
RyanKu
7.3K posts



















Karena saya ada di foto tersebut, izin ikut menyampaikan pendapat berdasarkan pengalaman empiris mengikuti komunitas baca/sastra yang ada diskusinya, maupun yang silent reading. Kritik @berhomonim benar. Apalagi kalau memang betul, latar belakang pendidikannya linguistik maka, semakin valid. Tapi, seperti banyak akademisi dan kritikus juga, dia nampaknya (sekali lagi saya tekankan nampak atau sepertinya, karena saya gak tau juga apakah dia pernah mengelola/mengikuti komunitas baca/sastra yang berdiskusi dan atau yang hening) terjebak dengan teori tanpa melihat realita lapangan. Di dalam masyarakat yang literasi serta minat bacanya rendah, klub baca hening diperlukan untuk awalan. Tidak semua orang mampu mendiskusikan bacaan yang berat dan terarah/terfokus. Karena memang tingkat pemahaman bacaan tiap orang berbeda, bahkan di dalam Pendidikan Tinggi bahkan di satu fakultas katakanlah fakultas bahasa dan sastra. Makanya, sampai rata-rata angka minat baca dan pemahaman literasi masyarakat kita tinggi ya biarkan saja malah harus ditumbuhkan: klub baca hening tersebut. Tapi, kalo di kampus sih emang harusnya diskusi, tukar gagasan dan tukar pikiran tentang buku yang dibaca, kalau mahasiswa atau anak kampus aja gak diskusi gimana masyarakat umum dah. Oh iya, saya sepakat tidak usah terlalu meromantisasi baca buku karena seharusnya itu adalah hal yang normal. Mau di toko buku, kereta, kopi shop, bis, angkot, toilet, semak-semak, harusnya emang baca buku ya bukan hal yang romantis tapi normal bahkan wajib. Ini pernah saya sampaikan juga di FGD dengan Gramedia dan Populix 2 tahun lalu sebelum mereka buat Makarya dan Jalma. Namun, sekali lagi, kita perlu melihat adat istiadat setempat alias local wisdom, mungkin emang perlu baca diromantisasi dulu biar jadi hal yang normal dan biasa. Tabik... Salam hormat, apapun klub bacanya, cara bacanya mau rame-rame tapi hening, mau ramai diskusi, mau read aloud, bahkan hanya baca sendiri, yang penting baca. Yang salah yang kagak baca kayak pemerinteh eh wakel presidan eh gibrun.




Di tahun 1999 BJ Habibie berhasil menjinakkan rupiah dari angka 17.000 menjadi 6.500. Sedangkan anomali ini cuma bisa yapping begini. Kalo gw milih dia sih MALU BANGET.


Asyuuuuu ono Apple Store resmi nang KL. Investasi asing yo bingung nang Indo, peraturane ganti terus.






Oke Tere-Liye pengarang paling laris se-Indonesia. Tapi apa perlu satu rak buku didominasi oleh bukunya (dan satu judul sampai makan 8-10 baris buku?). Sepanjang aku keluar masuk puluhan toko buku di Eropa, gak pernah aku lihat buku-buku Sally Rooney atau J.K. Rowling, yang notabene paling laris, sampai makan satu rak penooooh gitu! Kapan dan gimana lagi memperkenalkan pengarang Indonesia lain selain yang laris dan populer kalau satu rak cuma pamerin buku satu orang aja?

Date cancelled. Dia bilang beli buku gak worth it???


@akunhewan min pernah bahas belangkas ga? itu hewan berjasa utk manusia tapi kayaknya masih banyak orang yg gatau

Noi treats Shin with a French kiss and heals him #それがドロヘドロ #dorohedoro














