dihasilkan. Secara gampang adalah kita belum menghasilkan sesuatu yang kompetisi berdasarkan kualitas di universitas kita. Q: Jadi poinnya adalah memberikan apresiasi by market. Jadi setiap individu itu didorong untuk bisa menghasilkan riset berkualitas dengan insentif yang lebih baik gitu. Jadi itu misinya Prof Stella sekarang. A: Ya itu misi saya. Udah satu yang sudah saya kerjakan. Saya berhasil mengubah, tentu saja dibantu oleh seluruh teman-teman di Kementerian, berhasil mengubah regulasi. Tadinya kita tidak diperbolehkan untuk memberikan insentif finansial bagi dosen-dosen yang memenangkan riset grant funding dari Kementerian. Sejak Januari tahun ini, itu sudah diubah dan teman-teman kita yang berhasil memenang riset grant, mereka mendapatkan insentif finansial langsung kepada dirinya. to the pocket Q: Jadi sekarang dosen, penghasilannya mungkin harusnya lebih baik. Dosen yang berprestasi A: Yes, dosen yang berprestasi. Ini mungkin saya mungkin bicara blak-blakan. Banyak keluhan, mungkin kemarin juga kita lihat ada di koran, berita di PTS Perguruan Tinggi Swasta bahwa gaji-gaji dosen ini miris ya. Yang akan saya bicarakan ini mungkin akan dapat banyak hujatan. Tapi begini, saya sangat mengerti kemirisan ini. Tetapi, terus terang teman-teman, kita tidak bisa menyelesaikan kemirisan gaji ini hanya dengan menetapkan misalnya batas... oke, harus setidaknya sekian. Karena, ini berarti kita lagi-lagi tidak memakai market value. Kita harus... perguruan tinggi kita harus berkompetisi. Dan gaji dan remunerasi itu harus berdasarkan kualitas dan kompetisi. Jadi, bukannya saya tidak prihatin. Sangat prihatin. Tetapi yang kita ingin lakukan adalah bagaimana membentuk ekosistem agar remunerasinya itu lebih tinggi dan setara dengan kualitas yang dihasilkan. Dan jangan sampai ada satu yang tidak pernah tersebut, tetapi saya ingin menyebutkannya. Di Indonesia ini, kita berpikir akademia, universitas, perguruan tinggi itu adalah suatu yang notabene-nya harus dikerjakan tanpa kompetisi. Jadi harus disediakan anggarannya, semuanya harus mendapatkan, terbagi-bagi. Dan tidak sama dengan persaingan industri, persaingan di swasta. Itu adalah suatu pemikiran yang menurut saya, sama sekali salah. Kemajuan sains dan teknologi di semua negara itu karena kompetisi. Dan inilah yang harus kita akui. Dan kalau kita mau menjadi bangsa maju, kita harus bersama-sama untuk 'ayo, kita mau berkompetisi'. Jangan takut kompetisi. Dan jangan berharap dan jangan memikirkan bahwa karena itu di Perguruan Tinggi, tidak perlu kompetisi.
M. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
67
393
1.4K
394.7K
tratatuar retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Setelah Ibam…. (Sebuah Refleksi Diri dari Lensa Kriminologi) Ibam menyatakan secara terbuka bahwa ia diancam sebelum jadi tersangka. Kita semua tahu itu bukan fakta hukum, melainkan sebuah pengakuan diri. Dan pengakuan tersebut... (ketika diselimuti oleh sidang tanpa bukti keuntungan, tanpa bukti arahan, tanpa bukti konflik kepentingan) telah menjadi sesuatu yang lebih berat dari sekadar kesaksian pribadi. Kalau kasus ini naik ke Komisi III DPR, pola yang akan terjadi sudah bisa dibaca dari sekarang. Seperti kasus-kasus viral yang sebelumnya kita saksikan di linimasa. Saya rasanya Déjà vu. Jaksa akan disorot kembali. Tuntutan 15 tahun untuk seseorang yang tidak terbukti menerima apa pun akan dipertanyakan. Akan ada rapat dengar pendapat. Lalu bermunculan cuplikan video para wakil rakyat. Lalu semuanya seolah selesai. Sampai muncul kasus berikutnya. Lingkaran setan itu kembali. Berulang kali. — — — — — — Dalam kriminologi, kami mendefinisikan kejahatan sebagai pola tingkah laku merugikan. Di sinilah, kami menyadari bahwa pola bukan sesuatu yang kebetulan terbentuk. Pola bisa hadir sebagai hasil dari sistem yang bekerja konsisten. Bagaikan dua sisi mata uang, konsistensi bukan hanya menghasilkan keadilan, tapi bisa