Ziel

41.2K posts

Ziel banner
Ziel

Ziel

@Zieltj_

it's what Himmel The Hero would've done

Katılım Haziran 2011
769 Takip Edilen179 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Ziel
Ziel@Zieltj_·
Dokumentasi kehidupan
Indonesia
2
0
6
2.6K
Ziel retweetledi
Edy Bayo Regar
Edy Bayo Regar@regar_op0sisi·
Mengawal tapi gak pake atribut kepolisian. Mengawal atau menyusup untuk provokasi pak?
Indonesia
105
509
2.3K
70.3K
Ziel retweetledi
TxtdariUGM
TxtdariUGM@Txtdariiugm·
Nah mantep nih udah mulai dimainin narasi utk membenturkan masyarakat vs masyarakat dengan membandingkan-bandingkan kampus pake indikator suka-suka dia aja. Btw poster AI lu jelek banget.
Muii muii@G3nX_files

UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta. Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat. Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS. UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan. Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional. Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital. Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis. Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat. Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah. Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI : Menuntut harga BBM jangan naik. Menuntut penggunaan APBN tidak boros. Menuntut harga sembako turun. Menuntut harga hasil panen petani naik. Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan. Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik. Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah. Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan. Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang. Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando. Sementara mahasiswa BINUS : Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi. Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian. Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru. Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan. Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi. Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana. Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi. Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan. Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas. Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran. Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar. Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi. Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus. Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi. Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi. Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi. Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja. Kultur perlawanan melahirkan tuntutan. Kultur teknologi melahirkan solusi. Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan. Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi. Pabrik tidak dibangun oleh spanduk. Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara. Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru. Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan." Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya." Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.

Indonesia
63
648
2.7K
43.6K
Ziel retweetledi
txtdrimedia
txtdrimedia@txtdrimedia·
anggotanya speak up 😂
txtdrimedia tweet media
Indonesia
238
1.2K
6.5K
79.6K
Ziel retweetledi
Dimar
Dimar@dimarsasongko98·
Lo bilang mahasiswa UI cuma bisa kritik tanpa solusi. Mahasiswa BINUS buka laptop, bangun solusi. Keren. Tapi lo lupa satu hal. MBG , program yang lo bela , dikelola negara, bukan mahasiswa UI. Hasilnya: a. 20 ribu kasus keracunan sepanjang 2025. b. Ombudsman temukan 4 potensi maladministrasi. c. Kejaksaan Agung tangkap pimpinan BGN atas dugaan korupsi Juni 2026. d. Anggaran Rp335 triliun dipangkas. e. Pengelolaan diserahkan ke SPPG milik TNI dan Polri. Itu bukan solusi. Itu laptop yang meledak di tangan rakyat. Lo bilang demonstran cuma bawa spanduk, bukan solusi. Betul. Tapi lo tidak bilang kenapa mereka turun. Mereka turun karena negara yang punya anggaran, punya kekuasaan, punya seluruh sumber daya ,tetap gagal menyuap rakyat dengan makanan yang tidak meracuni. Kritik bukan lawan dari solusi. Kritik adalah prasyarat solusi. Tanpa audit, tidak ada perbaikan. Tanpa tuntutan, tidak ada akuntabilitas. Tanpa demonstrasi 1998, tidak ada reformasi. Laptop lo yang paling canggih pun tidak berguna kalau yang pegang kontraknya TNI dan Polri. Lo bilang sejarah lebih mengingat pencipta solusi dibanding penyampai tuntutan. Sejarah mengingat Munir. Bukan karena dia buka startup. Sejarah mengingat Marsinah. Bukan karena dia pitch ke investor. Sejarah mengingat mereka karena berani menuntut ketika yang berkuasa tidak mau mendengar. Negara tidak dibangun hanya dengan inovasi. Negara juga dibangun dengan keberanian berkata: ini salah, dan harus dipertanggungjawabkan. Siapa yang ngajarin lo bahwa diam adalah solusi?
Muii muii@G3nX_files

