Aditya Nanda

14.6K posts

Aditya Nanda banner
Aditya Nanda

Aditya Nanda

@_anpurnama

Sometimes I read, most of the time I just add books at my to be read list. Mobile developer.

Indonesia Katılım Şubat 2011
4.5K Takip Edilen424 Takipçiler
Aditya Nanda retweetledi
依欢
依欢@minnaypon·
Anjjjj kena skakmat dobelll shiballlll
Slovenščina
23
1.1K
3.5K
86.4K
Aditya Nanda retweetledi
Diana
Diana@inisiafi·
Penonton di tribun lihat, yang di rumah lihat, hakim garis, wasit, lawan main, oma Gill~ semua-semuanya lihat ya itu shuttlecock ente yang buang. Berharap nga ada yang nyadar kalau itu bola kena badan dulu kah!!!? 😭🤣 Ada aja kelakuan atlet lempar lembing kita enih, heran~ 😭🤣
Indonesia
133
880
4.2K
255.9K
Aditya Nanda retweetledi
Aditya Nanda retweetledi
For Loveliest
For Loveliest@ForLoveliest·
Meminta maaf kepada diri sendiri karena masih gini gini aja.
Indonesia
0
8
43
1.1K
Aditya Nanda retweetledi
rara/dewi 🐠🍤 full slot!
my heart aches for the victims. turut berdukacita dan sampaikan sayangmu
rara/dewi 🐠🍤 full slot! tweet media
Indonesia
28
8K
26.1K
242.6K
Aditya Nanda retweetledi
Aditya Nanda retweetledi
Mario Zechner
Mario Zechner@badlogicgames·
4yo used my little TTS desktop app + pi, tells the agent what to build, what to change. more dinosaurs to select from, now working on king kong as final boss. i love this so much. slop doesn't matter. early agency does. and he gets to understand on the highest possible level how things are made.
Mario Zechner@badlogicgames

it is time

English
33
38
660
55.2K
Aditya Nanda retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Setelah Ibam…. (Sebuah Refleksi Diri dari Lensa Kriminologi) Ibam menyatakan secara terbuka bahwa ia diancam sebelum jadi tersangka. Kita semua tahu itu bukan fakta hukum, melainkan sebuah pengakuan diri. Dan pengakuan tersebut... (ketika diselimuti oleh sidang tanpa bukti keuntungan, tanpa bukti arahan, tanpa bukti konflik kepentingan) telah menjadi sesuatu yang lebih berat dari sekadar kesaksian pribadi. Kalau kasus ini naik ke Komisi III DPR, pola yang akan terjadi sudah bisa dibaca dari sekarang. Seperti kasus-kasus viral yang sebelumnya kita saksikan di linimasa. Saya rasanya Déjà vu. Jaksa akan disorot kembali. Tuntutan 15 tahun untuk seseorang yang tidak terbukti menerima apa pun akan dipertanyakan. Akan ada rapat dengar pendapat. Lalu bermunculan cuplikan video para wakil rakyat. Lalu semuanya seolah selesai. Sampai muncul kasus berikutnya. Lingkaran setan itu kembali. Berulang kali. — — — — — — Dalam kriminologi, kami mendefinisikan kejahatan sebagai pola tingkah laku merugikan. Di sinilah, kami menyadari bahwa pola bukan sesuatu yang kebetulan terbentuk. Pola bisa hadir sebagai hasil dari sistem yang bekerja konsisten. Bagaikan dua sisi mata uang, konsistensi bukan hanya menghasilkan keadilan, tapi bisa jadi untuk menghasilkan sesuatu yang lain. Dari paradigma kritis, saya lalu menemukan konsep selective law enforcement. Penegakan hukum itu sejatinya tidak buta, meski patung dewi keadilan menunjukkan sebaliknya lewat penutup mata. Dalam praktiknya, Sistem Peradilan Pidana memilih siapa yang layak dihukum dan siapa yang tidak. Kadang "keputusan" ini berdasarkan pertimbangan yang tidak tertulis di undang-undang mana pun. Ibam menyebut mekanisme itu dengan jelas. Buat pernyataan yang "mengarah ke atas", atau kasusnya diperluas. Ia menolak. Tiga minggu kemudian ia ditetapkan jadi tersangka. Di titik inilah, saya tahu itu sejatinya bukan prosedur hukum. Itu "negosiasi" berbalut ancaman. Sebuah pola yang seolah membentuk siklus di lingkaran kleptokrasi. — — — — — — Yang membuat pola ini tahan lama bukan karena pelakunya jahat. Sistem yang rusak tidak membutuhkan orang jahat untuk mengoperasikannya. Sistem yang korup hanya membutuhkan orang-orang yang menjalankan tugasnya masing-masing, tanpa bertanya terlalu dalam mengapa tugasnya dirancang seperti itu. Polisi memeriksa. Jaksa menuntut. Hakim memutus. Rapat dengar pendapat digelar. Pernyataan dikeluarkan. Media Massa memberitakan. Media sosial riuh dengan pro dan kontra. Lalu semuanya kembali seperti semula. Seolah pemulihan telah terjadi, begitu saja. Padahal, pola tidak bisa putus karena di bawah lampu sorot atau menuai engagement tinggi. Pola terputus ketika ada yang mengubah struktur yang melahirkannya. Dalam kriminologi, saya diajarkan lewat istilah intervensi. — — — — — — Ibam memilih tidak berbohong. Ia tahu risikonya sembari berpasrah dan berserah. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan akibatnya. Bagi saya, yang menyedihkan bukan sekadar bahwa ia harus menjalani serangkaian sidang karena pilihannya itu. Yang menyedihkan adalah... pilihan untuk tidak berbohong di hadapan ancaman seharusnya tidak perlu mendapatkan konsekuensi hukum. Pilihan itu seharusnya dilindungi dan dijamin konstitusi. Dan sejatinya itu adalah pilihan moral dan logis yang biasa. Seharusnya. Pada akhirnya, ketika kasus ini naik ke Komisi III DPR RI, polanya bisa jadi akan kurang lebih sama. Bukan karena sorotannya kurang terang. Bukan karena suara kita kurang lantang. Tapi karena pola ini tidak tinggal di 1-2 kasus. Ia hidup di dalam sistemnya. Dan selama yang diintervensi hanya kasusnya, bukan sistemnya, pola itu akan terus menemukan kasus berikutnya untuk diinangi.
Ibrahim Arief@ibamarief

Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.

Indonesia
7
147
286
16.3K
fj
fj@fjzeit·
question for those using lode coding: if there was a significant feature update that you were keen on using would you tolerate some folder changes? i.e. the moving of your lode folder and spending some tokens on a reorg? 1. Yes, and my lode folder is ~/lode 2. Yes, but my lode folder is ~/something-else 3. Yes, but my folder is not in the repo root 4. No
English
4
0
4
598
Aditya Nanda retweetledi
Mari
Mari@Tech_girlll·
Software Engineers going back to Documentation after reaching their Claude limit.
English
88
1.5K
16.2K
337K
Aditya Nanda retweetledi
evernight
evernight@_noraa8·
Ranking TFT placements
evernight tweet media
English
86
743
12.9K
668.8K
Aditya Nanda
Aditya Nanda@_anpurnama·
@indiana_sloan May I know what technique you used now? Before compose I like to spread the state as live data but in compose it seems to need to put it into one single class named UiState.
English
1
0
0
27
Ciaran Sloan
Ciaran Sloan@indiana_sloan·
I was blindly obsessed with MVI for years when it got hot/trendy back in 2019-2020. Used it for years. Looking back it was some of the worst code I've ever gotten involved in. Stop over abstracting and over complicating your codebase. It does not make you smart.
Gabor Varadi@Zhuinden

@KasemSM_ What you're describing can be done with a 'suspend fun' and a sealed class returned as a result, you don't need Orbit-MVI to do any of that. All you do is inherit from their base classes just so that you get to pass in 3 generic parameters so that Orbit can iterate on a channel.

English
1
0
1
76
Aditya Nanda retweetledi
dax
dax@thdxr·
maybe gta6 is also too dangerous to release
English
167
430
7K
195.4K
kitze
kitze@thekitze·
listen to me!!! download lm studio + gemma 4 you'll *never* know when you might need a local llm for something my hotel had INCREDIBLY shitty wifi and i couldn't connect my beryl router gemma walked me through so many combinations of things to try and finally i'm in and properly connected and have super fast connection 🤓
kitze tweet media
English
44
12
494
35.2K