Princesza Mousiana

1.7K posts

Princesza Mousiana banner
Princesza Mousiana

Princesza Mousiana

@_wafflepancake

We want to know the face of freedom We want to make a place where we can learn to love Build a world that we can be proud of This is my generation

Katılım Mart 2012
338 Takip Edilen2.7K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Princesza Mousiana
Princesza Mousiana@_wafflepancake·
Para influenza sebenernya punya dampak yang besar buat mempengaruhi 'Overton Window'. Bisa secara positif, bisa juga negatif Positif kalo beneran mau kurasi pesannya dari kajian-kajian serius pihak lain Negatif ketika cuma jadi armchair expert en.m.wikipedia.org/wiki/Overton_w…
Indonesia
0
3
14
7.1K
Princesza Mousiana retweetledi
kope Mk-2b
kope Mk-2b@kope_M4A3E8·
#無印狂品
kope Mk-2b tweet media
QME
59
1.5K
16.8K
873.7K
Princesza Mousiana
Princesza Mousiana@_wafflepancake·
Many things can be true at the same time: 1. Talenta digital Indonesia langka 2. Niatan Nadiem dkk (awalnya) baik 3. Kelakuan techbro mau enaknya sendiri 4. Hire tim gede lewat Telkom Metranet maladministrasi
Melon Mask@panca66

Yang jelas, jika benar kekayaan Ibam itu hasil dari saham BUKA, itu justru mengindikasikan kuat bahwa BUKA adalah saham gorengan. Harga IPO-nya (6 Agustus 2021) Rp850 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp1.325, lalu ambles hingga saat ini hanya berkisar Rp150-an. Waktu itu para menteri Kabinet Jokowi didapuk memberikan ucapan selamat IPO BUKA yang memberikan sentimen positif buat BUKA. Artinya: Ibam (pendiri dan investor awal) menang banyak dari BUKA ketika banyak investor ritel nyangkut di harga pucuk. Maka naif sekali jika Anda berpikir bahwa jika hakim membebaskan Ibam dkk., itu adalah sinyal baik untuk emiten teknologi yang diharapkan mengangkat harga BUKA minimal kembali ke harga IPO. Jika Anda termasuk yang berpikir demikian, wajar kalau orang luar bilang rata-rata IQ orang Indonesia adalah 78! 5. Talenta digital kita tidak langka. Banyak anak muda Indonesia yang pintar dan jujur di dunia teknologi — tidak melulu dari geng Ibam dkk. yang pada ujungnya berstatus terdakwa korupsi. Tidak juga seperti 400 ahli teknologi yang diklaim Nadiem pada 2022 sebagai "organisasi bayangan." Saya pernah menulis soal ini (tautan di komentar) dan memberikan data ke Kejaksaan Agung. Intinya, Tim Bayangan dikelola oleh Metranet (anak perusahaan Telkom) dan dikenal sebagai GovTech Edu, yang dipimpin Fajrin Rasyid (Direktur Digital Business and Technology Telkom). Fajrin adalah pendiri Bukalapak, sama seperti Ibam. Nama Ibam ada di time sheet Tim Bayangan itu, berstatus sebagai Ahli Pembangunan Perangkat Lunak (Senior). Saya menduga kuat tim itu fiktif dan terdapat dugaan penyimpangan anggaran pendidikan setidaknya Rp1 triliun di dalamnya. Artinya, proyek Ibam tak cuma Chromebook, tapi juga dengan Telkom. Saya berharap setelah kasus Chromebook, penegak hukum kelak menelusuri dugaan korupsi Tim Bayangan Nadiem itu. Jadi, moral ceritanya: simpan rasa kasihan Anda untuk orang yang tepat. Ada 23 juta orang miskin di Indonesia yang jauh lebih layak kita pedulikan ketimbang larut dalam sinetron hukum seperti kasus Ibam dkk. ini. Salam, AEK