jadi untuk menghasilkan sesuatu yang lain. Dari paradigma kritis, saya lalu menemukan konsep selective law enforcement. Penegakan hukum itu sejatinya tidak buta, meski patung dewi keadilan menunjukkan sebaliknya lewat penutup mata. Dalam praktiknya, Sistem Peradilan Pidana memilih siapa yang layak dihukum dan siapa yang tidak. Kadang "keputusan" ini berdasarkan pertimbangan yang tidak tertulis di undang-undang mana pun. Ibam menyebut mekanisme itu dengan jelas. Buat pernyataan yang "mengarah ke atas", atau kasusnya diperluas. Ia menolak. Tiga minggu kemudian ia ditetapkan jadi tersangka. Di titik inilah, saya tahu itu sejatinya bukan prosedur hukum. Itu "negosiasi" berbalut ancaman. Sebuah pola yang seolah membentuk siklus di lingkaran kleptokrasi. — — — — — — Yang membuat pola ini tahan lama bukan karena pelakunya jahat. Sistem yang rusak tidak membutuhkan orang jahat untuk mengoperasikannya. Sistem yang korup hanya membutuhkan orang-orang yang menjalankan tugasnya masing-masing, tanpa bertanya terlalu dalam mengapa tugasnya dirancang seperti itu. Polisi memeriksa. Jaksa menuntut. Hakim memutus. Rapat dengar pendapat digelar. Pernyataan dikeluarkan. Media Massa memberitakan. Media sosial riuh dengan pro dan kontra. Lalu semuanya kembali seperti semula. Seolah pemulihan telah terjadi, begitu saja. Padahal, pola tidak bisa putus karena di bawah lampu sorot atau menuai engagement tinggi. Pola terputus ketika ada yang mengubah struktur yang melahirkannya. Dalam kriminologi, saya diajarkan lewat istilah intervensi. — — — — — — Ibam memilih tidak berbohong. Ia tahu risikonya sembari berpasrah dan berserah. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan akibatnya. Bagi saya, yang menyedihkan bukan sekadar bahwa ia harus menjalani serangkaian sidang karena pilihannya itu. Yang menyedihkan adalah... pilihan untuk tidak berbohong di hadapan ancaman seharusnya tidak perlu mendapatkan konsekuensi hukum. Pilihan itu seharusnya dilindungi dan dijamin konstitusi. Dan sejatinya itu adalah pilihan moral dan logis yang biasa. Seharusnya. Pada akhirnya, ketika kasus ini naik ke Komisi III DPR RI, polanya bisa jadi akan kurang lebih sama. Bukan karena sorotannya kurang terang. Bukan karena suara kita kurang lantang. Tapi karena pola ini tidak tinggal di 1-2 kasus. Ia hidup di dalam sistemnya. Dan selama yang diintervensi hanya kasusnya, bukan sistemnya, pola itu akan terus menemukan kasus berikutnya untuk diinangi.
Ibrahim Arief@ibamarief

Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.

Indonesia
7
145
284
16.8K
tratatuar retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys lu ingat gk beberapa hari yang lalu prabowo pamer uang sitaan yang triliunan tapii kata mantan Eks Pimpinan KPK itu adalah sesuatu yang aneh..... Menurut Amin, praktik pamer uang sitaan itu bukan cuma salah secara teknis tapi juga menyimpang dari prinsip global. - Uang hasil sitaan itu seharusnya tidak berbentuk cash - Harusnya cukup dipindahkan via rekening (transfer ke negara) - Bukti hukumnya? Slip transfer, bukan tumpukan uang Tapi yang terjadi? - Uang dicairkan - Ditumpuk - Dipamerkan ke publik Dan di sinilah kritik paling pedas itu muncul: Law enforcement berubah jadi law entertainment. Alias… penegakan hukum berubah jadi konten tontonan. Masalah Besarnya Bukan Sekadar Gimmick Ini bukan cuma soal gaya. Ini soal logika hukum yang rusak dari akar. Amin bilang: - Aparat sering tidak paham konsep “mens rea” (niat jahat) - Semua hal yang “merugikan negara” langsung dicap korupsi - Bahkan keputusan bisnis bisa dikriminalisasi Padahal dalam hukum modern: - Rugi ≠ Korupsi - Salah keputusan ≠ Kejahatan - Tanpa niat jahat = bukan pidana Tapi yang terjadi di lapangan? Pokoknya ada kerugian → cari pasal → jadikan tersangka Kasus LNG: Contoh Nyata yang Dibilang “Ngaco” Dalam kasus LNG Pertamina: Ada transaksi jangka panjang (2019–2039) Dalam beberapa tahun → rugi (karena