UI Menciptakan Pengkritik melahirkan politisi, BINUS Menciptakan pengusaha Melahirkan Pencipta. Tidak semua kampus mencetak lulusan dengan cara berpikir yang sama. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi politisi dan memegang jabatan dalam pemerintahan. Ada kampus yang membentuk mahasiswanya untuk menjadi pengusaha sukses melahirkan sesuatu yang baru dan bermanfaat untuk rakyat. Perbedaan itulah yang terlihat antara kultur yang berkembang di Universitas Indonesia (UI) dan BINUS. UI sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat aktivisme mahasiswa terbesar di Indonesia. Mahasiswanya terbiasa berdiskusi tentang politik, demokrasi, kebijakan publik, ketimpangan sosial, dan berbagai isu kenegaraan. Dari rahim UI lahir banyak politisi, aktivis, birokrat, menteri, anggota DPR, hingga tokoh pergerakan nasional. Dari rahim BINUS lahir banyak pengusaha teknologi, bisnis, inovasi, kewirausahaan, startup, dan ekonomi digital. Mahasiswa BINUS lebih sering berbicara tentang produk, aplikasi, investasi, kecerdasan buatan, dan peluang pasar dibandingkan dinamika politik praktis. Mahasiswa UI lebih sering berbicara tentang kekuasaan, bagaimana cara menggapainya, bagaimana cara meraihnya agar masa depan mereka cemerlang, salah satunya adalah dgn berpura2 bela rakyat. Perbedaan kultur tersebut terlihat jelas ketika menghadapi sebuah masalah. Ketika harga pangan naik, mahasiswa UI : Menuntut harga BBM jangan naik. Menuntut penggunaan APBN tidak boros. Menuntut harga sembako turun. Menuntut harga hasil panen petani naik. Menuntut Program Makan Bergizi Gratis dihentikan. Jika harga gabah naik, harga beras berpotensi naik. Jika harga beras turun, petani berpotensi menerima pendapatan lebih rendah. Jika subsidi BBM diperbesar, anggaran negara harus bertambah artinya pemborosan. Jika program MBG dihentikan, salah satu pasar terbesar bagi hasil pertanian, peternakan, dan UMKM pangan justru hilang. Ironisnya, kontradiksi seperti ini jarang dibahas di atas mobil komando. Sementara mahasiswa BINUS : Ketika melihat harga pangan mahal, mereka berpikir bagaimana memangkas rantai distribusi. Ketika melihat produktivitas petani rendah, mereka berpikir bagaimana menerapkan teknologi pertanian. Ketika melihat lapangan kerja kurang, mereka berpikir bagaimana menciptakan perusahaan baru. Ketika ada persoalan ekonomi, mahasiswa UI memilih cara kekerasan dengan turun ke jalan membawa tuntutan. Kelompok kedua justru membuka laptop dan mencoba membangun solusi. Tentu tidak semua mahasiswa UI seperti itu dan tidak semua mahasiswa BINUS seperti ini. Namun secara umum, kultur yang berkembang memang mengarah ke sana. Akibatnya, tidak mengherankan jika demonstrasi mahasiswa yang menuntut harga BBM tidak naik, harga sembako turun, harga hasil panen petani naik, dan Program Makan Bergizi Gratis dihapus lebih sering lahir dari lingkungan yang kultur politiknya kuat dibanding kultur kewirausahaan dan teknologi. Masalahnya, ekonomi tidak berjalan berdasarkan slogan. Tidak mungkin harga hasil panen petani naik sementara harga pangan terus turun tanpa ada peningkatan produktivitas. Tidak mungkin subsidi terus diperbesar tanpa memikirkan sumber anggaran. Tidak mungkin APBN hemat jika subsidi di perbesar. Tidak mungkin kesejahteraan petani meningkat jika pasar yang menyerap hasil pertanian justru dikurangi. Di sinilah terlihat perbedaan cara berpikir yang dibentuk oleh kultur kampus. Kultur aktivisme menghasilkan amarah dan kemampuan mengkritik tanpa solusi. Kultur inovasi menghasilkan kemampuan memecahkan masalah dengan solusi. Kultur politik melahirkan demonstran dan politisi. Kultur kewirausahaan melahirkan pencipta lapangan kerja. Kultur perlawanan melahirkan tuntutan. Kultur teknologi melahirkan solusi. Indonesia membutuhkan keduanya. Namun yang perlu diingat, negara tidak bisa dibangun hanya dengan kritik dan tuntutan. Jalan raya tidak dibangun oleh demonstrasi. Pabrik tidak dibangun oleh spanduk. Lapangan kerja tidak lahir dari pengeras suara. Kemajuan bangsa lahir dari inovasi, investasi, produktivitas, dan keberanian menciptakan sesuatu yang baru. Mungkin karena itulah kita jarang mendengar lulusan startup sukses berkata, "Mari turun ke jalan." Mereka biasanya berkata, "Mari kita bangun solusinya." Dan dalam jangka panjang, sejarah sering kali lebih mengingat para pencipta solusi dibanding para penyampai tuntutan.