Indonesia
0
1
15
498
Princesza Mousiana
Princesza Mousiana@_wafflepancake·
Just had a really weird looking breakfast on SQ, but since it's SQ I didn't really think much. Ironis kalo keracunan makanan SQ sebelum MBG
English
0
0
0
78
Princesza Mousiana retweetledi
Princesza Mousiana retweetledi
Indonesian Poop Base
Indonesian Poop Base@iPoopBased·
Sources say Nagita Slavina is "seriously being considered" for Finance Minister in the upcoming cabinet reshuffle.
Indonesian Poop Base tweet media
English
88
73
909
168.9K
Princesza Mousiana retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Prof. Feri Latuhihin ekonom yang sudah setahun lalu memprediksi dolar akan tembus Rp17.000 ketika belum ada yang percaya baru bicara lagi. Dan kali ini lebih keras, lebih konkret, dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Gue mau rangkum dan kritisi semuanya termasuk pertanyaan yang menurut gue paling penting: para ekonom sudah kasih saran, tapi apakah pemimpinnya mau dengar? Atau yang kasih saran justru akan disebut antek antek asing? Prediksi yang sudah terbukti dan peringatan baru yang lebih keras: Setahun lalu Feri bilang dolar akan tembus Rp17.000. Banyak yang tidak percaya. Sekarang dolar sudah di Rp17.300. Sekarang dia memperingatkan skenario yang jauh lebih buruk: dolar bisa tembus Rp25.000 kalau kondisi fiskal tidak segera dibenahi. Bukan angka yang dia lempar sembarangan. Dia punya hitungan. Soal angka pertumbuhan ekonomi dan ini yang paling mengejutkan: Purbaya marah-marah ke World Bank karena World Bank bilang pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7%. Purbaya klaim angkanya jauh lebih tinggi dari itu. Feri bilang sesuatu yang sangat mengejutkan: "Saya bilang 4,7% sudah bagus. Kalau menurut saya bisa 0%." Kenapa? Karena ketika Feri cross check angka pertumbuhan 5,11% versi BPS dengan indikator lain khususnya pertumbuhan kredit perbankan angkanya tidak cocok. Untuk mencapai pertumbuhan 5,11% kredit perbankan harusnya tumbuh minimal 11%. Kenyataannya: kredit tumbuh di bawah 8%. Feri perkirakan pertumbuhan riilnya mungkin di sekitar 4% saja. Dan Moody's serta Fitch sudah men-downgrade outlook ekonomi Indonesia dari stable menjadi negatif. Artinya lembaga rating internasional pun tidak percaya dengan angka yang pemerintah klaim. Soal defisit APBN dan ini yang paling mengkhawatirkan: Feri memaparkan data yang sangat konkret: Defisit APBN Januari: Rp35 triliun.Defisit Februari: Rp135 triliun.Defisit Maret: Rp240 triliun. Kalau dianualisasi secara linear defisit sudah setara 3,72% dari GDP melampaui batas 3% yang menjadi patokan fiskal. Dan di saat yang sama harga minyak dunia naik karena perang. Subsidi BBM membengkak. Inflasi berpotensi double digit. Jatuh tempo utang tahun ini saja sekitar Rp888 triliun ditambah bunga Rp99 triliun. Itulah mengapa Feri menduga dua Dirjen Kemenkeu yang dicopot Purbaya kemungkinan memang tidak setuju dengan arah kebijakan bukan karena sabotase sembarangan, tapi karena mereka melihat angka-angka yang tidak memungkinkan untuk terus mempertahankan spending sebesar sekarang. Soal MBG dan ini yang paling tegas: Feri mengucapkan sesuatu yang menurut gue perlu didengar keras-keras oleh siapapun yang masih berargumen bahwa MBG adalah investasi: "Mohon dikasih tahu kepada Pak Presiden bahwa kalau MBG itu dianggap investasi itu bohong besar." Investasi yang sesungguhnya adalah infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan. Atau investasi non-fisik yang menghasilkan produktivitas jangka panjang: pendidikan dan riset dan pengembangan. Makan siang bukan investasi. Makan