COVID) Tapi tahun lain → untung Kalau dihitung total? Masih untung Tapi oleh aparat? - Diambil bagian ruginya saja - Dicap sebagai korupsi - Bahkan disebut “menguntungkan pihak asing” Padahal secara logika bisnis: - Harga turun karena pasar global (COVID) - Kontrak sudah disepakati jauh sebelumnya - Tidak ada bukti “niat jahat” Dan di sini kritiknya makin pedas: Penyidik, jaksa, bahkan hakim… tidak paham bisnis LNG. Dampaknya Gak Main-Main Ini bukan cuma soal satu kasus. Ini efek sistemik: Orang yang ambil keputusan jadi takut Salah sedikit → bisa dipenjara BUMN gak berani ekspansi global Karena risiko hukum lebih besar dari risiko bisnis Investor luar bisa ketawa Logika hukumnya dianggap gak masuk akal Amin bahkan bilang: Kalau begini terus, Indonesia mainnya bukan di liga 3… tapi non-liga. Pedas? Iya. Tapi juga… mengkhawatirkan. Ironi Paling Ngena Di saat: Pemerintah klaim pemberantasan korupsi meningkat Popularitas naik karena “terlihat tegas” Data global justru bilang: Indeks Persepsi Korupsi Indonesia turun Artinya? - Secara citra naik, tapi substansi turun Ini yang bikin miris: Yang pinter ambil keputusan → bisa dikriminalisasi Yang bener-bener korup → belum tentu kena Yang ditampilkan ke publik → lebih ke “drama” daripada substansi Dan pertanyaan paling akhir diucapkan beliau: Kita lagi memberantas korupsi… atau lagi membangun panggungnya?
Lambe Saham tweet media
Indonesia
39
551
1.2K
65.2K
tratatuar retweetledi
tratatuar
tratatuar@Wilddd_deer·
@gesamudera @Fevrierhrynt Perbaikan sistem dan edukasi ke masyarakat jelas perlu, tapi jangan sampai mereka yg tdk punya kuasa ini jadi korban "usaha perbaikan" yang berlarut. Sementara jelas, itu duit tabungan masyarakat yg bukan tdk mungkin mereka butuhkan dalam waktu dekat.
Indonesia
0
0
0
91
tratatuar
tratatuar@Wilddd_deer·
@gesamudera @Fevrierhrynt Apa yg mas ge sampaikan itu normatif, sebenarnya banyak yg paham akan itu, tapi memilih untuk lebih dulu memihak mereka yg lemah. Dalam konteks kasus yg sudah berbulan-bulan tdk ada kejelasan ini sudah selayaknya bnyk yg memihak mereka yg di posisi rentan.
Indonesia
1
0
6
305
mas ge
mas ge@gesamudera·
Sebagai internal audit, kasus BNI Aek Nabara ini bukan sekadar oknum nakal. Ini kegagalan sistem yang harusnya malu diakui. Andi Hakim bikin produk investasi fiktif, cetak bilyet palsu di kertas A4, minta tanda tangan di formulir kosong terus diisi sendiri, dan transfer "bunga" tiap bulan biar korban tetap tenang. Berlangsung BERTAHUN-TAHUN. Pertanyaannya bukan kenapa pelakunya berani, tapi kenapa tidak ada satu pun alarm yang bunyi? Karena tidak ada yang ngecek. Dari dua arah sekaligus. BNI kecolongan karena satu kepala kas punya akses penuh dan relasi eksklusif ke nasabah besar tanpa supervisi berarti. Tapi ada yang sering luput dari sorotan: Credit Union di dalam gereja itu sendiri juga harusnya punya sistem kontrol internal. CU Paroki Aek Nabara ini bukan lembaga kecil, mereka mengelola dana 1.900 anggota yang dikumpulkan sejak 1981. Lembaga sekelas itu harusnya punya audit internal, rekonsiliasi rutin, dan verifikasi produk investasi secara independen sebelum menyetorkan miliaran rupiah. Bunga 8% di tengah rata-rata pasar 3-4% itu bukan angka yang wajar, itu seharusnya jadi red flag pertama, bukan daya tarik. Dua institusi. Dua lapisan kontrol yang sama-sama tidur. Soal ajakan ramai-ramai pindah bank, hati-hati. Ini bukan cuma salah sasaran, tapi bisa berbahaya. Bank tidak menyimpan uang nasabah dalam bentuk tunai penuh, uang itu diputar. Kalau penarikan massal terjadi serentak, itu namanya bank run, dan efeknya bisa jauh lebih luas dari sekadar BNI. Krisis 1998 kasih kita pelajaran mahal soal ini. Marah boleh, tapi jangan sampai cara kita protes justru merugikan diri sendiri dan orang banyak. 1.900 orang nabung dari Rp10.000 seminggu untuk sekolah anak dan masa depan keluarga. Itu hilang karena satu orang rakus dan dua sistem yang gagal jadi penjaga.