Indonesia
17
109
369
20.7K
Ziel retweetledi
salam4jari
salam4jari@salam4jari·
Playbooknya, playing victim
salam4jari tweet media
English
91
176
768
15.8K
Ziel retweetledi
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 ke Rp16.250 per liter. Seskab Teddy menjelaskan alasannya: "Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia." Pekan berikutnya (saya hitung lima hari doang) minyak dunia anjlok seusai gencatan Iran-AS. Pertamina lalu menyatakan harga jual Pertamax saat ini belum sepenuhnya mengikuti harga pasar internasional. Layar Liputan6 lantas menampilkan banner "Pertamina: harga Pertamax tak selalu mengikuti minyak dunia." Saat harga dunia naik, Pertamax harus mengikuti. Saat dunia turun, ternyata belum sepenuhnya mengikuti. Saya kurang tahu mana yang jadi pegangan. Mungkin Teddy mengira semua rakyat Indonesia ini goblok. Tapi saya kurang tahu isi hatinya.
Rumail Abbas tweet mediaRumail Abbas tweet media
Indonesia
93
445
1.3K
105.8K
Ziel retweetledi
vi🍒
vi🍒@bakuldimsum_·
Coyyyyy gue keinget ini. Masa kopdes jam operasionalnya cuma 2jam dr senin-kamis. Niat jualan kaga sih????? Kasian rakyat selucu ini dikasih pemerintah yg ga pernah serius kerjanya😹
vi🍒 tweet media
Dimas Eko Prasetyo@dimasekop

@bakuldimsum_ Kalo kopdes kayanya lebih butuh diisi deh raknya daripada dibeli. 😅

Indonesia
453
2.5K
11.6K
440.5K
Ziel retweetledi
fin
fin@awaaannnn__·
ini namanya efek domino ya kakak-kakak 👍🏻
fin tweet media
Indonesia
120
4.4K
16K
140.6K
Ziel retweetledi
Ciku 🦁🍉
Ciku 🦁🍉@cikukucing·
Pengen jadi anak kandung
Ciku 🦁🍉 tweet media
Indonesia
4
23
262
1.2K
Ziel retweetledi
TxtdariUGM
TxtdariUGM@Txtdariiugm·
Nah pas dah tuh kampus top 3 diboikot keluarga buzzer semua. UI dan UGM ke ITB: Welcome to the club
TxtdariUGM tweet media
Indonesia
113
1.9K
13.1K
235.3K
Ziel retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
Salah satu wajah yang katanya mahasiswa Universitas Nasional, namanya Ardin Julkifli Menurut PDDIKTI, Mahasiswa bernama Ardin Julkifli itu sdh lulus tahun 2024 artinya sudah bukan mahasiswa. Fix Mahasewa 🤭
kale tweet mediakale tweet media
hot cocoa@bismillahyuk_

WOW. Kemarin aksi #demo dilaksanakan oleh REAL MAHASISWA. Sekarang ada MAHASEWA — alias mahasiswa bayaran‼️‼️ Yes, namanya BEM Bersatu. BEM Bersatu menolak gerakan mahasiswa dalam aksi #demo kemarin. Mereka mengatakan aksi mahasiswa telah kehilangan arah. #IndonesiaGelap

Indonesia
92
1K
2.9K
92.4K
Ziel retweetledi
ꦩꦸꦂꦠꦝ
ꦩꦸꦂꦠꦝ@MurtadhaOne1·
BEBERAPA BEM MEMBANTAH MENGIRIMKAN ANGGOTANYA KE BEM BERSATU BEM bersatu bentukan pemerintah? 1. BEM BSI
ꦩꦸꦂꦠꦝ tweet mediaꦩꦸꦂꦠꦝ tweet media
Indonesia
46
1.1K
2.7K
132.1K
Ziel retweetledi
Reza Sudrajat
Reza Sudrajat@penduduk_lokal_·
Cerita ini nyata ya teman teman, saya mendengar cerita ini langsung dari orangnya. Setelah sidang selesai, yang kebetulan beliau datang dari Kudus untuk melihat persidangan secara langsung. Ketika beliau mendapatkan teror itu, beliau memilih untuk melawan. Sampai pelaku itu, mendapatkan konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Ardianto Satriawan@ardisatriawan

Anak SMA ini loh???

Indonesia
17
920
2K
79.1K