siang adalah konsumsi. Dan konsumsi yang dibiayai utang itu bukan membangun masa depan. Itu memakan masa depan. Feri menghitung bahwa untuk MBG yang benar-benar targeted ke yang membutuhkan cukup Rp10 triliun per tahun. Bukan Rp335 triliun. Dan sisa Rp325 triliun itu seharusnya bisa jadi buffer fiskal atau dialokasikan ke investasi yang benar-benar menghasilkan produktivitas jangka panjang. Soal class menengah yang semakin tergerus: Dari 57 juta kelas menengah di 2019 sekarang tinggal 47 juta. Turun 10 juta orang dalam kurang dari 10 tahun. Dan tabungan rata-rata kelas menengah yang dulu Rp3 juta per orang sekarang sudah mendekati nol. Mereka tidak lagi makan tabungan. Mereka sudah mulai makan hutang. Dan Feri menyebut satu indikator yang sangat mengkhawatirkan: omset pegadaian sedang melonjak luar biasa. Ketika orang menggadaikan barang untuk kebutuhan sehari-hari — itu bukan tanda ekonomi yang baik-baik saja. Soal BI yang tidak bisa berbuat apa-apa: Feri menjelaskan dilema yang sangat real yang sedang dihadapi Bank Indonesia: Kalau suku bunga dinaikkan untuk melawan inflasi dan menjaga rupiah ekonomi yang sudah lemah akan tambah terbebani. Kredit macet naik. Investasi turun lebih dalam. Kalau suku bunga diturunkan rupiah makin melemah dan inflasi makin tidak terkendali. "BI tidak bisa melakukan apa-apa. Naikkin salah, nurunin salah." Dan intervensi di pasar valas untuk menjaga rupiah cadangan devisa tidak tanpa batas. Kalau outlook ekonominya memang buruk intervensi itu seperti menggarami lautan. Soal komentar terhadap Purbaya dan ini yang paling kontroversial: Feri mengucapkan sesuatu yang sangat bold: bahwa menurut dia Purbaya tidak paham soal ekonomi. Contoh yang dia berikan: ketika perbankan mengalami undisbursed loan kredit yang sudah disetujui tapi belum dicairkan senilai Rp2.735 triliun, Purbaya justru mengucurkan tambahan dana dari BI sebesar Rp227 triliun. Logika Feri: kalau bank sudah kelebihan likuiditas yang tidak bisa disalurkan menambah likuiditas lagi adalah seperti menuangkan air ke ember yang sudah penuh. Itu bukan solusi masalah kredit. Itu memperburuk excess liquidity yang justru bisa memperlemah rupiah lebih jauh. Gue tidak akan menghakimi apakah Feri 100% benar soal ini. T api pertanyaan teknisnya valid dan layak dijawab secara publik oleh Kemenkeu. Dan inilah pertanyaan yang paling fundamental: Para ekonom Feri Latuhihin, Mahfud MD, Feri Amsari, berbagai pengamat lain sudah memberikan saran yang konkret, berbasis data, dan bisa diverifikasi. Saran yang konsisten: rasionalisasi MBG, ramping kabinet, perbaiki kepastian regulasi, prioritaskan investasi produktif, jaga fiskal dari defisit yang melebar. Dan apa respons dari lingkaran pemerintah? Orang yang kritik MBG disebut tidak nasionalis. Orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi disebut tidak mendukung presiden. Dan siapapun yang mengutip data dari lembaga internasional seperti World Bank atau IMF bisa dengan mudah diberi label antek asing. Dari nonblok menjadi goblok kata Feri mengutip kritik terhadap kebijakan luar negeri. Dan label yang sama bisa dikenakan pada kebijakan ekonomi: dari mendengar para ahli menjadi memusuhi para ahli. Indonesia punya banyak ekonom yang kompeten. Punya data yang bisa dibaca. Punya pengalaman sejarah termasuk bagaimana Habibie menyelamatkan ekonomi di 1998 dengan tiga langkah berani yang gue sudah bahas sebelumnya. Yang kurang bukan nasihatnya. Yang kurang adalah keberanian untuk mendengar nasihat yang tidak menyenangkan dan keberanian untuk mengambil keputusan yang menyakitkan jangka pendek demi kepentingan rakyat jangka panjang. Dan selama nasihat para ekonom direspons dengan label "antek asing" sementara rupiah terus melemah, defisit terus membesar, dan kelas menengah terus tergerus Kita semua yang menanggung akibatnya. Bukan para pejabatnya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