SobatMiskinTV@MiskinTV_

Baca dan mengikuti berita mengenai Suster Natalia ini, terkesan BNI seperti ingin lepas tangan, padahal pelaku (Andi Hakim) merupakan salah satu pejabat di bank tersebut. Ini bisa jadi preseden buruk untuk BNI. Bukan tidak mungkin sentimen negatif ini berubah menjadi seruan memindahkan rekening dari BNI ke bank lain.

Indonesia
66
449
1.5K
144.9K
tratatuar
tratatuar@Wilddd_deer·
@Faizal_Xyf @ValeValvuela @VeritasArdentur Bro ini industri jasa keuangan. Kalau ada karyawan yg lakukan penggelapan dana nasabah ya trust orng ke institusi psti terganggu. Apalagi kalau dia seolah pake "jalur resmi", ini yg jadi fokus pembahasan orang2, bgaimana respons & tanggung jawab institusi atas tndakan kryawannya
Indonesia
0
0
0
19
tratatuar retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Di zaman serba prompting AI ini, guru dan orangtua harus memastikan anak tetap mengalami proses berpikir yang semestinya selama belajar. Salah satu caranya adalah mengajak anak untuk "mencatat" menggunakan Cornell Notes. Cornell notes adalah sistem pencatatan terstruktur yang dikembangkan oleh Prof. Walter Pauk dari Universitas Cornell pada 1950-an untuk meningkatkan efisiensi belajar. Metode ini membagi halaman menjadi tiga bagian, yaitu kolom catatan (kanan), kata kunci/pertanyaan (kiri), dan ringkasan (bawah) untuk mempermudah peninjauan materi, pemahaman aktif, dan mengingat informasi. Setelah mencatat, pastikan anak melampaui 5R, yaitu: Record (Catat), Reduce (Kurangi/Ringkas), Recite (Ucapkan kembali), Reflect (Renungkan), dan Review (Tinjau).
listyantidewi tweet medialistyantidewi tweet media
Indonesia
19
459
1.4K
25.6K
tratatuar retweetledi
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Untuk mahasiswa ekonomi atau yg tertarik international finance, ada banyak pertanyaan yg diajukan ke saya soal Krisis 98. Pertanyaan secara reguler diajukan setiap kali rupiah melemah. Platform X tentu bukan forum yg adil untuk membahas secara lengkap soal ini, krn keterbatasannya. Yg paling baik adalah membaca kembali study2 tentang beberapa krisis yg dialami Indonesia. Sumber tiap krisis bisa berbeda. Berikut saya berikan beberapa potongan dan referensi dari tulisan saya “Role of Exchange Rates in Threes Financial Shocks in Indonesia, yg di edit olen Maurice Obstfeld dan Douglas Irwin, dalam buku Floating Exchang Rate at Fitfy. Obsteld dan Irwin kerap dianggap “guru guru” dalam internationa trade and finance. Dalam tulisan ini saya menunjukkan bagaimana tingkat bunga yg tinggi akibat inflasi yg tinggi mendorong private sector meminjam dari luar, dimana tingkat buat di luar negeri relative lebih rendah. Dan krn depresiasi rupiah “ di garansi” 5% melalui managed floating exchange rate sejak 1978 membuat pelaku ekonomi menghiraukam resiko exchange rate. Pinjaman jangka pendek swasta naik. Ketika peg rupiah harus dilepas oleh BI krn tekanan nilai tukar akibat krisis Thai Bath di Thailand, maka utang tsb dalam nilai rupiah melompat, ini yg disebut Carmen Reinhart dan Calvo sbg fear of floating. Situasi ini dikombinasina dg banking sector yg buruk. NPL sangat tinggi dst. Silahkan membaca lengkapnya … Menariknya ketika mulai mengadopsi flexible exchange rate, ia membantu untuk membuat pelaku pasar terbiasa dg resiko exchange rate dan membantu portfolio balancing mereka shg “risk” menjadi “calculated risk”. Lengkapnya bisa dibaca dalam buku ini cup.columbia.edu/book/floating-… Untuk mhs ekonomi saya sangat menganjukan membaca