117
1.1K
2.4K
244.6K
Princesza Mousiana
Princesza Mousiana@_wafflepancake·
@gwangge Jangan sedih, itu yang disebut di berita command center versi Marinves, yang mana belum tentu diwaro juga sama BGN
Indonesia
1
0
0
221
Princesza Mousiana retweetledi
Indonesian Poop Base
Indonesian Poop Base@iPoopBased·
TED 3 kabarnya sedang digarap oleh Universal Pictures dan berlatar di Indonesia.
Indonesian Poop Base tweet media
Indonesia
62
467
2.7K
56K
R....
R....@robby_rodiyya·
@_wafflepancake Apa tweet ini udah muncul dari September 2025?
Indonesia
3
0
5
10.7K
Princesza Mousiana
Princesza Mousiana@_wafflepancake·
Ada orang percaya Purbaya kompeten aja udah aneh
Indonesia
59
410
1.8K
555.7K
OldGru
OldGru@Mertosari·
@_wafflepancake Kan... Kita sudah punya otonomi daerah, kenapa banyak program masih dipusat? Bansos dan MBG ini rawan penggelumbungan angka. Siapa yg bisa verifikasi ribuan bahkan jutaan data?
Indonesia
1
0
1
34
Princesza Mousiana
Princesza Mousiana@_wafflepancake·
Gimana cara buktiin SPPG fiktif?
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ini info paling gila hari ini...... ada sesuatu yang nggak masuk akal banget lagi beredar soal program pemerintah ini dan jujur, ini bukan cuma aneh… tapi udah mulai keliatan ngeri + sistematis Jadi gini… Ada info kalau titik SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) itu terus nambah setiap hari. Padahal di sisi lain, portal resmi buat daftar mitra katanya udah ditutup sejak 1 Desember 2025. Sekarang coba pikir logikanya pelan-pelan… - Portal pendaftaran ditutup - Tapi jumlah titik terus bertambah - Bahkan dilaporkan tiap hari ada penambahan Pertanyaannya simpel: Masuknya dari mana? Ini bukan soal “ah mungkin ada update internal”… Kalau sistemnya transparan, harusnya: - Ada pengumuman resmi - Ada mekanisme khusus - Atau minimal ada penjelasan ke publik Tapi kalau yang terjadi malah “tiba-tiba nambah”… ya wajar kalau publik mulai mikir: ini data real atau cuma angka di atas kertas? Dan makin panas lagi ketika dikaitin sama isu bayaran… Ketika satu titik SPPG bisa dapat sekitar 6 juta per hari. Kalau itu benar, berarti: Makin banyak titik → makin besar anggaran yang keluar Makin besar anggaran → makin besar juga potensi “mainannya” Kasarannya sppg nya tidak benaran ada tapi insentifnya jalan terus sppg bodong atau fiktif Di sinilah mulai kerasa pedasnya… Karena ini bukan cuma soal angka nambah. Ini soal uang negara + transparansi + kepercayaan publik. Yang bikin miris bukan cuma dugaan “aneh-aneh”-nya… tapi pola yang sering kejadian: - Sistem ditutup ke publik - Data tetap berjalan di belakang layar - Publik cuma dikasih hasil akhir tanpa tahu prosesnya Kalau kayak gini terus, ya jangan heran kalau muncul kecurigaan: Ini beneran program jalan… atau sekadar laporan yang ‘dibikin jalan’?” Gue gak bilang ini pasti ada pelanggaran. Tapi yang jelas: Kalau logika sederhana aja gak nyambung, berarti ada yang harus dijelasin. Karena di era sekarang, masalahnya bukan cuma korupsi atau enggak… tapi kepercayaan publik itu dibangun dari transparansi. Dan kalau transparansi hilang, yang muncul bukan cuma kritik tapi ketidakpercayaan yang jauh lebih bahaya coba di cek tuh situs bgn udah lama tutup tapi hampir tiap hari laporan banyak sppg baru

Indonesia
1
0
0
304