buku ini, krn banyak guru”internationa finance” spt Frankel, Krugers, Helene Rey, Hyun Song Shin, Linda Goldber dsb menulis dalam buku ini. Namun dalam chapter ini, dan juga dalam paper saya di Oxford Review of Economic Policy, “ The Impossibility of the impossible trinity? The case of Indonesia, link nya academic.oup.com/oxrep/issue/39… saya menunjukkan floating exchange rate ala Mundell-Flemming juga tdk bisa diterapkan sepenuhnya, krn costnya thd perekonomian juga besar terutama dalam kondisi arus modal yg volatile, krn itu Central Bank tetap perlu melalukan intervensi, bukan untuk pegging the level tetapi smoothing the volatility. Karena itu perlu managing capital flow dan integrated framework. Silahkan membaca Saya juga menulis Perbandingan 3 krisis (Krisis 98, Glibal Financial Crisis dan Taper Tantrum) secara lebih rinci juga bisa dilihat dalam chapter saya Twenty Years after the Financial Crisis (free access) dalam buku yg diterbitkan oleh IMF (free access ini link nya elibrary.imf.org/display/book/9… Tentu tidak ada jawaban tunggal untuk issue ini. Tulisan2 ini adalah upaya untuk memahami apa yg terjadi dan tentu tidak bisa mengklaim sebagai satu2nya penjelas final. Ilmu pengetahun harus bisa dibuktikan salah, dan karena itulah pemikiran berkembang, krn ia tidak difinalkan. Dan paling tidak, ini membantu mengingatkan saya: bahwa saya belum selesai jg bodohnya.
M. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet media
Indonesia
25
929
2.9K
103.9K
Angga Fauzan 
Angga Fauzan @angga_fzn·
Gw aslinya gapapa Presiden Soekarno menjabat 22th atau Pak Harto selama 32 tahun secara otoriter ASALKAN bisa mimpin & bangun fondasi negara dengan bener. Lee Kwan Yew juga 31th menjabat di Singapur, cukup otoriter, tapi bener dan serius. Jadi tuh barang. Kayaknya emang di fase awal butuh periode yg otoriter dan cukup lama agar ngebentuk fondasinya dulu. Asal bener. Bener2 semua sekolah, puskesmas, rumah sakit, pasar, transportasi publik, dsb dibangun scr menyeluruh dan rapi. Justru mungkin "lebih mudah" krn masih "kosongan" dan "semua nurut". Set the standard higher. Bikin plan Indonesia setengah abad pertama (50th) yg integrated dr Sabang sampai Merauke. Tp memang namanya manusia menjumpai kekuasaan ya. Susah.
Catholic 𐕣@myshawti

Unpopular opinions about all Indonesian presidents

Indonesia
115
365
2.4K
321.7K
FLCKR ID
FLCKR ID@FLCKR_ID·
@RWWReborn @_countach @grok apakah kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) ada afiliasi pendanaan dari George Soros?
Indonesia
9
0
1
4.7K
Random Warfare Worldwide
Random Warfare Worldwide@RWWReborn·
Jangan sebut oknum, para pelaku tindak kejahatan ini merupakan PRAJURIT TNI AKTIF dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. 3 orang PERWIRA dan 1 orang BINTARA dari 2 matra, TNI AL dan TNI AU, NDP berpangkat Kapten, SL dan BHW berpangkat Letnan Satu dan ES berpangkat Sersan Dua. Penangkapan para pelaku, walaupun anggota aktif TNI, juga sepatutnya mendapatkan "pengawalan" terkait keberlanjutan kasusnya, dikawal oleh masyarakat. Kita juga tidak boleh LUPA bahwa kejahatan ini KEMUNGKINAN BESAR memiliki DALANG, otak dari operasi ini, itu juga harus diungkap secara tuntas.
Kompas.com@kompascom

Sebanyak empat prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) terlibat dalam aksi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus. Baca selengkapnya 👇 nasional.kompas.com/read/2026/03/1… ~LL #AndrieYunus #PenyiramanAirKeras

Indonesia
225
2.9K
6K
252.8K